NovelToon NovelToon
Sibeban Keluarga Mendapatkan Sistem

Sibeban Keluarga Mendapatkan Sistem

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Crazy Rich/Konglomerat / Fantasi
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Tri Wahyuni92

seorang pemuda berusia 25 tahun tampak sedang rebahan dengan posisi super tidak estetis di atas bangku kayu panjang.
Dia adalah Kevin Wahyu Wijaya. Lulusan sarjana manajemen dari salah satu universitas swasta di Depok yang gelarnya saat ini hanya berguna sebagai alas tikar saat piknik keluarga.

"Kevin! Lu kagak ada niat nyari kerja apa? Itu si Doni anak RT sebelah udah keterima kerja di SCBD, tiap hari pake kemeja rapi. Lah lu? Dari pagi sampai ketemu pagi lagi kerjaan lu cuma mabar Mobile Legends sambil ngetek di warkop gua!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter: 19

OEEEEEKKKK! OEEEEEKKKK!

Suara lengkingan itu terdengar sangat dekat, begitu parau, liar, dan basah, seolah-olah moncong seekor babi hutan raksasa sedang mengendus tepat di belakang tengkuk Mpok Lela.

Hawa dingin yang tadinya menyelimuti pelataran Warkop Berkah mendadak berubah menjadi mencekam.

Mpok Lela yang tadinya berdiri paling depan dengan berkacak pinggang, seketika membeku.

Bulu kuduk di lehernya yang dilapisi bedak tebal langsung berdiri tegak.

"J-Jeng... itu suara apa ya?"

bisik Mpok Lela dengan bibir bergetar, matanya melirik ke arah Bu RT di sebelahnya.

Bu RT tidak menjawab.

Wajahnya sudah seputih kain kafan. Senter di tangannya bergetar hebat, menyorot ke arah bayangan hitam di bawah pohon mangga tepat di belakang Mpok Lela.

Berkat fasilitas Ilusi Optik Dimensi Rendah dari Sistem, Kevin memproyeksikan sebuah bayangan hitam pekat berbentuk seekor celeng (babi hutan) berukuran raksasa dengan mata merah menyala yang berkilat di kegelapan.

Bayangan itu tampak sangat nyata, lengkap dengan efek asap tipis yang keluar dari hidungnya yang mendengus-dengus.

"B-BABI! BABI NGEPETNYA KELUAR!"

teriak Joko yang ikut dalam barisan warga, langsung melompat mundur hingga menabrak tiang listrik.

"ASTAGHFIRULLAH AL-ADZIM! BENERAN ADA BABI!"

jerit ibu-ibu komplek histeris.

Pasukan yang tadinya beringas membawa sapu lidi dan senter langsung kocar-kacir, saling dorong untuk menjauh.

Mpok Lela yang menyadari makhluk itu berada tepat di belakangnya langsung membalikkan badan dengan patah-patah seperti robot rusak.

Begitu pandangannya bertemu dengan proyeksi mata merah menyala sang babi raksasa yang seolah siap menerkamnya, jeritan tertinggi dalam hidup Mpok Lela pun pecah.

"MAMAAAK! ADA BABI GEDE BANGET! AMPUUUN!"

Mpok Lela mencoba berlari, namun kakinya yang memakai sandal jepit justru tersangkut akar pohon mangga.

Tubuh tambunnya melayang dan jatuh berdebum dengan posisi tengkurap tepat di atas tanah becek bekas guyuran hujan sore hari.

Wajah penub bedaknya sukses mendarat di kubangan lumpur.

OEEEEEKKKK!

Bayangan babi itu melompat maju, menembus tubuh Mpok Lela yang sedang tiarap sebelum akhirnya menghilang menjadi partikel udara tak berbekas.

Efek ilusi optik itu sengaja diatur Kevin hanya untuk memberikan syok terapi tingkat tinggi.

"Aduh, Mpok Lela! Bapak-bapak, Ibu-ibu, kenapa pada tiarap di tanah?"

tanya Kevin dengan wajah polos tanpa dosa, melangkah keluar dari balik gerobaknya sambil memegang senter kecil.

Dia menyorot tubuh Mpok Lela yang kini penuh lumpur seperti belut sawah.

Suasana mendadak hening. Bayangan babi itu sudah hilang total.

Beberapa warga pria yang masih memiliki sisa keberanian perlahan mendekat, menyorot sekeliling dengan senter mereka.

"Lho... babinya mana? Kok ilang?"

tanya Pak RT yang baru keluar dari rumahnya karena mendengar keributan.

"Tadi di situ, Pak RT! Di atas punggung Mpok Lela! Gede banget, matanya merah!"

seru Joko dengan napas terengah-engah, meyakinkan warga.

Kevin menggeleng-gelengkan kepalanya dengan raut wajah prihatin yang dibuat-buat.

"Waduh, Pak RT, Ibu-ibu sekalian... kayaknya Mpok Lela sama yang lain ini kurang tidur gara-gara ronda, jadinya halusinasi berjamaah."

"Komplek kita kan padat penduduk, mana ada babi hutan masuk ke sini."

Bu RT yang melihat tidak ada tanda-tanda makhluk halus lagi, mulai merasa malu. Dia membantu Mpok Lela berdiri.

Wajah Mpok Lela kini benar-benar berantakan lumpur hitam menempel di pipi, hidung, dan jidatnya, membuat penampilannya justru lebih mirip makhluk mistis daripada babi yang mereka tuduhkan.

"Kevin... lu... lu beneran gak melihara?"

tanya Mpok Lela dengan suara mencicit ketakutan, badannya masih gemetaran.

"Astagfirullah, Mpok."

"Saya ini jualan nasi goreng halal, modalnya dari pinjaman bank dan kerja keras saya narik ojek kemarin,"

kata Kevin, memasang wajah melas seorang pemuda yang terzalimi.

"Uang banyak kemarin itu kan hasil komisi saya membantu penjualan properti Pak Herman, pengusaha besar di Margonda."

"Kalau Mpok Lela gak percaya, besok saya panggilkan pengacara Pak Herman ke sini buat jelasin."

Mendengar nama "Pak Herman" dan kata "pengacara", nyali warga komplek langsung ciut seketika.

Mereka tahu siapa Pak Herman pemilik setengah ruko di jalan utama GDC dan Margonda.

Menuduh rekan bisnis orang sekaya itu sebagai pemelihara babi ngepet bisa berujung pada kasus pencemaran nama baik di jalur hukum.

"A-Ah... begitu ya? Aduh, maaf ya, Nak Kevin. Ini si Lela yang ngompor-ngomporin kita dari kemarin katanya liat bayangan item,"

dalih Bu RT, langsung melempar kesalahan pada Mpok Lela demi menyelamatkan mukanya sendiri.

"Iya, nih! Mpok Lela bikin panik aja! Malu-maluin komplek!"

sorak warga lainnya yang tadi ikut berdemo.

Mpok Lela yang sudah jatuh tertimpa lumpur kini harus menanggung malu yang luar biasa di depan seluruh tetangga.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, dia langsung berbalik dan berlari kencang menuju rumahnya sambil menangis sesenggukan.

Ding!

[Misi Sampingan Sukses Sempurna!]

[Evaluasi: Nama baik Pengguna bersih total. Mpok Lela mengalami trauma psikologis ringan terhadap hewan berkaki empat selama 3 bulan ke depan.]

[Progres Misi Utama: 489/500 Porsi Terjual. Sisa 11 porsi untuk menyelesaikan misi profesi Minggu 3!]

Kevin tersenyum puas melihat barisan warga yang membubarkan diri sambil meminta maaf padanya.

Dia melirik Nabila yang sejak tadi mengintip dari balik tirai jendela warkop dengan mata berbinar-binar penuh kelegaan.

"Tinggal sebelas porsi lagi, dan minggu ini kelar,"

gumam Kevin, bersiap merapikan gerobaknya karena malam sudah menunjukkan pukul 24:00.

Namun, tepat ketika dia hendak mematikan keran tabung gas, sebuah mobil MPV hitam mewah bermerek Toyota Alphard perlahan berhenti di depan warkop yang sudah sepi itu.

Pintu geser otomatisnya terbuka, dan seorang pria paruh baya dengan pakaian batik sutra mahal serta beberapa ajudan berbadan tegap melangkah turun.

Pria itu bukan Pak Herman, melainkan sosok baru yang auranya jauh lebih menekan dan dipenuhi otoritas tingkat tinggi.

Di dadanya, tersemat sebuah pin emas berbentuk lambang pemerintahan Kota Depok.

"Kamu... yang namanya Kevin Wijaya? Pemilik Nasi Goreng Lidah Dewa?"

tanya pria paruh baya itu dengan suara berat yang berwibawa, menatap Kevin dengan pandangan menilai yang tajam.

Kevin mengernyitkan dahinya.

Sistem, ini siapa lagi? Kenapa plot minggu ini makin malam makin rame?

1
Tri Wahyuni
iya maaf kak ada kesalahan untuk penamaan karakternya, Skrang sudah di perbaiki,makasih udah ngasih tau ya kak👍
ラマSkuy
wait bukannya di bab sebelumnya nama ayahnya Viola itu Herman ya kok dibab ini jadi Wijaya 🤔🤔
ラマSkuy
awalan yang menarik untuk di baca Thor semangat terus berkarya 👍
Hentri Gunawan
lanjut Thor walupun beda dr yg kemarin
Tri Wahyuni: iya maaf ya soalnya kak soalnya kena revisi total
total 1 replies
Tri Wahyuni
jangan lupa kasih likenya ya kak
Hentri Gunawan
lanjut lg
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!