Sofia hamil anak dari Jabez suaminya namun Layla merebut kebahagian itu dari Sofia dengan mencuri Test Pack milik Sofia, dan Layla mengaku-ngaku bahwa dia lah yang hamil anak dari Jabez.
Mendengar kabar baik atas kehamilan Layla, tentu saja membuat Jabez menjadi senang karena selama ini, dia sangat mendambakan seorang anak untuknya sebagai penerus keturunan Gurita kerajaan perusahaan EZAZ RAYA.
Layla merupakan istri pertama dari Jabez Ezaz yang digadang-gadang semua orang untuk meneruskan garis keturunan keluarga Ezaz Raya.
Mampukah Sofia menjalani pernikahan ini bersama Jabez serta membuktikan pada semua orang bahwa Layla berbohong akan kehamilannya. Dan kembali merebut hati suaminya agar Jabez mencintainya lagi serta menendang kekuasaan Layla dari istana Alhambra.
Mohon dukungannya ya pemirsa yang budiman 🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reny Rizky Aryati, SE., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3 PERTENGKARAN KECIL
Suara tawa Layla masih terdengar keras, wajahnya berubah menakutkan, dengan sorot mata dingin menatap Sofia.
Sofia tak berdaya ketika dua orang dayang kepercayaan Layla memeganginya sehingga dia tak mampu mengambil kembali benda Test Pack miliknya dari tangan Layla.
"Lebih baik kau bermimpi saja untuk merebut hati Jabez dari sisiku, Sofia. Karena hal itu tidak akan pernah terjadi."
"Berikan Test Pack punyaku, kau tidak bisa mengakui bahwa hasil kehamilan milikku punyamu, Layla !"
"Kenapa tidak, Sofia, kuberitahu satu hal padamu bahwa di dunia ini tidak ada yang tak mungkin terjadi karena hal yang mustahil semua bisa terwujud, selir Sofia..."
"Tapi tidak untukmu, Layla !"
"Kenapa tidak, selir Sofia, bukankah kau sudah mendengar yang kukatakan tadi padamu ?"
"Aku tak mendengarnya karena apa yang kau katakan bagiku hanyalah fantasimu belaka, Sofia."
''Hahahahaha..., kasihan sekali dirimu, tidak bisa berbuat apa-apa..."
"Seharusnya yang perlu dikasihani itu adalah kamu, Layla !"
"Aku ???"
Layla melotot tajam kepada Sofia, tersenyum pahit sambil mengerlingkan kedua bola matanya.
"Hohohohoho..., bagaimana mungkin kau bisa berkata demikian terhadapku, apa yang perlu dikasihani dariku sebab hidupku sangat bahagia bersama Jabez..."
"Oh, iya ?"
Sofia menjawab dengan kasar sembari mendengus kesal pada Layla, dan berkata kembali.
"Akan kuberi tahu satu hal juga padamu, Layla !"
Layla merengut serta terdiam dengan sorot mata sinis menusuk tajam.
"Apa itu ?"
Ucap Layla kemudian dengan hati penasaran.
Sofia tertawa dalam hatinya sebab dia berhasil memancing emosi Layla sehingga wanita jahat itu bereaksi.
"Aku beritahu padamu bahwa sebenarnya kau tidak pernah merasakan kebahagiaan atas pernikahanmu bersama Jabez Ezaz..."
"Aku tidak bahagia karena apa sehingga aku tidak merasa senang dengan pernikahanku ini, Sofia ?"
"Kau tidak pernah merasa dicintai karena yang kau inginkan dari semua orang mencintaimu terutama terhadap Jabez, kau sama sekali hanya memikirkan dirimu saja, Layla tanpa mengerti makna mencintai."
"Apa maksud ucapanmu itu, Sofia ?"
"Layla, kau cemburu padaku karena kau tidak hamil meski kau dan Jabez sudah lama menikah bahkan di saat Jabez memiliki selir agar dia punya keturunan, kau murka karena dirimu tidak ingin tersaingi !"
"PLAAAK... !"
Layla menatap dingin ke arah Sofia, tangannya gemetar sedangkan dia menggeram marah.
Sofia tersenyum dangkal dengan wajah memar memerah akibat bekas tamparan Layla lalu tertawa mengejek.
"Kenapa, Layla, kau kelihatan takut ?"
"Kau !"
Layla meradang marah sembari melotot tajam, dan bibirnya mengatup rapat.
"Berani masih bicara padaku, wanita rendahan !''
"Akui saja kau tidak pernah terima bahwa dirimu tersaingi olehku dan akuilah jika aku lebih hebat darimu, Layla !"
"Kau... !!!"
Tangan Layla terayun ke udara, siap melayang ke wajah Sofia namun Layla segera mengurungkannya.
"Sayang sekali, kau tidak bisa berbuat apa-apa sebab bukti akan kehamilanmu tidak akan pernah tersampaikan pada Jabez, Sofia."
Layla menarik ujung dagu milik Sofia hingga mendekat kepadanya, dia tersenyum sinis seraya mencibir.
"Bermimpilah selagi kau bisa, Sofia !"
Layla tersenyum sinis sembari mencibir pahit kepada Sofia.
Tib-tiba datang Jabez Ezaz dari arah berlawanan, dia melihat pertengkaran antara Layla dan Sofia.
"Apa yang terjadi ?"
Layla yang mendengar suara Jabez langsung terkejut panik, dia menoleh kepada suaminya.
"Ja-Jabez..."
"Apa yang terjadi disini, Layla, kalian bertengkar ?"
Jabez Ezaz melirik tajam kepada Sofia yang tertahan oleh dua orang dayang kepercayaan Layla, istri pertamanya.
"Lepaskan Sofia !"
"Ba-baik, tuan Jabez..."
Dua orang pelayan wanita segera melepaskan cengkraman tangan mereka dari kedua lengan milik Sofia, mereka mundur sembari menundukkan kepala.
Jabez menoleh kepada Layla dengan wajah serius.
"Kenapa kau lakukan itu pada Sofia, apa dia telah berbuat salah sehingga kau berlaku keras kepadanya, Layla ?"
"Oh, eh, tidak, kami hanya salah paham saja sehingga terjadi perselisihan kecil, bukan apa-apa, Jabez."
"Benarkah itu, Layla ?"
"Eh, yah, benar, suamiku..."
Layla mengangguk pelan seraya menundukkan pandangan namun dia sengaja memperlihatkan benda Test Pack di tangannya agar Jabez Ezaz dapat melihatnya.
"Dan apa yang kau pegang itu, Layla ?"
"Ini bukti kehamilan punyaku..."
"Benarkah itu, Layla ?"
"Y-yaa..."
"Berikan padaku sekarang benda itu, Layla !"
"Y-yyaa..."
Layla menyerahkan Test Pack kepunyaan Sofia kepada Jabez Ezaz sedangkan Sofia melotot marah karena hasil kehamilannya diakui oleh Layla, sehingga Sofia bereaksi keras.
"Layla berbohong, benda Test Pack itu punyaku, Jabez !"
Jabez Ezaz menoleh pelan ke arah Sofia, terdiam dengan tatapan dinginnya.
"Kau juga hamil, Sofia ?"
"Ya, Jabez, aku hamil anak kita, dan benda Test Pack yang ada di tanganmu itu adalah punyaku bukan punya Layla, tadi dia merebutnya dariku !"
"Layla, benarkah itu ?''
Layla yang kebingungan terlihat panik namun dia sangat pintar menyembunyikan kebohongannya itu.
"I-itu tidak benar, be-benda yang ada di tanganmu adalah punyaku, So-Sofia lah yang berkata bohong padaku, suamiku."
Terdengar suara Layla terbata-bata panik ketika dia ketahuan berbohong pada Jabez Ezaz.
Sofia muak sehingga dia memotong ucapan Layla dan berkata lantang.
"Tidak, Layla, kau yang berbohong dan merampas Test Pack milikku tadi !"
"Tidak, Sofia. Benda itu milikku !"
"Kau yang berbohong, Layla !"
"Tidaaak, Sofia !"
"Yaaaa, Layla !!!"
Sofia berteriak kesal lalu menatap tajam kepada dua dayang kepercayaan Layla sembari berkata dingin.
"Mereka yang membantu Layla merampas benda Test Pack punyaku, coba kau tanyakan pada mereka kebenaran ucapanku ini, Jabez !"
Sofia mengarahkan ujung jari telunjuknya kepada dua dayang perempuan yang ada di belakang Layla.
Menyaksikan perselisihan antara dua wanita miliknya yang tidak ada artinya ini semakin membuat Jabez Ezaz kehilangan kesabarannya.
"Cukup, Sofia !"
Suara Jabez Ezaz menyentak tajam kepada Sofia sehingga membuat hening suasana di area ini.
Sofia tertegun diam dan tak percaya bahwa Jabez Ezaz akan memarahi dirinya.
"Kenapa kau berteriak padaku, Jabez ?"
"Cukup, Sofia ! Hentikan ini !"
"Ta-tapi aku berkata benar, Jabez..."
"Jika kau berkata benar maka kau pasti punya benda Test Pack tanda kehamilan seperti yang dimiliki oleh Layla, tapi kau tidak mempunyainya malah mengaku -ngaku benda ini milikmu, Sofia."
"Ta-tapi aku berkata jujur, dan benda itu memang punyaku, aku tidak membohongimu, Jabez !"
"Sudah cukup, Sofia ! Dengarkan aku bicara sekarang juga !"
"Untuk apa aku mendengarkanmu yang tidak peduli padaku."
"Sofia !!!"
Jabez Ezaz menatap tajam kepada Sofia, sehingga mereka berdua saling berpandangan serius.
Tampak air mata menggenang di dalam kedua kelopak mata Sofia yang berkaca-kaca sedih.
Jabez Ezaz menghela nafas panjang seraya mendongak, langit-langit ruangan di atasnya seakan-akan menuliskan deretan kata.
''Bahwa Kau Sebagai Seorang Laki-laki hanyalah seonggok daging basi yang tak berarti di mata kedua istrimu, Jabez Ezaz !"
Kalimat yang mengandung arti sindiran teruntuk dirinya sendiri ketika dia melihat kesedihan tergambar dari ekspresi wajah Sofia yang terlihat tak berdaya dengan situasi ini lantas semakin membuat Jabez Ezaz sebagai seorang suami menjadi frustasi.