Langit Sterling, remaja Jakarta yang bermasalah akibat balap liar, dikirim ke Pondok Pesantren Mambaul Ulum Yogyakarta untuk dibina. Usaha kaburnya justru berujung petaka ketika ia tertangkap di asrama putri bersama Senja Ardhani, putri Kyai Danardi, hingga dipaksa menikah demi menjaga kehormatan pesantren.
Pernikahan itu harus dirahasiakan karena mereka masih bersekolah di SMA yang sama. Di sekolah, Langit dan Senja berpura-pura menjadi musuh, sementara di pesantren Langit berjuang hidup sebagai santri di bawah pengawasan mertuanya, sambil menjaga rapat identitasnya sebagai suami rahasia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuningsih titin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 Malam yang menghancurkan
Melihat Langit yang tampak kepayahan mengepel lantai masjid dengan wajah ditekuk, Rayyan tidak tega. Pemuda itu mengambil kain pel lain dan mulai membantu Langit di sisi yang berbeda.
"Sudahlah, Lang. Jangan terus-terusan melawan arus. Semakin kamu berontak, talinya justru akan semakin melilit lehermu," ucap Rayyan tenang, tanpa menghentikan gerakannya.
Langit mendengus kasar, membanting kain pelnya ke dalam ember hingga airnya menciprat.
"Lo nggak ngerti, Ray! Hidup gue di Jakarta itu bebas. Di sini? Napas aja kayak diatur jadwal. Gue nggak betah!"
Rayyan tersenyum tipis, mencoba memberikan sudut pandang lain. "Terima saja takdirmu dulu. Belajarlah dengan baik, ikuti alurnya. Toh, ini cuma setahun, kan? Begitu lulus SMA, kamu bebas memilih kuliah di mana saja, bahkan mungkin balik ke Jakarta atau ke luar negeri.
Setahun itu sebentar kalau kamu menjalaninya dengan ikhlas."
Mendengar kata 'setahun', mata Langit justru membelalak frustrasi. Ia menyugar rambutnya dengan kasar.
"Satu tahun, Ray? Lo bilang sebentar?" Langit tertawa sinis, tawa yang penuh dengan keputusasaan.
"Bagi gue, seminggu di sini aja rasanya kayak seabad. Kalau gue harus nunggu setahun, itu bukan sebentar, Ray... itu rasanya kayak harus nunggu satu abad lamanya! Gue bisa mati berdiri di sini sebelum lulus!"Langit benar-benar sudah di ambang batas kesabarannya.
Selama beberapa hari berikutnya, Langit tampak jauh lebih tenang. Ia mulai mengikuti jadwal mengaji tepat waktu dan tidak lagi membantah instruksi Ustadz Hasan.
Di sekolah pun, ia mulai mencatat pelajaran meskipun wajahnya masih terlihat kaku. Ustadz Hasan mulai bernapas lega, mengira bahwa hidayah akhirnya menyentuh hati pemuda Jakarta itu.
Namun, di balik sikap patuhnya, otak cerdas Langit terus berputar, memetakan setiap sudut pondok dan menghitung jam-jam saat penjagaan sedang lengang. Ia hanya sedang "bermain peran" agar pengawasan terhadapnya mengendur.
Suatu sore, saat matahari mulai menyepi di ufuk barat, Langit bertemu dengan Kyai Danardi di depan ndalem. Dengan suara teduh, sang Kyai mengajaknya berjalan-jalan menuju area persawahan di belakang pesantren.
Langit hanya mengangguk patuh dan berjalan mengekor di belakang Kyai Danardi, menikmati semilir angin yang membawa aroma tanah basah.
"Kamu tahu, Langit? Dulu, saya juga pernah berdiri di posisimu," ujar Kyai Danardi tiba-tiba, memecah keheningan.
Langit mendongak, sedikit terkejut mendengar pengakuan itu. Kyai Danardi pun mulai bercerita bahwa ia adalah putra seorang pengusaha sukses kelas internasional.
Masa mudanya di Jakarta dihabiskan dengan gaya hidup yang sama liarnya dengan Langit. Karena pergaulan yang semakin tak terkendali, orang tuanya memaksanya mondok di tempat ini.
"Ayahmu adalah sahabat karib saya sejak SMA di Jakarta. Kami sama-sama nakal dulu," lanjut Kyai Danardi sambil terkekeh pelan.
"Bedanya, saya 'dijinakkan' di sini dan akhirnya menikah dengan Ibu Nyai Aminah, sementara ayahmu tetap di Jakarta untuk meneruskan bisnis keluarga.
Tapi takdir memang lucu, kami bertemu lagi saat kuliah di UGM Yogyakarta. Persahabatan itulah yang membuat ayahmu sangat memercayaiku untuk menjagamu." Langit tertegun, tidak menyangka bahwa sosok berwibawa di depannya ini memiliki masa lalu yang sangat mirip dengannya.
Cerita itu sempat menyentuh hatinya, namun keinginan untuk bebas tetap jauh lebih besar daripada rasa kagumnya.
Malam itu, suasana pesantren pecah oleh riuh rendah jamaah yang datang dari berbagai penjuru untuk menghadiri tausyiah besar.
Di tengah kesibukan para santri yang menyiapkan konsumsi dan mengatur saf, Langit melihat peluang emas.
Dengan napas memburu, ia menyeret sebuah tangga kayu yang ia temukan di belakang gudang menuju tembok pembatas yang paling gelap.
"Kali ini nggak boleh gagal," batinnya sambil memanjat anak tangga satu per satu. Namun, baru saja tangannya menyentuh puncak tembok, sorot lampu senter kembali menghujam matanya.
"LANGIT! TURUN KAMU!" teriakan Ustadz Hasan menggelegar di tengah keramaian.
Panik dan merasa sial karena terus-menerus tertangkap, Langit tidak mau menyerah begitu saja.
Sebelum tangan Ustadz Hasan meraih kakinya, ia nekat meloncat ke arah sisi lain tembok.
Ia mendarat dengan keras, berguling di rerumputan, dan langsung berlari tanpa arah demi menghindari kejaran.
Namun, Langit tidak sadar bahwa dalam kegelapan itu, ia justru meloncati pagar yang membatasi wilayah asrama putri.
Saat seorang santriwati memergokinya dan nyaris berteriak, Langit panik dan menerobos masuk ke dalam kamar terdekat yang pintunya sedikit terbuka.
Di dalam kamar itu, Senja yang baru saja selesai mandi dan sedang mengganti pakaiannya tersentak hebat.
Belum sempat Senja mengeluarkan suara, Langit sudah menerjang maju, membekap mulutnya rapat-rapat, dan mendorongnya hingga mereka berdua jatuh di atas ranjang.
Rambut panjang Senja yang masih basah tergerai berantakan di atas seprai. Dalam posisi Langit yang mengunci tubuhnya di atas, keduanya sempat saling tatap dalam keheningan yang mencekam.
"Maaf... tolong jangan berteriak," bisik Langit lirih sambil jemarinya perlahan menyibak rambut yang menutupi wajah Senja.
Namun, Senja yang merasa terancam dan marah langsung memberontak sekuat tenaga. Ia berusaha mendorong dada Langit dan mulai mengeluarkan teriakan yang tertahan di balik telapak tangan.
Takut teriakan itu akan mengundang seluruh penghuni pondok dan menghancurkan hidupnya, Langit kehilangan akal sehatnya.
Untuk membungkam suara Senja yang terus mendesak, Langit nekat menciumnya, menghentikan teriakan itu dalam sebuah kontak fisik yang tak terduga dan akan mengubah takdir mereka selamanya.
Ketegangan di dalam kamar itu mendadak berubah menjadi atmosfer yang aneh.
Ciuman nekat Langit berhasil membungkam suara Senja, namun dampaknya jauh lebih hebat dari yang ia duga.
Langit melepaskan tautan bibirnya perlahan, namun wajahnya masih hanya berjarak beberapa senti dari wajah Senja.
"Jangan berteriak, atau saya akan terus mencium kamu," ancam Langit dengan suara serak yang bergetar.
Senja terdiam mematung, dadanya kembang kempis karena emosi dan rasa terkejut yang luar biasa. Air mata mulai menggenang di sudut matanya yang indah.
"Tolong... lepasin," bisik Senja nyaris tak terdengar, menatap tepat ke dalam manik mata Langit.
Alih-alih segera menjauh, Langit justru terpaku. Di bawah temaram lampu kamar, ia baru menyadari betapa cantiknya gadis yang selama ini ia anggap musuh itu.
Aroma sabun dan rambut basah Senja mendadak membuat jantung Langit berdegup tak karuan.
Mereka terjebak dalam keheningan yang lama, saling menatap dalam posisi yang sangat intim, seolah dunia di luar sana sedang berhenti berputar.
Namun, keajaiban itu hancur dalam sekejap saat pintu kamar didobrak dari luar.
"Astaghfirullah!" pekik salah seorang pengurus pondok putri yang masuk bersama serombongan santri lain.
Langit terperanjat dan buru-buru turun dari atas tubuh Senja dengan wajah pucat pasi.
Senja langsung bangkit dengan terisak hebat, tangannya gemetar hebat saat berusaha merapikan pakaian dan rambut panjangnya yang berantakan.
Teman sekamar Senja berlari masuk, wajahnya penuh kecemasan, dan segera menyampirkan kerudung ke kepala Senja untuk menutupi auratnya.
"Kurang ajar kamu, Langit! Apa yang kamu lakukan?!" bentak salah satu ustadz yang ikut masuk.
Tanpa ampun, tangan Langit ditarik kasar. Ia diarak keluar dari asrama putri menuju rumah Kyai Danardi di bawah tatapan ngeri dan bisik-bisik ratusan santri yang terbangun.
Sementara itu, di dalam kamar, Senja hanya bisa meringkuk dan menangis sesenggukan di pelukan teman-temannya, menyadari bahwa kehormatannya baru saja dipertaruhkan oleh cowok paling bermasalah di pondok itu.
Suasana di ruang tamu ndalem terasa begitu dingin dan mencekam, seolah oksigen di sana mendadak hilang.
Langit duduk bersimpuh di lantai kayu dengan kepala tertunduk dalam, tangannya yang gemetar ia sembunyikan di balik lutut.
Tak lama, derap langkah kaki terdengar mendekat. Kyai Danardi berjalan masuk dengan raut wajah yang sulit diartikan, ada perpaduan antara keterkejutan, luka, dan kekecewaan yang mendalam.
Beliau baru saja dipanggil dari masjid di tengah acara tausyiah yang masih berlangsung.
Di ruangan itu, suasana semakin berat dengan kehadiran para pengasuh. Ustazah Aisyah dan Ustazah Halimah berdiri di sisi kanan dengan wajah tegang, sementara Ustadz Hasan dan Ustadz Hasbi berdiri di sisi kiri dengan tatapan tajam menghujam ke arah Langit.
Ustazah Aisyah kemudian mulai menceritakan kronologi kejadian dengan suara bergetar, menjelaskan bagaimana mereka menemukan Langit berada di dalam kamar putri dalam posisi yang sangat tidak pantas bersama Senja.
"Panggil Senja ke sini," perintah Kyai Danardi dengan suara rendah namun penuh wibawa yang menggetarkan nyali.
Beberapa saat kemudian, Senja masuk dengan langkah gontai, didampingi seorang teman dekatnya.
Wajahnya sembap, matanya merah karena terlalu banyak menangis. Sambil terisak dan sesekali menyeka air mata di balik cadar daruratnya, Senja menceritakan bagaimana Langit tiba-tiba menerobos masuk, membekapnya, hingga melakukan tindakan nekad untuk membungkam suaranya.
Setiap kata yang keluar dari mulut Senja seperti belati yang menusuk kehormatan keluarga Kyai.
Mendengar pengakuan putrinya, Kyai Danardi memejamkan mata erat-erat, tangannya mengepal kuat di atas pangkuan. Sementara itu, Langit hanya bisa membisu.
Semua pembelaan yang tadinya ia siapkan di dalam kepala mendadak lenyap.
Ia tidak bisa mengelak, tidak bisa membantah, dan hanya sanggup menatap lantai sambil meratapi nasibnya yang kini berada di ujung tanduk di depan pria yang paling dihormati oleh ayahnya tersebut.