Satu malam di kamar nomor 101 menghancurkan seluruh masa depan Anindira. Dijebak oleh saudara tiri dan terbangun di pelukan pria asing yang wajahnya tak sempat ia lihat, Anindira harus menelan pahitnya pengusiran dari keluarga.
Lima tahun kemudian, ia kembali sebagai asisten pribadi di Adiguna Grup. Namun, bosnya adalah Baskara Adiguna, pria berhati es yang memiliki sepasang mata persis seperti putra kecilnya.
Ketika rahasia malam itu mulai terkuak, Anindira menyadari bahwa ia bukan sekadar korban satu malam. Ia adalah bagian dari rencana besar yang melibatkan nyawa dan harta. Baskara tidak akan melepaskannya, bukan karena cinta, melainkan karena benih yang tumbuh di rahim Anindira adalah pewaris tunggal yang selama ini dicari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr. Awph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11: Murka sang ayah
Murka sang ayah yang baru saja ia saksikan hanyalah permulaan dari badai yang akan menghancurkan seluruh fondasi keluarga ini selamanya. Suara benturan keras terdengar dari lantai bawah saat sebuah vas porselen kuno menghantam dinding hingga berkeping-keping.
Anindira yang berada di dalam kamar bisa merasakan getaran amarah tersebut melalui lantai kayu yang ia pijak dengan jemari yang dingin.
Teriakan ayahnya menggelegar ke seluruh penjuru rumah hingga membuat para pelayan berlarian ketakutan menuju area dapur. Pria itu nampak kehilangan kendali atas dirinya sendiri setelah melihat bukti-bukti yang ditunjukkan oleh Anindira sebelumnya.
Kebanggaan sebagai pemimpin keluarga besar Adiguna seolah runtuh menjadi debu dalam satu malam yang terkutuk ini.
"Keluar kamu Anindira! Jangan menjadi pengecut di balik pintu itu setelah mempermalukan nama ayah!" teriak sang ayah dari balik daun pintu yang digedor dengan beringas.
Anindira memeluk kotak kayu pemberian ibunya dengan sangat erat sambil menyandarkan punggungnya pada pintu yang bergetar. Ia bisa mendengar napas ayahnya yang memburu liar dan penuh dengan dendam yang membara di balik kayu jati yang kokoh itu.
Air matanya sudah kering namun rasa sakit di hatinya terasa semakin menganga lebar seiring dengan setiap cacian yang terlontar.
"Aku tidak akan keluar jika ayah hanya ingin menyakitiku tanpa mau mendengar kebenaran yang sesungguhnya!" sahut Anindira dengan suara yang bergetar hebat.
"Kebenaran apa lagi? Kamu sudah mengandung anak haram dan mencoba memfitnah ibu serta saudaramu sendiri!" raung sang ayah dengan suara yang semakin parau.
Ratna berdiri di ujung koridor sambil menyaksikan drama tersebut dengan senyum tipis yang sarat akan kepuasan batin. Ia sengaja tidak melerai amarah suaminya agar kebencian pria itu kepada Anindira semakin berakar dalam dan tidak bisa dicabut lagi.
Sarah yang berada di samping ibunya nampak sedikit gemetar namun tetap menikmati setiap detik kehancuran saudara tirinya itu.
"Mas, sudahlah, mungkin lebih baik kita serahkan saja dia pada pihak berwajib jika dia terus melawan," provokasi Ratna dengan nada suara yang sangat lembut namun berbisa.
"Benar ayah, dia sudah sangat berani menuduhku melakukan hal-hal yang menjijikkan seperti itu!" tambah Sarah sambil mengusap air mata palsunya.
Mendengar bisikan dari kedua wanita itu, sang ayah justru semakin kalap dan mulai mencari kunci cadangan kamar Anindira di saku celananya. Ia tidak peduli lagi pada hubungan darah yang terjalin selama puluhan tahun di antara mereka berdua.
Baginya, kehormatan keluarga adalah segalanya dan siapa pun yang mencorengnya harus disingkirkan tanpa ampun sama sekali.
Anindira segera beranjak dari pintu saat mendengar suara logam kunci yang bergeser masuk ke dalam lubang pintu kamarnya. Ia berlari menuju lemari pakaian besar dan segera membuka pintu rahasia yang tersembunyi di balik tumpukan kain sutra.
Ruangan sempit itu terasa sangat lembap namun menjadi satu-satunya pelindung bagi dirinya dari amukan pria yang seharusnya melindunginya.
"Kamu tidak bisa lari ke mana-mana, Anindira, dunia ini terlalu sempit untuk orang yang tidak tahu diri sepertimu!" ancam sang ayah saat pintu kamar akhirnya terbuka dengan sentakan keras.
Pria itu masuk ke dalam kamar dan mendapati ruangan tersebut sudah kosong dengan jendela yang terbuka lebar tertiup angin malam yang dingin. Ia tidak menyadari bahwa putrinya sedang meringkuk di balik dinding rahasia sambil menahan napas agar tidak menimbulkan suara sekecil apa pun.
Amarahnya memuncak hingga ia mulai merobek semua pakaian dan menghancurkan barang-barang yang ada di atas meja rias.
"Cari dia ke seluruh sudut rumah ini dan jangan biarkan dia lolos sampai ke jalan raya!" perintah sang ayah kepada penjaga keamanan yang baru saja tiba.
Ratna masuk ke dalam kamar dan mulai meneliti setiap inci ruangan dengan mata yang sangat teliti seperti seorang detektif yang haus akan petunjuk. Ia merasa ada yang aneh dengan hilangnya Anindira yang sangat mendadak di dalam ruangan yang terkunci rapat dari dalam.
Langkah kakinya perlahan menuju ke arah lemari besar yang menjadi tempat persembunyian Anindira di balik kegelapan.
Anindira memejamkan mata rapat-rapat sambil meremas cincin biru milik ibunya hingga permukaannya terasa menusuk telapak tangannya sendiri. Ia bisa mendengar suara langkah kaki Ratna yang semakin mendekat dan bau parfum wanita itu yang sangat menyengat memenuhi rongga hidungnya.
Jantungnya berdegup sangat kencang hingga ia merasa organ itu akan meledak saat itu juga dari dalam dadanya.
"Mama, lihatlah, dia meninggalkan tas kecilnya di bawah kolong tempat tidur ini!" seru Sarah yang tiba-tiba menemukan barang bukti baru.
Perhatian Ratna pun teralih kembali menuju arah tempat tidur hingga ia mengurungkan niatnya untuk memeriksa bagian belakang lemari pakaian tersebut. Anindira mengembuskan napas lega yang sangat panjang meski tubuhnya masih terasa sangat lemas dan tidak bertenaga sama sekali.
Ia tahu bahwa ia harus segera bergerak melalui lorong rahasia itu sebelum mereka kembali melakukan penggeledahan yang lebih mendalam.
Ayah Anindira keluar dari kamar dengan wajah yang hitam pekat karena amarah yang tidak tersalurkan sepenuhnya kepada objek sasarannya. Ia bersumpah akan membuat hidup Anindira menderita seumur hidup jika wanita itu berani kembali menginjakkan kaki di rumah ini.
Keputusannya sudah bulat untuk menghapus nama putri tunggalnya itu dari semua dokumen penting milik keluarga besar mereka.
"Mulai detik ini, aku tidak lagi memiliki anak yang bernama Anindira di dalam hidupku maupun di dalam rumah ini!" teriak sang ayah dengan suara yang memecah kesunyian malam.
Ratna dan Sarah saling berpandangan dengan rasa kemenangan yang sangat mutlak terpancar jelas dari balik binar mata mereka yang licik. Mereka akhirnya berhasil memenangkan peperangan yang sudah mereka rencanakan dengan sangat matang sejak pertama kali masuk ke rumah keluarga Adiguna.
Kini, tidak ada lagi penghalang bagi mereka untuk menguasai seluruh harta kekayaan yang selama ini mereka idam-idamkan.
Anindira yang mendengar pernyataan ayahnya dari balik dinding rahasia merasa separuh jiwanya telah mati dan terkubur bersama kenangan masa kecilnya. Ia merangkak perlahan menyusuri lorong gelap yang penuh dengan debu dan jaring laba-laba menuju pintu keluar yang berada di gudang belakang.
Terbuang dari silsilah keluarga adalah kenyataan pahit yang harus ia telan mentah-mentah sebelum memulai langkah pertamanya di dunia luar yang sangat kejam.