Kang Ji-hoon, seorang editor webnovel yang hidupnya biasa-biasa saja, tewas dalam sebuah kecelakaan. Namun, alih-alih mati, ia terbangun di tubuh Kang Min-jae, seorang pemuda di dunia paralel di mana "Gerbang" ke dimensi lain telah muncul, dan "Hunter" dengan kekuatan khusus bertugas menghadapi monster di dalamnya.
Terjebak dalam identitas baru dengan misteri ayah yang hilang dan tekanan untuk menjadi Hunter, Ji-hoon harus beradaptasi dengan dunia yang berbahaya. Dibantu oleh "sistem" misterius di dalam benaknya dan kekuatan telekinesis yang mulai terbangun, ia memasuki Hunter Academy sebagai underdog. Dengan pengetahuan editornya yang memahami alur cerita dan karakter, Ji-hoon harus menguasai kekuatannya, mengungkap konspirasi di balik transmigrasinya, dan bertahan di dunia di mana setiap Gerbang menyimpan ancaman—dan rahasia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karma Danum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6: DUNIA DENGAN GATE
Jumat pagi, atmosfer di kelas Remedial 1-R terasa tegang. Udara seakan bergetar dengan campuran harap dan kecemasan. Hari ini adalah hari tes seleksi untuk misi praktik ke Gerbang F-rank "Greenwood Cave". Tiga kuota. Lima belas siswa.
Min-jae duduk di bangkunya, jari-jarinya mengetuk meja dengan ritme gugup. Ia telah berlatih keras sepanjang minggu. Kemampuan sensing-nya kini bisa memetakan ruangan berukuran kecil dengan akurat. Presisi telekinesisnya meningkat—ia kini bisa menggerakkan tiga kelereng sekaligus tanpa saling bersentuhan, meski dengan usaha yang besar. Tapi itu belum cukup untuk pertarungan. Ia membutuhkan strategi.
Guru Choi masuk dengan langkah mantap. Di belakangnya, dua asisten membawa perangkat kotak logam yang tampak canggih.
"Selamat pagi," sambutnya. "Seperti yang sudah diumumkan, tes seleksi hari ini berupa simulasi virtual. Kalian akan menghadapi satu Goblin dalam replika Gua Greenwood. Tujuan: bertahan selama mungkin, atau netralkan ancaman. Sistem akan menilai berdasarkan daya tahan, penggunaan kemampuan, dan efektivitas taktik." Ia memandang sekeliling ruangan. "Siapa yang siap jadi yang pertama?"
Beberapa siswa saling pandang. Ji-woo mengangkat tangan dengan percaya diri. "Saya, Guru."
"Bagus, Ji-woo. Ikuti asisten ke ruang simulator."
Setelah Ji-woo pergi, Guru Choi menjelaskan lebih detail. "Simulator ini menggunakan teknologi neuro-link ringan. Kalian akan sadar penuh, tetapi lingkungan sekitar akan berubah menjadi dunia virtual. Rasa sakit disimulasikan hingga 30%—cukup untuk memberikan rasa urgensi, tapi tidak melukai sungguhan. Jika 'terbunuh' dalam simulasi, tes berakhir."
Min-jae mengangguk, mencerna informasi. Mirip dengan perangkat VR canggih di dunia lamanya, tapi lebih realistis. Ia mengamati siswa-siswa lain. Seo-yeon duduk tenang, matanya tertutup seolah berdoa. Seorang siswa laki-laki kurus dengan lengan berbisikan gemetar hebat. Seorang perempuan dengan rambir biru menatap kosong ke depan, wajah tanpa ekspresi.
Satu per satu, siswa dipanggil. Mereka yang kembali ke kelas setelah tes menunjukkan beragam ekspresi: ada yang frustrasi, ada yang lega, ada yang masih terlihat ketakutan.
Ji-woo kembali dengan wajah berkeringat, namun senyum lebar terpampang. "Aku tahan hampir lima menit!" bisiknya pada Min-jae. "Goblin itu kuat, tapi gerakannya bisa ditebak. Aku cuma mengelak dan menahan serangannya. Guru Choi bilang pertahananku solid."
"Bagus sekali!" Min-jae menganggak, memberi semangat. Lima menit terdengar seperti waktu yang cukup lama dalam pertarungan satu lawan satu.
Seo-yeon pergi berikutnya. Ia kembali lebih cepat, dalam tiga menit, wajahnya pucat. "Aku coba healing sambil menghindar," katanya dengan suara kecil. "Tapi Goblinnya terlalu agresif. Aku terpojok." Namun, matanya masih bersinar. "Tapi setidaknya aku coba."
Setelah beberapa siswa lain, akhirnya giliran Min-jae.
"Kang Min-jae," panggil Guru Choi.
Min-jae berdiri, mengikuti asisten ke ruangan terpisah. Ruangan itu kecil, hanya berisi sebuah kursi seperti kokpit dengan helm neuro-link dan sarung tangan sensor. Seorang teknisi membantu menyesuaikan perangkat di kepalanya.
"Siap?" tanya teknisi.
Min-jae mengangguk, menarik napas dalam.
"Memulai simulasi dalam 3… 2… 1…"
Sensasi melayang, lalu dunia sekelilingnya larut dalam kabut abu-abu. Ketika kabut itu menghilang, Min-jae berdiri di dalam sebuah gua. Udara lembab dan dingin membelai kulitnya. Dinding batu ditutupi lumut hijau bercahaya lemah, memberikan penerangan samar. Suara tetesan air bergema dari kejauhan.
Lingkungannya sangat realistis. Min-jae bahkan bisa mencium aroma tanah basah dan jamur. Ia merasakan tekstur batu kasar di bawah telapak sepatu botnya.
*Ini bukan sekadar gambar*, pikirnya. *Ini adalah dunia yang dibangun di dalam pikiran.*
**[Sistem terdeteksi: Simulasi Neuro-Virtual. Kompatibilitas: Tinggi. Analisis lingkungan…]** Suara sistem di kepalanya muncul, terdengar jelas bahkan di dalam virtual space.
*Kamu bisa berfungsi di sini?* pikir Min-jae, kagum.
**[Affirmative. Sistem terintegrasi dengan kesadaran host. Dapat beroperasi di sebagian besar medium kognitif.]**
Itu kabar baik. Mungkin sistem bisa membantunya menganalisis.
Dari kegelapan lorong gua di depan, terdengar suara geraman rendah dan langkah kaki menyeret. Lalu, muncul wujudnya.
Goblin. Tingginya sekitar satu setengah meter, kulit hijau kasar, telinga runcing, dan mata merah berbinar. Di tangannya, ia membawa pentungan kayu kasar bertatahkan paku berkarat. Seperti deskripsi di buku, tapi melihatnya langsung—meski virtual—membuat jantung Min-jae berdebar kencang.
Goblin itu mengendus udara, lalu matanya menatap lurus ke arahnya. Ia mendengus, lalu mulai berlari dengan langkah pendek dan cepat.
Min-jae langsung bergerak. Ia tidak maju. Sebaliknya, ia mundur, mencari posisi di belakang formasi batu besar yang menonjol di tengah gua. Ia mengingat strateginya: gunakan lingkungan.
Goblin mengikuti, pentungannya diayunkan. Min-jae menghindar ke kiri, membiarkan pentungan menghantam batu dengan suara keras. *Brak!* Getarannya terasa hingga ke tulangnya.
*Kecepatannya standar. Kekuatan pukulan cukup untuk mematahkan tulang. Kelemahan: keseimbangan.* Pikirannya bekerja cepat, menganalisis seperti editor mengamati adegan.
Goblin menarik pentungannya, lalu mengayun lagi. Min-jae menghindar, kali ini sambil mencoba telekinesis. Ia fokus pada sebongkah kerikil di lantai gua, lalu mendorongnya dengan pikirannya.
Kerikil itu melesat, mengenai kaki Goblin.
"Graaah!" Goblin terhuyung, lebih karena kaget daripada kesakitan. Ia memandang ke sekeliling, bingung dari mana serangan itu datang.
*Bagus. Ia tidak mengerti telekinesis.* Min-jae memanfaatkan kebingungan itu. Ia bergerak memutar, menjauh dari Goblin sambil sensing lingkungan. Ia merasakan stalaktit di langit-langit, beberapa di antaranya rapuh.
Goblin kembali mengejar, lebih marah. Kali ini, ia lebih agresif, serangannya bertubi-tubi.
Min-jae menghindar, tetapi satu pukulan mendarat di bahunya. Rasa sakit tajam menyebar—simulasi 30% terasa sangat nyata. Ia terpental ke dinding gua.
"Guh!" Napasnya tersedak. Ia harus berpikir cepat.
Goblin mendekat, mengangkat pentungan untuk pukulan terakhir.
Dalam kepanikan, Min-jae memusatkan seluruh konsentrasi. Bukan pada Goblin, tapi pada stalaktit di tepat di atas kepala monster itu. Ia merasakan strukturnya, titik lemahnya, lalu *mendorong* dengan pikiran.
Bukan dorongan fisik, tetapi getaran psikis yang ditargetkan.
Retakan kecil muncul di pangkal stalaktit. Lalu, dengan suara retak keras, batu runcing itu jatuh.
Goblin menoleh ke atas, terlambat. Stalaktit menghujam bahu dan punggungnya. Monster itu menjerit, jatuh tersungkur.
Min-jae bangkit dengan cepat. Goblin masih bergerak, berusaha bangkit. Ini kesempatan. Ia mengambil batu besar di dekatnya, mengangkatnya dengan susah payah (ini virtual, tapi beratnya terasa nyata), lalu menghantamkannya ke kepala Goblin.
Goblin tak bergerak lagi. Tubuhnya perlahan memudar, menghilang seperti asap.
**[Simulasi berakhir. Waktu: 4 menit 17 detik. Ancaman dinetralisir.]**
Lingkungan gua memudar. Min-jae kembali di kursi simulator, terengah-engah. Helm neuro-link dilepas oleh teknisi.
"Hasil yang menarik," kata Guru Choi yang sudah berdiri di sampingnya. "Kamu menggunakan lingkungan dengan efektif. Dan kemampuan psikismu… lebih terkontrol dari yang kukira." Ia mencatat sesuatu di tablet. "Tapi ada satu masalah."
"Masalah?" tanya Min-jae, masih menenangkan napas.
"Goblin dalam simulasi diprogram untuk memiliki kecerdasan dasar. Setelah serangan psikis pertama (kerikil), seharusnya ia menjadi lebih waspada terhadap serangan tak terlihat. Tapi dalam simulasi-mu, ia tetap bingung. Sistem mencatat adanya 'interferensi psikis minor' yang mengacaukan pemrosesan AI Goblin."
Min-jae terdiam. Apakah itu ulah sistem di kepalanya? Atau kekuatannya sendiri memiliki efek mengganggu pikiran?
"Tidak perlu khawatir," lanjut Guru Choi. "Itu justru menunjukkan potensi. Kemampuan psikis tidak hanya untuk menggerakkan benda, tapi juga bisa untuk mengganggu musuh. Kamu punya insting bertahan hidup yang bagus, Min-jae. Selamat, kamu terpilih."
Rasa lega dan kegembiraan membanjiri dada Min-jae. Ia berhasil. Ia adalah salah satu dari tiga orang.
Ketika ia kembali ke kelas, Guru Choi mengumumkan hasilnya: Kim Ji-woo, Kang Min-jae, dan Park Seo-yeon. Nama terakhir mengejutkan beberapa siswa, termasuk Seo-yeon sendiri yang terlihat tak percaya.
"Pertahanan Ji-woo solid. Kecerdikan Min-jae efektif. Dan Seo-yeon," Guru Choi memandang si healer, "meski kalah cepat, keputusanmu untuk tetap mencoba menyembuhkan diri sambil mencari celah menunjukkan ketahanan mental yang tinggi. Dalam tim, healer dengan mental kuat sangat berharga."
Seo-yeon tersenyum, matanya berkaca-kaca.
Setelah kelas usai, ketiganya berkumpul.
"Kita jadi tim!" seru Ji-woo antusias. "Aku jadi frontline, Min-jae jadi strategis, Seo-yeon jadi support. Sempurna!"
Min-jae mengangguk, ikut merasakan semangat. Untuk pertama kalinya, ia merasa menjadi bagian dari sesuatu. "Kita harus berkoordinasi dengan baik. Misi ke Gerbang sungguhan berbeda dengan simulasi."
"Benar," sahut Seo-yeon. "Aku akan pelajari lebih lanjut tentang pertolongan pertama di lapangan. Dan… aku akan coba latihan dasar bertahan."
Mereka berjanji akan bertemu di akhir pekan untuk berdiskusi strategi.
Namun, saat Min-jae hendak pulang, seseorang menghampirinya di koridor. Bukan Guru Choi, melainkan seorang pria tua dengan rambut putih dan postur tubuh tegap, memakai seragam instruktur lapangan akademi. Wajahnya berkerut, tetapi matanya tajam seperti elang.
"Kang Min-jae," sapanya, suaranya parau tapi penuh wibawa.
"Ya, saya. Ada yang bisa saya bantu?" jawab Min-jae, sedikit bingung.
"Namaku Guru Han. Aku mengawasi tes simulasi tadi. Cara kamu menjatuhkan stalaktit itu… menarik. Bukan hanya telekinesis dasar, ada sentuhan *kinetic precision* di sana. Dan interferensi psikis yang tercatat…" Ia melirik tajam. "Kamu punya guru khusus?"
Min-jae menggeleng. "Tidak. Saya coba-coba sendiri."
Guru Han mengangguk pelan, seperti tidak sepenuhnya percaya. "Kalau begitu, bakatmu lebih liar dari yang diperkirakan. Hati-hati. Kekuatan psikis yang tidak terlatih bisa berbalik melukai diri sendiri." Ia berbalik pergi, tapi melemparkan kalimat terakhir. "Jika kamu butuh bimbingan nyata, bukan teori kelas Remedial, temui aku di Dojang 5 besok sore. Jangan bilang siapa-siapa."
Tawaran itu mengejutkan. Guru Han dikenal sebagai mantan Hunter A-rank yang sekarang mengajar kelas elite. Mengapa ia menawari murid Remedial?
Min-jae tidak punya jawaban. Tapi nalurinya mengatakan, ini kesempatan. Ia membutuhkan pelatihan nyata, bukan sekadar teori. Dan Guru Han mungkin bisa memberikannya.
Sore itu, saat ia sampai di rumah, suasana masih tegang dari kunjungan Ouroboros. Paman Dae-hyun memberitahu bahwa ia akan pergi keluar kota selama beberapa hari untuk urusan guild.
"Jaga dirimu, Min-jae," pesannya. "Hindari kontak dengan Ouroboros jika bisa. Dan… jika ada keadaan darurat, hubungi nomor ini." Ia memberikan selembar kertas dengan nomor telepon tanpa nama. "Dia adalah teman lamaku di guild. Bisa dipercaya."
Min-jae menyimpan kertas itu dengan hati-hati. Ia merasa seperti hidup di dalam novel mata-mata, di mana setiap orang punya agenda tersembunyi.
Malamnya, di kamarnya, Min-jae merenung. Hari ini penuh dengan perkembangan. Ia terpilih untuk misi. Ia ditawari pelatihan rahasia. Tapi juga, ia menyadari kekurangannya. Kontrol psikisnya masih di bawah 3%. Ia butuh lebih.
Ia mencoba meditasi lagi, kali ini sambil memegang kartu nama Director Oh. Ia tidak mencoba membaca kesan lagi, hanya merasakan 'beban' dari benda itu. Kartu itu terasa… berat secara metaforis. Seolah menyimpan rahasia gelap.
Lalu, tiba-tiba, tanpa disengaja, ingatan lain muncul. Bukan dari Min-jae, tapi dari dirinya sendiri—Kang Ji-hoon.
*Ia duduk di depan komputer, mata lelah menatap naskah bab 127 sebuah novel web bertema "Regressor Hunter". Plotnya tentang seorang Hunter yang kembali ke masa lalu dengan pengetahuan masa depan. Protagonisnya menggunakan taktik licik dan pengetahuan tentang monster untuk mengalahkan musuh yang lebih kuat…*
Kilasan itu singkat, tapi memberi Min-jae ide.
Pengetahuan. Itulah senjata terbesarnya. Bukan sebagai Kang Min-jae, tetapi sebagai Kang Ji-hoon yang telah membaca dan mengedit ratusan cerita fantasi. Ia tahu pola-pola klise, trik-trik penulis, taktik yang sering digunakan protagonis.
Jika dunia ini mengikuti logika cerita fantasi—dan sejauh ini, banyak kesamaan—maka ia bisa memprediksi banyak hal. Tentang monster, tentang tipu muslihat, tentang cara bertahan.
Ia membuka laptop dan mulai mencatat. Ia membuat daftar monster kelas F dan E yang umum, beserta kelemahan yang sering muncul dalam cerita. Goblin takut api dan suara keras. Slime lemah terhadap pemotongan dan garam. Wolf jenis rendah punya pola serangan berkelompok yang bisa dipecah.
Ia juga mencatat prinsip-prinsip bertahan hidup dalam cerita: jangan pernah meremehkan musuh, selalu punya jalan mundur, gunakan lingkungan, dan yang terpenting—tahu kapan harus lari.
Kerja kerasnya sampai larut malam. Ketika ia akhirnya tidur, mimpi yang ia alami berbeda. Kali ini, ia tidak dibombardir oleh ingatan asing. Ia bermimpi sedang berdiri di perbatasan antara dua dunia: satu sisi adalah kantornya yang penuh naskah, sisi lain adalah gerbang bercahaya hijau. Dan di tengah-tengah, sosok ayah Min-jae berdiri, tersenyum sedih, mengulurkan tangan.
"Temukan kebenarannya," bisik sosok itu. "Jangan biarkan mereka mengontrolmu."
Min-jae terbangun dengan keringat dingin, tapi kali ini dengan kejelasan baru. Misi pertamanya ke Gerbang bukan hanya tentang membuktikan diri atau mendapatkan poin. Itu adalah langkah pertama menuju kemandirian. Dan mungkin, di dalam Gerbang itu, ada petunjuk tentang dunia ini, tentang sistem di kepalanya, tentang segala sesuatu yang terjadi padanya.
Besok, ia akan menemui Guru Han. Dan minggu depan, misi pertamanya.
Perlahan-lahan, ia mulai merangkai potongan-potongan kehidupan barunya. Dan untuk pertama kalinya, ia tidak lagi merasa seperti penonton. Ia merasa seperti pemain—dengan segala ketakutan dan ketidaktahuannya, tapi dengan tekad untuk bertahan.
Di luar jendela, bulan sabit tergantung di langit malam. Di kejauhan, menara komunikasi Ouroboros masih memancarkan cahaya biru yang konstan, seperti mata yang tak pernah berkedip, mengawasi kota yang sedang tidur.
Dan di dalam kamar, Min-jae mengepalkan tangannya. Ia mungkin masih lemah. Tapi ia punya pikiran, ia punya kemauan, dan sekarang, ia punya sekutu.
Itu sudah cukup untuk memulai.