Persahabatan yang solid dari masa sekolah akhirnya harus berkumpul pada satu Batalyon di sebuah daerah perbatasan karena suatu hal. Situasi semakin kompleks karena mereka harus membawa calon istri masing-masing karena permasalahan yang mereka buat sebelumnya.
Parah semakin parah karena mereka membawa gadis mereka yang sebenarnya jauh dari harapan dan tak pernah ada dalam kriteria pasangan impian. Nona manja, bidadari terdepak dari surga + putri sok tau semakin mengisi warna hidup para Letnan muda.
KONFLIK TINGKAT TINGGI. Harap SKIP bila tidak mampu masuk ke dalam cerita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bojone_Batman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15. Tragedi kecil.
Para sahabat sudah berkumpul di depan mess Bang Rico. Mereka semua berkumpul, sudah pasti merokok dan mengopi di depan kamar messnya.
Berkali-kali Bang Rama mengibaskan asap rokok agar tidak masuk ke dalam kamar dan Bang Rico pun peka.
"Posisi dudukmu salah arah, anginya ke Barat." Kata Bang Rico mengingatkan. "Mau nongkrong di warkop aja di dekat sini??"
"Nggak usah, disini saja." Jawab Bang Rama sambil sesekali melirik Dinda.
"Istrimu itu lugu sekali untuk sekelas pramugari."
Bang Ardi hanya diam tanpa banyak kata. Ia tidak lagi segarang sebelumnya, tidak ada pertentangan apapun dan semuanya tenang.
Bang Rama pun tersenyum tipis mendengarnya. "Ardi yang mengarahkannya."
Kening Bang Rico berkerut, jelas dirinya tidak paham apa yang terjadi. "Maksudmu??????"
Bang Arben menahan suara agar sahabatnya yang berada disana bisa menahan suara dan emosinya.
"Slow Kang. Kasihan ini bumil yang di dalam." Kata Bang Arben mengingatkan. Ia menghela nafas dalam-dalam.
"Ini kalian sudah nikah apa gimana?? Nggak paham saya." Tanya Bang Rico.
"Saya sudah." Jawab Bang Sanca.
"Saya juga sudah, sebelum pindah tugas kesini." Balas Bang Arben.
Bang Rama bersandar. Matanya menerawang menatap langit-langit teras. "Kalian pikir saya seceroboh itu mengotak atik perempuan?? Saya juga sudah menikah dengan Dinda. Tapi yaaa.. Ada saja masalah sampai Dinda kabur begini."
"Maaf. Sesampainya di mess, saya akan kembalikan dokumen data diri Dinda." Ucap lirih Bang Ardi.
Bang Rama melirik Bang Ardi, tatapannya masih dingin tapi jauh lebih tenang dari sebelumnya. "Saya ingin tau, bagaimana perasaanmu untuk Dinda."
Suara Bang Ardi rasanya tersangkut di tenggorokan. Ia menghisap rokok untuk menghalau rasa gundah dalam dada.
"Beberapa tahun lalu saya bertemu dengan wanita yang membuat hati saya tergerak. Saya tau ibu tidak suka dengan dia, makanya saya membuatnya setara dan membiayai sekolahnya. Saya ingin menjaganya, menjadikannya istri saya. Dialah Dinda, Tapi takdir Tuhan tidak berpihak pada saya."
Satu kepulan asap rokok menguar dari bibir Bang Rama. "Dan tanpa saya sadari ada seorang gadis cantik memikat hati saya. Tidak pernah ada niat merebutnya, tapi saya tidak tau Dinda adalah gadis kesayanganmu. Maaf..!!"
Kedua pria itu saling menunduk membendung air mata yang hendak menetes, menyembunyikan kepedihan yang tertahan memenuhi rongga dada, menyiksa sedalam-dalamnya batin.
Bang Rico menarik Bang Rama ke dalam pelukannya, sedangkan Bang Arben pun melakukan hal yang sama pada Bang Ardi.
"Siapa yang sanggup melawan takdir Tuhan mu??? Jika saya boleh melawan, saya pun ingin Rania kembali. Ikhlaskan, memang begini jalanNya." Suara Bang Rico ikut tercekat. "Kita ini sudah dewasa, kan. Harus di sadari bahwa Rama adalah suaminya Dinda.. Rama harus menghormati Ardi dan memahami bahwa Dinda yang ada dalam dekapanmu saat ini adalah dari jerih payah Ardi. Tapi Ardi pun juga harus tau bahwa apapun yang sudah kamu lakukan, jika Tuhan belum berkehendak, kamu tidak bisa memaksa. Dinda, istrinya Rama. Kamu harus berbesar hati, di rahimnya ada anak yang akan jadi korban emosi kalian. Isin, Broo. Kita ini saudara."
"Iya.. Saya pahami, Ric. Saya minta maaf." Jawab Bang Ardi.
"Maaf..!!" Bang Rama mengulurkan tangannya pada Bang Ardi lalu mereka saling memeluk.
Bang Jay, Bang Sanca dan Bang Arben akhirnya ikut bernafas lega.
"Alhamdulillah."
"Abaaaang, Dira mabuk."
Nampak dari kejauhan Dira dan Fia menyeret koper.
"Aduuhhh.. Kenapa kalian bawa koper???" Tanya Bang Sanca.
"Kata Abang, kita liburan." Jawab Fia.
"Liburan pula dia bilang. Kamu pamit apa sama Fia??" Gumam Bang Arben menegur Bang Sanca.
"Aku asal bicara saja." Bisik Bang Sanca.
"Ini kenapa Dira ikut-ikutan??? Abang kan sudah bilang, ada urusan sebentar disini. Sebelum subuh Abang janji sudah di rumah." Kata Bang Arben beralih pada Dira.
"Dira nggak mau sendiri di rumah. Fia saja boleh ikut, kenapa Dira nggak boleh??" Balas Dira.
"Lhoo.. Kamu kok berani bantah Abang, dek?? Siapa yang ajari begitu?? Abang melarangmu kemana-mana biar kamu bisa istirahat, yang di perut masih kecil sekali, sayang. Disini rawan, hutan..!!! Coba bilang, siapa yang ajari??"
"Bang Jay." Jawab Dira.
Bang Jay pun tersenyum geli. Seketika mata para pria menatap Bang Jay penuh intimidasi.
"Jangan memuji gitu, donk." Katanya dengan sombong.
"Yang bener aja lu. Pada bawa tambur lho, Ting. Tengah malam mereka naik speedboat. " Tegur Bang Rico.
"Tapi aman, kaaan..........."
Tidak ada yang menyangka tiba-tiba Dira dan Fia menangis, beberapa saat kemudian mereka kejang dan pingsan.
"Weehhh.. Opo iki????" Pekik Bang Sanca syok.
Tak menunggu waktu lama, Bang Rico masuk ke dalam rumah. Ia mengambil dua buah gelas berisi air yang sudah di beri garam.
Bang Rama mengambil salah satunya lalu membantu Bang Rico yang entah kenapa mendadak terdiam.
"Lu kenapa, Ric.. Ram...????" Tanya Bang Jay.
"Diam, Jay. Ini karena ulahmu..!!!!!" Bentak Bang Arben.
"Sayaaang, sadar dek..!!" Bang Sanca pun panik.
"Minumkan..!!" Bang Rico memberikan gelas air itu pada Bang Arben.
Begitu juga dengan Bang Rama.
Setelah beberapa detik, Dira dan Fia tersadar. Tubuh mereka berkeringat.
"Mereka 'wangi'. Sebentar saya pinjamkan matras, baringkan mereka di dalam. Kita di larang tidur malam ini, jaga bumil." Kata Bang Rico tegas. "Terutama kau biang keroknya, kalau kau berani tidur, ku colok matamu..!!" Ancam Bang Rico pada Bang Jay.
"Iiyaaa.. Ngomong-ngomong, lu ngilmu ya Ric??" Tanya Bang Jay.
Bang Rico tidak menjawabnya dan langsung berjalan ke arah barak bujangan untuk mengambil matras.
.
.
.
.
tetap💪💪🙏
Aduuh...piye to bang Ric....🥹
lanjut mba Nara