"Jangan menggodaku, Rania.” Radit mundur satu langkah, tapi Rania justru mendekat. Tangannya menyentuh dada pria itu, perlahan turun sambil tersenyum nakal. “Kamu yang datang sendiri malam-malam begini,” bisiknya.
Lalu bibirnya menempel di leher Radit, menggigit pelan, meninggalkan jejak merah. “Anggap aja… ucapan selamat datang, dari Mbak janda muda.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raey Luma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kejujuran
Radit akhirnya membelokkan mobil ke arah gedung kantornya. Ia tidak jadi menyusul Rania, karena jika pikirannya masih segaduh ini, ia tahu tindakannya bisa saja di luar kendali.
Langkahnya cepat dan berat. Sepatu pantofelnya menghantam lantai marmer lobi dengan suara tegas.
Para karyawan yang melihat sosok bos mereka muncul dengan wajah masam langsung menunduk. Ada yang pura-pura sibuk, ada yang buru-buru menyingkir dari jalur, dan beberapa lainnya hanya saling melirik penuh tanya.
“Siang, Pak Radit,” sapa salah satu staf wanita dengan suara pelan.
Radit hanya mengangguk singkat. Tatapannya lurus ke depan, tidak membalas dengan senyum atau basa-basi.
Begitu sampai di lantai atas dan membuka pintu ruang kerjanya, Radit langsung melempar map kerja ke meja dengan suara “brak” yang cukup membuat karyawan di luar ruangan menegang.
Ia berdiri menghadap jendela besar yang menampilkan pemandangan kota. Tangan kirinya mengusap wajah. Dada sesak.
Kacau.
Radit baru saja menghela napas berat ketika ponselnya bergetar di meja.
Ia menoleh malas, tapi saat nama itu muncul di layar, ekspresinya berubah.
Rania.
Tanpa pikir panjang, ia langsung menjawab.
“Halo.”
Suara di seberang terdengar hati-hati. “Radit…”
Radit tidak langsung menjawab, hanya menghela napas. “Kamu masih berani nelepon aku?”
“Aku… tadi enggak enak ninggalin kamu gitu aja.”
“Oh? Jadi kamu sadar.” Nada suaranya terdengar datar, dingin.
“Aku enggak tahu harus bilang apa. Aku cuma…” Rania terdengar ragu.
“Panik? Kaget? Atau ada alasan lain?”
“Bisa enggak kita enggak bahas itu sekarang?”
Radit menggeser ponselnya dari telinga, menatap layar sesaat, lalu kembali menyenderkan punggung ke kursi.
“Kamu kabur dari restoran, nabrak pelayan, bikin rusuh, dan ninggalin aku sendirian di meja. Kamu pikir aku enggak mau bahas itu?”
“Aku bilang aku minta maaf, Radit. Aku baru sadar, siang ini aku udah janji mau nemenin Aira ke Klinik. Aku enggak bisa mikir jernih.”
Radit terdiam sesaat. Tangannya mengepal di sisi paha.
“Kalau kamu butuh pulang, kamu bisa bilang. Kamu enggak perlu pergi kayak maling.”
“Aku tahu… aku tahu. Aku salah.”
Ada jeda. Canggung. Di luar ruangannya, suara printer terdengar samar.
“Kamu kenapa diem?” tanya Rania pelan.
Radit menggeleng pelan meski tak bisa dilihat.
“Enggak apa-apa. Aku cuma capek.”
“Kamu di kantor?”
“Iya. Ngebentak anak-anak tadi. Mereka semua nunduk kayak mau dikubur hidup-hidup.”
“…Kamu marah banget ya?”
“Kamu pergi tanpa alasan, aku dapet telpon dari Ayahku soal saham dan pernikahan, aku hampir nabrak orang. Jadi… ya. Marah kayaknya wajar.”
Rania terdiam. Di seberang, Radit mendengar tarikan napas kecil. Suara khas orang yang mau bilang sesuatu, tapi urung.
“Besok aku akan kerja seperti biasa,” kata Rania akhirnya. “Dan… soal tadi. Aku benar-benar minta maaf.”
“Aku tunggu kamu besok,” ucap Radit singkat.
“Oke.”
Sambungan pun terputus.
Setelah sambungan telepon itu, Radit menunduk lama di kursinya. Jari-jarinya mengepal di atas meja, menahan emosi yang entah arahnya ke mana.
Ia tahu harusnya ia tidak menyalahkan Rania.
Tapi semua ini... terlalu sesak.
Beberapa menit kemudian, ia bangkit. Meninggalkan kantor tanpa bicara sepatah kata pun. Karyawan yang melihat kepergiannya hanya bisa saling bertanya lewat tatapan, tak seorang pun berani menghentikannya.
Langkahnya membawa tubuh lelah itu kembali ke apartemennya. Sebuah tempat sunyi di lantai atas gedung pencakar langit, dengan lampu kota yang berpendar dingin di balik jendela kaca.
Radit menyalakan satu-satunya lampu meja, lalu membuka kulkas, mengeluarkan beberapa botol minuman yang bahkan tak ia ingat kapan dibeli.
Dan malam pun mulai larut...
Bersama gelas-gelas yang kosong dan botol yang perlahan menumpuk.
Tepat pukul sembilan malam, ponselnya berdering.
Nama Rania kembali muncul di layar.
Radit hanya menatapnya sebentar. Matanya merah, baju kerjanya masih belum diganti. Dasi sudah terlepas, kemeja tergulung sembarangan.
Setelah tiga kali dering, ia mengangkat.
“Radit? Kamu masih bangun?”
Radit mendengus pelan. Suaranya berat, serak. “Aku... enggak tidur.”
“Kamu minum?” tanya Rania lirih, seolah bisa menebaknya.
“Aku perlu istirahat supaya waras,” jawab Radit pendek, nyaris seperti gumaman. Lalu diam.
“Kamu kenapa, sih?”
Radit terdiam cukup lama sebelum akhirnya berkata pelan.
“Kamu tahu, Ran… aku ke kamu itu bukan karena hati.”
Napas Rania tercekat.
“…Apa maksud kamu?”
“Aku butuh kamu di hidupku. Tapi bukan buat cinta. Aku butuh peran kamu, butuh nama kamu, supaya aku bisa dapetin saham itu. Itu aja.”
“Kamu yang bikin rumit. Kamu yang selalu narik-narik garis batas, bikin aku bingung kapan bisa nembus pertahanan kamu.”
“Tapi... latar belakang kita beda, Ran. Kamu bukan dari dunia yang bisa nerima tekanan kayak aku. Kita beda.”
“Aku udah tahu dari awal, ini cuma kontrak. Tapi kamu yang bikin ini kayak lebih dari itu.”
Suara Radit sedikit terputus, terdengar botol menyentuh meja dengan kasar. Ia tertawa pelan, tapi jelas bukan karena bahagia.
“Lucu ya... semua ini mulai kacau waktu aku... waktu aku mulai ngelihat kamu bukan sebagai alat. Tapi manusia.”
“Radit…”
“Tapi makin aku lihat kamu kayak gitu, makin aku takut. Karena kalau aku serius, aku bisa kehilangan semuanya. Saham, kuasa, bahkan posisiku di keluarga.”
“Jadi… mending kamu jauhin aku. Jangan bikin aku mikir pake hati. Aku udah terlalu deket sama kegilaan.”
Rania tak bisa berkata apa-apa.
Tapi air matanya sudah jatuh.
“Kamu mabuk. Kamu enggak sadar apa yang kamu bilang.”
“Aku sadar,” ucap Radit cepat, nada suaranya kali ini lebih pelan.
“Aku sadar banget. Justru karena aku mabuk, aku jujur.”
“Kamu ke aku cuma karena kontrak.”
“Bukan karena kamu tertarik. Bukan karena kamu suka. Bukan karena kamu...” Suaranya tercekat, “…butuh aku.”
“Aku butuh kamu,” kata Radit.
“Tapi bukan hatimu. Cukup keberadaanmu. Di atas kertas. Di depan keluargaku.”
Dan hening pun menguasai sambungan itu.
Radit menutup matanya. Ia bisa mendengar isakan kecil dari seberang.
Sementara di sisi lain, Rania menggenggam ponsel dengan tangan bergetar.
Sakit.
Padahal seharusnya ia tahu sejak awal, hubungan mereka tak pernah berlandaskan cinta. Semuanya karena perjanjian, semuanya demi sesuatu yang legal di atas nama.
Tapi kenapa... saat mendengarnya sendiri, dari suara Radit, semua itu terasa seperti belati?
Rania memutus sambungan tanpa berkata apa-apa.
Sementara Radit hanya memandangi layar ponselnya yang kini gelap, sebelum akhirnya tertawa kecil dalam gumam.
“Bagus... akhirnya kamu sadar.”
Tapi entah kenapa, dadanya tak ikut lega.
Karena di balik kata-katanya, ada bagian dari dirinya yang menyesal.
Dan bagian itu... justru semakin besar saat suara Rania menghilang dari pendengarannya.
---
Malam itu, setelah ponsel terdiam… Rania tak bisa tidur.
Meski air mata sudah berhenti mengalir, pikirannya masih ribut.
Kata-kata Radit terus terngiang.
"Aku butuh kamu, tapi bukan hatimu..."
Meski sakit, ada suara kecil dalam dirinya yang lebih keras:
"Tapi kenapa nadanya seperti orang yang terluka juga?"
Dan entah karena insting... atau karena rasa peduli yang tak bisa ia bantah, Rania mengambil jaket, mengenakan sepatu, dan keluar dari kosan.
Tak tahu harus menjelaskan seperti apa pada dirinya sendiri, ia hanya takut.
Takut pria itu benar-benar hancur sendirian malam ini.
---
Beberapa saat kemudian, Rania tiba di depan pintu apartemen Radit.
Ia menekan bel.
Tak ada jawaban.
Ia mengetuk.
Masih tak ada respon.
Akhirnya, setelah beberapa panggilan tak diangkat, Rania menyentuh gagang pintu dan terkejut karena tidak dikunci.
"Radit...?" ucapnya pelan, menyusup masuk dengan hati-hati.
Apartemen itu gelap.
Berantakan.
Botol alkohol berserakan di meja dan lantai. Tirai tak tertutup. Udara dingin menyapu kulitnya.
Dan di sana, Radit duduk di lantai, bersandar ke sofa dengan mata separuh terbuka.
Kacau.
"Woi..."
Suara Rania tercekat melihat kondisinya.
Radit mengangkat wajah. Pandangannya kosong, tapi saat mengenali Rania, ia tertawa pelan. “Heh… kenapa kamu di sini…”
“Radit… kamu kenapa sampai kayak gini?”
Rania langsung menghampiri, memeriksa denyut nadi dan suhu tubuhnya.
“Aku minum… buat lupa,” bisiknya pelan. “Tapi kenapa malah makin ingat?”
Rania meletakkan botol di tangannya dan mendorong perlahan tubuh Radit agar bersandar lebih nyaman ke sofa.
“Aku akan pesenin makanan atau kopi. Kamu butuh sadar dulu.”
Tapi Radit justru menarik pergelangan tangan Rania. Genggamannya lemah tapi terasa.
“Jangan pergi dulu.”
“Radit—”
“Kamu tahu enggak...” lirihnya. “Aku enggak pengen orang lain liat aku kayak gini. Cuma kamu. Cuma kamu yang boleh liat... sisi lemah aku.”
“Aku... mungkin gila. Tapi cuma kamu yang bikin aku ngerasa waras.”
Rania membeku.
Tangan pria itu naik ke pipinya, membelai lembut meski tubuhnya masih beraroma alkohol.
“Radit, kamu mabuk—”
“Ya, aku mabuk. Tapi aku enggak bohong.”
Suara Radit parau.
Mata mereka bertemu.
Rania ingin mengelak, tapi tubuhnya diam. Nafasnya tertahan.
“Aku cuma mau kamu malam ini…” bisik Radit, suaranya menurun.
Tangannya perlahan turun dari pipi ke rahang Rania, menuntun wajahnya mendekat.
Dan saat bibirnya menyentuh bibir Rania…
Rania memejamkan mata.
Ia tahu ia harus menolak. Tapi ada bagian dari dirinya yang menyerah pada rasa yang sudah lama ia pendam. Ciuman itu tak terburu-buru, justru pelan, hati-hati.
Hangat.
Terlalu jujur.
Ciuman mereka terus berlangsung.
Radit menumpahkan semua luka dan kerinduan dalam genggaman di tengkuk Rania.
Sementara Rania… tak tahu harus melawan atau menyatu.
Namun saat satu tangan Radit mulai menariknya lebih dekat, menyentuh sisi pinggangnya, Rania buru-buru memutuskan kontak itu.
“Radit… cukup.”
Suaranya serak, terdengar gemetar.
Radit menatapnya, terdiam.
Bibirnya masih terbuka, napasnya tak teratur.
“Aku enggak bisa…”
Rania berdiri, mengambil jaketnya. “Kalau kamu sadar dan masih bilang hal yang sama, baru kita bisa bicara. Tapi malam ini… cukup.”
Radit ingin bangkit, tapi tubuhnya lemas.
Rania menunduk. “Istirahat, Radit. Jangan buat aku tambah sakit.”