Dahulu kala, seorang Kaisar Kuno yang agung berhasil menyatukan empat kekaisaran dan menaklukkan dewa penguasa demi melindungi keseimbangan dunia. Namun, di puncak kejayaannya, ia dikhianati dan ditikam dari belakang oleh murid kesayangannya sendiri yang bekerja sama dengan sekte iblis, hingga raganya jatuh ke dalam lembah kegelapan. Sepuluh ribu tahun berlalu, sang Kaisar bereinkarnasi menjadi Shang Zhi, seorang bocah miskin yang hidup menderita di jalanan. Tragedi kembali menghampirinya saat ibunya tewas, memicu takdir baru ketika ia diselamatkan oleh seorang master misterius.
Perjalanan Shang Zhi menuju Perguruan Tian Long membawanya bertemu dengan Yun Xi, seorang gadis periang yang perlahan menumbuhkan benih romansa di tengah kerasnya pengembaraan. Namun, bahaya selalu mengintai saat kelompok perompak menyerang dan memaksa segel misterius dalam tubuh Shang Zhi bangkit, mengubahnya menjadi sosok buas yang tak kenal ampun demi melindungi orang yang dicintainya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blueberrys, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Badai kekaisaran Wang Long
Dengan langkah mantap, sosok pengembara itu menghilang di balik kabut pagi, meninggalkan puing-puing satu kekaisaran di belakangnya, siap untuk mengguncang fondasi dunia sekali lagi.
Setahun sudah sejak pertama kali Shang Zhi menaklukkan kekaisaran Chi Long dan seluruh kemunafikan nya,kini mata Shang Zhi tertuju pada satu ke kekaisaran yang penuh kemunafikan, perbudakan, dan menganut sistem kasta yang sangat kaku,ini menjadi tujuan Shang Zhi sebelum akhir dari tujuan yang sesungguhnya...menjadi kaisar dan memimpin seluruh dunia.
Kekaisaran Wang Long berdiri sebagai antitesis yang sempurna bagi Chi Long yang bergejolak. Jika Chi Long adalah api yang meledak-ledak dan tak teratur, maka Wang Long adalah cahaya yang tenang, dingin, namun membutakan mata. Di bawah kepemimpinan Kaisar Wang Jian, kekaisaran ini telah memposisikan dirinya selama berabad-abad sebagai pusat moralitas, keadilan, dan kesucian di seluruh daratan. Ibu kotanya, Kota Cahaya Abadi, adalah sebuah mahakarya arsitektur yang dibangun sepenuhnya dari marmer putih kualitas tertinggi yang dipahat dengan presisi surgawi. Marmer itu memiliki kemampuan untuk memantulkan setiap butir sinar matahari, menciptakan ilusi optik bahwa kegelapan tidak pernah, dan tidak akan pernah, sanggup menyentuh jengkal tanah tersebut.
Namun, bagi mereka yang memiliki mata yang mampu menembus tabir, Wang Long hanyalah sebuah panggung teater kemunafikan yang agung. Di balik fasad suci dan aroma dupa yang menenangkan, Wang Long adalah sarang dari sistem kasta garis keturunan yang paling kaku dan kejam. Mereka memuja cahaya, namun menganggap mereka yang lahir tanpa darah bangsawan sebagai "jiwa yang redup" manusia kelas dua yang ditakdirkan hanya untuk melayani para "pembawa cahaya".
Shang Zhi tiba di perbatasan Wang Long tidak lagi sebagai seorang pengembara tunggal yang diselimuti debu gurun. Di belakangnya, sebuah pemandangan yang akan membuat jantung jenderal mana pun berhenti berdetak: sepuluh ribu prajurit berbaris dengan disiplin yang melampaui logika militer.
Mereka kini dikenal sebagai shadow troops.
pasukan ini bukanlah tentara bayaran biasa. Mereka adalah kumpulan dari para pendekar yang sebelumnya tertindas, mantan budak yang dibebaskan dari tambang-tambang gelap, dan sisa-sisa prajurit elit Chi Long yang telah menyerahkan jiwa dan senjata mereka untuk bersumpah setia pada "Mata Emas" sang penguasa baru. Mereka mengenakan zirah hitam legam yang seolah-olah menyerap cahaya di sekitarnya, menciptakan kontras yang mengerikan dengan salju putih yang menyelimuti pegunungan perbatasan Wang Long.
"Tuanku," ucap seorang pria bertubuh kekar yang kini berdiri di samping Shang Zhi. Itu adalah Jenderal Huo, mantan komandan Benteng Naga Api yang kini telah menyerahkan kehormatannya sebagai bawahan setia Shang Zhi. Matanya menatap tembok putih raksasa di depan mereka dengan kecemasan yang nyata. "Wang Long memiliki Tembok Cahaya Suci. Itu bukan sekadar tembok batu itu adalah formasi pertahanan kuno yang ditenagai oleh ribuan batu roh tingkat tinggi. Belum ada pasukan dalam catatan sejarah yang mampu menembusnya. Bahkan serangan dari tiga kekaisaran sekaligus pun pernah gagal di sini."
Shang Zhi, yang kini mengenakan jubah hitam baru dengan sulaman naga perak yang melilit pedang pusakanya, tidak bergeming. Angin dingin pegunungan memainkan ujung jubahnya, namun ia tampak seperti pilar kegelapan yang tak tergoyahkan.
"Cahaya mereka hanya ada karena mereka takut pada kegelapan yang mereka simpan dalam jiwa mereka sendiri," suara Shang Zhi rendah, namun bergetar dengan wibawa yang tak terbantahkan. "Mereka membangun tembok untuk menyembunyikan dosa. Hari ini, aku akan menunjukkan pada mereka apa itu kegelapan yang sebenarnya kegelapan yang memurnikan."
Ketika Shadow Legion mencapai gerbang perbatasan, mereka tidak disambut oleh dentuman genderang perang, melainkan oleh nyanyian himne yang suci. Para pendeta prajurit Wang Long keluar dengan jubah putih bersih tanpa noda sedikit pun. Di baris depan, pendeta Agung Yan berdiri dengan sombong, mengangkat tongkat emas yang di puncaknya tertanam kristal surya yang memancarkan cahaya menyilaukan, memaksa para prajurit Shadow troops untuk memicingkan mata.
"Berhenti, pembawa kegelapan! Mundurlah ke lubang kehampaan tempatmu berasal!" suara Yan menggelegar, penuh dengan nada penghakiman yang pura-pura suci. "Tanah ini adalah tanah yang diberkati oleh cahaya abadi. Energi jahat dan kotor yang kau bawa tidak akan pernah bisa menembus kemurnian kami. Berlututlah, akui dosamu, dan bertobatlah! Jika tidak, cahaya ini akan menghanguskan jiwamu hingga tidak ada yang tersisa untuk bereinkarnasi!"
Shang Zhi melangkah maju sendirian, melewati barisan prajuritnya. Setiap langkahnya meninggalkan jejak hitam di atas salju yang murni. Uskup Agung Yan mengayunkan tongkatnya, dan sebuah pilar cahaya murni menghantam tubuh Shang Zhi dengan kekuatan yang mampu menguapkan baja.
Namun, sebuah keajaiban yang mengerikan terjadi. Alih-alih terbakar atau terpental, cahaya itu justru seolah-olah terjinakkan. Sinar matahari yang ganas itu tersedot ke arah tubuh Shang Zhi, diserap oleh pori-pori kulitnya tanpa meninggalkan luka sedikit pun.
"Kemurnian?" Shang Zhi tertawa, sebuah suara dingin yang membuat para pendeta prajurit itu merinding. "Kalian bicara tentang kemurnian di atas podium marmer, sementara kalian membiarkan rakyat jelata mati kelaparan di pemukiman luar hanya karena mereka tidak memiliki garis keturunan 'suci'? Kalian bicara tentang pertobatan sementara tangan kalian tetap terbuka lebar menerima emas dari Keluarga keluarga bangsawan untuk memfitnah dan menghancurkan keluarga-keluarga tidak bersalah?"
Wajah pendeta Agung Yan memucat. Rahasia gelap yang ia simpan rapat-rapat seolah-olah dibedah di depan umum.
Shang Zhi menghujamkan pedang hitamnya ke tanah dengan satu gerakan tajam.
"Teknik Kaisar: Gerhana Abadi!"
Dalam sekejap, dunia seolah-olah kehilangan matanya. Langit biru yang cerah di atas Wang Long tertutup oleh bayangan raksasa yang muncul entah dari mana. Matahari, sang sumber kekuatan mereka, seolah-olah ditelan bulat-bulat oleh kegelapan yang pekat dan dingin. Cahaya dari tongkat Uskup Agung Yan meredup, berkedip, dan akhirnya padam total. Kota yang biasanya bersinar terang itu kini berubah menjadi kelabu, dingin, dan rapuh.
pendeta Agung Yan terjatuh ke lututnya, tongkat emasnya terlepas dari tangannya. "Ini... ini tidak mungkin. Ini bukan ilmu hitam biasa... Ini adalah manipulasi hukum alam! Kau membalikkan tatanan dunia! Siapa... siapa kau sebenarnya?!"
Shang Zhi tidak menjawab dengan kata-kata. Kata-kata sudah tidak lagi berguna untuk mereka yang telah tuli oleh kesombongan. Ia mencabut pedangnya dari tanah, bilah hitamnya kini memancarkan aura kehampaan yang seolah-olah menghisap udara di sekitarnya.
Ia mengayunkan pedangnya dalam satu tebasan diagonal yang lebar.
"Tebasan Kehampaan: Pemecah Tabir!"
Sebuah gelombang energi hitam berbentuk sabit raksasa melesat dengan kecepatan yang melampaui suara. Gelombang itu menghantam Tembok Cahaya Suci dengan dentuman yang menggetarkan seluruh benua. Suara seperti kaca raksasa yang pecah memekakkan telinga, bergema di seluruh lembah saat formasi pertahanan yang dianggap tak tertembus itu hancur berkeping-keping menjadi partikel cahaya yang sia-sia.
Marmer putih yang melapisi benteng itu retak seribu, lalu runtuh dalam bongkahan-bongkahan besar, menyingkapkan struktur batu biasa yang kusam dan kasar di bawahnya sebuah metafora visual yang sempurna bagi kebohongan besar Kekaisaran Wang Long.
"Masuk," perintah Shang Zhi singkat.
Shadow troops menyerbu masuk seperti air bah hitam yang mematikan ke dalam kota yang kini kehilangan cahayanya. Namun, sesuai perintah tegas Shang Zhi, mereka tidak menyentuh warga sipil yang ketakutan. Mereka bergerak dengan presisi target mereka hanya satu militer yang korup dan para petinggi yang telah menjual integritas mereka demi emas Keluarga keluarga bangsawan.
Shang Zhi berjalan melewati kekacauan pertempuran itu dengan ketenangan seorang raja. Baginya, Wang Long bukan sekadar target penaklukan wilayah. Ini adalah langkah strategis. Ia tahu bahwa Keluarga Lu, musuh besarnya di Sekte Tian Long, telah menyembunyikan sebagian besar aset terlarang dan dokumen diplomatik mereka di dalam brankas-brankas marmer kota ini. Untuk menghancurkan naga di sarangnya, ia harus terlebih dahulu memotong pasokan napasnya.
Di kejauhan, menara istana Wang Long masih berdiri tegak, meski kini tampak seperti nisan raksasa di bawah langit yang gelap. Shang Zhi bisa merasakan kehadiran energi yang sangat besar di sana sesuatu yang lebih sakral dan lebih kuat dari sekadar kultivator ranah biasa.
"Kaisar Wang Jian," bisik Shang Zhi, matanya berkilat emas di tengah kegelapan gerhana. "Tunjukkan padaku seberapa kuat cahaya yang kau banggakan itu, sebelum aku memadamkannya untuk selamanya."
Dengan jatuhnya benteng perbatasan tercepat dalam sejarah manusia, jalan menuju jantung Wang Long kini terbuka lebar. Sang "Iblis Gurun" tidak lagi sekadar rumor yang dibisikkan oleh para pelarian dia adalah kenyataan pahit yang kini mengetuk pintu-pintu kekuasaan lama dengan kepalan tangan besi.
Sebelum melanjutkan langkahnya, Shang Zhi berhenti sejenak di sebuah kios pasar yang sudah ditinggalkan. Di sana, ia melihat sebuah jubah sutra putih yang indah, kontras dengan pakaian hitamnya. Ia mengambilnya, memandangnya sejenak, lalu melemparnya ke dalam kobaran api di dekatnya. Ia tidak membutuhkan sutra putih untuk membuktikan kesuciannya.
"Satu lagi akan jatuh," gumamnya, memikirkan orang orang terdekatnya yang masih menunggunya di suatu tempat di balik konspirasi besar ini. "Dan kali ini, cahaya tidak akan bisa menyelamatkan mereka."
Langkah Shang Zhi bergema di atas jalanan marmer yang retak, menuju istana pusat di mana pertempuran sesungguhnya antara cahaya palsu dan kegelapan murni baru saja akan dimulai.
...Bersambung.......