Penasaran dengan ceritanya langsung aja yuk kita baca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12: JERIT DI PEMAKAMAN
BAB 12: JERIT DI PEMAKAMAN
Motor Arga membelah sunyinya malam menuju Pemakaman Jeruk Purut. Dinginnya udara terasa berbeda—bukan dingin karena angin, tapi dingin yang menusuk hingga ke tulang, seolah-olah pori-porinya sedang dihisap oleh sesuatu yang tak terlihat.
Kotak kecil yang dibungkus kain kafan itu diletakkan Arga di dalam tas kurirnya. Namun, anehnya, tas itu terasa semakin berat setiap kali ia melewati gerbang pemakaman.
"Pohon kembar..." bisik Arga, mengingat instruksi pria misterius di gudang tadi.
Ia mematikan mesin motor agar tidak menarik perhatian. Di bawah cahaya bulan yang tertutup awan mendung, pemakaman itu tampak seperti hamparan nisan yang mengawasi setiap gerakannya. Arga mengeluarkan koin emasnya. Melalui lubang koin, ia melihat jalur yang berbeda. Ada jejak cahaya keunguan yang menuntunnya ke arah dua pohon besar yang batangnya saling melilit seperti sepasang kekasih yang tersiksa.
Saat mendekati pohon itu, Arga mendengar suara yang dilarang untuk ia gubris.
Hiks... hiks... tolong... anak saya...
Di bawah bayangan pohon kembar, seorang wanita dengan pakaian compang-camping sedang berlutut, mencakar-cakar tanah. Rambutnya panjang menutupi wajah, dan bahunya berguncang hebat karena tangisan.
Arga teringat aturan: Jangan bicara pada wanita yang menangis.
Ia melangkah perlahan, mencoba meletakkan kotak kafan itu di sela-sela akar pohon kembar. Namun, saat tangannya menyentuh akar pohon, suara tangisan itu tiba-tiba berhenti.
"Kau membawanya?" suara wanita itu berubah menjadi parau dan berat.
Arga tetap diam. Ia fokus meletakkan paket itu. Tiba-tiba, tangan wanita itu yang pucat dan dipenuhi tanah menyambar pergelangan tangan Arga.
"Kau membawa nyawa yang seharusnya milikku, Arga nomor 30!"
Arga tersentak. Ia refleks melihat melalui koin emasnya. Sosok di depannya bukanlah wanita, melainkan makhluk dengan tubuh tanpa kulit yang sedang mencoba menghisap cahaya dari angka "6" di telapak tangannya.
Cahaya di telapak tangan Arga meredup. Ia merasa energinya terkuras. Dalam kepanikan, Arga teringat catatan ayahnya: Jika kau dalam bahaya di tanah mati, berikan apa yang mereka minta, tapi bukan apa yang kau bawa.
Arga meraba sakunya. Ia tidak punya apa-apa selain koin emas dan kunci motor. Namun, ia melihat tanah di sekitar akar pohon itu basah oleh cairan hitam—cairan yang sama dengan yang dibawa Pengawas di mimpinya.
Tanpa pikir panjang, Arga menggunakan sisa tenaganya untuk menghentakkan tangannya yang bercahaya ke tanah. "Ambil tanah ini, jangan ambil aku!" teriak Arga (ia melanggar aturan untuk tidak bicara, tapi ini situasi hidup mati).
Cahaya dari telapak tangannya membakar tanah tersebut, menciptakan ledakan uap panas yang membuat makhluk itu terpental. Arga segera meletakkan kotak kafan itu dan berlari menuju motornya.
Di belakangnya, kotak itu terbuka dengan sendirinya. Bukan suara tangisan yang keluar, melainkan suara tawa bayi yang melengking tinggi, memecah kesunyian makam.
Begitu ia berhasil menyalakan motor dan memacunya keluar, Arga tidak berani menoleh ke belakang sesuai aturan. Namun, di kaca spion, ia melihat sesuatu yang membuatnya nyaris jatuh.
Wanita di pemakaman tadi tidak lagi mengejarnya. Ia berdiri tegak di bawah pohon kembar, memegang bayi yang keluar dari kotak kafan itu. Wajah wanita itu kini terlihat jelas melalui pantulan spion.
"Itu... Ibu?" bisik Arga tidak percaya.
Wajah wanita itu sangat mirip dengan ibunya di masa muda, namun matanya benar-benar putih tanpa pupil.
Saat Arga melewati gerbang keluar, rasa panas luar biasa menjalar di telapak tangannya. Ia menepi sejenak dan melihat tangannya.
Angka 6 telah lenyap. Berganti menjadi angka 7.
Namun di bawah angka 7, muncul sebuah duri hitam kecil yang menusuk kulitnya. Duri itu terasa berdenyut, seolah-olah ada sesuatu yang sedang tumbuh di dalam aliran darahnya.
Ponselnya berbunyi. Sebuah pesan singkat masuk dari nomor yang tidak dikenal:
"Satu pengiriman lagi, dan kau akan melihat wajah aslimu. Jangan pulang ke rumah malam ini. Ibumu yang sekarang... sudah lapar."
Arga menatap ke arah jalan pulang yang gelap. Jika rumah bukan lagi tempat yang aman, dan gudang adalah penjara, ke mana ia harus pergi?
Apakah Arga akan mencari tempat persembunyian baru, atau ia akan nekat pulang untuk membuktikan siapa sosok "Ibu" yang ada di rumahnya?