Di balik dinding rumah mewah yang megah dan sunyi, seorang pelayan perempuan menjalani hari-harinya dengan setia dan penuh kesederhanaan. Ia tak pernah menyangka, kehadirannya yang hangat justru menjadi pelipur lara bagi sang majikan. seorang pria mapan yang terjebak dalam kesepian pernikahan.
Sang majikan memiliki istri cantik dan sukses, seorang model terkenal yang lebih banyak menghabiskan waktu di luar negeri demi karier gemilangnya. Rumah megah itu pun berubah menjadi tempat yang dingin, tanpa cinta dan kehangatan.
Dari percakapan singkat hingga perhatian kecil yang tulus, benih-benih perasaan terlarang tumbuh tanpa disadari. Di antara kesepian, status, dan batasan moral, cinta kedua itu hadir menguji kesetiaan, nurani, dan pilihan hidup yang tak lagi sederhana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cumi kecil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18 DI BAWAH GUYURAN SHOWER
Air dari shower mengguyur tubuh Sari tanpa henti. Suaranya bergemuruh, menenggelamkan isak tangis yang tak lagi mampu ia tahan. Gadis itu berdiri memeluk dirinya sendiri, tubuhnya bergetar hebat, kepalanya tertunduk.
Tangannya menggosok kulit lengannya berulang kali, terlalu keras, terlalu kasar seolah air dan sabun bisa menghapus rasa perih yang bukan hanya melekat di tubuhnya, tetapi jauh lebih dalam.
“Aku kotor…” bisiknya terisak.
“Aku kotor… hiks…”
Air mata bercampur air hangat, mengalir tanpa bisa dibedakan. Kehormatan yang selama ini ia jaga untuk seseorang yang bahkan belum ia kenal, untuk masa depan yang ia impikan dengan sederhana kini terasa direnggut begitu saja.
Sari menempelkan keningnya ke dinding kamar mandi yang dingin. Dadanya sesak. Ia merasa hancur, kecil, dan sendirian.
Di desa, ia dibesarkan dengan nasihat sederhana: jaga dirimu, jaga kehormatanmu. Dan kini, semua itu terasa sia-sia.
“Apa aku masih pantas…” gumamnya lirih, namun kalimat itu tak pernah selesai.
Tubuhnya melemah. Ia bersandar, membiarkan air terus mengalir, berharap rasa lelah ini membuatnya mati rasa meski ia tahu, luka ini tidak akan sembuh hanya dengan air.
Sementara itu, di bagian lain rumah… Pintu utama terbuka dengan keras.
Langkah kaki tergesa terdengar menggema di lantai marmer.
Sabrina datang.
Wajahnya tegang, matanya tajam, emosinya jelas belum reda. Tas mahal di tangannya dilempar ke sofa tanpa peduli. Rambutnya yang biasanya tertata rapi kini sedikit berantakan, tanda amarah yang dibawanya dari luar.
Ia langsung melangkah menuju kamar utama. Tanpa mengetuk. Pintu dibuka paksa.
Di dalam, Ammar duduk di tepi ranjang, tubuhnya membungkuk, wajahnya tertutup kedua telapak tangan. Bahunya turun naik pelan, seperti seseorang yang sedang menahan beban berat di dada.
Namun pemandangan itu sama sekali tak melunakkan hati Sabrina.
“Ammar!” suaranya meninggi. “Apa maksud kamu menyuruh orang-orangmu memutuskan kontrak kerjaku?!”
Ammar mengangkat wajah perlahan. Matanya merah, namun sorotnya dingin.
“Kamu sudah tahu jawabannya,” ucapnya datar.
Sabrina mendengus. Ia melangkah masuk, berdiri di depan Ammar dengan tangan bersedekap.
“Ini keterlaluan! Kamu tidak berhak mengatur karierku sepihak seperti itu!” bentaknya. “Itu kerja kerasku bertahun-tahun!”
Ammar berdiri. Posturnya tegap, namun jelas kelelahan terpahat di wajahnya.
“Kerja keras?” ulangnya pelan, getir. “Lalu bagaimana dengan rumah ini, Sabrina? Bagaimana dengan
anakmu?”
Sabrina terdiam sesaat, lalu mengalihkan pandangan.
“Jangan bawa Queen ke dalam urusan ini,” ucapnya ketus.
“Justru karena Queen,” suara Ammar meninggi untuk pertama kalinya. “Putriku tumbuh tanpa ibunya. Dia meminta hal-hal yang seharusnya tidak dia minta karena merasa sendirian!”
Sabrina menggigit bibir. Matanya berkaca-kaca, namun ia segera menghela napas panjang, seolah mengatur emosi.
“Aku… aku menyesal,” katanya akhirnya, suaranya melembut. “Aku tahu aku salah. Tapi kamu juga tahu, Mam.. ibu terlalu ikut campur.” Ia menatap Ammar, mencoba terlihat rapuh.
“Semua jadwalku, semua kontrak, dia yang atur. Aku cuma mengikuti.”
Ammar memalingkan wajah. “Kamu selalu punya alasan, Sabrina.”
Sabrina melangkah mendekat. “Aku istrimu, Ammar. Aku tidak berniat meninggalkan kalian. Aku hanya… ingin punya sesuatu untuk diriku sendiri.”
Ammar tertawa kecil tanpa humor. “Dan kami? Queen? Aku?”
Tak ada jawaban.
Keheningan menyelimuti kamar itu. Namun sebelum pertengkaran berlanjut lebih jauh, suara langkah kecil terdengar di luar kamar.
“Papah… Mamah…?” Queen.
Ammar dan Sabrina saling menatap. Dalam sekejap, ekspresi tegang itu lenyap. Mereka tahu apa pun yang terjadi, Queen tidak boleh melihat keretakan ini.
Sabrina menarik napas, merapikan rambutnya. Ammar mengusap wajahnya cepat, memaksakan ketenangan.
Pintu terbuka.
Queen berdiri di sana dengan boneka kesayangannya, menatap kedua orang tuanya dengan mata polos.
“Ayo sarapan,” kata Ammar lembut. “Papah dan mamah sudah siap.”
Sabrina tersenyum, senyum yang terlatih. “Iya, sayang.”
Di meja makan, suasana tampak… normal. Terlalu normal.
Sabrina duduk anggun di sisi meja, Ammar di seberangnya. Queen duduk di tengah, riang menceritakan hal-hal kecil yang tak penting tentang playground, tentang perosotan, tentang Kak Sari.
Ammar dan Sabrina menanggapi seperlunya, tersenyum, sesekali tertawa kecil. Topeng keluarga bahagia.
Namun mata Sabrina memperhatikan satu hal.
Satu kursi kosong. Ia melirik sekeliling.
“Mana pengasuh putriku?” tanyanya, nada suaranya tajam. “Kenapa dia tidak terlihat?”
Seorang pelayan menunduk sopan. “Sari sedang tidak enak badan, Nyonya.”
Sabrina mengangkat alis. “Tidak enak badan?”
“Ya, Nyonya.”
“Jangan manja,” kata Sabrina dingin. “Suruh dia kemari. Saya ingin tahu bagaimana pola asuh dia terhadap putri saya.”
Ammar langsung menatap Sabrina. “Dia sedang tidak enak badan. Biarkan dia istirahat.” Nada suaranya tegas
Sabrina menoleh cepat. “Sejak kapan kamu membela pembantu?”
Sebelum Ammar menjawab, suara kecil Queen terdengar.
“Iya, Mah,” kata Queen polos. “Biarin Kak Sari istirahat. Kak Sari baik.”
Sabrina menatap anak dan suaminya bergantian. Sorot matanya mengeras, dipenuhi kecurigaan yang tiba-tiba tumbuh.
“Kenapa kalian malah membela dia?” tanyanya pelan, namun tajam. “Aku tidak ingin tahu. Panggil dia ke sini. Sekarang.”
Ammar mengepalkan tangan di bawah meja.
Di lantai atas, Sari masih duduk terdiam di kamar mandi, tubuhnya gemetar, tak tahu bahwa namanya kini menjadi pusat badai baru.
Dan di meja makan itu, senyum palsu mulai retak
menandakan bahwa ketenangan rumah ini hanya tinggal menunggu waktu untuk benar-benar runtuh.
pantesan ...
type istri mu adalah yang bener2 wanita berkeluarga.bukan wanita hanya mementingkan karier.aku juga kerja,tapi begitu pulang anak terutama ku peluk,ku suapkan makan,ku Nina bobokan ketika tidur, walaupun umur nya sudah 4 tahun,cowok lagi.tapi karena aku ingin berdekatan dengan anak,ingin mempererat jalinan bathin kami berdua.