Tiga tahun Nadira mencintai Raka, setia menunggu pernikahan meski selalu ditolak dengan alasan "belum siap" bahkan saat ia hamil delapan bulan.
Hingga Nadira mendengar pengakuan Raka: hubungan mereka hanya permainan. Ia tak pernah serius, hanya menginginkan tubuhnya.
Saat Raka mengejar untuk menjelaskan, kecelakaan menghantam. Nadira koma, bayi mereka tak sempat lahir.
Di hadapan tubuh Nadira yang tak berdaya, Raka akhirnya mengerti... ia benar-benar mencintainya.
Tapi penyesalan selalu datang terlambat. Cinta yang disia-siakan mungkin tak akan terbangun lagi, meski orang yang dicintai masih bernapas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembali dalam Keterasingan
Pintu ICU terbuka.
Dokter keluar dengan ekspresi yang sulit dibaca, campuran antara lega dan khawatir. Ia melepas maskernya, lalu menatap Raka yang langsung berdiri tegak dengan mata penuh harap.
"Dok! Bagaimana?" tanya Raka cepat, suaranya bergetar.
Dokter tersenyum tipis, senyuman yang memberikan sedikit harapan. "Pasien sudah sadar."
Kata-kata itu jatuh seperti hujan setelah kekeringan panjang.
Raka hampir roboh. Kakinya lemas. Mama Nita langsung menopangnya dari samping, ikut menangis mendengar kabar itu.
"Alhamdulillah... Alhamdulillah..." bisik Raka berkali-kali, air matanya mengalir deras. "Ya Allah, terima kasih... terima kasih..."
"Tapi..." Dokter melanjutkan dengan nada hati-hati.
Raka langsung menoleh, tatapannya berubah cemas. "Tapi apa, Dok?"
"Ada beberapa hal yang perlu Bapak ketahui. Tapi lebih baik Bapak lihat sendiri dulu. Bapak boleh masuk sekarang. Tapi tolong... bersikaplah tenang."
Raka mengangguk cepat. Ia tidak peduli dengan peringatan itu. Yang ia pedulikan hanya satu: Nadira sudah sadar. Istrinya sudah bangun.
Ia melangkah masuk ke ruang ICU dengan langkah cepat, hampir berlari. Mama Nita mengikuti di belakang dengan langkah lebih pelan.
Dan di sana, di ranjang yang sama, di tempat yang sama... Nadira duduk setengah berbaring dengan bantuan bantal di belakang punggungnya.
Matanya terbuka.
Mata yang sudah setahun tidak terbuka.
Mata yang Raka rindukan setiap hari.
Tapi ada yang berbeda.
Tatapannya... kosong. Bingung. Seperti anak kecil yang terbangun di tempat asing.
Raka berhenti di samping ranjang, menatap Nadira dengan tatapan penuh haru. Air matanya terus mengalir, ia bahkan tidak mencoba menahannya.
"Sayang..." bisiknya dengan suara serak. "Kamu... kamu bangun..."
Nadira menatap Raka dengan tatapan bingung, matanya yang besar menatap pria di depannya dengan wajah yang tidak mengerti.
Raka tersenyum lebar penuh kebahagiaan dan lega. Ia mengulurkan tangannya, ingin menyentuh wajah Nadira, ingin merasakan kehangatan yang sudah setahun hilang.
Tapi sebelum tangannya menyentuh, Nadira mundur, tubuhnya menegang, matanya melebar ketakutan.
"Jangan dekat-dekat!" ucap Nadira dengan suara yang... aneh.
Suara itu terdengar seperti suara Nadira, tapi nada bicaranyaa... seperti anak kecil.
Raka membeku. Tangannya masih terangkat di udara, matanya menatap Nadira dengan tatapan tidak mengerti.
"Dira...?" panggilnya pelan.
Nadira menggeleng cepat, tangannya menutupi tubuhnya seolah melindungi diri. "Om siapa? Om jangan dekat-dekat! Ibu bilang nggak boleh deket-deket sama orang asing!"
Om.
Kata itu jatuh seperti palu di dada Raka.
Ia menatap Nadira dengan tatapan shock, tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
"Sayang, aku... aku Raka. Aku suamimu," ucap Raka pelan, mencoba menjelaskan meski suaranya bergetar.
Tapi Nadira hanya menatapnya dengan tatapan semakin bingung. "Suami? Apa itu suami? Nadira nggak punya suami. Nadira masih kecil!"
Raka mundur selangkah, tubuhnya gemetar. Ia menoleh pada dokter yang berdiri di pintu dengan tatapan memohon penjelasan.
Dokter mengangguk, lalu melangkah masuk.
"Pak Raka, tolong ikut saya sebentar," ucap dokter dengan nada serius.
Raka melirik Nadira sekali lagi, wanita yang menatapnya dengan tatapan asing, seperti menatap orang yang tidak pernah ia kenal, lalu dengan berat hati, ia mengikuti dokter keluar dari ruang ICU.
---
Di ruang konsultasi kecil, dokter duduk di balik meja dan mempersilakan Raka duduk di depannya. Mama Nita ikut masuk, berdiri di samping Raka dengan wajah khawatir.
Dokter menarik napas dalam sebelum angkat bicara.
"Pak Raka, istri Bapak mengalami amnesia," ucap dokter langsung to the point.
Raka menegang. "Amnesia?"
"Ya. Amnesia retrograde. Dia kehilangan sebagian besar ingatannya, terutama ingatan jangka panjang. Dan yang lebih mengkhawatirkan..." Dokter berhenti sejenak, menatap Raka dengan tatapan penuh simpati. "Ingatannya terhenti di usia lima tahun."
Keheningan.
Raka menatap dokter dengan tatapan kosong, tidak mengerti, tidak mau mengerti.
"Apa... apa maksud Dokter?" tanya Raka pelan, suaranya gemetar.
"Maksud saya, saat ini mental dan ingatan istri Bapak seperti anak usia lima tahun. Dia tidak ingat siapa Bapak. Dia tidak ingat kehidupannya sebagai orang dewasa. Dia tidak ingat bahwa dia sudah menikah. Yang dia ingat hanya masa kecilnya... orangtuanya, rumahnya, mainannya. Itupun tidak semuanya."
Raka merasakan dunianya runtuh...lagi.
Setelah setahun menunggu, setelah setahun berharap, setelah setahun berdoa... Nadira akhirnya bangun.
Tapi bukan Nadira yang ia kenal.
Bukan Nadira yang ia cintai.
Bukan istrinya.
"Tapi... tapi dia akan sembuh, kan, Dok?" tanya Mama Nita dengan suara bergetar. "Ingatannya akan kembali, kan?"
Dokter menghela napas panjang. "Saya tidak bisa memprediksi, Bu. Kasus amnesia seperti ini sangat kompleks. Bisa saja ingatannya kembali dalam hitungan hari, minggu, bulan, atau bahkan tahun. Atau..." Dokter terdiam sejenak. "Atau mungkin tidak pernah kembali sepenuhnya."
Raka menutup wajahnya dengan kedua tangan. Tubuhnya bergetar. Ia ingin menangis, tapi tidak ada air mata yang keluar lagi. Ia sudah terlalu lelah untuk menangis.
"Yang bisa kita lakukan sekarang adalah terapi," lanjut dokter. "Terapi psikologis, terapi kognitif, dan yang paling penting, dukungan dari keluarga. Bapak harus bersabar. Bapak harus perlahan-lahan membantu dia mengingat. Jangan memaksa. Jangan terburu-buru."
Raka mengangguk lemah, mengangguk meski hatinya hancur, meski ia tidak tahu harus bagaimana lagi.
"Terima kasih, Dok," bisik Raka dengan suara serak.
Dokter mengangguk dengan tatapan penuh simpati, lalu berdiri dan keluar dari ruangan, memberikan Raka dan Mamanya waktu untuk mencerna semua informasi yang baru saja mereka terima.
Mama Nita duduk di samping Raka, memeluk anaknya yang terduduk lemas.
"Sabar, Nak," bisik Mama sambil mengusap punggung Raka. "Ini ujian. Ujian dari Allah. Kamu harus kuat."
"Aku sudah lelah, Ma," bisik Raka dengan suara putus asa. "Aku sudah menunggu setahun. Aku sudah bersabar. Aku pikir setelah dia bangun, kami bisa mulai lagi dari awal. Tapi ternyata..." Suaranya tercekat. "Ternyata dia bahkan tidak kenal aku."
Mama memeluk Raka lebih erat. "Tapi dia hidup, Nak. Dia bangun. Itu sudah lebih dari cukup. Sekarang tugas kamu adalah membuatnya ingat lagi. Perlahan. Satu per satu."
Raka menutup matanya, menarik napas dalam.
Mama benar. Nadira hidup. Nadira bangun. Itu sudah lebih dari yang ia minta.
Sekarang, ia harus berjuang lagi, berjuang untuk membuat Nadira ingat, berjuang untuk mendapatkan istrinya kembali.
Raka kembali ke ruang ICU dengan langkah pelan. Ia berdiri di depan ranjang Nadira, menatap wanita itu dengan tatapan yang penuh cinta meski sakit.
Nadira menatapnya dengan tatapan waspada, seperti anak kecil yang menatap orang asing.
"Om... Om siapa?" tanya Nadira dengan suara lirih, nada bicara yang benar-benar seperti anak kecil.
Raka tersenyum yang dipaksakan, tapi ia coba buat se-hangat mungkin.
"Namaku Raka," jawabnya pelan, dengan nada yang lembut seperti berbicara pada anak kecil. "Aku... aku temanmu."
Nadira mengerutkan dahi. "Teman? Nadira nggak punya teman namanya Raka."
Raka menelan ludah, menekan rasa sakit di dadanya.
"Sekarang ada," ucapnya sambil tersenyum. "Sekarang Nadira punya teman baru. Namanya Raka."
Nadira menatap Raka dengan tatapan masih curiga, tapi sedikit lebih rileks.
"Mana Ibu? Mana Bapak?" tanya Nadira tiba-tiba, matanya mulai berkaca-kaca. "Nadira mau pulang. Nadira mau ketemu Ibu sama Bapak."
Raka merasakan dadanya diremas kuat.
Orangtua Nadira sudah meninggal sejak lama, sejak Nadira masih remaja. Tapi Nadira sekarang tidak ingat itu. Yang ia ingat hanya masa kecilnya, saat orangtuanya masih hidup.
Bagaimana ia harus menjelaskan?
"Ibu dan Bapak... sedang pergi," jawab Raka akhirnya, dengan suara pelan dan hati-hati. "Mereka bilang Nadira harus istirahat dulu di sini. Nanti kalau Nadira sudah sehat, baru bisa pulang."
Nadira menatap Raka dengan tatapan sedih. "Tapi Nadira kangen Ibu..."
Air mata mulai jatuh di pipi Nadira, air mata yang murni, seperti air mata anak kecil yang kehilangan ibunya.
Raka tidak tahan melihatnya. Ia ingin memeluk Nadira, ingin mengusap air matanya, ingin mengatakan "Aku di sini, aku suamimu, aku akan jaga kamu."
Tapi ia tidak bisa.
Karena bagi Nadira sekarang, ia hanya orang asing.
Om yang tidak dikenal.
Raka menarik kursi dan duduk di samping ranjang, menjaga jarak agar Nadira tidak takut.
"Nadira... mau cerita nggak? Cerita tentang Ibu dan Bapak. Om mau dengar," ucap Raka dengan suara lembut.
Nadira menatap Raka dengan tatapan ragu, lalu perlahan mengangguk.
"Ibu... Ibu suka masak nasi goreng," ucap Nadira dengan suara lirih. "Enak banget. Nadira suka. Terus Bapak... Bapak suka gendong Nadira. Nadira suka digendong Bapak."
Raka tersenyum sedih tapi tulus. "Ibu dan Bapak pasti sayang banget sama Nadira."
Nadira mengangguk dengan senyuman kecil, senyuman polos seorang anak kecil.
Dan Raka duduk di sana, mendengarkan cerita Nadira tentang masa kecilnya, tentang ingatan yang ia pegang erat, sementara semua ingatan tentang Raka, tentang cinta mereka, tentang kebersamaan mereka, semuanya hilang.
Tapi Raka tidak menyerah.
Ia akan berjuang. Ia akan membuat Nadira ingat.
Perlahan. Satu per satu.
Karena cinta yang sejati tidak pernah menyerah, meski harus dimulai dari nol lagi.
bnr kata mama mu raka, ujian buatmu, kau gantung dira 3 thn, ni msh setahun lbh dikit udh blg lelah aja hehh
semoga ga lovely doply yah Thor
gantian dong tuh laki merasakan rasa sakit hati enak benar menyesal terus happy, semua orang bisa Kya dia berbuat sesuka hati terus nyesel
cik gak terima aku cwk udah berkorban sbnyak itu, sedangkan cwoknya hnya menyesal lngsung damai dan bersma kmbli
ogaaah bgtt cokk