Aruna Putri Rahardian harus menelan pil pahit ketika ayahnya menuduh sang ibu berselingkuh. Bahkan setelehnya dia tak mengakui Aruna sebagai anaknya. Berbeda dengan adiknya Arkha yang masih di akui. Entah siapa yang menghembuskan fit-nah itu.
Bima Rahardian yang tak terima terus menyik-sa istrinya, Mutiara hingga akhirnya meregang nyawa. Sedangkan Aruna tak di biarkan pergi dari rumah dan terus mendapatkan sik-saan juga darinya. Bahkan yang paling membuat Aruna sangat sakit, pria yang tak mau di anggap ayah itu menikah lagi dengan wanita yang sangat dia kenal, kakak tiri ibunya. Hingga akhirnya Aruna memberanikan diri untuk kabur dari penjara Bima. Setelah bertahun-tahun akhinya dia kembali dan membalaskan semua perlakuan ayahnya.
Akankan Aruna bisa membalaskan dendamnya kepada sang ayah? Ataukah dia tak akan tega membalas semuanya karena rasa takut di dalam dirinya kepada sangat ayah! Apalagi perlakuan dari ayahnya sudah membuat trauma dalam dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Kembali Ayah! 14
"Mau kemana kamu?" Rendra menghalangi jalan Aruna.
"Minggir Lo!" jawab Aruna yang memang tak pernah dekat dengan Rendra.
Apalagi Aruna tahu bagaimana perlakuan Dewi kepada ibunya. Dan dia juga sudah tahu dari lama kalau Ayahnya dan Dewi memiliki hubungan di belakang ibunya. Hanya saja dia memilih diam tidak mau membuat rumah tangga kedua orang tuanya yang saat itu baik-baik saja menjadi berantakan. Namun ternyata tanpa perlu dia mengatakan kepada ibunya, Mutiara juga sudah tahu hubungan mereka.
"Heh anak ha-/ram! Nggak usah belagu deh Lo! Lo pikir Lo siapa bisa songong seperti itu?" Rendra menahan langkah Aruna kembali.
"Emangnya anak ha-/ram nggak boleh songong? Lo juga sama. Bapak Lo nggak jelas! Sebelum bicara ngaca dulu!" jawab Aruna santai sambil menyilangkan kedua tangannya di dada.
"Lo!" Rendra emosi dengan ucapan dan ekspresi yang di perlihatkan oleh Aruna.
Semua yang di ucapan Aruna memanglah kenyataan. Bahkan sampai saat ini ibunya sendiri tak bisa menjawab siapa ayah kandungnya. Karena ayah kandung dia dan Kanaya berbeda.
"Kenapa? Mau marah? Kita sama! Jadi nggak usah sok-sokan menghina!" ujar Aruna berjalan melewati Rendra.
Sreeeeettttt
Brugh
Aruna membuat Rendra terjatuh saat dia akan mencoba menarik bahu Aruna yang melewatinya. Niatnya dia akan men-ce-la-kai dan mempermalukan Aruna, tapi malah dia sendiri yang di permalukan dan jatuh tersungkur dalam dua gerakan yang di lakukan Aruna. Semua murid terlihat syok melihat refleks Aruna yang begitu bagus. Bahkan hanya dalam dua kali gerakan bisa membuat Rendra tersungkur. Rendra meringis kesakitan.
"Kau! Apa kau mau mencelakaiku?" Rendra kesal bercampur malu luar biasa dengan yang terjadi kepadanya. Sehingga dia menyalahkan Aruna.
"Kamu nanya? Mereka semua melihat kalau kamu yang akan men-ce-la-kai aku! Denger ini, aku punya mata di belakang kepalaku jadi jangan pernah macam-macam!" jawab Aruna dingin dan pergi dari sana.
"Gokil, keren banget tuh Anak kelas sepuluh. Kalau tidak salah dia juga merupakan atlet taekwondo," puji salah satu murid di sana.
"Dia bukan hanya pandai bela diri tapi juga olahraga lainnya! Aku dengar dia masuk ke sini juga dia lewat jalur prestasi. Dia juga pintar tahu! Dia baru dua belas menjelang tiga belas tahun kalau aku dengar. Dia sering loncat kelas, masih bocil nggak sih? Tapi dia tunggi walau wajahnya kelihatan imut. Namanya Aruna,"
"Tapi sepertinya Dia gadis yang galak! Gadis galak seperti itu biasanya sangat mahal. Nggak seperti gadis mengejar-ngejar pria yang bahkan rela disuruh-suruh. Merendahkan harga dirinya agar bisa dekat dengan crush nya,"
"Bener banget gadis mahal yang sangat cantik. Sepertinya dia akan masuk daftar salah satu cewek yang akan aku dekati," kekehnya.
Tapi di antara para siswa pria yang sedang menggosipkan Aruna ada satu yang hanya diam tapi ekor matanya terusm memperhatikan Aruna yang menjauh dari sana.
Rendra harus menahan malu dan sekaligus rasa sakit karena berhasil dijatuhkan terpenting oleh Aruna. Padahal awalnya dia berniat untuk mempermalukan Aruna di depan semua orang. Tapi malah kebalikannya, dia yang malu dan diejek oleh mereka semua.
"Om, apa Om Edwin sudah bicara kepada Tuan Bima agar aku bisa tinggal di markas?" tanya Aruna kepada Ramon yang kali ini menjemput dia.
"Sepertinya belum karena hari ini Tuan Bima juga akan datang ke markas, untuk membicarakan lebih lanjut rencana pekerjaan kami lusa," jawab Ramon.
"Semoga aku bisa ikut dalam operasi itu, agar masa tahananku berkurang! Mana data mereka yang akan kita serang nanti Om?" tanya Aruna yang begitu antusias.
Ramon hanya jalan kepala mendengar ucapan Aruna. Tapi dia tetap memberikan tablet yang berisi data musuh mereka kepada Aruna. Aruna memperhatikan dan membaca setiap detail dari orang-orang yang diperkirakan sangat berpengaruh di sana. Berikut dengan segala kemampuan yang mereka miliki.
"Berapa uang yang kita dapat jika berhasil melawan mereka?" tanya Aruna membuat Ramon kaget.
"Maksudmu?" tanya Ramon.
"Aku yakin jika semua ini tidak gratis. Ada nya-wa yang hilang artinya ada uang besar yang dipertaruhkan di sana. Apa yang dipertaruhkan di sini uang ataukah barang?" tanya Aruna serius.
"Kekuasaan. Ayahmu ingin menguasai semua wilayah yang ada di sini. Karena wilayah di sini masih terbagi menjadi tiga kelompok. Dan mereka salah satunya!" jawab Ramon.
"Ralat om, dia bukan ayahku, tapi dia adalah iblis yang menahanku di sini!" protes Aruna membuat Ramon terkekeh.
"Apa kamu yakin akan ikut turun? Ini adalah operasi yang berbahaya dan kamu bisa saja terluka atau bahkan ma-ti!" tanya Ramon meyakinkan.
"Ma-ti jauh lebih baik dari pada di sik-sa lahir batin setiap hari Om!" jawab Aruna santai
"Tapi dia tak akan membiarkan aku ma-ti begitu saja untuk sementara waktu. Karena dia masih butuh orang untuk melampiaskan kemarahannya dengan menyik-saku. Karena tak mungkin dia akan melakukan hal itu kepada mereka yang sedang bersandiwara di rumahnya saat ini!" tambah Aruna sambil menatap ke arah luar.
Ramon tak banyak bertanya atau menanggapi kembali ucapan Aruna karena dia yakin saat ini dia sedang butuh menenangkan diri. Dia tak tahu apa lagi yang terjadi kepada gadis kecil itu saat ini. Tapi yang jelas dari kata-katanya dia sudah bisa membaca kalau keadaanya sedang tidak baik-baik saja.
Tiba di markas, Aruna seperti biasa langsung berganti pakaian dan pemanasan. Kemudian mulai berlatih dengan yang lainnya. Bahkan dalam waktu yang cepat, Aruna bisa sampai tahapan ke dua pelatihan khusus untuk para algojo. Saat ini ada lima orang yang mengikuti pelatihan algojo di tahap dua termasuk Aruna.
"Apa kau tak salah baru satu bulan lebih dia sudah berada di tahap ke dua?" tanya Bima saat memperhatikan para algojo berlatih termasuk anak perempuannya sendiri.
"Tapi itu sudah sesuai standar dan kemampuan Aruna. Tekadnya lebih kuat dan besar untuk menjadi algojo. Bahkan dia ingin ikut dalam operasi lusa. Katanya sebagai latihan pertamanya. Dan dia meminta padaku menyampaikan permintaannya untuk tinggal di markas saja. Agar waktu latihannya bisa lebih lama lagi. Katanya target dia dua tiga tahun menjadi algojo utama!" jelas Edwin membuat Bima menatapnya lekat.
Mencoba mencari kebohongan dari orang kepercayaannya itu. Tapi Edwin memang menagatakan kenyataan. Di tambah dengan permintaan dan permohonan dari Aruna. Tanpa dia bertanya alasannya. Karena itu adalah hal pribadi mereka kecuali jika Aruna mengatakannya sendiri.
Bima belum menjawab pertanyaan Edwin. Tapi tatapannya terkunci kepada Aruna yang sedang berlatih boxing dengan para calon Algojo lainnya. Dia melihat anaknya sudah sangat berubah. Selama ini dia tak pernah memperlihatkan Aruna dan lebih bersikap masa bodoh. Karena dia malas menatap mata Aruna yang penuh kebencian padanya.
calon keluarga mafia somplak 🤣🤣🤣
mau anda apa sih Pak bima ,,
herman saya/Facepalm//Facepalm//Facepalm/