Di mansion mewah yang terasa seperti penjara berlapis emas, Aruna terjebak dalam dilema mematikan:
Menyelamatkan ibunya dengan tetap menjadi bagian dari dunia berdarah ini.
Atau melarikan diri sebelum ia benar-benar jatuh cinta pada sang bayi—dan ayahnya yang iblis.
"Dia memintaku memberikan hidup bagi anaknya, tanpa menyadari bahwa akulah yang sedang sekarat dalam genggamannya."
kepoin di malam Minggu, bikin malam Minggu mu lebih bermakna dengan sosok aruna dan dante
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adrina salsabila Alkhadafi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15: Bibir yang Terkunci dan Rahasia di Balik Asap
Fajar di Isola del Sangue pecah dengan warna merah yang menyerupai luka terbuka. Setelah kejadian di gudang dermaga, Aruna tidak kembali ke kamar utama Dante. Ia mengunci diri di kamar bayi, membiarkan aroma bayi Leonardo yang menenangkan menjadi penawar bagi bau mesiu yang masih menempel di pori-pori kulitnya. Ia tidak tidur. Pikirannya terus berputar pada wajah Aris yang ketakutan dan senyum puas Dante saat ia membiarkan pria itu terombang-ambing di laut lepas.
Pukul enam pagi, pintu kamar bayi terbuka pelan. Aruna mengira itu Dante yang datang untuk menuntut "pembayaran" atas kesepakatan mereka, namun yang muncul adalah Marco. Tangan kanan Dante itu membawa nampan berisi kopi hitam pekat dan beberapa butir obat pereda nyeri.
"Tuan Dante sedang berada di ruang komunikasi. Dia memerintahkan Anda untuk bersiap-siap," ujar Marco datar. Ia meletakkan nampan itu di meja kayu di samping Aruna.
Aruna menatap Marco. Pria ini adalah bayangan Dante. Dia tahu setiap rahasia, setiap pembunuhan, dan mungkin setiap helai rambut yang jatuh di rumah ini. "Marco, kau sudah bersamanya berapa lama?"
Marco berhenti sejenak sebelum berbalik menuju pintu. "Sejak kami masih anak-anak di Palermo, Nona."
"Kalau begitu, kau mengenalnya lebih baik daripada siapa pun," Aruna berdiri, mendekati Marco dengan langkah yang kini lebih berani. "Kenapa dia begitu terobsesi dengan 'Kunci Valerius'? Apakah ini benar-benar hanya soal uang di akun Swiss itu?"
Marco terdiam. Matanya yang biasanya sedingin es tampak berkilat sesaat oleh sesuatu yang menyerupai keraguan. "Tuan Dante tidak pernah hanya menginginkan uang. Dia memiliki cukup uang untuk membeli satu negara kecil jika dia mau."
"Lalu apa?"
Marco menatap pintu yang tertutup, memastikan tidak ada orang lain yang mendengarkan. "Warisan itu bukan hanya soal angka, Nona Aruna. Di dalam akun itu, terdapat bukti-bukti keterlibatan Lorenzo Valerius dalam pembunuhan massal keluarga-keluarga mafia lain tiga puluh tahun yang lalu. Jika bukti itu jatuh ke tangan Luciano, dia bisa menggunakannya untuk menghancurkan legitimasi Dante dan memicu perang total yang akan memusnahkan garis keturunan Valerius."
Aruna mengernyit. "Jadi Dante melindungiku agar bukti itu tetap terkunci?"
"Dante melindungimu karena kau adalah satu-satunya bagian dari masa lalu ayahnya yang tidak berlumuran darah," bisik Marco. "Tapi berhati-hatilah. Di dunia ini, apa yang paling kita lindungi adalah apa yang paling mudah menghancurkan kita."
Sebelum Aruna bisa bertanya lebih jauh, suara langkah kaki berat Dante terdengar di koridor. Marco segera kembali ke posisi tegaknya yang kaku dan keluar dari ruangan tanpa sepatah kata lagi.
Siang itu, villa di Isola del Sangue berubah menjadi pusat kesibukan yang luar biasa. Tim penata busana dan perias dikirim langsung dari Milan menggunakan helikopter. Dante ingin Aruna tampil bukan sebagai korban yang malang, melainkan sebagai seorang permaisuri yang tak tersentuh.
"Malam ini, kau akan mengenakan warna perak," ujar Dante saat ia masuk ke ruang ganti. Ia mengamati sebuah gaun sutra metalik yang berkilau seperti sisik naga di bawah lampu. "Merah untuk gairah, hitam untuk kematian, tapi perak... perak adalah untuk kedinginan yang elegan. Luciano benci melihat wanita yang tidak bisa dia intimidasi."
Aruna membiarkan para penata busana bekerja di tubuhnya. Ia merasa seperti sebuah patung yang sedang dipahat. Saat ia bercermin, ia melihat seorang wanita yang sangat berbeda. Gaun perak itu memiliki potongan yang sangat tajam di bagian bahu, memberikan kesan kekuatan, sementara bagian bawahnya menjuntai seperti air terjun logam.
"Kau terlihat sangat mirip dengan ibumu saat dia pertama kali datang ke Palermo," gumam Dante. Ia berdiri di belakang Aruna, tangannya membelai leher Aruna yang kini dihiasi oleh kalung safir biru tua yang dalam.
"Kau bilang ibuku adalah pengkhianat di mata ayahmu," sahut Aruna dingin.
"Semua wanita cantik di keluarga Valerius dianggap pengkhianat jika mereka memiliki pikiran sendiri," Dante membalikkan tubuh Aruna. "Ingat instruksiku. Di atas kapal The Obsidian, kau tidak boleh makan atau minum apa pun yang tidak diberikan oleh Marco. Kau tidak boleh bicara kecuali aku memberimu isyarat. Dan yang paling penting... jangan pernah melepaskan genggaman tanganku."
"Apakah kau takut aku akan lari kepada pamanku?"
Dante tersenyum kecil, namun matanya tetap dingin. "Aku takut kau akan menyadari bahwa pamanku jauh lebih mempesona dalam kebohongannya daripada aku dalam kejujuranku yang brutal."
Kapal pesiar The Obsidian adalah sebuah monster hitam yang membelah ombak di perairan internasional. Di tengah laut yang gelap, kapal itu tampak seperti pulau cahaya yang terapung. Pengamanan di sana luar biasa ketat; penjaga dari kedua belah pihak berdiri dengan senjata laras panjang di sepanjang dek.
Saat Dante dan Aruna melangkah menaiki tangga kapal, udara terasa berat oleh ketegangan yang bisa dipotong dengan pisau. Aruna mencengkeram lengan Dante. Ia bisa merasakan otot lengan pria itu yang mengeras.
Di dek utama, seorang pria tua dengan rambut putih yang disisir rapi dan setelan jas linen krem yang santai duduk di depan meja bundar yang dipenuhi hidangan laut. Itu adalah Luciano Valerius. Penampilannya jauh dari kesan mafia kejam; ia tampak seperti kakek yang ramah di sebuah desa di Italia. Namun, matanya yang berwarna kuning pucat menceritakan kisah yang berbeda.
"Dante, keponakanku yang tersayang," suara Luciano halus, hampir seperti desisan ular. "Kau akhirnya membawa permata yang hilang itu pulang."
Dante duduk di kursi depan Luciano, menarik Aruna untuk duduk di sampingnya. "Dia bukan barang yang hilang, Paman. Dia adalah Nyonya di rumahku."
Luciano tertawa, suara tawa yang kering. Ia mengalihkan pandangannya pada Aruna, memindai wajahnya dengan tatapan yang membuat Aruna merasa seolah-olah kulitnya sedang dikuliti. "Aruna... kau memiliki mata Adrian. Tajam, waspada, dan penuh rahasia. Apakah kau tahu bahwa ayahmu adalah pria yang sangat hebat dalam menyembunyikan sesuatu?"
Aruna tetap diam, mengikuti instruksi Dante.
"Langsung saja ke intinya, Luciano," potong Dante kasar. "Kau memanggil kami ke sini bukan untuk bernostalgia tentang pria yang kau bunuh."
Luciano meletakkan garpu peraknya. "Aku ingin apa yang menjadi hak keluarga Valerius. Kode itu. Akun itu berisi aset yang seharusnya digunakan untuk memperluas pengaruh kita di Eropa Timur, bukan untuk disimpan oleh seorang gadis yang bahkan tidak tahu cara memegang senjata dengan benar."
"Dia tahu cara menembak lebih baik daripada anak buahmu yang kau kirim ke pestaku," balas Dante.
Luciano tersenyum lebar, memperlihatkan deretan gigi yang terlalu putih. "Ah, serangan itu. Itu hanya sambutan selamat datang. Tapi Aruna, apakah Dante memberitahumu? Kode itu... kode itu tidak bisa diambil dengan paksa. Adrian merancangnya agar hanya bisa diaktifkan melalui serangkaian pertanyaan tentang masa kecilmu yang hanya diketahui oleh ibumu."
Aruna tersentak kecil. Ia melirik Dante. Dante tampak tidak terkejut, namun rahangnya mengeras.
"Dante tidak membutuhkan kode itu, Aruna," lanjut Luciano, suaranya kini penuh racun yang manis. "Dia hanya membutuhkanmu tetap hidup sebagai sandera agar aku tidak bisa menyentuh akun itu. Tapi aku? Aku ingin membaginya denganmu. Jika kau memberikan informasi itu padaku, kau dan ibumu bisa pergi ke mana pun yang kalian mau. Kebebasan sejati, Aruna. Tanpa penjaga, tanpa pulau terpencil, dan tanpa Dante."
"Kebebasan yang kau tawarkan adalah liang lahat, Paman," ujar Dante, tangannya kini meraba pistol di balik jasnya.
"Apakah begitu?" Luciano mencondongkan tubuhnya ke arah Aruna. "Tanyakan padanya, Aruna. Tanyakan pada Dante... apa yang terjadi pada saksi-saksi kunci yang tahu tentang lokasi ibumu sebelum Dante menemukannya? Apakah mereka 'selamat'?"
Aruna menatap Dante. "Dante?"
Dante tidak menjawab. Matanya terkunci pada Luciano.
"Dia membunuh mereka, Aruna," desis Luciano. "Dia membunuh semua orang yang bisa membantumu melarikan diri sebelum dia sampai padamu. Dia bukan penyelamatmu. Dia adalah orang yang memastikan bahwa kau tidak punya pilihan lain selain dia."
Keheningan yang mencekam jatuh di meja itu. Aruna merasa dunianya kembali berguncang. Di satu sisi ada Dante, monster yang ia kenal; di sisi lain ada Luciano, monster yang menawarkan kebebasan dengan lidah bercabang.
Tiba-tiba, suara alarm terdengar dari radar kapal. Marco mendekat dan berbisik di telinga Dante.
"Ada kapal patroli penjaga pantai yang mendekat. Seseorang membocorkan lokasi pertemuan ini," ujar Marco cepat.
Dante segera berdiri, menarik Aruna. "Pertemuan ini selesai, Luciano. Jika kau mencoba mendekatinya lagi, aku akan membakar seluruh bisnismu di Sisilia."
Saat mereka berbalik untuk pergi, Luciano berteriak, "Aruna! Ingatlah satu hal! Dante tidak pernah mencintaimu! Dia hanya mencintai fakta bahwa kau adalah satu-satunya hal yang tidak bisa aku miliki!"
Di dalam kapal motor yang membawa mereka kembali ke Isola del Sangue, Aruna melepaskan pegangan tangannya dari Dante. Ia berdiri di ujung kapal, membiarkan angin laut yang dingin menerpa gaun peraknya.
Dante mendekat, mencoba menyentuh bahunya, namun Aruna menghindar.
"Benarkah yang dia katakan?" suara Aruna pecah di tengah deru mesin. "Kau membunuh orang-orang yang mencoba membantuku?"
Dante menatap Aruna dengan mata yang penuh dengan kegelapan yang tak terbaca. "Dunia ini tidak mengenal bantuan tanpa pamrih, Aruna. Mereka yang kau anggap ingin membantumu sebenarnya adalah informan Luciano. Aku membersihkan jalanmu agar kau tidak berakhir di tangannya."
"Kau membersihkan jalanku agar jalan itu hanya menuju padamu!" teriak Aruna.
Dante terdiam. Ia tidak membantah. Ia justru melangkah maju, memerangkap Aruna di pagar kapal. "Ya. Aku memastikan kau hanya milikku. Karena di dunia ini, kau adalah satu-satunya hal yang membuatku merasa masih memiliki jiwa, meski jiwa itu sudah busuk."
Dante mencium Aruna dengan kasar, sebuah ciuman yang penuh dengan keputusasaan dan dominasi. Aruna mencoba melawan, namun ia menyadari satu hal yang paling mengerikan dari semua rahasia ini: ia mulai merasa bahwa di tengah semua kebohongan ini, hanya obsesi Dante-lah yang terasa nyata.