Ternyata, teori tentang benang merah itu memang ada. Sejauh dan selama apapun berpisah, jika ada yang belum selesai makan akan tetap bertemu dengan cara yang terkadang tak masuk dalam logika.
Siapa yang sangka, Bianca akan kembali bertemu , mantan tunangan yang dulu dijodohkan dengannya dalam keadaan Bianca yang sudah tidak seperti dulu lagi.
Tunangan yang dulunya pergi meninggalkannya karena alasan tidak mencintainya, kini justru selalu terlihat dalam hidup Bianca yang begitu pelik.
Padahal mantan tunangannya itu sudah memiliki wanita yang dicintai sejak dulu menjalin hubungan dengan Bianca.
"Bisakah kau melewatiku begitu saja saat melihatku? Jangan mendekat dan jangan ikut campur terlalu jauh ke dalam hidupku!" - Bianca -
Apa jadinya jika dua orang itu justru terikat oleh sebuah teori benang merah yang tidak pernah putus diantara mereka?
Apakah mereka akan kembali bersama meski benang merah sudah terlalu rumit mengikat mereka berdua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi.santi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Isi kepada Elgard
"Ck!!" Elgard menutup laptopnya dengan keras. Dia sedang menyelesaikan pekerjaannya, tapi pikirannya justru terus tertuju pada Bianca.
"Sebenarnya ada apa denganku?!" Elgard mulai merasa jika ada yang tidak beres dengan dirinya.
Baru sekarang dia dibuat seperti itu oleh Bianca. Padahal dulu saat mereka bertunangan selama dua tahun, Elgard cenderung acuh meski dia tatap bersikap baik pada Bianca.
Tapi sekarang, hanya dengan melihat mata Bianca yang sayu, wajah yang pucat dan tirus, juga sikapnya yang tak peduli sama sekali kepadanya, Elgard justru merasa tidak nyaman. Hatinya seperti ada yang menggelitik, dia tak terima dengan sikap Bianca kepadanya.
"Ya?" Elgard mengangkat panggilan dari Meriana.
"Kau kemana saja El? Kenapa kau tidak membalas pesanku sama sekali?!!" Meriana tampak begitu kesal dari seberang telepon.
Elgard menari ponselnya dari telinga kemudian memeriksa beberapa pesan yang ternyata sudah dikirim oleh Meriana sejak tadi.
"Maaf, aku tidak melihat kalau ada pesan masuk. Dari tadi aku sibuk dengan pekerjaanku!"
Elgard memang tidak melihat ponselnya sama sekali, tapi bukan karena sibuk dengan pekerjaannya, tapi sibuk memikirkan Bianca hingga dia lupa pada kekasihnya sendiri.
"Kau selalu seperti itu El!"
"Maafkan aku!"
"Apa yang akan kau berikan sebagai tanda permintaan maafmu?!"
"Kau mau apa?" Elgard sudah hafal jika mendapatkan maaf Meriana hanya dengan membelikan apapun keinginannya.
"Nanti akan ku katakan kalau aku pulang dari luar negeri. Setelah ini aku harus berangkat, aku kembali minggu depan. Bye darling, love youu!"
"Hmm, hati-hati!"
Elgard hanya menatap ponselnya setelah panggilan itu berakhir. Dia sudah terbiasa dengan Meriana yang bepergian keluar negeri untuk pekerjaannya, makanya tadi tanggapannya begitu biasa.
Sekarang dia malah iseng untuk membuka media sosial milik Bianca. Tapi ternyata akun milik Bianca sudah tidak ditemukan lagi. Bianca memang benar-benar tidak mau terlihat oleh siapapun. Padahal sebenarnya Elgard hanya ingin tau, apa foto-foto yang diupload Bianca saat dulu mereka bersama masih ada atau tidak.
"Apa yang ada dipikiranmu El! Jelas Bianca sudah menghapus semuanya. Dia terlalu sakit hati karena ulahmu!"
Dulu, dia dipaksa oleh Ayahnya untuk menerima perjodohannya dengan Bianca. Dia sama sekali tak menyalahkan Bianca waktu itu karena memang begitu lah kehidupan pada pebisnis. Untuk memperluas relasi dan membangun kekuatan, mereka sering menjodohkan anak mereka dengan rekan bisnis mereka atau orang yang dianggap memiliki power yang kuat.
Ayahnya pernah bilang, kalau orang miskin jangan pernah menentang orang kaya. Sedangkan orang kaya, jangan menentang pejabat atau politikus karena mereka lebih kuat. Makan dari itu, Ayahnya menjodohkannya dengan Bianca yang notabennya putri seorang pejabat demi mempermudah Ayahnya melakukan apapun dalam hal bisnis, terutama masalah perijinan.
Saat itu Elgard mencoba menjalin hubungan baik dengan Bianca. Dia menganggap Bianca hanya sebagai temannya saja, tidak lebih karena memang saat itu Elgard sudah menjalin hubungan dengan Meriana lebih dulu.
Dalam waktu dua tahun, Elgard hanya berharap jika perjodohan mereka itu segera berakhir sehingga dia bisa kembali pada Meriana.
Tapi setelah delapan tahun berlalu, di saat dia bertemu lagi dengan Bianca, perasannya justru kacau. Dia terus merasa terusik dengan Bianca yang baru satu bulan ini bertemu dengannya.
Padahal, dia masih menjalin hubungan dengan Meriana yang jelas-jelas ia cintai selama ini. Seharusnya perasaan dan pikiran Elgard lebih didominasi oleh Meriana seperti biasanya ketika ada wanita yang mendekatinya. Tapi Bianca?
"Ah, entahlah!" Elgard mengacak rambutnya frustasi.
🌻🌻🌻
Sementara itu, Bianca yang sudah terlalu banyak pikiran sampai kepalanya ingin meledak, lebih terlihat tenang menjalani hidupnya. Dalam benaknya sudah tertanam, mau dipikirkan atau tidak, hidupnya akan berjalan dengan penuh masalah seperti biasanya.
Jadi menjalaninya dengan mengikuti arus kehidupannya, rasanya lebih baik. Yang pasti, dia hanya akan mengikuti alurnya, bekerja, mendapatkan uang, kemudian membayar hutang. Seperti itu terus sampai entah kapan hutang-hutangnya itu lunas.
Sebenarnya dia punya keinginan untuk mengembangkan parfum racikannya. Namun dia belum punya modal yang cukup. Uang yang ia dapatkan selalu saja habis tak tersisa. Untuk sekedar makan dengan layak pun dia begitu susah.
Bianca pernah mencoba menjual parfumnya secara daring, tapi persaingannya sangat ketat apalagi dia belum punya nama, sedangkan untuk mengurus perijinan secara resmi agar produknya bisa lebih dikenal itu sangatlah susah.
"Kau gantikan aku lembur malam ini, nanti akan ku ganti waktumu dengan uang!"
"Baiklah!" Bianca tak bisa menolak. Meski dia akan bekerja lebih lama, tapi jika mendapatkan tambahan uang, rasanya tak masalah baginya.
"Kau benar-benar butuh banyak uang?" Wanita dengan tubuh sinyal itu sedang memakai lipstik merah merona pada bibirnya.
"Hmm" Angguk Bianca. Dia memang tak banyak bicara pada rekan kerjanya sekalipun. Dia hanya sebatas mengenal namun tidak begitu dekat.
"Wajahmu lumayan, hanya tubuhmu sedikit kurus. Harusnya bisa menjual, kenapa tidak kau manfaatkannya?"
Bianca tau apa maksud ucapan teman kerjanya itu. Dia menatap pantulan wajahnya sendiri pada cermin di depannya. Mereka saat ini sedang berada di ruang ganti sebelum memulai pekerjaannya.
"Aku di sini hanya ingin bekerja sesuai dengan pekerjaanku, bukan menjual diri!"
Wanita di sampingnya hanya mendengus karena merasa tersinggung dengan ucapan Bianca. Dia memang sering memanfaatkan pria hidung belang untuk mendapatkan uang lebih.
"Kau terlalu polos Bianca, padahal hidup terus berjalan dan selalu butuh uang. Tapi terserah kau saja, kau memang pekerja keras!" Wanita itu mengemas meke upnya yang begitu banyak dibanding Bianca yang hanya memakai lipstik dan bedak seadanya.
"Jangan lupa nanti malam gantikan aku, uangnya akan ku kirim besok pagi!" Imbuhnya lalu pergi lenih dulu dari ruangan itu.
Bianca masih terdiam, meski benar katanya jika hidup terus berjalan dan selalu membutuhkan uang, Bianca tidak akan pernah merendahkan harga dirinya untuk menggoda laki-laki demi uang.
lanjut....
baguslah kamu sudah menceritakan kelakuan Meriana ke Elgard dengan jujur