Dunia ini gila? Mungkin benar. Tapi kalau sudah begini, aku mending ikutan gila saja daripada pusing sendiri. Ikuti kisah konyol Bima dan kawan-kawan yang hidupnya selalu diisi kejadian tak terduga dan kelakuan yang bikin ketawa terus!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WA_19019, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MAU BUKA BERSAMA,MALAH RIBET SENDIRI
Beberapa hari berlalu, udah mulai terasa hawa beda matahari terbenam makin cepet, banyak rumah mulai pasang lampu, dan bau masakan sedap menyebar ke mana-mana. Iya dong, sebentar lagi masuk bulan puasa.
Pagi itu di kantor, suasananya gak seberisik biasanya. Kami pada ngobrol santai sambil minum teh manis, sampai Pak Harun tiba-tiba buka suara.
“Denger ya. Tahun ini kita rencanakan buka puasa bareng aja, sekalian Sari sama Rara juga diajak ikut. Biar makin rame dan akrab. Gimana setuju?”
“Wah boleh dong! Pasti seru!” seru kami hampir barengan.
“Baiklah. Jadi tugasnya dibagi saja. Jangan semuanya saya yang pikirin,” kata Pak Harun sambil senyum-senyum.
“Bima sama Ojak urusan cari tempat dan beli minuman. Nina sama Dedi bantu beli lauk dan kue. Pak Joko yang bantu atur meja dan peralatan. Setuju?”
“Siap Bos!” jawab kami semangat. Rasanya gak ada yang susah, kan cuma nyiapin acara makan doang.
Tapi kayak biasa, apa yang kelihatannya gampang, biasanya ada aja kelakuannya.
Pertama giliran aku sama Ojak. Kami disuruh cari tempat yang enak, luas, dan harganya pas. Awalnya kami pikir cari di warung biasa aja cukup. Pas sampai di warung langganan, pemiliknya bilang udah dipesan penuh. Kami pindah ke warung sebelah, sama juga udah keburu laris.
“Wah, semuanya udah laku duluan nih,” kata Ojak sambil garuk-garuk kepala.
“Gimana kalau kita pakai halaman kantor aja? Kan luas, bersih, dan gak bayar sewa lagi!”
Aku setuju saja. “Ide bagus itu! Lebih bebas juga duduknya, gak sempit.”
Tapi pas balik ke kantor dan lihat halamannya, baru sadar ada masalahnya: rumputnya udah agak tinggi di beberapa sudut, ada tumpukan sampah daun kering, dan tempat duduknya cuma ada beberapa bangku pendek doang.
“Ya ampun, ini halaman atau padang rumput liar?” keluhku.
“Sudah deh, kita beresin sekalian aja. Daripada cari tempat lain yang jauh.”
Kami pun mulai menyapu, memangkas rumput, dan mengumpulkan daun kering. Belum setengah jam beres, keringat udah membasahi baju semua. Ojak sampai duduk terengah-engah sambil ngeluh.
“Katanya cuma cari tempat, eh malah jadi tukang kebun juga kita ini.”
Di tempat lain, Nina sama Kak Dedi juga gak kalah serunya. Tugasnya beli lauk dan kue secukupnya. Pas sampai di pasar, banyak sekali pilihannya ada ayam goreng, rendang, sayur lodeh, sampai aneka kue manis yang warna-warni.
“Kita beli sedikit saja ya, cukup buat semua orang,” kata Nina.
“Siap. Tapi… mana yang paling enak ya? Semuanya kelihatan enak,” jawab Kak Dedi sambil melirik ke kiri kanan, matanya udah berbinar-binar lihat makanan.
Akhirnya mereka beli ini itu, nambah sedikit lagi, nambah lagi sedikit lagi… sampai tas jinjingnya penuh berat dan tangannya terasa pegal. Pas pulang ke kantor, Nina buka barangnya dan langsung melongo,
“Ya ampun! Ini cukup buat makan sepuluh orang lebih! Padahal kita cuma tujuh orang saja. Kak Dedi ini dikasih rayuan penjualnya ya?”
Kak Dedi cuma nyengir lebar. “Kan lebih baik kebanyakan daripada kurang. Nanti ada yang minta nambah juga kan?”
Sementara itu Pak Joko lagi sibuk atur meja dan bangku. Dia bawa meja panjang dari gudang, tapi pas ditarik keluar, kakinya ada yang agak goyah. Dia coba perbaiki dengan ganjal pakai batu, tapi pas diganjal yang satu, yang sisi lain malah naik. Diganjal sisi itu, yang tadi sudah pas malah miring lagi.
“Wah, meja ini juga ikut rewel rupanya,” gumamnya sambil terus mengatur posisi batu.
“Nanti kalau ditaruh makanan bisa tumpah kalau goyah terus.”
Akhirnya butuh waktu lumayan lama baru dapat posisi yang lumayan stabil, meskipun masih terasa sedikit miring kalau dilihat teliti.
Menjelang sore, semuanya sudah siap. Halaman udah bersih, meja udah terpasang, makanan udah tersusun rapi, dan gak lama kemudian Sari sama Rara datang membawa tambahan kue dan air minum juga.
Mereka lihat suasana, terus ketawa-ketawa lihat penampilan kami yang masih ada keringat dan wajah lelah.
“Wah, baru nyiapin acara aja udah kayak habis kerja seharian berat ya?” goda Rara.
“Namanya juga nyiapin, biar nanti makannya enak dan tenang,” jawab Ojak sambil ngelap dahi.
Begitu waktu berbuka tiba, kami semua duduk melingkar. Meskipun prosesnya tadi ribet sana-sini, hasilnya jadi juga kok. Makanannya banyak, rasanya enak semua, dan suasananya rame banget ada yang ngobrol, ada yang ledek kejadian tadi, ada juga yang bercanda soal meja yang miring itu.
Pak Harun ketawa melihat semuanya. “Lihat kan? Mau acara sesederhana apa pun, pasti ada saja rintangannya. Kalau tadi kita cepat putus asa, bisa jadi gak jadi buka barengnya. Tapi karena dijalani santai, ribetnya malah jadi bahan ketawa juga.”
Sambil menikmati makanan, aku cuma bisa senyum sendiri dalam hati:
Ternyata acara makan saja bisa penuh cerita ya. Dari cari tempat jadi bersihin kebun, beli makanan jadi kebanyakan, sampai meja yang susah diatur. Tapi semuanya terasa menyenangkan kok.
Justru karena ada kekacauan kecilnya, rasanya lebih akrab dan gak membosankan. Buka puasa kali ini pasti bakal diingat terus, bukan cuma karena makannya enak, tapi juga karena prosesnya yang konyol dan seru.