NovelToon NovelToon
ISTRI MANDUL JADI IBU ANAK CEO

ISTRI MANDUL JADI IBU ANAK CEO

Status: tamat
Genre:Menikah Karena Anak / Pelakor jahat / CEO / Romantis / Ibu Pengganti / Duda / Tamat
Popularitas:733.4k
Nilai: 5
Nama Author: Archiemorarty

Selama tiga tahun menikah, Elena mencintai suaminya sepenuh hati, bahkan ketika dunia menuduhnya mandul.

Namun cinta tak cukup bagi seorang pria yang haus akan "keturunan".
Tanpa sepengetahuannya, suaminya diam-diam tidur dengan wanita lain dan berkata akan menikahinya tanpa mau menceraikan Elena.

Tapi takdir membawanya bertemu dengan Hans Morelli, seorang duda, CEO dengan satu anak laki-laki. Pertemuan yang seharusnya singkat, berubah menjadi titik balik hidup Elena. ketika bocah kecil itu memanggil Elena dengan sebutan;

"Mama."

Mampukah Elena lari dari suaminya dan menemukan takdir baru sebagai seorang ibu yang tidak bisa ia dapatkan saat bersama suaminya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5. RUMAH YANG HANGAT

Udara sore terasa sejuk. Sinar matahari yang menembus jendela mobil memantulkan warna keemasan di rambut pirang Theo. Bocah itu tampak begitu damai dalam pelukan Elena. Dan entah mengapa, dada Elena terasa hangat, perasaan yang sudah lama tidak ia rasakan sejak rumah tangganya berubah menjadi ladang kekecewaan dan air mata.

Begitu mereka masuk, Theo yang tadinya tertidur mulai menggeliat. Bocah itu mengucek matanya dengan tangan mungilnya lalu menatap Elena. Begitu sadar bahwa ia masih berada di pelukan wanita yang ia panggil 'Mama', senyum lebar langsung merekah di wajahnya.

"Mama! Kita udah sampai rumah!" seru Theo riang.

Ronald tertawa kecil. "Lihat? Energinya langsung penuh lagi."

Elena terkekeh, menurunkan Theo ke lantai. Bocah itu langsung menggenggam tangan Elena dan menariknya masuk ke dalam rumah tanpa memberi kesempatan bagi wanita itu untuk menolak.

"Ini kamar Theo!" seru bocah itu antusias saat mereka berhenti di depan pintu berwarna biru muda yang dipenuhi stiker bintang dan pesawat.

Begitu pintu dibuka, Elena nyaris tertawa. Ruangan itu benar-benar mencerminkan seorang anak kecil berimajinasi luas: dindingnya dipenuhi gambar pesawat dan peta dunia, rak-rak penuh dengan mainan robot, mobil-mobilan, dan boneka hewan yang tertata agak berantakan namun terasa hidup.

"Lihat ini, Mama! Ini pesawat dari Uncle Ronald!" kata Theo sambil mengangkat pesawat mainannya dengan bangga. "Terus ini ... ini robot yang Papa belikan pas ulang tahun Theo!"

Elena tersenyum, matanya mengikuti setiap langkah kecil bocah itu yang memperlihatkan semua mainannya seolah-olah sedang memperkenalkan dunia rahasianya pada orang paling istimewa.

"Kau punya banyak sekali mainan, Theo. Semuanya keren," puji Elena seraya mengelus kepala Theo.

Theo tertawa senang, berlari ke arah kasur dan melompat di atasnya beberapa kali sebelum berhenti karena perutnya tiba-tiba berbunyi keras. Bocah itu berhenti dengan ekspresi bingung, lalu mengelus perutnya dengan wajah polos.

"Eh ... perut Theo bunyi, Mama," ucap Theo lugu.

Elena dan Ronald yang berdiri di ambang pintu spontan tertawa. Ronald menatap Elena dan mengangkat bahu.

"Kurasa Theo butuh makan siang kedua hari ini," kata Ronald.

Elena menunduk pada Theo. "Kau lapar, Baby?"

Theo mengangguk cepat. "Iya, tapi Mama juga makan ya. Theo tidak mau makan sendiri. Uncle Ronald juga."

Nada suaranya membuat hati Elena meleleh. Ia mengangguk pelan, lalu menatap Ronald. "Boleh aku masak sesuatu untuknya?"

Ronald tampak kaget sejenak, lalu tertawa kecil. "Tentu saja. Aku yakin Hans tidak akan keberatan. Dapur ada di sebelah kanan lorong."

Elena tersenyum. "Terima kasih. Aku tidak mau disebut Mama kejam karena membiarkan anak sekecil ini kelaparan."

Ronald terkekeh, sementara Theo langsung menepuk-nepuk tangan Elena dengan semangat.

"Ayo Mama! Theo mau bantu!" seru Theo penuh semangat.

Mereka bertiga lalu berjalan ke dapur besar yang berkilau bersih dengan peralatan lengkap.

Theo, dengan langkah kecilnya, berusaha mengimbangi langkah Elena sambil sesekali menatap wajah wanita itu dengan tatapan berbinar.

"Apa yang Theo ingin makan?" tanya Elena sambil membuka lemari pendingin.

Bocah itu memiringkan kepala, tampak berpikir keras hingga bibir mungilnya maju sedikit.

"Hmm ... Theo tidak tahu. Yang enak aja," ucap sang bocah.

Elena tertawa. "How cute. Baiklah, Mama masakkan sesuatu yang Theo pasti suka."

Elena mulai menyiapkan bahan-bahan: sedikit pasta, saus tomat segar, dan daging cincang. Aroma bawang putih yang ditumis memenuhi udara, membuat Theo berdiri di atas bangku kecil sambil mengendus seperti anak kucing kelaparan.

"Wangi sekali, Mama!" kata Theo sambil mengibas-ngibaskan tangan kecilnya.

Ronald hanya duduk di kursi bar dapur, menonton pemandangan itu sambil tersenyum.

"Rasanya aku belum pernah melihat Theo sebahagia ini sejak ... sejak lama sekali," ucap Roland yang ikut senang melihat kebahagiaan keponakannya.

Elena berhenti mengaduk panci, menoleh. "Maksudmu?"

Ronald menarik napas. "Theo anak yang ceria, tapi ada kalanya dia diam terlalu lama. Mungkin karena dia tumbuh tanpa sosok ibu. Aku rasa kau bisa melihatnya sendiri."

Elena menatap Theo yang sedang memegang boneka beruangnya sambil tertawa kecil pada hal-hal kecil yang bahkan tak lucu.

"Dia anak yang kuat," kata Elena pelan. "Tapi anak sekecil itu tetap butuh pelukan seorang ibu."

Ronald mengangguk. "Hans tidak pernah membiarkan siapa pun menyentuh urusan pribadinya. Bahkan soal Theo. Tapi aku rasa, hari ini dia akan terkejut kalau tahu kamu berhasil membuat anaknya begitu nyaman."

Elena tak menjawab. Ia hanya tersenyum samar sambil menuangkan pasta ke piring. Dan ketika makanan siap, Theo langsung bersorak kecil.

Mereka makan bertiga di ruang makan yang hangat. Theo memakan pasta buatan Elena dengan antusias, saus menempel di sudut bibir mungilnya. Elena dengan lembut mengusapnya menggunakan tisu, membuat bocah itu terkikik geli.

"Enak sekali, Mama! Theo suka!" kata Theo dengan senyum lebar.

Elena tertawa pelan. "Aku senang kalau Theo suka."

"Papa pintar masak seperti Mama," Theo menatap Ronald polos. "Uncle yang tidak bisa."

Ronald pura-pura tersinggung. "Hei! Paman bisa masak ... telur rebus."

Theo tertawa keras, begitu juga Elena. Tawa mereka memenuhi ruangan, membuat suasana menjadi lebih hidup daripada sebelumnya. Bagi Elena, suasana ini terasa seperti rumah sungguhan, sesuatu yang telah lama hilang dari hidupnya.

Setelah makan, Elena membantu membersihkan meja sementara Theo bermain dengan Ronald di ruang tengah. Suara mereka yang bercanda dan tawa kecil Theo mengalun seperti melodi lembut yang membuat Elena sesekali tersenyum sendiri.

Setelah semuanya bersih, Elena kembali ke ruang tengah. Theo berlari ke arahnya, langsung memanjat pangkuannya tanpa izin dan menyandarkan kepala di dada Elena.

"Capek, ya?" tanya Elena sambil mengelus rambut halus bocah itu.

Theo mengangguk pelan, matanya mulai mengantuk. "Mama ... jangan pergi ya."

Hati Elena mencelos mendengar kalimat itu. Ia menatap wajah mungil itu, lalu mengusap punggungnya lembut.

"Mama tidak akan pergi, Sayang. Istirahat dulu, ya," ucap Elena.

Dan hanya dalam hitungan menit, Theo pun terlelap. Napasnya teratur, wajahnya damai. Elena membawa Theo ke kamar sang bocah, membaringkannya di ranjang menatap lama sosok mungil itu. Ada sesuatu yang menusuk hatinya, campuran antara iba dan kasih yang datang begitu tiba-tiba.

Ketika Elena menatapnya seperti itu, suara langkah berat terdengar dari arah pintu. Suara khas sepatu kulit pria dewasa di lantai marmer. Elena menoleh, dan di sanalah ia melihat sosok tinggi berjas hitam elegan berdiri dengan aura yang sulit diabaikan.

Hans Morelli.

Tatapan tajam itu langsung terarah pada Theo dan kemudian pada Elena. Ada kelegaan yang singkat di mata Hans sebelum berganti dengan sesuatu yang lebih lembut, nyaris tak terlihat.

"Elena, bagaimana Theo?" tanya Hans.

Elena segera menaruh telunjuk di bibir, memberi isyarat agar pria itu tidak bersuara keras. "Theo baru saja tertidur," bisiknya.

Hans berhenti, mengamati wanita itu. Ada pemandangan yang tak biasa di depan matanya, Elena Wattson, rival keras kepala yang selalu menentangnya dalam setiap tender bisnis, kini duduk di sofa rumahnya sambil menenangkan anaknya. Dalam diam, Hans tertegun.

Untuk sesaat, bayangan tentang Elena yang biasanya berbicara dengan nada menusuk berganti dengan sosok lembut yang sedang membenarkan selimut di atas tubuh kecil Theo.

Ronald muncul dari dapur sambil membawa dua cangkir teh. "Brother, kau sudah datang. Elena memasak pasta buat Theo. Anak itu makan dengan senyum lebar sepanjang waktu."

Hans hanya mengangguk pelan, lalu berjalan ke arah Elena. Ia menatap Theo sejenak, kemudian berbalik menatap Elena.

"Terima kasih sudah menjaganya," ucap Hans tulus. Ikut berjalan ke ruang tengah ketika Elena keluar dari kamar Theo perlahan.

Elena menatapnya sekilas, nada suaranya tenang tapi sedikit lembut. "Bukan masalah besarm"

Ia menarik kursi dan duduk berhadapan dengannya. Ronald menaruh dua cangkir teh di meja, lalu pamit meninggalkan mereka berdua. Suasana mendadak sunyi.

"Theo jarang sekali dekat dengan orang lain," kata Hans.

Elena hanya menatap teh di depannya. "Aku rasa, dia hanya butuh seseorang untuk memperhatikannya. Seorang ibu."

Hans menatap wanita itu lama, lalu menunduk sejenak. "Itu yang tidak bisa dia miliki."

Elena menatapnya heran. "Maksudmu?"

Hans menarik napas panjang. "Theo ... lahir dari kesalahan. Ibunya, tidak pernah menginginkannya."

Elena terdiam. Ia sudah mendengar sebagian dari Ronald, tapi mendengar langsung dari Hans memberi makna berbeda. Pria di hadapannya berbicara dengan nada rendah yang penuh dengan sesuatu yang jarang terlihat darinya, penyesalan.

"Dia tidak tahu apa-apa tentang ibunya. Aku hanya bilang padanya bahwa ibunya pergi jauh. Aku pikir itu cara terbaik," kata Hans.

Elena menatap wajah dingin itu, tapi kini ia melihat lebih jauh—lelaki lelah yang berjuang sendiri. "Theo tidak membencimu, Hans. Dia hanya ... rindu kasih sayang dari seorang ibu. Anak-anak selalu bisa merasakan kekosongan, bahkan ketika mereka belum mengerti namanya."

Hans menatap Elena dengan tatapan yang sulit dijelaskan. "Dan kau ... membuatnya berhenti menangis hari ini. Itu hal yang belum pernah kulihat sejak lama."

Elena tersenyum kecil. "Theo anak yang manis. Tidak sulit untuk mencintainya."

Kata 'mencintainya' tadi bergetar lembut di udara, meninggalkan gema aneh di dada Hans. Ia menatap Elena lebih lama dari yang seharusnya, seolah baru menyadari sesuatu yang selama ini tidak pernah ia bayangkan: bahwa wanita yang dulu ia pandang sebagai musuh bebuyutan, kini sedang duduk di ruang tengah ha, membawa kehangatan yang bahkan ia sendiri tak tahu masih ada.

Ronald kembali masuk, menepuk bahu kakaknya. "Brother, aku sudah pesan makan malam tambahan. Sekalian anggap traktiran buat Elena."

Hans mengangguk pelan, pandangannya belum lepas dari Elena. Wanita itu menunduk, bersandar santai.

Dan di detik itu, Ronald yang memerhatikan mereka dari sudut ruangan hanya bisa menahan tawa kecil.

Ada sesuatu yang berubah di udara,sesuatu yang lembut, tak terucap, tapi jelas terasa.

Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, rumah itu terasa hidup.

Dan semua karena kehadiran seorang wanita bernama Elena Wattson.

1
Lalla Janah
eh udh ada yang terbaru nya ga Fersi Theo Sam si kembar juga?
Emak Aries
hamil memang kadang membuat kita pengen makan yg aneh2. Makan kentang goreng dgn disiram cuka sedikit, kemudian cocol saos sambel, makan kentang cocol es krim😁
Archiemorarty: Bener, aneh-aneh pokoknya 🤣
total 1 replies
Marulak Siagian
👍👍👍
Archiemorarty: Terima kasih udah baca ceritanya kak 🥰
total 1 replies
beybi T.Halim
finally happy ending.,cerita yang sangat bagus💝💝🫶🫶
Archiemorarty: Terima kasih udah baca ceritanya kak 🥰
total 1 replies
sendy kiki
kak kalao saran pengucapan anak anak cadel dunk hehe saya penyuka novel bocil cadel
Archiemorarty: ntar kalau ada yang bocil lagi kubuat cadel ya 🤭
total 1 replies
Saya Sayekti
ceritanya bagus
Archiemorarty: makasih udah baca ceritanya kak semoga menghibur waktu senggangnya ya 🥰
total 1 replies
Lala lala
i feel you El..
pasti sakit dan serasa diinjak harga diri
HjRosdiana Arsyam
Luar biasa
Archiemorarty: terima kasih udah baca ceritanya kak semoga menghibur waktu senggangnya ya 🥰
total 1 replies
Asmainiati Pelis
tidak tertarik sama perempuan lain bertahun Terus Theo lahir dari apa Batu.....
Asmainiati Pelis
tp cinta dari dulu,tp kok punya Anak dgn orang lain
Jetva
🤔udh hamil sebelum nikah...jd bukan 8 bln tp emang udh genap 9bln..🤔


Elena juga lagi hamil...
Jetva
NAAAH KAAAAN...DI BAB SEBELUMNYA UDH KUDUGA..ELENA TAHU RAVEN YG MANDUL...😁😁😁SDH BERI KODE TP RAVEN GA PEKA..TETAP PERCAYA JESSY😁😁😁😁
Jetva
DALTON WATTSON BENAR" RUNTUH...HANS TIDAK AKAN MEMBUATX MENJADI BAGIAN PERUSAHAANX....DIANA MEMANG IBLIS DLM TUBUH MANUSIA..
Jetva
AQ CURIGA ELENA TAHU KLO RAVEN YG MANDUL BUKAN DIRIX...ATW ELENA TAHU KLO JESSY ITU JALANG ELITE...🤔🤔🤔🤔KLO BENAR ITU ANAK RAVEN YA SYUKUR..TP KLO BUKAN..??🤔🤔🤔
Jetva
Betul kata Hans..Raven pebisnis tolol...knapa dia ga datangi butik TKP utk mencari tahu kejadian yg sebenarx malah langsung labrak org yg dihujat😁😁😁sungguh tolol makax ceroboh..gampang diintimidasi...pasti Jessy bohong klo dia hamil anak Raven..😁😁😁
𝐵💞𝓇𝒶𝒽𝒶𝑒🎀
bukanya LA yh🙃
mimief
kak..akun ku pindah kesini
blm ada karya baru kah?
mimief: siap... follow aku ku lah
biar bisa chatting ntar
kabar kabari yaaaa
total 2 replies
Anonymous
Sukaaaaaa ceritanya baguuuussss
𝐵💞𝓇𝒶𝒽𝒶𝑒🎀
namanya suka berubah2 DRI nama perusahaan sampai tokoh 😭
sam sung
👍👍sukses slalu karyanya thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!