Rani, seorang pembalap motor berjiwa bebas, menentang keras perjodohan yang diatur ayahnya dengan seorang ustadz tampan bernama Yudiz. Meskipun penolakan itu tak digubris, pernikahan pun terjadi. Dalam rumah tangga, Rani sengaja bersikap membangkang dan sering membuat Yudiz kewalahan. Diam-diam, Rani tetap melakoni hobinya balapan motor tanpa sepengetahuan suaminya. Merasa usahanya sia-sia, Yudiz akhirnya mulai mencari cara cerdik untuk melunakkan hati istrinya dan membimbing Rani ke jalan yang benar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Lilis berlari kecil menelusuri koridor rumah kayu yang tenang itu.
Napasnya sedikit terengah-engah saat mencapai pintu kamar Kyai Abdullah.
Tanpa menunggu lama, ia mengetuk pintu dengan ritme yang cepat dan cemas.
"Abi! Umi! Buka pintunya, ada kabar darurat dari Mas Yudiz!" teriak Lilis.
Pintu terbuka, menampakkan sosok Kyai Abdullah yang baru saja meletakkan kitabnya.
Wajahnya yang teduh tampak sedikit terusik oleh kepanikan putrinya.
Di belakangnya, Nyai Salmah ikut berdiri dengan raut wajah bertanya-tanya.
"Ada apa, Lilis? Kenapa teriak-teriak seperti itu?" tanya Kyai Abdullah tenang.
"Mas Yudiz baru saja telepon, Abi! Katanya... katanya Mbak Rani amnesia!" Lilis bicara cepat sampai hampir tersedak.
"Tadi di depan temannya di rumah sakit, Mbak Rani nggak mau ngaku kalau Mas Yudiz suaminya. Dia bilang Mas Yudiz itu cuma 'Tuan Sumbangan' yang kebetulan lewat dan bantu dia!"
Kyai Abdullah terdiam membat dan melepaskan kacamata bacanya, lalu menghela napas panjang yang terasa sangat berat.
Bahunya sedikit merosot, seolah beban di pundaknya bertambah berkali-kali lipat.
"Ya Allah, cobaan apalagi ini?" gumam Kyai Abdullah pelan.
"Baru kemarin janji suci diucapkan, sekarang sudah dianggap orang asing. Apa hati anak itu memang sekeras batu hingga enggan mengakui takdirnya?"
Sementara Kyai Abdullah tampak terpukul, Nyai Salmah justru menunjukkan reaksi yang berbeda.
Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang sulit diartikan.
Ia tidak tampak sedih, melainkan seperti melihat sebuah peluang emas yang baru saja terbuka lebar.
"Sabar, Kyai. Mungkin memang ini pertanda dari langit kalau mereka tidak sejalan," ucap Nyai Salmah lembut, meski matanya berkilat penuh rencana.
Nyai Salmah kemudian melangkah menuju sudut ruangan, mengambil ponselnya dengan gerakan anggun. Dan segera Nyai Salmah menghubungi Laila.
Laila adalah putri seorang sahabat lama Nyai Salmah, seorang ustadzah muda yang lemah lembut, hafizah, dan sejak lama sudah dipersiapkan Nyai Salmah dalam hatinya untuk menjadi pendamping Yudiz sebelum Rani datang merusak rencana itu.
Setelah sambungan terhubung, Nyai Salmah bicara dengan suara yang penuh penekanan.
"Assalamualaikum, Laila? Nak, segera datang ke rumah sakit tempat Yudiz sekarang. Ada sesuatu yang terjadi pada menantuku yang 'istimewa' itu."
"Maksud Nyai?"
"Dengarkan Umi, Laila. Kesempatan tidak datang dua kali. Jika kamu memang masih ingin menjadi istri Yudiz dan mengabdi di pesantren ini, sekarang saatnya. Kamu harus bisa merebut kembali tempatmu dari Rani. Dia sendiri yang sudah membuang harga diri Yudiz dengan menganggapnya orang asing. Sekarang, pergilah dan tunjukkan siapa yang lebih layak berdiri di samping putraku."
Laila di seberang telepon terdiam sejenak, jantungnya berdegup kencang mendengar instruksi Nyai Salmah yang begitu gamblang.
Selama ini, ia memendam perasaannya pada Yudiz dalam diam dan doa, mencoba ikhlas saat mendengar kabar pernikahan mendadak itu. Namun sekarang, pintu itu kembali terbuka.
"Baik, Umi. Laila mengerti. Laila segera berangkat ke sana sekarang juga," jawab Laila dengan suara lembut namun mantap.
Ia segera merapikan hijabnya dan melangkah keluar rumah dengan satu tekad untuk menjalankan amanah Nyai Salmah mengabdi pada Yudiz.
Sementara itu, di dalam kamar perawatan rumah sakit yang tenang, cahaya lampu remang-remang menyelimuti ruangan.
Rani perlahan membuka matanya, indra penciumannya langsung menangkap aroma wangi kayu gaharu yang sangat ia kenali.
Telinganya menangkap suara gumaman rendah yang sangat merdu, melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an dengan tartil yang sempurna.
Rani menoleh ke samping. Ia melihat Yudiz duduk di kursi kecil di samping tempat tidurnya, memegang mushaf kecil dengan wajah yang sangat tenang. Ada gurat kelelahan di matanya, namun ketulusannya tidak bisa berbohong.
"Kenapa kamu belum pulang?" suara Rani terdengar parau dan lemah.
Yudiz menghentikan bacaannya, menutup mushaf, lalu menatap Rani dengan senyum tipis yang hangat.
Ia meletakkan tangannya di atas dahi Rani sejenak untuk mengecek suhu tubuhnya.
"Bagaimana bisa aku meninggalkan istriku yang sedang sakit sendirian di sini?" jawab Yudiz lembut.
Rani tertegun sejenak, hatinya sempat bergetar. Namun, rasa gengsi dan ketakutannya akan dunia barunya ini mendadak muncul kembali.
Rani memalingkan wajah, menggelengkan kepalanya pelan untuk mengusir rasa haru itu.
"Tuan sumbangan, jangan terlalu percaya diri ya," ucap Rani dengan nada ketus yang dipaksakan.
"Jangan menganggap diri kamu spesial hanya karena kamu bayar biaya rumah sakit ini."
Yudiz mengernyitkan kening, sedikit bingung dengan sebutan baru itu.
"Tuan sumbangan?"
"Iya! Kamu itu cuma donatur yang kebetulan lewat! Jadi jangan sok romantis nungguin aku," lanjut Rani.
Ia kemudian menatap Yudiz dengan sorot mata mengancam.
"Hati-hati, lho. Nanti kalau Mario datang dan lihat kamu di sini, dia bisa menghajar kamu sampai habis. Dia nggak suka ada orang asing yang sok pahlawan di depanku."
Yudiz tidak tampak takut sama sekali. Ia justru tertawa kecil, suara tawa yang membuat Rani semakin kesal sekaligus bingung.
"Mario?" Yudiz mengulangi nama itu sambil merapikan selimut Rani.
"Jika dia memang peduli padamu, dia seharusnya sudah ada di sini sejak tadi. Tapi kenyataannya, saat ini hanya ada aku, si 'Tuan Sumbangan' yang menurutmu asing ini dan yang mendoakan kesembuhanmu di setiap ayat yang kubaca."
Rani langsung terdiam dan ia tidak bisa membalas perkataan dari Yudiz.
Tepat saat suasana sedang tegang, pintu kamar perawatan tiba-tiba terbuka.
Seorang gadis cantik dengan balutan hijab lebar berwarna cokelat susu masuk dengan langkah anggun.
Ia membawa sebuah keranjang buah dan wajahnya memancarkan keteduhan yang sangat kontras dengan Rani.
"Assalamualaikum, Mas Yudiz..." panggil Laila dengan suara yang sangat merdu.
Rani menyipitkan mata, menatap gadis itu dari ujung kaki sampai ujung kepala.
"Siapa lagi ini? Santriwati yang mau minta sumbangan juga?"
Yudiz berdiri dari kursinya dengan gerakan yang sangat tenang namun tegas.
Ia menatap Laila dengan sorot mata yang dingin, seolah kehadiran gadis itu adalah sebuah gangguan besar di tengah malam yang sunyi ini.
Tanpa menjawab salam Laila, Yudiz memberi isyarat agar Laila segera keluar dari kamar.
"Laila, ikut aku keluar sebentar," ucap Yudiz rendah.
Laila menunduk, mengikuti langkah Yudiz ke koridor rumah sakit yang sepi. Rani, yang rasa penasaran dan naluri "detektif"-nya mendadak bangkit, berusaha menggeser tubuhnya.
Meski tangannya perih karena perban, ia nekat bangkit dari bantal dan menempelkan telinganya ke pintu kamar yang sedikit terbuka.
"Drama apalagi ini? Kenapa ustadzah ini mukanya kayak habis lihat hantu?" gumam Rani sambil meringis menahan nyeri di tangannya.
Di koridor, Laila mendadak berlutut di depan Yudiz. Air matanya jatuh membasahi pipi.
"Mas Yudiz, Laila mohon. Laila tidak tahan melihat Mas diperlakukan seperti ini oleh wanita yang bahkan tidak tahu cara menghormati suaminya!" isak Laila.
"Umi Salmah benar, Mas butuh pendamping yang mengerti adab, yang bisa mengurus Mas dan pesantren. Jadikan Laila istri kedua Mas. Laila rela mengabdi, Laila rela melakukan apa saja asal Mas tidak dihina seperti tadi!"
Yudiz mundur selangkah, wajahnya menunjukkan keterkejutan sekaligus kemarahan yang tertahan. Ia tidak menyangka Laila akan senekat itu.
"Astaghfirullah, Laila! Apa yang ada di pikiran kamu?!" suara Yudiz naik satu nada, terdengar bergetar karena emosi.
"Kamu ini wanita berilmu, seorang hafidzah! Bagaimana bisa kamu datang ke sini dan mengemis cinta di depan pintu kamar istriku yang sedang terbaring sakit?"
"Tapi Mas, dia tidak menganggap Mas! Dia bilang Mas hanya orang asing yang memberi sumbangan!" balas Laila dengan suara parau.
"Itu urusanku dengan istriku! Apapun yang Rani katakan, dia adalah tanggung jawabku dunia dan akhirat. Aku tidak pernah butuh istri kedua, Laila. Yang kubutuhkan adalah kesabaran untuk membimbing wanita yang sudah dipilihkan Allah untukku!" tegas Yudiz.
Yudiz menunjuk tangannya ke ke arah lift yang ada disana.
"Sekarang, pulanglah. Jangan pernah kembali ke sini dengan niat seperti ini lagi. Sampaikan pada Umi, aku tidak suka cara ini."
Laila menangis tersedu-sedu, ia menutup wajahnya dengan tangan dan berlari menjauh menuju lift.
Yudiz menarik napas panjang, mengusap wajahnya dengan kasar sambil beristighfar berkali-kali.
Di balik pintu, Rani terdiam mematung. Kata-kata Yudiz.
"Wanita yang sudah dipilihkan Allah untukku"—bergaung di telinganya.
Ada rasa hangat yang aneh menyelinap di dadanya, menggantikan rasa kesal yang tadi membara.
Rani buru-buru kembali ke tempat tidur dan berpura-pura tidur saat mendengar langkah kaki Yudiz kembali masuk ke kamar.
Yudiz duduk kembali di kursi, ia tidak menyadari jika tadi Rani mengintip.
Ia hanya menatap Rani yang memejamkan mata, lalu membisikkan doa pelan.
"Maafkan aku, Rani. Jika duniaku membuatmu merasa tidak nyaman."