NovelToon NovelToon
DiBuang Suami Di Pungut Om

DiBuang Suami Di Pungut Om

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Penyesalan Suami
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: AmeeraKa94

Namaku Kimira Janetha Usia 32 tahun. aku seorang Aktris sekaligus seorang ibu. dari Seorang putri yang bernama Quensha Almahira yang biasa kami panggil Queen..

selama lima tahun aku percaya pada satu hal. yaitu Tentang kesetiaan. setia pada Keenan Jeremi. Suamiku. pernikahan yang ku bangun dari nol ternyata kesetiaan itu hanya milikku sendiri.

malam itu harusnya jadi malam kepulangan yang indah bagiku. aku pulang lebih cepat dari lokasi syuting sambil membawa kue ulang tahun pernikahan kami yang ke-5 tahun. namun yang ku temukan bukan pelukan atau senyuman. dua tubuh telanjang bulat diatas ranjangku. ya mereka adalah Keenan Jeremi suamiku, dan Clara Adellia Sahabatku.

seketika darahku langsung mendidih. tanpa pikir panjang aku langsung jambak rambut panjang Clara. hingga dia terjungkal.

plak
plak
plak

"Dasar pelacur murahan! beraninya Kamu mengotori ranjangku! " teriaku murka, marah.

pisau lancip dari sakuku langsung melayang. dan menggores pipi Clara.

Cring

Zzzzzrrkkk

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AmeeraKa94, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30 Gugatan Cerai Diam Diam

Pengadilan Agama Jakarta Selatan.

Pukul 08.00 Wib

Udara AC dingin, tapi telapak tangan Netha basah keringat dingin.

Kimira Janetha Binti Herlambang duduk kaku di bangku kayu. Jilbab coklatnya nutup rapi, tapi nggak bisa nutupin mata bengkak semalaman. Di kiri-kanan dia: Dimas, dan pengacara perempuan dari Yudhistira Group yang dari tadi bisik, “Tarik napas, Bu. Pelan.”

Netha cuma angguk. Tenggorokannya kayak disumpel kapas.

Pukul 08.15 wib

Suara petugas menggelegar: “Gugatan Cerai Kimira Janetha Binti Herlambang, melawan Keenan Jeremi Bin Fery Sanjaya!”

Dimas langsung berdiri, punggung tegap. “Hadir, Yang Mulia.”

Netha ikut berdiri. Lututnya gemetar. Tiap langkah ke ruang sidang berasa kayak jalan di atas pecahan kaca.

Pintu kebuka.

Ruang sidang sepi. Hanya ada Hakim, panitera, dan bau kertas.

“Silakan duduk,” kata Hakim tanpa ekspresi.

Netha duduk di tepi kursi. Tangan ngepal sampai kuku nancep ke telapak.

Hakim menatap langsung. “Bu Kimira. Ini mediasi pertama. Saya tanya sekali: Anda masih mau bercerai dengan suami Anda?”

Netha angkat kepala. Suaranya serak, tapi jelas. “Masih, Pak Hakim. Saya nggak bisa lanjutin rumah tangga yang udah saya kubur sendiri setiap malam Karena penghianatan.”

Hakim diem sebentar. Lalu noleh ke samping. “Tergugat?”

Dimas jawab tegas. “Tidak hadir, Yang Mulia. Sudah dipanggil dua kali. Tidak ada jawaban.”

Hakim manggut manggut. Ketok palu pelan. “Mediasi kedua dua minggu lagi. Semoga tergugat datang. Sidang ditutup.”

Ketok. Tok tok tok

Netha keluar ruangan. Kakinya lemas. Dimas langsung nyangga lengannya.

“Udah, Bu. Bagus,” kata Dimas pelan.

Netha tarik napas panjang. “Lega... tapi kok dada ini kosong,Ya Mas?”

Dimas nggak jawab. Dia tau, nggak ada kata yang bisa ngisi lubang itu.

" Mari bu silahkan saya Antar anda pulang, sesuai perintah Pak Arsen. " Ujar Dimas dan hanya dibalas dengan anggukan kepala

---

Pukul 09.00.Di Dalam mobil Alphard.

Netha duduk nyender ke kaca. Mata kosong liatin Jakarta yang macet. Tiba tiba saja ponselnya bunyi. layar ponsel muncul nama. Oma Rita.

" Hallo Assalamualaikum Oma. " Sapa Netha setelah sambungan telepon diangkat.

" Walaikum salam nak,gimana?” Suara Oma Rita tegas tapi gemetar.

Netha senyum pahit. “Udah, Oma.sudah terdaftar. Tapi mas Keenan nggak dateng. Kayak biasa.”

Oma Rita diem lama. "Anak itu dia pengecut sekali,mau lari dari tanggung jawab."

Netha ketawa kecil. Kering. “Iya, Oma. Dan aku capek jadi orang yang ditinggal lari terus.”

" Ya sudah kamu yang sabar ya, biar Arsen semua yang urus kamu tinggal terima beres, oke cucuku. "

" Terimakasih Oma. "

Tut. sambungan terputus

---

Pukul 10.00. MNC Studios.

Netha masuk lokasi syuting telat 30 menit. Makeup artist langsung panik.

Inka nyamperin, narik lengan Netha ke tenda. “Kamu kenapa? Muka kamu kayak mayat hidup.”

Netha lepas jilbab, duduk. “Baru dari PA, Ka.”

Inka langsung peluk. Kenceng. “Akhirnya kamu segera bebas juga dari laki laki toxic itu tha,gue yakin Lo pasti bisa jalanin, ya? Gimana? Lega?”

Netha geleng. Air matanya jatuh tanpa suara. “Lega... tapi aneh. Kayak aku baru ngelepas rantai, tapi tanganku masih berdarah.”

Inka elus punggung Netha. “Trauma itu nggak hilang sehari, Netha. Tapi kamu udah menang satu langkah.”

Sutradara teriak dari luar: “Netha! 5 menit! Kalau nggak siap, cut hari ini!”

Netha hapus air mata pakai tisu. “Aku siap, Ka. Aku harus kerja. Buat Queen.”

---

Jam 12.00. Kos Cengkareng.

Keenan Jeremi Bin Fery Sanjaya duduk di lantai semen. Depannya: amplop coklat bertuliskan Pengadilan Agama.

Tangannya gemetar pas buka.

“Mediasi pertama... tergugat tidak hadir...”

Keenan ketawa. Ketawa kosong. “Pengecut. Iya, aku memang pengecut.”

HP bunyi. Nomor Yayasan.

“Mas Keenan, hari ini 20 titik. Target jam 6 sore selesai ya.”

Keenan diem 2 detik. “Iya. Saya jalan sekarang.”

Dia pake helm kusam. Tas kurir warna oranye udah luntur. Jalan keluar kos tanpa nengok.

---

pukul 13.00. Terik Jakarta.

Keringat Keenan netes dari dagu. Baju basah kuyup.

Customer 1 buka pintu, muka jutek. “Lama banget! Kurir baru ya?”

Keenan nunduk 90 derajat. “Maaf, Bu. Macet. Ini paketnya.”

Customer 2 teriak dari balkon. “Paket saya penyok! Ganti rugi dong!”

Keenan diem. “Maaf, Mas. Nanti saya laporin ke kantor.”

Customer 3 malah ngusir. “Woi! Buruan! Nggak usah lelet!”

Keenan cuma manggut. Terima semua makian para Custumernya

Jam 15.00. Dia berhenti di pinggir kali. Duduk di trotoar. Buka botol air. Tangan gemetar banget.

“Ya Allah...apa ini balasan aku ya?” bisiknya. “Aku yang udah khianatin istri, sekarang aku dihianatin tenaga aku sendiri.”

Dia sujud di trotoar. Nggak peduli orang liatin.

---

Jam 14.00. Yudhistira Tower.

Arsen banting map di meja. “Dua kali dipanggil nggak dateng. Dia maunya apa sih?”

Dimas diem. “Pak... mungkin dia malu. Takut ketemu Bu Netha.”

Arsen noleh ke jendela. Rahangnya ngeras. “Malu? Dia saja tega hancurin Netha 6 bulan. Sekarang malu? Telat, Keenan.”

Dimas ragu. “Pak..Bu. Netha tadi Dia bilang takut kalau ikut sidang jadi ribut.”

Arsen balik badan. “Kawal 24 jam. Jangan ada wartawan satu pun yang tau. Kalau ada yang bocor, kamu tau akibatnya.”

Dimas tegak. “Siap, Pak.”

Arsen liat keluar. “Keenan... kamu nggak dateng karena kamu tau, di dalam ruang sidang itu ada dosa kamu yang nunggu kamu.”

---

Jam 15.00. Rumah Oma Rita.

Queen lagi coret-coret kertas.

Oma Rita liat dari belakang. 3 gambar: perempuan, anak, laki-laki dicoret hitam.

Oma Rita peluk Queen dari belakang. “Sayang... kangen Papa?”

Queen diem lama. “Kangen... tapi takut. Kalau Papa balik, Mama nangis lagi.”

Oma Rita cium kening Queen. “Allah nggak tidur, Nak. Dia jaga kamu & Mama.”

Queen noleh. “Oma... kalau Papa jahat, boleh nggak Sha benci?”

Oma Rita peluk makin kenceng. “Boleh marah. Tapi jangan benci. Benci bikin hati kamu sakit, sayang.”

---

Jam 16.00. Rumah Kebayoran.

Netha baru pulang. Badan remuk.

Queen langsung lari kayak roket. “Ma! Ma! Temen Sha bilang liat Papa pake helm gede! Jadi kurir!”

Netha jongkok. Napasnya tercekat. “Iya, sayang. Papa kerja.”

Queen manggut polos. “Berarti Papa tobat ya, Ma?”

Netha peluk Queen erat. Air matanya jatuh di bahu anaknya. “Mudah-mudahan, sayang. Mudah-mudahan Allah buka pintu tobatnya.”

---

Jam 17.00. Kos Cengkareng.

Keenan ngitung uang receh: 150 ribu.

Dia beli nasi 10 ribu, telur 5 ribu. Makan di lantai. Tanpa sendok.

HP bunyi.menampilkan nama Anggit dilayar ponselnyq

“Keenan... kamu makan apa, Nak?” Suara Anggit pecah.

Keenan bohong. “Nasi ayam, Ma. Enak.”

Anggit nangis. “Pulang, Keenan. Mama nggak minta apa-apa. Mama cuma mau liat kamu hidup.”

Keenan diem. “Ma... aku nggak berani. Muka aku udah terlalu kotor buat ketemu Mama.”

Tut.

Keenan lempar HP. Pecah.

Pyarrrrr

" Arggggggggghhhh Gue Bodoh. "

_________

Pukul 18.00. Wib

Arsen dateng ke rumah Netha. Bawa 2 kantong buah.

“Netha,” panggilnya dari teras.

Netha keluar. Mata sembab. “Om.”

Arsen kasih kantong. “Buat Queen. Buat kamu juga. Kurangin syuting, kurangin stres.”

Netha terima. “Makasih, Om. Tapi aku...”

“Duduk,” potong Arsen. Duduk duluan di kursi teras, jaga jarak 1 meter.

“Sidang kedua 2 minggu lagi. Kalau Keenan nggak dateng lagi, hakim bisa putus verstek. Kamu menang tanpa dia,” kata Arsen.

Netha angguk. “Aku takut, Om. Takut kalau menang pun aku masih sakit.”

Arsen diem. Tatapannya melembut. “Sakit itu bukti kamu pernah cinta, Netha. Tapi sembuh itu pilihan kamu.”

Netha noleh. “Kenapa Om sabar banget sama aku?”

Arsen diem 3 detik. “Karena Allah titipin kamu ke aku. Dan aku nggak mau gagal jaga titipan-Nya.”

Deg

Netha diem. Jantungnya nendang kenceng. Serasa berdetak kenceng banget.

----------

Pukul 19.00 wib

Queen udah tidur. Netha buka Al-Qur’an.

Surat Ar-Rum ayat 21.

Netha tutup Al-Qur’an. “Ya Allah... dulu aku tenteram sama dia. Sekarang tenteramku cuma sama Engkau.”

---

Pukul 20.00.Wib

Keenan di kos. Gelap. Cuma lampu jalan dari luar.

Dia buka galeri. Foto akad nikah dia & Netha. Netha senyum paling bahagia.

Keenan cakar kepalanya sendiri. “Aku yang setan! Aku yang bodoh Aku yang hancurin kebahagiaan itu!”

Dia sujud. Dahi nancep ke lantai. “Ya Allah... kalau Engkau nggak ampuni aku, aku mati aja sekarang!”

---

Pukul 21.00 Wib

Dimas telpon Arsen. “Pak, Keenan hari ini drop. Tapi dia selesaikan 20 titik. Nggak komplain.”

Arsen diem. “Bagus. Biar dia ngerasain jadi orang biasa. Tanpa nama Yudhistira.”

Dimas mengangguk. " Siap pak

---

Pukul 22.00. Wib

Netha nulis di buku harian:

“Ya Allah, Aku nggak minta balas dendam.

Aku cuma minta tenang.

Kalau dengan bercerai ini jalanku, tolong mudahkanlah.

Dan Kalau ada hikmah di balik rasa sakit ini, tunjukkan.

Tolong Jaga Queen. Jaga aku.

Dan cukupkan aku dengan Engkau.”

---

Pukul 23.00. Wib

Keenan rebahan. Tulang sakit semua. lalu

Dia bisik ke langit-langit. “Netha... maafkan aku. Aku tahu Aku memang nggak pantas dimaafin. Tapi aku mohon... doain aku tobat.”

---

Jam 23.30 Wib Arsen di mobil. “Dimas, mulai besok, ganti rute Keenan. Jangan lewat rumah Netha lagi.”titah Arsen pada Asisten pribadinya

Dimas angguk. “Kenapa pak?Takut ketemu bu Netha lagi, Pak?”

Arsen diem sejenak. “ Ya.Takut Netha keinget lagi. Karena Luka itu belum kering.”

" Siap pak. " jawab Dimas dengan patuh

---

Pukul 23.59 Wib

Netha terbangun dari tidurnya dia mimpi lagi. Mimpi Keenan & Clara ijab kabul.

Netha kebangun. Napasnya sesak. Keringat dingin.

Queen langsung ikut kebangun. “Ma... Mama kenapa nangis?”

Netha peluk Queen. “Mama mimpi buruk, sayang.”

Queen elus pipi Netha. “Jangan takut, Ma. Queen .Queen bakal selalu jagain Mama.”

Netha nangis di dada anaknya.

Untuk pertama kali dalam 6 bulan... dia nggak ngerasa sendirian lawan dunia.

To be continued...

Jangan Lupa kasih dukungannya ya kalau suka. Terimakasih

1
Anwar Ghazi
bagus cerita nya
fanny tedjo pramono
semangat update ditunggu guys
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!