"Tiga syarat, Maya. Jangan jatuh cinta padaku, jangan mencampuri urusan dinasku, dan jangan biarkan satu orang pun di sekolahmu tahu siapa suamimu."
Lettu Arga adalah perwira muda paling berbakat dengan kekayaan yang melampaui gaji bulanannya. Baginya, pernikahan adalah strategi untuk menyelamatkan karier dari fitnah. Sementara bagi Maya, siswi SMA yang baru berusia tujuh belas tahun, pernikahan ini adalah kontrak untuk menyelamatkan nyawa ibunya.
Di depan saksi dan di bawah sumpah prajurit, mereka terikat. Maya harus belajar hidup di antara kaku dan dinginnya aturan Markas Komando, sementara Arga harus menahan diri agar tidak melewati batas terhadap "istri kecilnya" yang lebih sering memikirkan PR Matematika daripada melayani suami.
Namun, ketika musuh mulai mengincar Maya sebagai titik lemah sang Letnan, Arga sadar bahwa ia telah melanggar syarat pertamanya sendiri: Ia telah jatuh cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mrs. Fmz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22: Mobil Dinas yang Mencolok
Mobil dinas yang mencolok itu berhenti dengan posisi melintang di tengah gang sempit hingga debu jalanan berterbangan menutupi pandangan mata para siswa. Pintu kendaraan terbuka dengan sentakan kasar sementara dua orang prajurit berseragam lengkap keluar dengan sikap siaga yang sangat berlebihan. Maya Anindya mencengkeram erat tali tas sekolahnya sambil menatap ngeri pada pelat nomor kendaraan yang sangat dia kenali sebagai milik petinggi markas.
"Mengapa mereka menjemput kita dengan cara seperti ini di depan gerbang sekolah?" tanya Maya Anindya dengan bibir yang bergetar hebat.
Arga Dirgantara tidak segera menjawab melainkan justru menarik tubuh istrinya agar lebih merapat ke arah dinding bata yang dingin. Dia mengamati setiap pergerakan prajurit tersebut dengan tatapan mata yang sangat waspada seolah-olah sedang menghitung peluang untuk melarikan diri. Jaket kulit yang dia kenakan sedikit tersingkap hingga memperlihatkan gagang senjata api yang selalu dia bawa ke mana-mana.
"Jangan pernah melepaskan genggaman tanganmu dari jaket saya apa pun yang akan terjadi setelah ini," bisik Arga Dirgantara dengan nada bicara yang sangat rendah.
Salah seorang prajurit melangkah maju dengan langkah kaki yang sangat kaku serta teratur laksana sebuah mesin yang sudah diprogram. Dia memberikan hormat militer yang sangat sempurna kepada Arga Dirgantara namun sorot matanya tetap tertuju pada wajah Maya Anindya. Suasana di sekitar gang yang tadinya riuh oleh suara tawa murid sekolah mendadak berubah menjadi sangat sunyi serta mencekam laksana kuburan.
"Mohon maaf Letnan Satu Arga tetapi ada perintah penjemputan paksa untuk istri Anda guna menjalani pemeriksaan kesehatan rutin," ucap prajurit itu dengan suara yang berat.
Maya Anindya merasa jantungnya seolah-olah berhenti berdetak saat mendengar kata pemeriksaan kesehatan yang terdengar sangat mencurigakan di telinganya. Dia teringat pada dokumen rahasia di dalam brankas milik mendiang ayahnya yang pernah menyebutkan tentang percobaan medis terlarang. Gadis itu menatap suaminya dengan tatapan memohon agar tidak membiarkan orang-orang berseragam itu membawanya pergi ke tempat yang sangat mengerikan.
"Istri saya tidak akan pergi ke mana-mana tanpa persetujuan tertulis dari saya secara langsung!" tegas Arga Dirgantara sambil menaruh tangannya di atas pinggang.
Keadaan menjadi sangat tegang saat para prajurit itu saling bertukar pandang lalu mulai mengepung posisi Arga Dirgantara dengan gerakan yang sangat rapi. Siswa-siswi sekolah yang masih berada di sekitar tempat itu mulai berbisik-bisik sambil menunjuk ke arah mobil dinas yang sangat mewah tersebut. Maya Anindya merasa dunianya sedang runtuh karena rahasia pernikahan kontraknya kini terancam terbongkar di hadapan seluruh teman sekolahnya yang mulai bertanya-tanya.
"Siapa pria itu, Maya? Mengapa dia menyebutmu sebagai istrinya di depan banyak orang?" tanya seorang teman sekelas Maya yang tiba-tiba muncul dari balik tembok.
Gadis itu hanya bisa terdiam membisu dengan wajah yang pucat pasi laksana mayat saat melihat kerumunan orang mulai mendekat karena rasa penasaran. Arga Dirgantara menyadari bahwa situasi ini sudah tidak bisa dikendalikan lagi jika mereka terus bertahan di tempat terbuka yang sangat mencolok tersebut. Dia menarik napas panjang lalu melakukan sebuah tindakan nekat yang sama sekali tidak pernah terpikirkan oleh siapa pun di sana sebelumnya.
"Masuk ke dalam mobil sekarang juga sebelum saya benar-benar kehilangan kesabaran terhadap kalian semua!" teriak Arga Dirgantara sambil menarik Maya Anindya masuk ke pintu belakang kendaraan.
Mesin mobil menderu sangat kencang saat pengemudi menginjak pedal gas hingga ban kendaraan berdecit memekakkan telinga siapa saja yang mendengarnya. Maya Anindya jatuh terduduk di jok kulit yang sangat empuk namun hatinya tetap merasa sangat gelisah karena melihat ekspresi suaminya yang sangat dingin. Dia melihat ke arah jendela belakang dan menyadari bahwa sekarang semua orang di sekolahnya akan mulai bertanya-tanya tentang siapa pria itu, Maya?