NovelToon NovelToon
Terlambat Mencintaiku

Terlambat Mencintaiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Penyesalan Suami
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: indah yuni rahayu

Zizi menjalani pernikahan tanpa cinta. Suaminya mengabaikan, keluarganya menghina, dan rumah yang seharusnya melindungi justru menjadi tempat paling sunyi.

Ketika kesabarannya habis, Zizi memilih pergi dan mematikan rasa.

Dengan identitas baru dan bantuan seorang teman lama, Zizi kembali sebagai perempuan yang tak tersentuh.

Ia mendekati mantan suaminya—bukan untuk balas rindu, melainkan untuk membalas luka. Kepercayaan dibangun, ambisi dipancing, lalu dihancurkan perlahan.

Saat penyesalan datang dan kebenaran terungkap, semuanya sudah terlambat.
Karena mencintainya baru sekarang
adalah kesalahan yang tak bisa ditebus.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah yuni rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Permainan Baru Dimulai

Lift kaca itu melaju naik perlahan, memantulkan bayangan Dara pada dinding beningnya. Rambut sebahunya jatuh rapi, bibirnya dilapisi warna yang tidak terlalu mencolok, tetapi cukup untuk menunjukkan satu hal, ia bukan perempuan yang sama.

Di lantai delapan belas, pintu lift terbuka.

Lorong kantor itu modern, marmer dingin, karpet tebal, langkah sepatu yang beradu, suara telepon, dan aroma kopi baru. Semua terasa asing, tapi anehnya juga terasa seperti dunia yang sejak lama menunggunya.

Dara menarik napas. Bukan Zizi. Bukan istri yang bertahan sendirian di dapur sempit.

Dirinya yang baru.

Sekretaris mengetuk pintu ruang rapat.

“Para direksi sudah berkumpul,” katanya sopan.

Dara masuk.

Beberapa orang menoleh. Bisik-bisik kecil terdengar. Beberapa memasang senyum diplomatis, sebagian lain menyipitkan mata, membaca, menilai, menguji.

Di ujung meja panjang, Rama duduk dengan tenang, menatapnya bukan sebagai ayah, melainkan sebagai ketua perusahaan.

“Silakan duduk,” ucap Rama.

Ruang rapat itu dindingnya kaca, menampilkan pemandangan kota yang sibuk. Mobil-mobil tampak seperti semut berbaris, lampu-lampu kecil berkedip di tengah siang yang terang. Di tengah ruangan, meja panjang memantulkan bayangan siapa pun yang duduk di sana.

Dara Valencia duduk di kursi ujung. Punggungnya tegak. Jantungnya berdetak… tapi bukan karena takut, karena hidup baru sedang dibuka tepat di depannya.

Bukan lagi Zizi yang dulu.

Hari ini, ia duduk bukan sebagai putri pemilik perusahaan.

Ia duduk sebagai CEO.

Setelan blazer putih dan rok hitam sederhana membuatnya tampak profesional, tanpa perlu usaha untuk terlihat mewah, ia memang sudah terbiasa berada di tempat seperti ini sejak kecil.

Presentasi dimulai. Angka, grafik, proyek masa depan. Ia menanggapi satu per satu. Kata-katanya tidak bergetar.

Beberapa direksi saling pandang. Tak ada yang menyangka gadis yang dulu mereka tahu hanya sebagai “putri pemilik perusahaan” kini menjawab dengan tenang, mengajukan koreksi, bahkan berani tidak setuju.

Di satu jeda singkat, tatapan Rama dan Dara bertemu.

Ada bangga yang tidak diucapkan.

Ada restu yang tak perlu diomongkan.

Sore itu, Dara berdiri di balkon tinggi gedung perusahaan, angin mengibaskan ujung rambutnya. Kota terhampar luas di bawah sana—jalan, lampu, gedung, dan masa lalu yang tampak kecil sekali dari ketinggian itu.

Ponselnya bergetar.

Nama itu muncul.

Arman.

Dara tidak mengangkat. Nada dering berhenti. Lalu masuk pesan singkat.

Aku dengar kamu kembali ke kota.

Kita bisa bicara?

Dara menatap layar lama sekali.

Dulu, ia akan terguncang. Sekarang… tidak.

Bukan karena tidak sakit. Tetapi karena lukanya sudah tidak lagi menguasai arah hidupnya.

“Sebentar lagi,” gumamnya pelan. “Aku belum selesai.”

Di kejauhan, bayangan masa lalunya berdiri, rumah mertua yang dingin, suara Anggun yang memotong harga dirinya, langkah Arman yang selalu menjauh, meja makan tanpa percakapan.

Semua itu tidak hilang.

Tapi kini ia berdiri menatapnya dari tempat yang lebih tinggi.

Bukan korban. Bukan pecundang.

Calon CEO. Perempuan yang memilih dirinya sendiri.

Dan di sudut pikirannya, ada satu nama lain yang muncul, tidak kalah kuat.

Danu.

Orang yang menemaninya belajar saat dunia menertawakan. Orang yang menahan perasaannya sendiri agar Dara bisa terbang tanpa beban. Orang yang sejak dulu melihat Zizi… bahkan saat Zizi tidak melihat dirinya.

Dara tersenyum tipis.

“Terima kasih sudah menunggu,” bisiknya pada angin. “Sekarang… giliran aku yang berjalan ke arah hidupku.”

Kota menyala satu per satu. Malam turun perlahan.

Dan permainan baru, baru saja dimulai.

Para direktur senior menatapnya dengan berbagai ekspresi—penasaran, meremehkan, menghitung-hitung keuntungan, dan beberapa benar-benar tertarik. Dara menyapu mereka satu per satu, tidak terburu-buru. Dulu ia akan gugup. Dulu ia akan merasa salah tempat. Sekarang, ia merasa… tepat.

Rama duduk di sampingnya hanya sebagai penopang, bukan lagi pusat perhatian.

Ia membuka rapat dengan suara tenang.

“Mulai hari ini, perusahaan akan dipimpin oleh CEO baru,” katanya. “Dara Valencia.”

Beberapa orang saling berbisik.

Dara bangkit, membungkuk kecil.

“Selamat pagi,” ucapnya. Suaranya jernih, mantap. “Saya tidak akan bicara panjang. Saya tidak minta kepercayaan—saya akan membuktikannya.”

Kalimat itu sederhana, tapi tegas.

Ia menatap layar proyektor.

Di sanalah pertama kali nama itu muncul.

Perusahaan Arman.

Bukan namanya, tetapi perusahaan tempat Arman bekerja sama selama ini, sedang dipertimbangkan sebagai rekanan baru.

Dara melihatnya.

Darahnya tidak berdesir.

Tidak ada panik.

Yang ada hanya dingin yang rapi.

Sebelum rapat dimulai, ponselnya bergetar.

Nama di layar itu muncul:

Danu.

—Sudah di ruang rapat?

—Ingat, jangan terburu-buru mengamuk. Santai. Senyum. Menang pelan-pelan.

Sudut bibir Dara terangkat tipis.

Ia mengetik balasan.

—Tenang. Aku bukan Zizi yang dulu.

Ia meletakkan ponsel.

Rapat berjalan.

Angka-angka dibicarakan. Grafik naik turun. Beberapa direktur mencoba menguji Dara dengan pertanyaan yang rumit. Ia menjawab pelan, jelas, penuh ketenangan yang bahkan membuat dua direktur saling melirik—sedikit terkejut bahwa gadis “baru” itu ternyata tajam.

Di dalam hati, Dara berbicara pada dirinya sendiri.

Arman… dunia kita akan bersinggungan sebentar lagi.

Bukan sebagai suami-istri.

Bukan sebagai perempuan yang memohon dicintai.

Melainkan sebagai lawan yang setara.

Sore hari, kafe kecil di sudut kota itu kembali menjadi tempat mereka bertemu.

Danu sudah duduk lebih dulu. Ia mengangkat wajah ketika pintu berdering kecil. Matanya langsung membesar.

Dara melangkah masuk.

Bukan gaun mahal.

Bukan kilau berlebihan.

Hanya wanita yang tahu betapa berharganya dirinya.

“Wow,” Danu mendesis pelan. “Kalau tadi aku belum jatuh cinta, sekarang mungkin—”

“Jangan diteruskan,” potong Dara sambil tertawa kecil, duduk di depannya.

Namun pipinya memanas sedikit.

“Bagaimana rapatnya?” tanya Danu.

Dara meletakkan tasnya, menopang dagu dengan punggung tangan. “Lancar. Dan… perusahaan Arman masuk daftar kerja sama.”

Tatapan Danu berubah serius.

“Jadi rencanamu… benar-benar dimulai sekarang?”

Dara menatap keluar jendela. Langit sore tampak oranye. Orang-orang berlalu-lalang tanpa tahu bahwa ada hati yang pernah hancur dan kini sedang menganyam pisau dari pecahannya sendiri.

“Ya,” jawabnya pelan.

Bukan lagi kalimat ragu.

Bukan sekadar emosi sesaat.

“Aku tidak mau membalas dengan cara murahan,” lanjutnya. “Aku tidak akan merusak hidupnya dengan skandal. Aku ingin dia melihatku… jatuh cinta lagi… tanpa tahu siapa aku. Lalu saat dia menggenggamku erat-erat…”

Dara tersenyum tipis—senyum yang menyakitkan.

“…aku lepaskan. Seperti dia dulu melepaskan aku tanpa peduli.”

Danu menatapnya lama. Ada kekaguman. Ada takut kehilangan. Ada rasa sakit kecil melihat perempuan yang ia sayangi memilih jalan penuh duri.

“Kamu siap terluka lagi?” tanya Danu pelan.

Dara membalas tatapannya.

“Aku sudah pernah hancur,” katanya. “Kali ini, aku belajar menata serpihannya.”

Di luar, lampu kota menyala satu per satu.

Permainan baru benar-benar dimulai.

1
Ma Em
Arman dan Bu Anggun kaget setelah tau Zizi atau Dara menjadi orang sukses wanita yg selalu diacuhkan dan selalu dihina dan diremehkan sekarang jadi wanita yg sangat berkelas tdk tersentuh , menyesalkan Arman dan Bu Anggun karena sdh membuang berlian .
Kam1la: iya kak.... menyesal banget!
total 1 replies
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
Semangat terus kak🤗
Kam1la: ok Kak.. pasti !
total 1 replies
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
halo aku mampir lagi kak 🤗
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
halo👋
Kam1la: halo, juga Kak !!
total 1 replies
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
Halo aku mampir lagi kak🤗
Miu Miu 🍄🐰
ayo Zizi bikinlah si congcorang itu menyesal
Miu Miu 🍄🐰
lanjut kak Thor makin seru😍
Kam1la: mampir juga Kak, di karya author yang lain, ayah anakku CEO amnesia
total 2 replies
Ma Em
Mampir Thor cerita awal saja sdh membuat hati panas , semoga Zizi bisa sukses dan balas perbuatan Arman dan keluarganya hingga menyesal seumur hdp nya 💪💪👍👍😘😍
Kam1la: terima kasih Kak, mampir juga donk di karya author Ayah Anakku CEO AMNESIA, semoga terhibur....
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!