Bagaimana jika kita tiba-tiba menjadi ibu dari anak calon suami kita sendiri ,apa yang akan kita lakukan ?Memutuskan hubungan begitu saja ?atau tetap lanjut . Aku akan berusaha menjadi ibu yang baik untuk nya ,Rara Aletta Bimantara . Akan ku usahakan semua nya untuk mu ,Terimakasih Sudah mau menjadi istri dan ibu dari anak Ku _Rama Alexandra Gottardo.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ega Sanjana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 Persaingan Antara Kakak Dan Adik
Setelah Lila menginjak usia 14 tahun dan Siti 8 tahun, hubungan mereka yang dulunya erat mulai terasa renggang. Persaingan kecil mulai muncul—Lila merasa Siti selalu mendapatkan perhatian lebih banyak dari Ayah dan Bu, sedangkan Siti merasa Lila selalu sombong dan tidak mau bermain dengannya.
Satu hari, Rara membawa pulang mainan boneka baru yang sangat dicari Siti—boneka kucing yang mirip Kiki milik Lila. Siti bersorak senang dan memegangnya erat, tapi Lila hanya melihatnya dengan wajah murung.
"Bu selalu beli mainan baginya, tapi buatku apa-apa saja tidak ada," ujar Lila sambil masuk ke kamar dan mengunci pintu.
Rara merasa kebingungan. Dia tidak menyadari bahwa memberikan mainan kepada Siti akan membuat Lila sedih. Malam itu, dia mendatangi kamar Lila dan mengetuk pintu.
"Lila, buka ya. Kita bicara," ujar Rara dengan suara lembut.
Setelah beberapa saat, pintu terbuka. Lila duduk di kasur, wajahnya basah karena menangis. "Bu suka Siti lebih dari aku, kan? Karena dia anak Bu yang sesungguhnya."
Kata-kata itu membuat Rara menangis. Dia memeluk Lila erat. "Tidak, sayang. Bu mencintai kamu sama banyaknya dengan Siti. Kamu juga anak Bu yang sesungguhnya. Bu beli mainan buat Siti karena dia sudah minta lama, tapi buka berarti bu tidak peduli pada kamu."
" Tapi di sekolah, teman-temanku bilang aku cuma anak tiri, jadi Bu tidak akan mencintaiku sepenuhnya," ujar Lila dengan suara terisak-isak.
Rara mengangkat wajah Lila dan melihat matanya. "Yang penting adalah apa yang bu pikirkan, bukan apa yang orang lain katakan. Kamu adalah bagian dari keluarga kita, dan bu akan selalu mencintaiku sampai kapanpun."
Malam itu, Rara dan Lila bicara lama. Rara menceritakan bagaimana dia pertama kali melihat Lila—betapa dia takut tapi juga ingin mencintainya. Lila pun mulai memahami, dan dia memegang tangan Rara. "Maaf, Bu. Aku salah."
Keesokan pagi, Lila mendatangi Siti yang sedang bermain dengan boneka baru. "Siti, maaf ya kalau kemarin aku marah. Kamu bisa main boneka barumu sama aku gak?"
Siti tersenyum lebar. "Boleh dong, Kak! Kita main boneka berkeluarga ya!"
Mereka bermain bersama di ruang tamu, dan Rara melihatnya dengan senyum. Tapi persaingan tidak berhenti disana. Beberapa hari kemudian, Siti menangis karena Lila mengambil buku cerita kesukaannya tanpa ijin dan membuatnya robek.
"Ayah, Kak Lila ambil buku aku dan robek! Dia benci aku!" ujar Siti ke Rama.
Rama mendatangi Lila dan menanya apa yang terjadi. "Kak Lila kenapa ambil buku Siti tanpa ijin?"
"Lia itu selalu ganggu aku ketika aku belajar. Dia mau main terus, jadi aku marah," ujar Lila.
Rama memanggil keduanya dan membuat mereka duduk bersama. "Kamu berdua adalah kakak dan adik. Harus saling menghargai dan membantu, bukan saling menyakiti. Lila, kamu harus minta maaf ke Siti. Siti, kamu juga harus menghormati waktu kakak belajar."
Lila minta maaf ke Siti, dan Siti mengangguk. Mereka saling memeluk, dan Rama merasa lega. Tapi dia tahu bahwa persaingan ini akan muncul lagi seiring mereka tumbuh—dan itu adalah tugas dia dan Rara untuk membimbing mereka.
Beberapa bulan kemudian, masalah antara Lila dan Siti semakin memburuk. Siti sering menyebarkan kabar bohong tentang Lila di sekolah, dan Lila sering menyembunyikan mainan Siti agar dia menangis. Rara dan Rama merasa frustasi—mereka sudah berusaha banyak, tapi tidak ada perubahan.
Satu hari, Lila mendapatkan undangan untuk mengikuti lomba menulis di kota Manokwari. Dia sangat senang, karena menulis adalah hobinya yang dia pelajari dari Rara. Tapi dia ragu untuk pergi, karena dia takut Siti akan sedih atau membuat masalah ketika dia tidak ada.
"Bu, aku mau ikut lomba menulis di Manokwari, tapi aku takut Siti akan marah," ujar Lila.
Rara memegang tangannya. "Jangan khawatir. Bu akan menjelaskan ke Siti. Kamu harus ikut lomba itu—itu kesempatan bagus buat kamu."
Malam itu, Rara menjelaskan ke Siti bahwa Lila akan pergi ke Manokwari selama tiga hari. Siti tersenyum. "Baik deh, Bu. Aku akan menunggu Kak Lila pulang dan minta dia cerita."
Lila merasa lega. Dia pergi ke Manokwari dengan penuh harapan, dan dia berhasil meraih juara kedua. Ketika dia pulang, dia membawa cinderamata untuk Siti—boneka kucing kecil yang mirip Kiki.
"Siti, ini buat kamu. Terima kasih sudah mendukung aku," ujar Lila dengan senyum.
Siti bersorak senang dan memeluk Lila. "Terima kasih, Kak! Kamu hebat banget juara kedua!"
Tapi kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Beberapa hari kemudian, Siti tiba-tiba sakit demam tinggi dan harus dirawat di rumah sakit. Dokter mengatakan dia menderita infeksi saluran napas yang parah, dan dia butuh rawat inap selama seminggu.
Lila merasa sedih dan bersalah. "Aku harusnya tidak pergi ke Manokwari. Kalau aku ada, Siti tidak akan sakit."
Rara memeluknya. "Tidak, sayang. Siti sakit karena musim flu. Kamu tidak salah apa-apa. Sekarang, kita harus merawat dia bersama."
Selama Siti dirawat di rumah sakit, Lila selalu ada di sampingnya. Dia membaca cerita untuk Siti, menyanyikan lagu kesukaan mereka, dan membantu memberikan obat. Siti melihat kakaknya dengan mata yang penuh cinta.
"Kak Lila, kamu baik banget. Aku suka kakak lebih dari semuanya," ujar Siti dengan suara lemah.
Lila menangis. "Aku juga suka kamu, Siti. Maaf ya kalau aku sering marah padamu dan menyakiti hatimu. Aku akan berusaha jadi kakak yang baik."
Ketika Siti pulang dari rumah sakit, mereka membuat janji untuk selalu saling membantu dan tidak lagi saling menyakiti. Mereka bekerja sama mengerjakan tugas sekolah, membuat kue bersama, dan bermain layang-layang di taman. Rara dan Rama melihatnya dengan senyum penuh kebahagiaan.
Satu malam, mereka semua duduk di teras rumah, melihat bintang-bintang yang bersinar terang. Lila memegang tangan Siti, dan Siti menyandarkan kepalanya di pundak kakaknya.
"Kita adalah keluarga yang paling bahagia di dunia, kan, Ayah?" tanya Siti.
"Ya, sayang. Selalu," ujar Rama dengan senyum. "Karena kita selalu bersama—masahat sama, senang sama."
Rara menyentuh pundak Lila dan Siti. Dia menyadari bahwa masalah antara kakak dan adik adalah bagian dari pertumbuhan keluarga. Dan dengan cinta dan pemahaman, mereka akan selalu mampu mengatasinya bersama.
Masalah Bersama ,Senang ,Bersama ,jika keluarga jadi semua nya .
Yah ,dan orang tua adalah peran yang memiliki arti penting bagi kehidupan anak -anak yang harus di lindungi ,di bimbing dan di ajari cara mengasihi satu Sama lain .
Jika Tidak ada keluarga ,maka hidup akan susah ,untuk itu Rama dan Rara selalu berusaha menjadi orang tua yang baik .