NovelToon NovelToon
TAHANAN OBSESI

TAHANAN OBSESI

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Misteri / Psikopat / Fantasi / Fantasi Wanita
Popularitas:921
Nilai: 5
Nama Author: Celyzia Putri

seorang gadis bernama kayla diculik oleh orang misterius saat sedang bereda di club malam bersama teman temannya. pria misterius itu lalu mengurung kayla di sebuah ruangan yang gelap bagaikan penjara. kayla bertanya tanya siapa pria yang menculiknya.

apa yang akan dilakukan oleh penculik itu kepada kayla yuk baca kelanjutan kisah dari tahanan obsesi.

mencari ide itu sulit gusy

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Celyzia Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ARIS BERUBAH 90 DERAJAT

Aris meletakkan pisau makan peraknya dengan denting halus yang mematikan. Di sampingnya, pria gendut itu masih sibuk mengunyah sepotong lobster, lemak dan saus mentega menetes di dagunya yang berlapis. Pria itu sama sekali tidak menyadari bahwa predator yang sesungguhnya bukanlah dirinya yang memegang kontrol layar, melainkan pria tampan yang sedang duduk tenang di sebelahnya.

"Kamu tahu, Aris," ucap pria gendut itu sambil menyeka mulutnya dengan serbet sutra. "Kesuksesan eksperimen kali ini akan membuat kita kaya raya. Para kolektor di dark web sangat terobsesi dengan 'patah hati yang murni'. Saat kamu membunuh harapannya besok, saat itulah nilai taruhannya mencapai puncak."

Aris menyesap anggur merahnya terakhir kali. Matanya menatap tajam ke arah pria gendut itu. "Kamu terlalu banyak bicara tentang uang, tapi lupa tentang keamanan."

"Maksudmu?" Pria gendut itu mengerutkan kening, namun terlambat.

Dengan gerakan yang lebih cepat dari kedipan mata, Aris menyambar pisau daging yang tajam dari atas meja dan menghujamkannya tepat ke tenggorokan pria gendut itu. Suara jleb yang basah merobek keheningan ruang makan mewah tersebut. Pria gendut itu terbelalak, tangannya menggapai-gapai udara, mencoba mengeluarkan suara yang kini hanya berupa gelembung darah.

Aris tidak melepaskan genggamannya. Ia memutar pisau itu sedikit, memastikan nyawa sang "sutradara" gila itu tercabut sampai ke akarnya. Ia menatap mata pria itu yang mulai meredup dengan dingin.

"Aku bukan aktor dalam pertunjukanmu," bisik Aris tepat di telinga pria yang sedang menjemput ajal itu. "Aku adalah pemilik panggung ini sekarang."

Setelah tubuh tambun itu terkulai tak bernyawa di atas meja, mengotori hidangan mewah dengan darah yang kental, Aris segera bergerak. Dengan ketenangan yang mengerikan, ia menyeret mayat itu menuju sebuah ruang pendingin besar di balik dapur. Ia membersihkan ceceran darah di lantai marmer dengan cairan kimia khusus yang telah ia siapkan sebelumnya. Dalam waktu kurang dari lima belas menit, ruang makan itu kembali terlihat sempurna, seolah tidak pernah terjadi pembantaian di sana.

Tamu yang Tak Diundang

Aris baru saja mengganti kemejanya yang terkena sedikit bercak darah ketika suara bel pintu depan rumah mewah itu berbunyi. Ia melirik layar monitor pengawas gerbang depan. Di sana berdiri dua orang pria berseragam polisi dengan mobil patroli yang terparkir di luar.

Aris menarik napas dalam, mengatur ekspresi wajahnya kembali menjadi sosok pria yang sopan dan santun. Ia membuka pintu besar itu dengan senyum ramah yang sedikit tampak kuyu—seolah ia baru saja terbangun dari tidur.

"Selamat malam, Petugas. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Aris dengan suara baritonnya yang menenangkan.

"Selamat malam, Pak. Saya Sersan Bram dan ini rekan saya," ucap salah satu polisi sambil menunjukkan foto seorang gadis. "Kami sedang mencari keberadaan Kayla. Ada laporan dari warga sekitar yang melihat mobil dengan ciri-ciri tertentu masuk ke area ini beberapa hari lalu. Apa Anda melihatnya?"

Aris menatap foto Kayla di tangan polisi itu dengan ekspresi prihatin yang sangat meyakinkan. "Kayla? Gadis malang ini... ya, saya melihat beritanya di televisi. Tapi maaf, Petugas, ini area pribadi dan saya baru saja pindah ke sini. Saya belum melihat siapa pun."

Polisi yang lebih muda tampak curiga, matanya mencoba mengintip ke dalam lorong rumah yang luas. "Boleh kami masuk sebentar untuk memastikan? Hanya prosedur rutin, Pak."

Aris berpura-pura ragu sejenak, lalu mengangguk kecil. "Tentu, silakan. Saya mengerti tugas Anda. Mari masuk, di luar sangat dingin."

Begitu kedua polisi itu melangkah masuk ke dalam aula depan, Aris menutup pintu dan menguncinya. Langkah kaki mereka bergema di atas lantai marmer.

"Rumah yang sangat besar untuk ditingali sendiri," gumam Sersan Bram sambil memegang gagang senjatanya, naluri polisinya mulai bergejolak.

"Memang," jawab Aris yang kini berjalan di belakang mereka. "Saking besarnya, tidak akan ada yang mendengar jika terjadi kecelakaan di sini."

Belum sempat Sersan Bram berbalik, Aris mengeluarkan pistol peredam suara yang ia ambil dari laci meja depan. Phut! Phut! Dua peluru tepat bersarang di belakang kepala kedua polisi tersebut. Mereka jatuh tersungkur tanpa sempat mengeluarkan teriakan atau menarik senjata.

Aris menatap kedua mayat polisi itu tanpa penyesalan sedikit pun. Baginya, mereka hanyalah gangguan kecil dalam skenario besar yang sedang ia susun.

Ruang Kontrol Sang Dewa

Aris melangkahi mayat para petugas itu dan menuju ke sebuah ruangan rahasia di lantai dua. Ruangan itu adalah jantung dari seluruh fasilitas penyiksaan ini. Saat pintu otomatis terbuka, ia disambut oleh puluhan layar monitor yang memenuhi dinding dari lantai hingga langit-langit.

Layar-layar itu menampilkan setiap sudut rumah, setiap koridor gelap, dan yang paling utama: Sel tempat Kayla berada.

Aris duduk di kursi kulit yang empuk, menyandarkan punggungnya sambil menatap layar utama. Di sana, Kayla tampak terbangun. Gadis itu terlihat linglung, meraba-raba sisi kasur yang kosong, mencari sosok Aris yang baru saja menyatu dengannya semalam. Kayla mulai menangis, memanggil-manggil nama Aris dengan suara yang sangat memilukan.

Aris mengamati air mata Kayla melalui monitor beresolusi tinggi itu dengan tatapan yang sangat kompleks. Ada sisa-sisa cinta di sana, namun tertutup oleh kegelapan ambisi yang jauh lebih besar.

Ia menekan sebuah tombol pada panel kontrol. "Kayla... bisakah kau mendengarku?" suaranya menggema di sel melalui pengeras suara, namun kali ini tanpa distorsi suara robot. Itu suara asli Aris.

Di layar, Kayla tersentak. Ia melihat sekeliling dengan penuh harapan. "Aris?! Kamu di mana?! Tolong aku, Aris!"

Aris tersenyum tipis, sebuah senyum yang akan menghancurkan jiwa siapa pun yang melihatnya. "Aku di sini, Sayang. Aku sedang melihatmu. Kamu terlihat sangat cantik saat sedang ketakutan seperti itu."

Kayla mulai menyadari ada yang salah. Suara Aris terdengar terlalu tenang, terlalu berkuasa. "Aris... apa yang terjadi? Siapa pria bertopeng itu? Di mana dia?"

Aris mendekatkan wajahnya ke mikrofon di ruang kontrol. "Pria bertopeng itu sudah mati, Kayla. Aku membunuhnya untukmu. Tapi sekarang, aku sadar... aku jauh lebih menyukai posisi ini. Menjadi orang yang memegang kendali atas setiap tarikan napasmu."

Ia kemudian menyalakan layar-layar tambahan di dalam sel Kayla, yang kini menampilkan rekaman saat mereka berhubungan badan semalam, diputar berulang-ulang di depan mata gadis itu.

"Malam itu sangat indah, bukan?" tanya Aris dingin. "Itu adalah hadiah perpisahan dari 'Aris yang baik'. Sekarang, perkenalkan... aku adalah pemilik baru hidupmu."

Kayla berteriak histeris, memukul-mukul layar monitor yang tiba-tiba muncul di sekelilingnya, sementara Aris hanya duduk diam menonton, menikmati kehancuran mental gadis yang baru saja ia cintai—atau ia tipu dengan sangat sempurna.

1
Agus Barri matande
semangat thor
Thecel Put
omg saya sangat suka cerita dengan genre seperti ini❤️‍🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!