NovelToon NovelToon
WARUNG KECIL MILIK SANG KONGLOMERAT

WARUNG KECIL MILIK SANG KONGLOMERAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Crazy Rich/Konglomerat / Mengubah Takdir
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Theurgist

Setelah meninggal karena kelelahan bekerja, Arga terbangun di masa lalu sebagai dirinya yang berusia delapan belas tahun.

Dengan ingatan tentang masa depan, ia bertekad mengubah nasib keluarganya dan menyelamatkan warung kecil yang menjadi sumber penghidupan mereka.

Dimulai dari usaha sederhana di pinggir jalan, Arga melangkah menuju dunia bisnis yang penuh peluang, persaingan, dan pengkhianatan.

Kali ini, ia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.

"Jika diberi kesempatan kedua, bisakah sebuah warung kecil melahirkan seorang konglomerat?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Theurgist, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15 – Jalan yang Ditutup

Suasana warung mendadak sunyi setelah pekerja proyek itu pergi.

Ayah Arga masih berdiri di tempatnya semula.

Wajahnya terlihat tegang.

Sementara ibunya yang baru keluar dari dapur langsung menyadari ada sesuatu yang tidak beres.

"Ada apa?"

Ayahnya menoleh perlahan.

"Minggu depan jalan depan sini katanya ditutup total."

Sari membeku.

"Apa?"

"Iya."

Bu Rina yang sedang menyusun gorengan juga ikut menghentikan pekerjaannya.

Ruangan seketika terasa lebih berat.

Selama beberapa minggu terakhir, proyek jalan memang sudah mengurangi jumlah pelanggan.

Namun setidaknya jalan masih bisa dilalui.

Masih ada kendaraan yang lewat.

Masih ada orang yang berhenti membeli.

Kalau jalan benar-benar ditutup?

Tidak ada yang tahu seberapa besar dampaknya.

Arga menarik kursi lalu duduk.

Pikirannya langsung bekerja.

Dalam kehidupan sebelumnya, ia memang ingat adanya proyek perbaikan jalan.

Tetapi saat itu ia tidak pernah memperhatikan detailnya.

Karena keluarganya sudah tenggelam dalam berbagai masalah lain.

Kini situasinya berbeda.

Ia harus bersiap sebelum dampaknya benar-benar datang.

"Kita tunggu informasi resminya dulu."

Kalimat itu akhirnya keluar dari mulutnya.

Ayahnya mengangguk pelan.

Namun dari ekspresinya terlihat jelas bahwa ia tetap khawatir.

Dan Arga tidak bisa menyalahkannya.

Karena ia sendiri juga merasakan hal yang sama.

Dua hari kemudian, kabar tersebut akhirnya dikonfirmasi.

Papan pemberitahuan dipasang tidak jauh dari warung.

Mulai minggu depan, sebagian ruas jalan akan ditutup sementara untuk tahap pembangunan berikutnya.

Kendaraan harus memutar melalui jalur alternatif.

Akibatnya lalu lintas di depan warung hampir pasti akan berkurang drastis.

Malam itu keluarga Arga kembali berkumpul.

Di atas meja terdapat buku catatan.

Namun kali ini suasananya berbeda.

Tidak ada semangat seperti saat membahas pesanan baru.

Tidak ada kegembiraan seperti ketika penjualan meningkat.

Yang ada hanya kekhawatiran.

"Kalau pelanggan berkurang setengah saja, kita sudah rugi."

Ayahnya berbicara pelan.

Bu Rina juga tampak murung.

"Warung sebelah sana sudah mulai sepi sejak minggu lalu."

Sari mengangguk.

"Aku juga dengar beberapa pedagang mengeluh."

Semua mata akhirnya tertuju kepada Arga.

Kebiasaan yang mulai terbentuk dalam beberapa bulan terakhir.

Setiap ada masalah, mereka akan menunggu pendapatnya.

Namun kali ini Arga tidak langsung berbicara.

Karena masalah ini memang berbeda.

Mereka tidak bisa mengendalikan proyek.

Tidak bisa menghentikan pembangunan.

Tidak bisa memaksa pelanggan melewati jalan yang ditutup.

Untuk beberapa saat ia hanya menatap buku catatannya.

Kemudian perlahan membuka halaman kosong.

"Kalau pelanggan tidak bisa datang ke warung..."

Ia berhenti sejenak.

"Lalu?"

Ayahnya bertanya.

"Mungkin warung yang harus mendatangi pelanggan."

Ruangan langsung hening.

Kalimat itu terdengar sederhana.

Tetapi semua orang memahami maksudnya.

Layanan antar.

Pesanan.

Dan cara lain untuk menjangkau pelanggan tanpa bergantung pada lalu lintas jalan.

Keesokan harinya, Arga mulai mengamati pelanggan tetap mereka.

Ia mencatat nama.

Alamat perkiraan.

Kebiasaan belanja.

Semua ditulis dengan rapi.

Bukan untuk tujuan aneh.

Tetapi untuk memahami siapa pelanggan yang paling sering datang.

Hasilnya cukup menarik.

Sebagian besar pelanggan setia ternyata tinggal dalam radius yang tidak terlalu jauh.

Banyak di antaranya adalah ibu rumah tangga.

Pegawai.

Atau keluarga yang membeli kebutuhan kecil hampir setiap hari.

Artinya mereka tidak bergantung pada kondisi jalan utama.

Mereka tetap tinggal di lingkungan sekitar.

Masalahnya hanya satu.

Mereka mungkin menjadi lebih malas keluar rumah karena akses yang terganggu.

Saat itulah ide baru mulai terbentuk.

Sore harinya, Arga berbicara dengan Bu Rina.

"Bu."

"Iya?"

"Kalau Ibu sedang jalan ke rumah warga, biasanya banyak yang titip beli sesuatu?"

Bu Rina tertawa kecil.

"Sering."

"Sering sekali malah."

Arga langsung tertarik.

"Apa saja?"

"Macam-macam."

"Minyak goreng."

"Gula."

"Teh."

"Sabun."

Jawaban itu membuat Arga berpikir keras.

Karena tanpa sadar, warga sebenarnya sudah melakukan bentuk sederhana dari layanan titip beli.

Hanya saja belum terorganisasi.

Malam itu, ia mengumpulkan keluarga lagi.

"Aku punya rencana."

Ayahnya tertawa.

"Kali ini yang keberapa?"

"Sangat serius."

Semua orang ikut tersenyum.

Namun mereka tetap mendengarkan.

"Kita buat daftar pesanan."

"Maksudnya?"

Ibunya bertanya.

"Kalau ada pelanggan yang butuh sesuatu, mereka bisa pesan lebih dulu."

"Kemudian kita antar."

Bu Rina terlihat memahami lebih cepat.

"Seperti titip beli?"

"Hampir."

"Tapi lebih teratur."

Ayahnya mengangguk perlahan.

Masuk akal.

Kalau pelanggan tidak ingin datang ke warung, mereka bisa tetap berbelanja tanpa harus keluar rumah.

Namun masalah baru muncul.

"Siapa yang mengantar?"

Pertanyaan itu langsung membuat suasana kembali hening.

Karena memang itulah masalahnya.

Ayah Arga masih harus membantu di warung.

Bu Rina membantu produksi.

Ibunya fokus pada dapur.

Sedangkan Arga masih sekolah.

Untuk pertama kalinya sejak beberapa minggu terakhir, mereka menemukan kendala yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan ide.

Butuh tenaga.

Dan tenaga berarti biaya.

Beberapa hari berikutnya, dampak penutupan jalan mulai terasa.

Jumlah pelanggan yang lewat menurun drastis.

Warung-warung lain di sekitar mereka juga mulai sepi.

Bahkan beberapa pemilik usaha terlihat duduk tanpa pelanggan selama berjam-jam.

Namun untungnya, pelanggan tetap Arga masih cukup loyal.

Bu Wati tetap datang.

Pak Hendra masih membeli gorengan.

Beberapa pekerja proyek juga masih mampir.

Meski begitu, penurunan tetap terjadi.

Saat menghitung pemasukan malam hari, semua orang bisa melihat perbedaannya.

Angkanya lebih rendah.

Tidak terlalu buruk.

Tetapi cukup untuk membuat mereka khawatir.

"Kalau begini terus..."

Ayahnya tidak melanjutkan kalimatnya.

Namun semua orang tahu maksudnya.

Keuntungan akan berkurang.

Kemampuan membayar utang juga ikut berkurang.

Dan rencana masa depan menjadi lebih sulit.

Arga menatap catatan penjualan cukup lama.

Kemudian perlahan menyadari sesuatu.

Selama ini mereka terlalu fokus pada pelanggan yang hilang.

Padahal ada kelompok pelanggan lain yang belum mereka manfaatkan sepenuhnya.

Pekerja proyek.

Jumlah mereka puluhan orang.

Mereka berada di sekitar lokasi setiap hari.

Dan selama pembangunan berlangsung, mereka akan tetap ada.

Mungkin...

Mereka bisa menjadi solusi sementara.

Keesokan harinya, Arga mulai mengamati lebih serius.

Jam berapa pekerja proyek datang.

Apa yang mereka beli.

Berapa banyak yang dibeli.

Dalam beberapa hari, sebuah pola mulai terlihat.

Pagi hari mereka membeli kopi dan gorengan.

Siang hari mereka mencari minuman dingin.

Sore hari mereka membeli camilan sebelum pulang.

Kebiasaan yang cukup konsisten.

Dan kebiasaan yang konsisten biasanya bisa menjadi peluang bisnis.

Malam itu, Arga kembali membuka buku catatannya.

Ia menuliskan beberapa poin.

Paket Sarapan Pekerja.

Paket Istirahat Siang.

Paket Sore.

Belum ada keputusan.

Belum ada tindakan.

Namun ide itu mulai terbentuk.

Sementara di luar rumah, suara alat berat masih terdengar samar.

Pembangunan terus berjalan.

Lingkungan sekitar terus berubah.

Dan untuk pertama kalinya sejak kembali ke masa lalu, Arga menyadari bahwa dunia tidak akan menunggu mereka siap.

Perubahan akan datang, suka atau tidak.

Pertanyaannya bukan apakah mereka bisa menghentikan perubahan itu.

Tetapi apakah mereka cukup cepat untuk beradaptasi.

Dan dalam hati, Arga tahu.

Babak berikutnya dari perjalanan mereka baru saja dimulai.

1
Dewiendahsetiowati
gak ada jari emas kah ini atau sistem gitu thor
Dewiendahsetiowati: ok Thor dan ditunggu up selanjutnya
total 2 replies
Dewiendahsetiowati
hadir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!