Di malam gerhana darah yang terkutuk, Kerajaan Aethelgard kehilangan jantungnya. Putri Aurora Lyris Valerius, sang pewaris tunggal yang baru berusia satu tahun, diculik dalam kabut sihir hitam, meninggalkan tujuh kakak angkatnya dalam penyesalan abadi. Delapan belas tahun berlalu, sang Putri tidak tumbuh di atas ranjang sutra,melainkan di bawah cambukan dingin Kerajaan Noxvallys. Dikenal hanya sebagai "Ara", ia hidup sebagai pelayan rendahan yang disiksa oleh Putri Morena Valeska yang semena-mena.
Warning!!Cerita asli dan murni dari pikiran penulis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon apel manis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 17
Langit di atas Danau Cermin yang semula biru jernih mendadak berubah menjadi abu-abu pekat. Udara yang tadi tenang kini menderu kencang, membawa aroma belerang dan kematian. Morena berdiri di atas dahan pohon pinus yang tinggi, jubah hitamnya berkibar seperti sayap iblis. Di belakangnya, puluhan prajurit tanpa wajah muncul dari balik bayang-bayang, memegang tombak yang dialiri sihir hitam.
"Kau selalu menjadi pencuri yang beruntung, Aurora," teriak Morena dengan nada menghina. "Dulu kau mencuri perhatian ayahanda, sekarang kau mencuri pusaka itu. Serahkan permatanya, dan mungkin aku akan membiarkan Alistair dan Gideon hidup sebagai budakku."
Alistair maju selangkah, menempatkan tubuhnya di depan Aurora. Pedang besarnya memancarkan aura emas yang panas. "Kau bicara terlalu banyak untuk seseorang yang baru saja melarikan diri seperti tikus dari aula istana, Morena."
"Berani sekali kau!" wajah Morena memerah karena amarah. "Pasukan Bayangan! Hancurkan mereka! Ambil permatanya!"
Dalam sekejap, pasukan hitam itu meluncur turun seperti hujan panah. Pertempuran pecah di tepian danau yang suci itu. Benedict mungkin ksatria terkuat dalam hal tenaga, tapi Alistair adalah ksatria dengan teknik pedang paling mematikan. Setiap ayunan pedang Alistair membelah bayangan menjadi debu, gerakannya begitu cepat hingga hanya terlihat seperti kilatan cahaya emas.
Gideon tidak kalah lincah. Ia melompat dari satu batu ke batu lain, melepaskan anak panah dengan kecepatan yang sulit dipercaya. Setiap anak panah Gideon telah diberkati dengan cahaya suci, sehingga saat mengenai musuh, mereka meledak dalam percikan api putih.
"Aurora! Jangan diam saja! Cobalah permata itu!" seru Gideon sambil menunduk menghindari sabetan tombak musuh.
Aurora menggenggam Tongkat Cahaya Bintang yang kini telah tertanam Permata Safir Biru di puncaknya. Ia bisa merasakan energi air yang sangat besar mengalir dari permata itu ke dalam nadinya. Dingin, namun menenangkan.
"Aku... aku tidak tahu cara mengarahkannya!" teriak Aurora panik. Seorang prajurit bayangan berhasil melewati pertahanan Alistair dan melompat ke arahnya dengan belati terhunus.
Insting bertahan hidup Aurora mengambil alih. Ia mengangkat tongkatnya secara refleks. “Bekulah!” teriaknya dalam hati.
Tiba-tiba, permukaan air danau di bawah kaki prajurit itu melonjak naik, membentuk tangan raksasa dari es yang langsung mencengkeram dan membekukan musuh tersebut dalam hitungan detik. Prajurit bayangan itu hancur menjadi serpihan es yang berkilauan.
"Luar biasa!" Alistair bergumam, matanya berkilat bangga meskipun ia masih sibuk menangkis serangan tiga musuh sekaligus.
Melihat pasukannya mulai terdesak oleh kekuatan permata, Morena tidak tinggal diam. Ia melompat turun dari pohon dan mendarat dengan dentuman sihir hitam yang membuat tanah bergetar. Ia mengeluarkan sebuah cambuk berduri yang terbuat dari energi gelap.
"Kau pikir sedikit air bisa menghentikanku?!" Morena mengayunkan cambuknya ke arah Aurora.
Alistair melompat menghadang, namun Morena sangat licik. Cambuk itu memanjang dan melilit pedang Alistair, lalu dengan kekuatan sihirnya, Morena melempar Alistair hingga menghantam pohon besar.
"Kak Alistair!" teriak Gideon. Ia mencoba membidik Morena, namun Morena melemparkan bola api hitam yang meledak tepat di depan Gideon, membuatnya terlempar ke arah danau.
Kini, Aurora berdiri sendirian menghadap Morena.
"Lihatlah dirimu, Aurora," Morena berjalan mendekat dengan langkah yang anggun namun mematikan. "Tanpa kakak-kakakmu, kau hanyalah gadis kecil yang malang. Berikan permatanya padaku, dan aku berjanji akan membunuhmu dengan cepat."
Aurora gemetar, tapi ia tidak mundur. Ia melihat Alistair yang berusaha bangkit dan Gideon yang terbatuk-batuk di tepian air. Rasa takutnya perlahan berubah menjadi amarah yang dingin.
"Kau menyakiti keluargaku lagi," bisik Aurora.
"Aku menghabiskan delapan belas tahun membiarkanmu melakukan apa saja padaku. Tapi hari ini... tidak akan ada lagi rasa takut."
Aurora memejamkan mata, memanggil kekuatan Danau Cermin. Ia merasakan koneksi yang sangat kuat dengan air di sekelilingnya. “Safir Suci, dengarkan suaraku. Pinjamkan aku kekuatan samudera untuk membersihkan kegelapan ini!”
Tongkat di tangan Aurora bersinar biru menyilaukan. Tiba-tiba, seluruh air di danau itu terangkat ke langit, membentuk naga-naga air raksasa yang berputar-putar di atas kepala Aurora. Pemandangan itu begitu agung sekaligus mengerikan.
Wajah Morena yang semula angkuh kini berubah menjadi pucat pasi. "Tidak... kekuatan ini seharusnya milikku! Itu tidak mungkin!"
"Kekuatan ini milik mereka yang memiliki ketulusan, Morena! Sesuatu yang tidak akan pernah kau miliki!"
Aurora menghentakkan tongkatnya ke tanah. Naga-naga air itu melesat maju, menerjang Morena dan seluruh sisa pasukan bayangannya. Ledakan air yang dahsyat menghantam hutan, memadamkan semua sihir hitam dan menghancurkan semua bayangan hingga tak bersisa.
Morena menjerit saat tubuhnya terhempas oleh tekanan air yang luar biasa. Ia terlempar jauh ke dalam kegelapan hutan, meninggalkan jejak jubahnya yang sobek dan bau sihir hitam yang memudar.
Setelah serangan itu, air danau perlahan kembali ke tempatnya dengan tenang, seolah tidak pernah terjadi pertempuran hebat sebelumnya. Aurora jatuh terduduk, napasnya tersengal-sengal. Penggunaan energi sebesar itu benar-benar menguras tenaganya.
Alistair dan Gideon segera berlari menghampirinya. Alistair memegang bahu Aurora, memeriksa apakah ada luka serius.
"Kau melakukannya, Aurora. Kau benar-benar melakukannya," ucap Alistair dengan suara yang bergetar karena emosi.
Gideon tertawa meskipun wajahnya penuh lumpur. "Wah, itu tadi sangat keren! Kau benar-benar membuat naga dari air! Bisakah kau mengajariku? Aku ingin membuat naga kecil untuk menakuti Fabian saat dia tidur."
Aurora tersenyum lemah. "Aku tidak tahu bagaimana aku melakukannya. Rasanya seolah air itu sendiri yang ingin melindungiku."
Alistair membantu Aurora berdiri. "Itu karena kau adalah pewaris sah cahaya itu. Permata Safir telah memilihmu sepenuhnya. Tapi kita harus segera pergi. Morena mungkin selamat, dan dia pasti akan melapor pada Malakor tentang kekuatan barumu."
"Kita harus menuju tempat permata kedua," ucap Aurora sambil menatap permata biru yang kini tertanam manis di tongkatnya.
"Puncak Langit."
Gideon menghela napas panjang. "Puncak Langit? Itu gunung tertinggi yang selalu tertutup salju, kan? Hebat, setelah basah kuyup di danau, sekarang kita akan membeku di gunung. Apakah kita tidak bisa memiliki petualangan di toko kue saja?"
Tawa kecil pecah di antara mereka bertiga, memecah ketegangan sisa pertempuran. Mereka segera merapikan peralatan dan kembali menunggangi kuda mereka.
Perjalanan masih panjang, dan rintangan di Puncak Langit pasti akan jauh lebih berat.
Namun, di balik rimbunnya hutan, sepasang mata merah mengawasi keberangkatan mereka. Bukan Morena, melainkan sesosok bayangan yang lebih besar dan lebih kuat— panglima tertinggi Raja Malakor yang mulai bergerak. Perang yang sesungguhnya belum benar-benar dimulai.
apalagi ngebayangin 7 pangeran yang hebat, dan penasaran banget sama akhirnya gimana dan nasib putri jahat nya gimana.