Mengkisahkan seorang wanita yang bernama Aulia Az-Zahra yang hidup dalam dunia penuh intrik, pengkhianatan, dan tipu daya orang-orang terdekatnya, dari suami yang berkhianat hingga keluarga yang ikut campur, ia belajar bahwa kepercayaan bukanlah sesuatu yang bisa diberikan begitu saja.
Dengan keberanian dan prinsip, Zahra memutuskan untuk membalas dengan bismillah, bukan dengan dendam, tapi dengan strategi, keteguhan, dan kejujuran...
Akan kah Zahra bisa membalaskan sakit hati nya? dan apakah Zahra juga bisa menemukan kebahagiaannya setelah ini?
Jangan lupa tekan love sebelum melanjutkan membaca dan tinggalkan komentar juga ya besty!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen_Fisya08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 Semua Orang Menjauhi Bu Ratna
Pagi itu, rumah Bu Ratna tidak lagi dipenuhi suara seperti biasanya.
Biasanya, setiap sudut rumah besar itu terasa hidup oleh langkah-langkah nya, yang selalu memerintah orang yang ada dirumahnya terutama Zahra yang selalu menjadi korbannya setiap hari..
Dirumah besar itu hanya tinggal Dini dan dirinya saja, Genta pun sudah keluar dari rumah tersebut karena mengikuti sang istri Aulia Az-Zahra
Ponsel Bu Ratna tergeletak di meja ruang tengah, layarnya menyala berkali-kali, lalu meredup lagi...
Beberapa pesan masuk sebagian belum dibaca, sebagian sudah dibaca tapi tidak dibalas.
Nama-nama itu tidak asing, mereka yang dulu cepat menjawab, mereka yang dulu sigap menuruti.
Kini, sebagian keluarga mulai diam, dan sebagian lagi mulai bertanya.
Dan yang paling menyakitkan bagi Bu Ratna lebih menyakitkan daripada perlawanan terang-terangan, tidak semua orang lagi berada di pihaknya.
Langkah pelan terdengar dari arah lorong Dini muncul di ambang ruang tengah, wajahnya ragu, langkahnya tertahan seolah sedang menimbang sesuatu yang berat.
"Mak, Tante Mira menolak untuk datang" katanya akhirnya, suaranya rendah karena merasa takut sang ibu marah kepada nya karena dirinya lah yang ditugaskan untuk menghubungi Mira bibi nya yang super bawel dan kepo
Bu Ratna mengangkat kepala perlahan, tatapannya tajam, penuh tuntutan..
“Menolak?”
"Iya...! Katanya… katanya urusan ini sudah kelewatan.” jawab Dini hati-hati
Bu Ratna berdiri..
“Kelewatan bagaimana?”
Dini menunduk, jari-jarinya saling menggenggam...
“Katanya, ini bukan soal berpihak, ini soal adab.”
Kata itu jatuh begitu saja, pendek, sederhana, tapi menghantam tepat di dada Bu Ratna..
*Adab.*
Kata yang selama ini ia gunakan untuk mengontrol, kata yang sering ia jadikan tameng setiap kali menekan orang lain dan kata yang selalu ia klaim sebagai miliknya.
Kini, kata itu justru digunakan untuk menegurnya..
“Dia berani mengajariku adab?” suara Bu Ratna meninggi, namun getarnya tidak lagi sekokoh dulu..
Dini tidak menjawab, ia hanya diam, dan diam nya kali ini bukan tanda patuh, melainkan tanda kelelahan..
"Kenapa semua orang sudah tidak lagi percaya kepada ku, semua ini karena kamu Zahra si pembawa sial dalam keluarga ku dan keluarga ku hancur karena kamu" teriak Bu Ratna
Mendengar teriakkan ibunya Dini semakin ketakutan..!!
"Apa kamu juga mau meninggalkan Mak mu ini Dini seperti Genta mas mu itu?" Tanya Bu Ratna dengan tatapan tajam kearah Dini
Dini gemetar hebat tidak bisa menjawab, Dini hanya menangis melihat ibunya seperti itu..
"Kenapa kamu menangis Dini? Kenapa kamu tidak menjawab pertanyaan Mak?" Bu Ratna menggoncang-goncang kan bahu Dini..!
"Mak, sudah Mak! Jangan seperti ini..! Dini janji tidak akan meninggalkan Mak! Dini akan selalu bersama Mak apapun yang terjadi" ucap Dini sambil menangis melihat ibunya bersikap seperti itu
"Bagus Dini bagus! Mak masih mempunyai kamu yang patuh sama Mak" Bu Ratna memeluk Dini dan Dini hanya terdiam, disisi lain hati sangat berontak melihat kelakuan dan sifat ibunya akan tetapi ia tidak berani menentang ibunya!
Di sisi lain Zahra melangkah keluar dari sebuah gedung pertemuan kecil, langit pagi cerah, sinar matahari jatuh lembut di trotoar.
Ia baru saja menyelesaikan presentasi dengan klien baru, pertemuan yang sempat ia ragukan akan terjadi.
Namun ternyata, undangan itu nyata.
"Kami memilih Anda, karena transparansi anda" kata klien itu seorang perempuan paruh baya dengan tatapan tenang,..
Zahra sempat terdiam.
“Maksud Ibu?”
“Banyak orang membela diri dengan menyerang balik, tapi anda tidak, anda menjelaskan posisi anda tanpa menjatuhkan siapa pun, itu jarang terjadi" lanjut perempuan itu
Zahra hanya tersenyum.
“Saya hanya memilih jujur.”
"Kami menghargai itu,” kata klien itu mantap
"Terima kasih Bu" ucap Zahra lembut
Kini, langkah Zahra mantap, tidak tergesa, tidak ragu, ada bekas luka, tentu saja, tapi tidak lagi ada ketakutan yang menguasai..
***
Sementara itu, Genta duduk di sebuah kafe kecil bersama Pak Harun, pamannya, kafe itu sederhana, jauh dari kemewahan tempat-tempat yang biasa digunakan keluarga mereka untuk pertemuan, tapi justru di sanalah percakapan terasa lebih jujur.
“Kamu berubah,” kata Pak Harun setelah lama diam, tangannya memutar cangkir kopi perlahan.
Genta mengangguk pelan.
“Aku belajar dari semua kesalahanku"
Pak Harun menatap ke luar jendela sejenak. “Dan ibumu tidak siap kehilangan kendali.”
Genta menghela napas panjang.
“Aku tidak bermaksud melawannya, aku hanya berhenti menuruti yang salah.”
Pak Harun mengangguk perlahan.
“Itu yang paling sulit bagi seorang anak, bukan melawan, tapi melepaskan rasa takut.”
Genta menunduk.
“Aku baru sadar… selama ini aku lebih takut mengecewakan Mak Ratna daripada menyakiti istriku.”
Pak Harun menatapnya dalam-dalam.
“Dan sekarang?”
“Sekarang aku takut kehilangan diriku sendiri dan kehilangan Zahra kalau terus diam,” jawab Genta jujur.
Pak Harun tersenyum tipis.
“Kalau begitu, kamu sedang belajar menjadi laki-laki, bukan hanya anak.”
"Doa kan aku paman agar aku bisa melewati ujian ini dan bisa terus mempertahankan rumah tangga ku" ucap Genta
"Paman selalu mendoakan mu Genta dan keputusan mu sangat bagus untuk mempertahankan rumah tangga mu, paman akan selalu mendukung mu" ucap pak Harun
Sore itu, Bu Ratna menerima kabar lain, bukan dari orang dekat, bukan dari keluarga inti, melainkan dari salah satu relasi lama, orang yang selama ini selalu cepat menyetujui setiap permintaannya.
Kali ini jawabannya singkat, sopan, dan dingin.
("Untuk sementara, kami memilih menjaga jarak dari urusan pribadi keluarga")
Bu Ratna menutup pesan itu dengan jari yang gemetar, lalu datang pesan lain dan satu lagi polanya sama.
Tidak memutus, tidak menentang tapi tidak lagi patuh..
Ia memandangi ruang tamunya yang luas, ruangan yang selama ini menjadi simbol kekuasaannya...
Kursi-kursi empuk itu kini kosong, tidak ada tamu, tidak ada bisikan dan tidak ada rasa ditakuti..
Untuk pertama kalinya, ruangan itu terasa dingin.
"Kenapa mereka tidak takut lagi?” gumamnya pelan.dan menarik nafas panjang, dia sedang memikirkan cara untuk membalas kan ini semua
***
Malam hari nya Zahra duduk bersama orang tuanya, sambil menunggu Genta pulang
bapak nya membaca koran seperti biasa, ibunya menyiapkan teh hangat di dapur kecil, tidak ada pembicaraan berat, tidak ada analisis panjang...
Hanya kebersamaan yang sederhana..
“Kamu kelihatan lebih tenang,” kata ibunya sambil meletakkan cangkir di depan Zahra
Zahra tersenyum kecil.
"Karena aku berhenti menunggu keadilan dari manusia.”
Ibunya menatapnya lembut.
“Itu artinya kamu sudah sampai di tahap yang lebih dewasa.”
"Tapi kamu masih harus berhati-hati nak karena ibu mertua mu itu tidak akan pernah puas sebelum kamu hancur dan Genta kembali kepada dirinya" ucap bapak menasehati
"Iya pak, Zahra tahu" ucap nya pelan
"Suami mu pulang jam berapa hari ini?" Tanya sang ibu
"Mungkin sebentar lagi Bu" jawab Zahra
Ketika Zahra dan kedua orang tuanya asyik mengobrol, telepon Zahra bergetar, pesan dari Genta
("Keluarga mulai terbelah, tidak semua mendukung ibu lagi")
Zahra membaca pelan, ia tidak tersenyum puas, tidak juga merasa menang, ia hanya membaca, lalu membalas singkat..
("Itu bukan tugasku untuk memenangkan siapa pun mas") balas ku
Genta menatap layar ponselnya lama, kalimat itu sederhana, tapi terasa dewasa, Zahra tidak lagi bereaksi dari luka melainkan dari ketenangan..
("Oh ya sayang, aku pulang agak telat ya nanti, kamu istirahat saja dulu kalau kamu lelah") ucap Genta lagi
Zahra hanya membaca pesannya tanpa membalas
"Pesan dari siapa?" Tanya bapaknya
"Dari Mas Genta pak, katanya dia pulang telat" jawab Zahra
"Oh ya sudah, kalau kamu lelah, kamu bisa istirahat terlebih dahulu" ucap sang bapak, Zahra hanya mengangguk lalu pergi berjalan ke kamarnya
Di rumah Bu Ratna, suasana semakin tegang, ponselnya berdering berkali-kali, nama Genta muncul di layar, tidak diangkat, ia menelepon lagi dan lagi..
"Dini” teriak Bu Ratna memanggil Dini
Dini berdiri di ambang pintu, wajahnya lelah..!
"Besok kamu ketemu sama Rena, suruh dia kesini" ucap Bu Ratna
Dini menarik nafas panjang
"Kenapa gak ditelpon saja sih Bu? Dan kenapa aku yang harus menemui dia?" Ucap Dini yang sekarang sudah malas
"Kamu sudah berani melawan ibu" bentak Bu Ratna
Dini terdiam sebentar
"Besok buar Dini telpon saja dan menyuruhnya untuk kesini, itu juga kalau dia masih mau" ucap Dini agak ketus
Setelah berucap seperti itu Dini langsung pergi ke kamarnya dan mengunci pintu..!!
Bu Ratna tersenyum tipis, masih ada kelegaan di wajahnya, karena Dini masih mau membantu nya..!!
Setelah itu Bu Ratna duduk sendirian di kamar gelap nya, mencoba berpikir rencana untuk menghancurkan Zahra..!!
"Zahra tunggu saja, kali ini kamu akan hancur dan Genta akan menceraikan mu" ucap Bu Ratna menyeringai sangat mengerikan!