NovelToon NovelToon
MISI DARI TANAH TERLUKA

MISI DARI TANAH TERLUKA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mafia / Balas Dendam / Dokter Genius / Mengubah Takdir / Preman
Popularitas:665
Nilai: 5
Nama Author: Juventini indonesia

cerita yg sangat menarik untuk di baca sampai habis tentang cinta, perjuangan dan action terbaik dari anak bangsa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Juventini indonesia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TIPU MUSLIHAT SERSAN BIMA

Bab 8

Bandara Hang Nadim, Batam, malam itu terasa lebih dingin dari biasanya.

Deru mesin pesawat yang bersiap lepas landas bercampur dengan langkah-langkah tergesa para penumpang. Di antara mereka, empat pria berjas gelap berjalan beriringan. Tatapan mereka tajam, dingin, seperti pemangsa yang sudah mencium bau darah.

Salah satu dari mereka membuka ponsel.

“Target sudah masuk gate,” katanya pelan, tapi penuh keyakinan.

“Pesawat ini takkan terbang tanpa mereka.”

Pria di sebelahnya menyeringai.

“Kali ini mereka tidak punya jalan keluar.”

Mereka tidak tahu…

bahwa buruan mereka sama sekali tidak berada di pesawat itu.

RUANG TERBATAS – BANDARA HANG NADIM

Di sebuah ruangan kecil yang jarang digunakan, Sertu Bima berdiri dengan tangan bersedekap. Matanya menatap layar tablet berisi peta udara Asia Tenggara. Garis merah berkelip di beberapa titik.

Dr. Sandi duduk di kursi besi, wajahnya tegang.

“Pesawat tempur Isriwil terdeteksi di jalur udara internasional,” ujar Bima akhirnya.

“Kalau kita tetap terbang… kita bukan cuma target. Kita umpan.”

Dr. Sandi menghela napas panjang.

“Pesawat sipil, Bim. Mereka berani?”

Bima menoleh, matanya tajam.

“Mereka menembaki rumah sakit. Menembaki konvoi bantuan. Menembaki anak-anak. Menurutmu… mereka peduli?”

Ruangan sunyi.

Seorang anggota rombongan berbisik,

“Jadi kita batal?”

Bima mengangguk tegas.

“Kita pancing mereka ke udara, sementara kita hilang di darat.”

RENCANA TIPU DAYA

“Dua orang,” kata Bima sambil menunjuk,

“kalian pakai pakaian yang sama. Jam yang sama. Jalan ke gate. Biar kamera bandara makan umpan.”

Dr. Sandi berdiri.

“Kalau mereka sadar?”

“Mereka tidak akan,” jawab Bima cepat.

“Para pemburu hadiah itu terlalu percaya diri. Mereka pikir uang bisa membeli segalanya.”

DI DALAM PESAWAT – KECEWA DAN AMARAH

Pesawat menuju Jakarta mengudara dengan mulus.

Salah satu pemburu hadiah membuka ponsel. Pesan masuk.

Ia membacanya… lalu membeku.

“Apa?” tanya rekannya.

Rahangnya mengeras.

“Target tidak ada di pesawat.”

“Apa maksudmu?”

“KITA DITIPU!”

Tangannya mengepal. Kursi di depannya ditendang keras.

“Mereka pasti sudah tahu kita memburu mereka.”

“Cari!” bentaknya.

“Begitu mendarat, kerahkan semua kontak. Mereka pasti menuju Jakarta.”

PARKIR BELAKANG BANDARA – ALPHARD HITAM

Sementara itu…

Sebuah Toyota Alphard hitam melaju perlahan keluar dari area VIP. Kaca gelap. Tanpa suara berlebihan.

Di balik kemudi, Sertu Bima menyamar sebagai sopir. Topi menutupi wajahnya.

Dr. Sandi duduk di kursi tengah, mengenakan kemeja sederhana.

“Rasanya aneh,” gumam Dr. Sandi.

“Biasanya saya naik pesawat. Sekarang… seperti buronan.”

Bima tersenyum tipis.

“Justru itu. Kita harus terlihat biasa.”

PERJALANAN DARAT – DUMAI MENUJU PEKANBARU

Malam menyelimuti jalan lintas Sumatra.

Lampu kendaraan lain sesekali menyilaukan.

Dr. Sandi menatap keluar jendela.

“Bim… kalau mereka menyusul?”

“Biarkan,” jawab Bima tenang.

“Di darat, kita bisa memilih medan. Di udara, kita cuma titik di radar.”

Ponsel Bima bergetar.

Ia membaca pesan sandi.

“Pemburu bergerak dari Jakarta,” katanya.

“Mereka yakin kita terbang.”

Dr. Sandi tersenyum pahit.

“Untuk pertama kalinya… kesombongan mereka menyelamatkan kita.”

BUKITTINGGI – HAMPIR TERDETEKSI

Di sebuah SPBU sepi, Alphard berhenti.

Tiba-tiba, dua mobil asing melintas pelan.

Bima langsung mematikan mesin.

“Diam,” bisiknya.

Dr. Sandi menahan napas.

Salah satu mobil berhenti. Kaca diturunkan sedikit.

Beberapa detik terasa seperti satu jam.

Lalu… mobil itu pergi.

Dr. Sandi menutup wajahnya.

“Sedikit lagi…”

Bima menyalakan mesin kembali.

“Isriwil boleh punya jet tempur. Tapi mereka tidak kenal jalan-jalan kecil negeri ini.”

JAMBI – KELELAHAN DAN TEKAD

Di tengah hujan deras, mobil melaju.

“Bim,” suara Dr. Sandi bergetar.

“Kalau aku tertangkap…”

Bima memotong.

“Tidak akan.”

“Aku serius.”

Bima menoleh sekilas.

“Aku prajurit. Tugasku jelas. Kau hidup, misi sampai. Titik.”

Dr. Sandi menunduk.

“Terima kasih.”

BAKAUHENI – MALAM PENENTUAN

Antrean feri panjang. Hujan mengguyur deras.

Lampu kendaraan memantul di genangan air.

“Kalau mereka menyusul ke sini…?” tanya salah satu anggota rombongan.

Bima mematikan mesin.

“Kita tunggu.”

Di kejauhan, siluet mobil asing tampak samar.

Semua menegang.

Beberapa menit berlalu.

Tak ada yang mendekat.

Akhirnya feri bergerak.

Saat kapal menjauh dari dermaga, Bima bersandar di kursinya.

“Selamat datang di Jawa,” katanya lirih.

Dr. Sandi menatap gelap laut.

“Perjalanan ini mengajarkan satu hal…”

“Apa?”

“Kadang untuk selamat… kita harus menghilang sepenuhnya.”

Kabut tipis menyelimuti Pelabuhan Merak saat feri merapat perlahan. Deru mesin kapal memudar, digantikan suara rantai besi dan teriakan petugas pelabuhan.

Di dalam Alphard hitam, Sertu Bima membuka mata perlahan. Tatapannya langsung tajam.

“Belum selesai,” gumamnya.

Dr. Sandi duduk tegak. “Kau merasa ada yang tidak beres?”

Bima tidak langsung menjawab. Ia menurunkan kaca sedikit—cukup untuk menangkap pantulan lampu dermaga. Di kejauhan, dua kendaraan gelap terlihat parkir terlalu rapi, terlalu diam.

“Sejak feri mulai sandar,” kata Bima pelan, “aku merasa kita sudah ditunggu.”

Salah satu anggota rombongan menelan ludah.

“Isriwil?”

“Dan pemburu hadiah,” jawab Bima. “USD sepuluh juta itu bau darahnya kuat.”

KELUAR DARI PELABUHAN – PERANGKAP DIMULAI

Alphard bergerak meninggalkan kapal. Baru beberapa ratus meter keluar area pelabuhan, sebuah SUV tiba-tiba memotong dari kanan. Di belakang, mobil lain menutup jalur.

Rem diinjak keras.

“Kontak!” teriak Bima.

Empat pria turun dari kendaraan lawan. Gerakan mereka rapi, senyap—jelas bukan preman biasa.

Salah satu dari mereka berteriak dengan aksen asing,

“Keluar! Sekarang!”

Dr. Sandi berbisik, “Mereka terlalu cepat…”

Bima membuka laci pintu, meraih senjata.

“Karena kita memang target utama mereka.”

KONFRONTASI PERTAMA

Pintu Alphard terbuka.

Bima melangkah keluar perlahan, tangan terangkat setengah.

“Ada apa, Pak?” katanya tenang, menyamar polos.

Pria Isriwil itu tersenyum tipis.

“Permainan sudah selesai, Sersan.”

Bima tertawa pendek.

“Kesalahan pertamamu…”

“Apa?”

“Kau memanggilku dengan pangkat.”

Dalam satu detik, Bima menyikut leher lawan, merampas senjatanya, dan menjatuhkan tubuh itu ke aspal.

“Sekarang!” teriak Bima.

PERTARUNGAN JARAK DEKAT

Dua agen Isriwil menerjang.

Satu dihajar tendangan lutut oleh anggota rombongan. Yang lain mengayunkan pisau—

Bima menangkis, memutar pergelangan, bunyi retak terdengar.

“AAARGH!”

“Main kotor?” Bima mendesis.

“Ini tanah kami.”

Seorang pemburu hadiah menembak.

Peluru melesat—

Dr. Sandi menarik Bima ke samping.

“BIM!”

Peluru menghantam bodi mobil.

Dr. Sandi terengah.

“Kau berhutang nyawa padaku.”

Bima menyeringai.

“Dicatat.”

DR. SANDI TURUN TANGAN

Salah satu agen Isriwil menyerang dari belakang dengan tongkat besi.

Dr. Sandi melihatnya.

“BELAKANGMU!”

Bima berbalik terlambat.

Dalam refleks cepat, Dr. Sandi mengambil dongkrak mobil dan menghantam kepala agen itu sekuat tenaga.

DUK!

Pria itu ambruk tak bergerak.

Dr. Sandi gemetar, tapi matanya keras.

“Aku dokter… tapi aku juga manusia.”

Bima menatapnya sesaat.

“Kau baru saja menyelamatkan seluruh tim.”

PEMBURU HADIAH USD 10 JUTA – SERANGAN TERAKHIR

Sisa pemburu mundur, lalu salah satu berteriak marah,

“Sepuluh juta dolar untuk kepala mereka! HIDUP ATAU MATI!”

Dua orang menyerbu bersamaan.

Bima maju tanpa ragu.

Satu dihajar siku, satu lagi ditendang ke kap mesin.

Bima melompat, menghantam wajahnya bertubi-tubi.

“Ini harga keserakahanmu!” teriaknya.

Anggota rombongan lain melumpuhkan sisanya.

KEHENINGAN SETELAH BADAI

Semua selesai dalam hitungan menit.

Di aspal pelabuhan, agen Isriwil dan pemburu hadiah terkapar, senjata berserakan.

Dr. Sandi duduk terengah di trotoar.

“Tangan saya gemetar…”

Bima menghampiri, menepuk bahunya.

“Itu bukan ketakutan. Itu adrenalin.”

Sirene terdengar dari jauh.

“Kita harus pergi,” kata salah satu anggota.

Bima mengangguk.

“Jakarta menunggu.”

DALAM MOBIL – MENUJU JAKARTA

Alphard kembali melaju.

Dr. Sandi menatap Bima.

“Mereka akan datang lagi.”

Bima tersenyum tipis.

“Biarkan.”

“Kenapa?”

“Karena sekarang mereka tahu,” jawab Bima,

“buruan USD sepuluh juta itu tidak mudah diambil.”

Dr. Sandi mengepalkan tangan.

“Aku bersumpah… aku akan membantu sampai akhir.”

Bima menatap jalan lurus di depan.

“Selamat datang di perang yang sesungguhnya, Dokter.”

REST AREA KM 46 – KETENANGAN YANG MENIPU

Lampu-lampu Rest Area KM 46 memantul di aspal basah. Alphard hitam terparkir agak jauh dari keramaian, seolah ingin menghindari sorotan.

Di dalam restoran cepat saji, Sertu Bima mengamati sekitar sambil menyeruput kopi.

“Lima belas menit,” katanya datar.

“Makan, ke toilet, lalu kita jalan lagi.”

Dr. Sandi mengangguk. “Semua terlihat normal.”

Laura berdiri, menggenggam tangan Anisa.

“Kami ke toilet dulu.”

Dr. Hadijah menoleh cepat.

“Jangan lama.”

Anisa tersenyum kecil.

“Hanya sebentar, bu.”

Mereka berjalan menuju koridor toilet wanita—tanpa sadar, sepasang mata dingin mengikuti dari balik pilar beton.

TOILET WANITA – PERANGKAP DITUTUP

Begitu Laura dan Anisa masuk, pintu ditutup dari luar.

“Eh—?” Anisa menoleh.

Dua wanita berpakaian kasual berdiri di depan mereka. Salah satunya berambut pirang, wajah tegas, tatapan menusuk.

Annabelle.

“Kalian jangan teriak,” katanya tenang, beraksen asing.

“Atau urusan ini jadi berdarah.”

Laura mundur setapak.

“Siapa kalian?”

Annabelle tersenyum tipis.

“Orang yang dibayar sepuluh juta dolar untuk menemukanmu.”

Anisa berbisik gemetar,

“Laura…”

Annabelle mengeluarkan borgol plastik.

“Diam.”

KECURIGAAN DR. HADIJAH

Di restoran, Dr. Hadijah gelisah. Jam tangannya dilirik berulang kali.

“Sudah terlalu lama,” gumamnya.

Ia berdiri.

“Aku menyusul mereka.”

Sertu Bima menoleh tajam.

“Dok—”

“Saya tidak tenang,” potong Hadijah. “Sebentar saja.”

Bima mengangguk pelan.

“Cepat.”

PENEMUAN MENGERIKAN

Lorong toilet sunyi.

Dr. Hadijah mendorong pintu—terkunci.

“Laura?” panggilnya pelan.

Dari dalam terdengar suara Anisa tertahan.

“Dok… tolong…”

Hadijah membeku.

Pintu dibuka dari dalam. Annabelle berdiri tepat di depannya, pistol kecil tersembunyi di balik jaket.

“Dokter yang baik,” ucap Annabelle dingin.

“Masuklah. Jangan buat saya menyesal.”

Dr. Hadijah dipaksa masuk.

Ia melihat Laura dan Anisa disekap, tangan terikat.

“Kenapa kalian lakukan ini?” suara Hadijah bergetar marah.

Annabelle mendekat.

“Politik. Uang. Dan pesanan dari pihak yang tidak suka rahasia hidup.”

SINYAL DARURAT

Di luar, Sersan Andri menatap ponsel yang bergetar—kode darurat dari Dr. Hadijah.

Matanya menyipit.

“Eren.”

Eren langsung berdiri.

“Apa?”

“Target dicuri. Toilet wanita.”

Tanpa kata lagi, mereka bergerak cepat.

TOILET WANITA – PERTARUNGAN MELEDAK

Pintu toilet ditendang keras.

BRAK!

“LEPAS MEREKA!” teriak Andri.

Annabelle berbalik, terkejut sesaat.

“Bunuh mereka!”

Dua pemburu hadiah menyerang.

Eren menyambut dengan pukulan lurus ke rahang lawan pertama—jatuh menghantam wastafel.

Andri bergulat dengan pria bertubuh besar.

Pisau terhunus—

Andri menangkis, menyikut, membanting lawan ke lantai.

Annabelle mencoba kabur sambil menarik Laura.

“LEPAS!” teriak Anisa.

Dr. Hadijah mendorong Annabelle sekuat tenaga.

“SEKARANG!”

Andri menyambar—

tendangan memutar menghantam Annabelle, pistolnya terlempar.

Eren mengamankan senjata.

“Game over,” katanya dingin.

KESELAMATAN & KEKALAHAN MUSUH

Andri memotong borgol plastik Laura dan Anisa.

“Kalian aman,” ucapnya cepat.

Laura terisak.

“Terima kasih… aku pikir…”

Eren menoleh tajam ke Annabelle yang tergeletak.

“Katakan pada pemburumu…”

“Apa?” Annabelle mendesis kesakitan.

“Indonesia bukan tempat berburu,” jawab Eren.

Sirene keamanan rest area terdengar mendekat.

KEMBALI KE TIM

Di parkiran, Sertu Bima berdiri menunggu, wajah keras.

“Status?”

“Target aman,” jawab Andri.

“Musuh lumpuh.”

Bima menatap Laura dan Anisa.

“Kalian kuat.”

Dr. Hadijah menghela napas panjang.

“Kita hampir kehilangan mereka.”

Dr. Sandi mengepalkan tangan.

“Tidak. Bukan malam ini.”

Alphard kembali melaju, meninggalkan KM 46.

Di kaca spion, lampu rest area mengecil—

sementara perang sebenarnya baru saja naik level.

Lampu-lampu kota Jakarta berkilau seperti lautan api. Alphard hitam melaju stabil di lajur tengah Tol Dalam Kota, kecepatan dijaga—tidak terlalu cepat, tidak terlalu lambat.

Di kursi belakang, Laura menggenggam tas kecil di dadanya. Di dalamnya, flash disc—kecil, nyaris tak berarti bentuknya, namun bernilai USD 10 juta dan mampu mengguncang banyak kepala.

Dr. Sandi melirik spion. “Sejak keluar KM 46… aku merasa kita diikuti.”

Sertu Bima menjawab tanpa menoleh. “Bukan satu. Tiga.”

“Siapa?”

“Pemburu hadiah… dan preman lokal. Mereka berebut.”

Laura menelan ludah. “Mereka tahu soal flash disc itu?”

Bima mengangguk tipis. “Di Jakarta, rahasia tidak pernah lama.”

JEBAKAN DIMULAI

Tiba-tiba—

SEBUAH MOBIL AVANZA MEMOTONG DARI KANAN.

Dari belakang, dua motor besar menutup jalur. Di depan, SUV hitam mengerem mendadak.

Bima menginjak rem keras.

“PEGANG!” teriaknya.

Alphard berhenti miring. Klakson meraung. Kendaraan lain menjauh panik.

Dari SUV depan turun enam pria. Tato di leher, golok pendek di tangan. Dari motor, dua pria berhelm membuka visor—mata dingin, senjata api tersembunyi.

Salah satu preman berteriak,

“SERAHIN BARANGNYA! FLASH DISC ITU!”

Laura gemetar. “Bima…”

Bima membuka pintu. “Tetap di dalam.”

Dr. Sandi ikut membuka pintu sisi lain. “Aku bersamamu.”

Bima menoleh cepat. “Dok—”

“Tenang,” potong Sandi. “Aku tidak lari.”

KONFRONTASI: UANG VS NYAWA

Seorang pemburu hadiah maju selangkah.

“Kami tidak mau ribut. Tinggal serahkan flash disc. Sepuluh juta dolar. Tunai.”

Bima tertawa pendek. “Kau salah alamat.”

Preman bertato meludah ke aspal.

“Ini Jakarta, Bang. Semua ada harganya.”

Dr. Sandi melangkah maju setengah langkah.

“Tidak semua.”

Pria itu menyeringai.

“Kalau begitu… ambil paksa.”

PERKELAHIAN PECAH

Satu preman menyerang dengan golok.

Bima menyambar lengan, memutar—

KRAK!

Golok jatuh. Tubuh menyungkur.

Dua preman lain menyerbu.

Bima maju seperti badai—siku ke rahang, tendangan ke lutut, satu jatuh, satu terpental ke kap mobil.

Dari sisi kiri, pemburu hadiah mengangkat senjata.

“BIMA!” teriak Dr. Sandi.

Sandi berlari—menubruk penembak, peluru meleset menghantam aspal. Keduanya berguling.

Penembak mencoba bangkit—

Sandi menghantam dengan helm motor, sekali, dua kali.

“JANGAN!” bentak Sandi, napas memburu.

“Pergi!”

GENG PREMAN MASUK SEMUA

Empat preman tersisa maju bersamaan.

“KERJAKAN!” teriak pemimpin mereka.

Bima menarik napas—lalu bergerak.

Satu ditendang ke pagar pembatas tol.

Satu lagi mencoba menusuk—Bima menangkis dan menyapu kaki, tubuh menghantam aspal.

Preman ketiga melompat—

Bima memutar badan, menghantam perut, lalu pukulan telak ke wajah.

Tersisa satu—ragu, tapi nekat.

“SEPULUH JUTA DOLAR, BANG!”

Bima mendekat, matanya dingin.

“Ambil dari neraka.”

DUK!

Preman terakhir tumbang.

SERANGAN BALIK PEMBURU HADIAH

Dua pemburu hadiah tersisa mencoba merebut Laura dari dalam mobil.

Laura berteriak. “JANGAN!”

Pintu ditarik—

Dr. Sandi menyambar besi pengunci roda dan menghantam lengan penyerang.

“LEPAS!”

Penyerang kedua mengayunkan pisau—

Bima datang dari belakang, mengunci leher, menarik jatuh.

“SELESAI.”

KEHENINGAN DI TENGAH TOL

Semua musuh tergeletak. Ada yang merintih, ada yang tak bergerak.

Sirene polisi terdengar dari kejauhan.

Dr. Sandi terengah, menatap tangannya yang bergetar.

“Aku… aku tidak menyangka bisa sejauh ini.”

Bima menepuk bahunya.

“Kau melakukannya karena harus.”

Laura keluar perlahan.

“Flash disc… masih aman.”

Bima mengangguk.

“Dan akan tetap aman.”

PERGI SEBELUM TERLAMBAT

Bima memberi isyarat.

“Kita cabut. Sekarang.”

Alphard melaju kembali, meninggalkan kekacauan di belakang.

Di dalam mobil, Dr. Sandi menatap Laura.

“Selama flash disc itu ada, mereka tidak akan berhenti.”

Laura mengepalkan tangan.

“Aku juga tidak akan berhenti.”

Bima menatap jalan lurus ke depan—lampu Jakarta menyambut.

“Kalau begitu… kita akhiri permainan ini.”

1
muhamad candra cirebon
mantap 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!