NovelToon NovelToon
MARRIAGE FOR HEIR

MARRIAGE FOR HEIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Poligami / Keluarga / CEO / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Pernikahan Liana dan Abi hanyalah kesepakatan pahit di atas kertas untuk menyambung keturunan.
Liana terjepit di antara rasa hormat kepada Genata dan status barunya sebagai istri kedua. Namun, seiring berjalannya waktu, batas antara "paman" dan "suami" mulai mengabur. Abi terjebak dalam dilema besar saat ia menyadari bahwa Liana bukan sekadar pelanjut nasab, melainkan pemilik kunci hatinya yang sesungguhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

Suasana fajar yang dingin menyelimuti rumah itu, namun ketegangan baru saja akan dimulai.

Tok... tok... tok...

"Mas Abi, bangun. Sudah Subuh," suara Genata terdengar lirih di balik pintu kamar utama.

Suaranya terdengar sedikit parau, pertanda bahwa wanita itu tidak benar-benar tidur semalaman.

"Ayo kita shalat berjamaah dulu, Mas."

Abi mengerjap, berusaha mengumpulkan kesadarannya.

Saat ia bergerak, ia merasakan tubuh hangat Liana yang masih tertidur lelap di pelukannya. Selimut tebal itu menjadi satu-satunya pelindung mereka.

Abi bangkit perlahan, lalu meraih lilitan kain seadanya dan melangkah untuk membuka pintu, mengira Genata hanya akan bicara dari balik kayu itu.

Ceklek!

Pintu terbuka sedikit. Genata yang sedang berdiri dengan mukena yang sudah rapi seketika mematung.

Matanya membelalak lebar, wajahnya memucat melihat suaminya berdiri di depannya dengan rambut berantakan dan tubuh bagian atas yang polos, memperlihatkan bekas cakaran kuku di bahunya jejak pergulatan panas semalam.

Pemandangan di balik pundak Abi lebih menyakitkan lagi.

Ia melihat Liana yang masih meringkuk di bawah selimut di atas ranjang yang kini berantakan. Ranjang yang seharusnya menjadi miliknya.

"Astagfirullah, Mas..." Genata memalingkan wajah dengan cepat, hatinya seperti disayat sembilu.

"Segera mandi besar, Mas. Waktu Subuh tidak lama lagi. Jangan sampai lewat."

Suara Genata bergetar hebat, menahan tangis yang siap meledak kembali.

Abi hanya bisa mengangguk kaku, merasa sangat canggung dan bersalah.

"Iya, Gen. Aku mandi sekarang."

Namun, tepat saat Abi hendak berbalik menuju kamar mandi, sebuah lenguhan kecil terdengar dari arah ranjang.

Liana membuka matanya, ia sengaja menggeliat pelan agar selimutnya sedikit merosot, memperlihatkan bahu putihnya yang penuh tanda merah.

"Mas Abi, mau ke mana?" tanya Liana dengan suara serak khas bangun tidur, matanya melirik ke arah Genata yang masih berdiri di ambang pintu dengan tubuh gemetar.

Liana bangkit dan duduk di atas ranjang, membiarkan rambut panjangnya tergerai acak-acakan.

"Paman mau shalat dulu, Li. Kamu istirahat saja, kakimu masih sakit kan?" ucap Abi dengan nada yang sangat lembut, bahkan terdengar terlalu manis di telinga Genata.

Liana tersenyum tipis, sebuah senyuman penuh kemenangan.

"Iya, Mas. Tapi nanti jangan lama-lama ya, aku masih ingin dipeluk."

Genata tidak sanggup lagi mendengarnya. Ia berbalik dan berlari menaiki tangga menuju kamar atas, meninggalkan Abi yang hanya bisa menatap punggung istri pertamanya dengan perasaan terbelah.

Di dalam kamar, Liana kembali merebahkan tubuhnya, menghirup aroma Abi yang tertinggal di bantal dengan tatapan dingin yang tak terbaca.

Setelah membersihkan diri dan menyucikan jiwa melalui mandi besar, Abi melangkah menuju kamar atas.

Di sana, ia menemukan Genata sudah menunggu di atas sajadah, wajahnya sembap dengan mata yang masih merah.

Shalat Subuh itu berlangsung dengan keheningan yang menyesakkan, hanya suara imam yang sedikit bergetar karena beban di dada.

Sesaat setelah salam terakhir diucapkan, pertahanan Genata runtuh.

Ia tidak lagi mampu menahan isak tangisnya. Pundaknya terguncang hebat saat ia menundukkan kepala ke atas sajadah.

"Sakit, Mas. Hatiku benar-benar sakit," bisik Genata di sela tangisnya.

Abi segera bergeser mendekat, ia menarik tubuh Genata ke dalam pelukannya.

Ia mendekap istrinya itu dengan sangat erat, seolah ingin membagi rasa sesak yang menghimpit.

"Maafkan aku, Gen. Maafkan aku..."

Melihat penderitaan Genata, muncul sebuah dorongan di dalam hati Abi untuk membuktikan bahwa ia tidak berubah.

Ia tidak ingin istrinya merasa terbuang hanya karena kehadiran Liana.

Ia ingin menunjukkan bahwa ia masih menjadi milik Genata sepenuhnya.

Dengan lembut, Abi membimbing Genata berdiri dan membawanya menuju tempat tidur di kamar atas tersebut.

Abi mulai menciumi air mata yang mengalir di pipi Genata, berusaha menghapus setiap luka dengan sentuhannya.

Di kamar inilah, Abi melakukan hal yang sama seperti yang ia lakukan pada Liana semalam.

Ia memberikan dirinya seutuhnya kepada Genata, bergerak dengan penuh emosi dan kasih sayang yang dalam, mencoba menegakkan prinsip "adil" yang ia pahami dalam hatinya.

Sementara itu, di lantai bawah, Liana terbangun karena suasana rumah yang terlalu sepi.

Ia menyandarkan punggungnya di kepala ranjang, menunggu kepulangan Abi dari kamar atas. Namun, menit demi menit berlalu, suaminya tidak kunjung turun.

Liana turun dari tempat tidur, menyeret langkahnya perlahan menuju pintu kamar yang sedikit terbuka.

Ia menengadah ke arah selasar lantai atas. Dari sana, samar-samar ia mendengar suara-suara yang sangat ia kenali dari kamar Genata.

Seketika, rahang Liana mengatup rapat. Jemarinya mencengkeram kusen pintu hingga memutih. Rasa muak menjalar di seluruh tubuhnya.

"Adil?" desis Liana dengan suara yang sangat dingin.

"Ternyata begitu cara Paman bermain? Menyuap kami berdua dengan raga yang sama di waktu yang hampir bersamaan?"

Liana tertawa getir. Baginya, tindakan Abi bukan menunjukkan keadilan, melainkan sebuah penghinaan.

Ia merasa disamakan dengan Genata, dan ia benci menjadi salah satu dari dua pilihan.

Rencananya untuk menghancurkan kebahagiaan Genata kini semakin menggebu.

Ia tidak akan membiarkan Abi membagi kasih sayang itu dengan mudah.

"Kita lihat saja, Paman. Siapa yang akan membuatmu benar-benar menetap di satu pintu," bisik Liana sambil berjalan menuju dapur, berniat menyiapkan sebuah "kejutan" kecil saat mereka turun nanti.

Liana segera memposisikan tubuhnya kembali di bawah selimut, membelakangi pintu.

Ia mengatur napasnya agar terdengar dalam dan teratur, seolah-olah ia sama sekali tidak pernah beranjak dari sana dan tidak mendengar apa pun yang terjadi di lantai atas.

Tak lama kemudian, terdengar suara pintu terbuka dengan sangat pelan. Langkah kaki Abi terdengar berat namun berusaha tetap senyap agar tidak mengganggu istirahat "istri kecilnya".

Abi mendekat ke sisi tempat tidur, membawa aroma sabun dan sisa-sisa kelelahan dari dua pergulatan emosional yang baru saja ia lalui.

Abi duduk perlahan di tepi ranjang. Ia menatap punggung Liana dengan perasaan yang campur aduk.

Di atas sana, ia baru saja mencoba menenangkan Genata, namun di sini, ia melihat sosok Liana yang masih penuh luka karena perbuatannya tempo hari.

Abi membungkuk, lalu mendaratkan sebuah ciuman lembut yang cukup lama di kening Liana. Sebuah ciuman yang sarat akan rasa bersalah, tanggung jawab, dan perlindungan.

"Tidurlah yang nyenyak, Liana," bisik Abi lirih.

Kemudian ia mengusap puncak kepala Liana sebelum beranjak untuk merebahkan diri di sofa kamar tersebut, tidak ingin mengganggu kenyamanan Liana di tempat tidur utama mereka.

Di balik matanya yang terpejam, Liana merasakan kulitnya merinding karena rasa jijik.

Ciuman itu terasa begitu palsu di ingatannya setelah mengetahui bahwa bibir yang sama baru saja memberikan janji yang sama pada wanita lain di atas sana.

Liana tetap diam, namun tangannya di bawah selimut mencengkeram kain sprei dengan sangat kuat.

Ia sedang menghitung waktu. Baginya, setiap sentuhan Abi adalah transaksi yang harus dibayar dengan kehancuran Genata.

'Paman baru saja memulai perang di antara dua wanita, dan aku tidak akan membiarkan Paman keluar sebagai pemenang yang adil.' ucap Liana dalam hati.

Waktu terus bergulir hingga jarum jam menunjuk tepat di angka tujuh pagi.

Cahaya matahari sudah sepenuhnya menerangi kamar utama. Abi, yang tidurnya tidak nyenyak di sofa, sudah lebih dulu bangun dan bersiap.

Ia mendekati ranjang dan mengusap pipi Liana dengan lembut untuk membangunkannya.

"Liana, bangun Sudah siang. Ayo kita sarapan dulu," bisik Abi dengan suara beratnya.

Liana mengerjap, memberikan kesan wajah yang masih mengantuk namun tetap manis.

Ia membiarkan Abi membantunya duduk dan memapahnya keluar menuju ruang makan.

Di sana, Genata sudah duduk dengan wajah yang dipulas riasan cukup tebal untuk menutupi matanya yang sembap.

Di hadapannya, tersedia nasi goreng harum dan omelet kuning keemasan yang masih mengepul.

Liana duduk di samping Abi, tepat di hadapan Genata. Suasana sunyi sejenak, hanya terdengar suara denting sendok.

"Mbak Gen, maaf ya. Aku belum bisa bantu masak pagi ini. Kakiku masih terasa berdenyut," ucap Liana dengan nada bicara yang terdengar sangat halus dan penuh sesal, meski matanya menatap tajam ke arah Genata.

Genata hanya mampu menganggukkan kepala perlahan, memaksakan sebuah senyum tipis yang terasa getir.

"Tidak apa-apa, Liana. Yang penting kamu makan dulu agar lukamu cepat sembuh."

Liana kemudian menoleh ke arah Abi yang sedang menyendokkan nasi goreng ke piringnya.

Ia meraih lengan Abi, menyandarkan kepalanya sejenak di bahu pria itu di depan mata Genata yang sedang menyuap nasi.

"Mas..." panggil Liana dengan suara yang manja.

"Iya, Li?" sahut Abi sambil menatapnya.

"Aku merasa sangat penat di rumah ini. Kejadian akhir-akhir ini membuatku stres," Liana menjeda kalimatnya, lalu menatap Abi dengan mata berbinar penuh harap.

"Mas, aku ingin kita bulan madu ke Bali. Hanya kita berdua. Aku butuh suasana baru agar hatiku bisa tenang. Mas mau, kan?"

Prak!

Sendok yang dipegang Genata terjatuh ke atas piring, menimbulkan suara denting yang cukup keras.

Wajah Genata seketika berubah pasi. Bulan madu? Di saat duka belum benar-benar hilang, Liana justru meminta waktu berdua dengan suaminya ke luar pulau.

Abi tampak terkejut dengan permintaan itu. Ia melirik ke arah Genata yang kini menunduk dalam, mencoba menyembunyikan getaran di bibirnya.

"Bali? Tapi Liana, pekerjaan Mas di kantor sedang menumpuk, dan kondisi rumah juga masih..."

"Tapi Mas sudah berjanji akan melakukan apa pun agar aku bahagia, kan?" potong Liana dengan cepat, suaranya mulai bergetar seolah akan menangis.

"Apa Mas tidak sayang padaku? Aku hanya ingin kita punya waktu berdua, Mas. Mengingat bagaimana 'malam' kita dimulai, aku rasa aku berhak mendapatkan kenangan yang lebih indah."

Kalimat terakhir Liana seolah menjadi pengingat pedih bagi Abi tentang kekerasan di gudang tempo hari. Ia merasa terpojok oleh rasa bersalahnya sendiri.

"Baiklah, kalau itu memang bisa membuatmu lebih baik. Kita atur jadwalnya segera," jawab Abi akhirnya, pasrah pada keinginan istri mudanya.

Genata bangkit dari duduknya dengan terburu-buru.

"Aku permisi ke dapur dulu, ada yang lupa aku matikan," ucapnya dengan suara serak.

Ia berlari kecil menuju dapur, tak sanggup lagi menyaksikan bagaimana suaminya memberikan segalanya pada Liana, sementara ia harus terus-menerus mengalah demi sebuah kata "adil".

"Terima kasih, Mas! Mas Abi memang suami yang paling pengertian." ucap Liana sambil menciumi pipi suaminya.

1
Sasikarin Sasikarin
di bolak balik belum juga tayang /Shy/
Sasikarin Sasikarin
lanjuttttt... 🤭
Sasikarin Sasikarin
💪 othor tuk berkarya 🙏
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
Sasikarin Sasikarin
lg lg banjir /Sob/
Sasikarin Sasikarin
good job author bikin novelnya mewek mulu. 🤭
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
Sasikarin Sasikarin
hi hi... lanjut si thor tambah seru si ceritanya
Sasikarin Sasikarin
hihi.... lanjut si thor tambah seru alna? 😁
Sasikarin Sasikarin
aduh thor napa g minghat dulu liana nya. nyesek aq baca nya.. lanjutttttty 🙏
Sasikarin Sasikarin
lanjutttt 💪
اختی وحی
jngn balik lu biarin abi stres
Sasikarin Sasikarin
💪 othor makin penasaran nasib si paman
Sasikarin Sasikarin
lanjutttt t seru nih
my name is pho: sudah kak.
selamat membaca 🥰
total 4 replies
my name is pho
sabar kak
Sasikarin Sasikarin
lanjuttt
my name is pho: siap kak
besok lagi
total 1 replies
اختی وحی
kok sepi ya pdhl ceritanya bagus
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
Sasikarin Sasikarin
lanjutttt thor please... banjir air mata nih
Sasikarin Sasikarin
sukaaaa ceritanya, buat mewek dan meresap kata2nya, sumpah nie cerita buat mengaduk emosi pembaca .💪
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
اختی وحی
makin seru
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!