NovelToon NovelToon
Reincarnation Of The Ancient Ruler

Reincarnation Of The Ancient Ruler

Status: sedang berlangsung
Genre:Action
Popularitas:713
Nilai: 5
Nama Author: blueberrys

Dahulu kala, seorang Kaisar Kuno yang agung berhasil menyatukan empat kekaisaran dan menaklukkan dewa penguasa demi melindungi keseimbangan dunia. Namun, di puncak kejayaannya, ia dikhianati dan ditikam dari belakang oleh murid kesayangannya sendiri yang bekerja sama dengan sekte iblis, hingga raganya jatuh ke dalam lembah kegelapan. Sepuluh ribu tahun berlalu, sang Kaisar bereinkarnasi menjadi Shang Zhi, seorang bocah miskin yang hidup menderita di jalanan. Tragedi kembali menghampirinya saat ibunya tewas, memicu takdir baru ketika ia diselamatkan oleh seorang master misterius.



Perjalanan Shang Zhi menuju Perguruan Tian Long membawanya bertemu dengan Yun Xi, seorang gadis periang yang perlahan menumbuhkan benih romansa di tengah kerasnya pengembaraan. Namun, bahaya selalu mengintai saat kelompok perompak menyerang dan memaksa segel misterius dalam tubuh Shang Zhi bangkit, mengubahnya menjadi sosok buas yang tak kenal ampun demi melindungi orang yang dicintainya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blueberrys, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

permata di dalam tumpukan lumpur

Di bawah langit yang perlahan membiru, Shadow troops kembali bersiap. Perang yang sesungguhnya baru saja dimulai.

Setahun telah berlalu sejak jatuhnya tirai kemunafikan Kaisar Wang Jian. Kota Cahaya Abadi tidak lagi dipenuhi oleh cahaya buatan yang menyilaukan, melainkan oleh sinar matahari yang jujur dan bayang-bayang yang damai. Di bawah kendali Shadow troops, Wang Long berubah dari kekaisaran kasta yang kaku menjadi pusat kekuatan baru yang sedang memulihkan diri.

Namun, bagi Shang Zhi, kemenangan militer hanyalah langkah awal. Ia tahu bahwa musuh sesungguhnya bukan sekadar kaisar-kaisar fana, melainkan hukum langit yang lebih tinggi dan dendam yang belum tuntas di Sekte Tian Long. Ia membutuhkan kekuatan yang lebih dari sekadar penghancuran ia membutuhkan pemahaman mendalam tentang keseimbangan antara cahaya dan kehampaan.

Maka, ia memutuskan untuk menetap. Selama dua belas bulan, Sang Penakluk bermata emas itu tidak duduk di atas takhta emas yang ia rebut. Ia justru memilih tinggal di paviliun tua di tepi Danau Cermin Jiwa, sebuah tempat yang dulu menjadi pusat meditasi rahasia para leluhur Wang Long.

Di paviliun yang sunyi itu, Shang Zhi menghabiskan hari-harinya dalam keheningan yang mematikan. Ia sering terlihat duduk bersila di atas air danau yang membeku, mencoba menyatukan energi Kaisar kuno miliknya dengan esensi cahaya murni yang masih tertinggal di tanah itu.

Setiap pagi, sebelum embun menguap, seorang gadis akan muncul membawa nampan kayu berisi teh herbal dan gulungan kitab kuno. Namanya adalah Lin Mei. Ia adalah putri dari seorang pejabat rendahan yang dulu hampir dieksekusi oleh Wang Jian karena mencoba membela budak berdarah rendah. Setelah Shang Zhi membebaskan keluarga mereka, Lin Mei secara sukarela mendedikasikan dirinya untuk membantu sang penyelamat.

Lin Mei memiliki kecantikan yang lembut tipe kecantikan yang tidak mengintimidasi, namun menenangkan seperti bulan di malam yang tenang. Rambutnya hitam legam, dan matanya selalu memancarkan ketulusan yang jarang ditemukan di dunia kultivasi yang penuh tipu daya.

"Tuan Shang," suaranya lembut, hampir seperti gemerisik daun. Ia meletakkan nampan itu di tepi danau, tidak berani mengganggu lingkaran energi yang berputar di sekitar Shang Zhi. "Teh ini dibuat dari bunga salju puncak timur. Ini akan membantu menenangkan meridian Anda setelah latihan berat semalam."

Shang Zhi membuka matanya. Warna emas di pupilnya perlahan memudar, kembali ke warna hitam yang dalam namun tajam. Ia menatap Lin Mei, bukan dengan tatapan seorang pria kepada wanita, melainkan dengan tatapan seorang kakak yang melindungi.

"Terima kasih, Mei-er," jawab Shang Zhi singkat. Hanya kepada gadis inilah Shang Zhi mengizinkan sedikit kelembutan menyusup ke dalam suaranya.

Bulan demi bulan berlalu. Lin Mei bukan sekadar pembawa teh. Ia memiliki pengetahuan luas tentang herba dan alkimia yang ternyata sangat membantu Shang Zhi dalam memahami interaksi energi. Seringkali, saat Shang Zhi mengalami kebuntuan dalam memahami Teknik Penjara Kehampaan Abadi, Lin Mei akan membacakan baris-baris puisi kuno yang ternyata mengandung kunci filosofis bagi ilmu tersebut.

"Tuan, apakah kekuatan harus selalu menghancurkan?" tanya Lin Mei suatu sore, saat mereka duduk di bawah pohon sakura yang mulai berguguran. "Aku melihat Anda berlatih setiap hari, dan energinya seolah menelan semua yang ada di sekitarnya."

Shang Zhi melihat telapak tangannya. "Kehampaan bukan berarti ketiadaan, Mei-er. Kehampaan adalah ruang di mana segalanya bisa bermula kembali. Aku harus menguasai ini agar saat aku menghadapi mereka di Qian Long, aku tidak hanya menghancurkan musuhku, tapi juga bisa melindungi apa yang tersisa."

Lin Mei menunduk, menyembunyikan rona merah di pipinya. "Dunia menganggap Anda monster, tapi aku melihat Anda sebagai seseorang yang membawa beban terlalu berat. Anda memiliki seluruh kekaisaran ini, namun Anda tetap terlihat... kesepian."

Shang Zhi tertegun sejenak. Ia teringat permaisurinya yang masih berada di balik tembok Qian Long. Kerinduan itu adalah api yang membakarnya setiap malam, namun kehadiran Lin Mei adalah air yang menjaga agar api itu tidak membakar jiwanya hingga menjadi abu.

Bagi Lin Mei, perasaannya telah tumbuh melampaui rasa syukur. Ia jatuh cinta pada keteguhan hati Shang Zhi, pada kesedihan yang tersembunyi di balik matanya, dan pada caranya menghormati kehidupan meskipun ia adalah seorang pencabut nyawa bagi musuh-musuhnya. Namun, ia juga sadar setiap kali Shang Zhi menatap ufuk timur, pria itu tidak sedang melihat masa depan bersamanya, melainkan sedang merencanakan jalan pulang menuju wanita lain yang telah ada terlebih dahulu di dalam hati nya.

Pada suatu malam yang sunyi, kedamaian mereka terusik. Sisa-sisa pengikut setia Wang Jian yang bersembunyi di pegunungan mencoba melakukan pembunuhan terhadap Shang Zhi. Mereka menggunakan racun jiwa yang disebarkan melalui udara saat Shang Zhi berada dalam titik terdalam meditasinya.

Saat itu, Shang Zhi hampir tidak sadarkan diri, energinya menjadi tidak stabil karena serangan mendadak itu. Lin Mei, yang tidak memiliki kemampuan tempur tinggi, tidak melarikan diri. Dengan tangan gemetar, ia menggunakan pengetahuan alkimianya untuk meramu penawar secara instan di tempat itu juga. Ia bahkan menggunakan darahnya sendiri sebagai media untuk menstabilkan energi Shang Zhi yang mengamuk.

"Jangan mati... tolong jangan tinggalkan kami," isak Lin Mei sambil memeluk tubuh dingin Shang Zhi, menyalurkan sedikit kehangatan yang ia miliki.

Saat Shang Zhi tersadar dan dengan mudah menghancurkan para penyerang yang tersisa hanya dengan satu lambaian tangan, ia melihat Lin Mei yang pucat dan lemah di pelukannya. Ia merasakan kehangatan yang tulus, sebuah pengabdian yang murni. Untuk sesaat, ia membelai rambut gadis itu.

"Kenapa kau mempertaruhkan nyawamu, Mei-er? Aku bisa pulih sendiri," bisik Shang Zhi.

Lin Mei menatap mata emas itu, matanya berkaca-kaca. "Karena bagi dunia Anda adalah Kaisar baru, tapi bagiku... Anda adalah segalanya."

Shang Zhi terdiam. Ia bisa merasakan debaran jantung gadis itu. Ia bisa melihat harapan di matanya. Tapi Shang Zhi adalah pria yang setia pada jiwanya sendiri. Ia melepaskan pelukannya secara perlahan, namun tetap memegang bahu Lin Mei dengan kokoh.

"Mei-er, dengarkan aku," suara Shang Zhi berat dan serius. "Kau adalah cahaya di tahun yang gelap ini bagiku. Kau telah menyelamatkan nyawaku, dan kau adalah satu-satunya orang yang aku percayai di kota ini. Tapi hatiku tak tak pernah berada di sini. Hatiku telah tertinggal di Qian Long, dan jiwaku telah terkunci oleh janji yang tidak bisa aku langgar."

Lin Mei terpaku. Air mata jatuh ke pipinya, namun ia tersenyum pahit. Ia sudah tahu jawaban itu sejak awal, namun mendengarnya secara langsung terasa seperti pedang yang menembus dadanya.

"Aku mengerti, Tuan," bisik Lin Mei, suaranya bergetar. "Aku tidak meminta takhta atau tempat di hati Anda. Menjadi saudari yang membantu Anda mempersiapkan diri... itu sudah cukup bagiku."

Shang Zhi mengangguk pelan. "Kau akan selalu menjadi saudariku, Mei-er. Siapa pun yang menyentuhmu, mereka menantang maut dariku. Kau akan menjadi wali di paviliun ini saat aku pergi nanti."

Satu tahun telah genap. Kekuatan Shang Zhi telah mencapai puncaknya. Ia kini mampu melipat ruang dan waktu dalam skala kecil, dan energi kehampaannya telah mencapai tingkat di mana ia bisa memadamkan cahaya bintang jika ia mau.

Hari keberangkatan tiba. Ribuan pasukan Shadow troops telah bersiap di gerbang kota. Jenderal Huo berdiri di depan, memegang kendali kuda hitam besar untuk tuannya.

Shang Zhi berdiri di anak tangga terakhir istana, menghadap Lin Mei. Gadis itu tidak lagi menangis. Ia mengenakan pakaian sutra terbaiknya, berdiri tegak dengan martabat seorang putri.

"Ini adalah jimat pelindung yang aku buat," Lin Mei menyerahkan sebuah kantong kecil berisi herbal dan batu pelindung. "Ini tidak sekuat ilmu Anda, tapi mungkin bisa menjadi pengingat bahwa ada rumah yang menunggu Anda di sini jika dunia menjadi terlalu dingin."

Shang Zhi menerima jimat itu, menyelipkannya ke dalam zirah hitamnya. "Jaga Wang Long, Mei-er. Jika ada yang mencoba merebut kedamaian ini, panggil Jenderal Huo atau kirim sinyal kepadaku. Aku akan kembali secepat bayangan."

Ia berbalik, jubah hitamnya berkibar ditiup angin kencang yang tiba-tiba muncul. Langkah kakinya mantap menuju kudanya. Ia tidak menoleh lagi.

Lin Mei berdiri di balkon istana, persis di tempat Kaisar Wang Jian dulu berdiri. Namun, alih-alih memancarkan kesombongan, ia memancarkan kesetiaan yang sunyi. Ia melihat debu mengepul dari derap ribuan kuda yang meninggalkan kota.

"Pergilah, Kakak Zhi," bisiknya pelan hingga hanya angin yang bisa mendengarnya. "Ambil kembali permaisurimu. Getarkan dunia dengan namamu. Aku akan tetap di sini, menjaga bayang-bayangmu agar tetap hangat."

Di garis depan pasukan, mata Shang Zhi kembali berubah menjadi emas murni, memancarkan aura pembunuh yang mampu membekukan sungai. Keramahan yang ia miliki selama setahun ini telah ia kunci kembali di dalam paviliun itu. Kini, ia kembali menjadi Shang Zhi, sang pembalas dendam, sang penakluk yang haus akan keadilan.

"Tujuan kita: Perbatasan Qian Long!" teriak Shang Zhi, suaranya menggelegar seperti guntur di langit yang cerah. "Siapkan pedang kalian! Hari ini kita tidak hanya berbaris... kita akan mengukir sejarah baru di atas tanah musuh!"

"Genap enam tahun..kalian menghalangi jalan ku..

membiarkan orang orang terdekat ku menderita..

sekarang aku telah kembali..siapkan kepala kalian untuk menanggung amarah kaisar ini." gumam Shang Zhi pelan,matanya menyiratkan amarah sekaligus dendam yang sedalam lautan.

Dunia mulai berguncang. Di timur, Kekaisaran Qian Long dan Sekte Tian Long mulai merasakan getaran di tanah mereka sebuah peringatan bahwa badai yang mereka coba musnahkan bertahun-tahun lalu, kini datang kembali dengan kekuatan yang sanggup menelan matahari.

...Bersambung.... ...

1
urrr🍈
aduh... sedihnya sampe sini🥹🥲
pinguin: author bilek : kasi senang aja dulu🤭
total 1 replies
urrr🍈
dalam bgt kata-katanya
urrr🍈
suka bgt sama cara penyampaiannya /Smile/
Adi tt
done
Adi tt
oke done
Adi tt
💪🤣🤣
book of novel
Bang, kalo boleh bertanya. Ini bab sudah berapa kali revisi?
pinguin: gapapa bg sama² berusaha, semangat 💪
total 3 replies
Adi tt
semangat BG di tunggu ch selanjutnya 💪
pinguin: okee makasi yaa
total 1 replies
Adi tt
lanjut bg semangat💪
pinguin: di tunggu yaaa
total 1 replies
Adi tt
done
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!