BIJAKLAH DALAM MEMILIH BACAAN😎
Riko terpaksa menikah dengan Rani akibat hutang yang tidak bisa dia bayar,melihat kesempatan itu Rani langsung memberikan sebuah kontrak pernikahan,dan riko terpaksa menyetujui kontrak pernikahan itu,karena dia terlilit hutang akibat perusahaannya bangkrut setelah kalah tender dengan perusahan milik Rani.
Baca saja klo mau tau cerita selanjutnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Masa Lalu yang Kelam dan Bayang-Bayang Kontrak
Kertas-kertas dokumen audit dari Pak Salim tersebar di atas meja kayu. Riko bersedekap, matanya menatap tajam barisan angka dan nama-nama perusahaan cangkang yang digunakan Hendra, Paman Broto, dan Haris tiga tahun lalu. Nafasnya teratur, namun rahangnya yang mengeras menunjukkan ada badai yang siap meledak di dalam kepalanya.
Rani berdiri, memperhatikan suaminya. Keheningan di antara mereka bukan lagi keheningan yang canggung, melainkan keheningan taktis milik dua pemimpin yang sedang menyusun strategi perang baru.
"Haris tidak mungkin bertahan di Jakarta tanpa perlindungan," Rani membuka suara, memecah kesunyian. Dia berjalan mendekat, melipat tangannya di dada dengan aura Alpha Woman yang kembali menyala"Hendra sudah di sel tahanan bersama dengan Paman Broto. Jika Haris pintar, dia pasti mencoba melarikan diri ke luar negeri sebelum pencekalan resminya keluar."
Riko mendongak, menatap Rani dengan tatapan elangnya yang tajam namun kini menyimpan binar respek yang mendalam. "Dia tidak akan bisa keluar dari Indonesia, Rani. Aku sudah meminta tim IT Pratama Corp yang tersisa untuk melacak manifes penerbangan dan pelabuhan tikus. Bajingan itu memegang kunci terakhir dari sisa asetku yang dijarah."
Riko berdiri, merapikan kemeja flanelnya. Tubuhnya yang tegap memancarkan aura intimidasi yang kuat. Meskipun statusnya masih menjadi suami kontrak yang utangnya disokong oleh Rani, otak bisnis dan insting predatornya tidak pernah tumpul. Dia bukan pria parasit yang berpangku tangan; dia adalah singa yang sedang mengumpulkan kekuatan untuk merebut kembali takhtanya.
"Aku harus bergerak hari ini, Rani. Aku sudah terlau lama berdiam diri,sementara pengkhianat itu berkeliaran," ujar Riko tegas.
Rani menatap suaminya lurus-lugas. Ada rasa cemas yang sempat melintas di matanya, namun dia menahannya dengan gengsi yang tinggi. "Jangan mati dulu, Tuan Riko. Ingat, kontrak kita masih berjalan satu bulan lagi. Utang-utangmu belum lunas sepenuhnya jika perusahanmu belum bangkit."
Riko terkekeh rendah, suara baritonnya terdengar seksi di telinga Rani. Dia melangkah mendekat, mengikis jarak di antara mereka hingga Rani bisa merasakan embusan napas Riko di keningnya.
"Tenang saja, Nyonya Rani," bisik Riko dengan nada menantang yang membuat jantung Rani berdesir. "Aku akan kembali dengan seluruh asetku, dan saat hari itu tiba, aku sendiri yang akan melunasi seluruh sisa 'harga diriku' yang kamu beli."
Rani mendongak, menatap mata Riko dengan tatapan menantang yang sama kuatnya. "Akan kutunggu hari itu tiba, Riko."
Ternyata mereka cukup lama mampir di kedai kopi,sore harinya, mereka akhirnya memutuskan untuk kembali melanjutkan perjalanan menuju Jakarta dan langsung menuju ke kediaman utama orang tua Rani untuk meluruskan kekacauan pasca-ledakan,dan memberi tahu kepada keluarga besarnya bahwa dia dan suaminya masih hidup.
Suasana di ruang tamu mewah kediaman keluarga Rani terasa sangat tegang. Ibu Rani duduk di sofa dengan wajah pucat pasi, menggenggam sapu tangan dengan tangan yang gemetar. Wanita paruh baya yang biasanya selalu bersikap angkuh dan memuja-muja Hendra Wijaya itu kini tampak kehilangan seluruh energinya. Berita di televisi yang menyiarkan Hendra sebagai otak terorisme korporat benar-benar menampar wajahnya.
Sementara itu, Ayah Rani duduk di kursi utamanya, wajahnya tegas dan terlihat sangat kecewa dengan situasi yang terjadi.
Begitu Riko dan Rani melangkah masuk, Ibu Rani langsung berdiri. Matanya tertuju pada Riko dengan pandangan yang campur aduk—antara malu, bersalah, dan tak percaya bahwa pria bangkrut yang dulu dia remehkan justru menjadi penyelamat putrinya dari ledakan bom Hendra.
"Rani... Riko... ibu senang ternyata selama ini kalian selamat" suara Ibu Rani bergetar, kehilangan nada ketus yang biasanya selalu dia gunakan.
Rani duduk di hadapan ibunya dengan punggung tegak, memancarkan wibawa seorang CEO yang tidak bisa diganggu gugat. "Kami baik-baik saja, Bu.kami sengaja bersembunyi.Hendra sudah ditahan, dan Wijaya Group sudah hancur total. Kurasa Ibu tidak perlu lagi memikirkan rencana perjodohan konyol itu."
Ibu Rani menelan ludah, wajahnya memerah menahan malu. Dia melirik Riko yang berdiri tegap di samping sofa Rani, seperti benteng pertahanan yang tak tergoyahkan. "Riko... Ibu... Ibu minta maaf karena selama ini salah menilai Hendra. Ibu tidak tahu kalau dia sekejam itu."
Riko hanya mengangguk datar, tidak berniat memperpanjang basa-basi. "Yang lalu biarlah berlalu, Bu. Fokus kita sekarang adalah membersihkan sisa-sisa kekacauan di Rani Group akibat ulah Paman Broto."
Ayah Rani tersenyum tipis, ada rasa bangga yang tersirat melihat ketegasan Riko. "Riko benar. Dan untukmu, Riko... Papa mendengar pergerakanmu untuk membangkitkan kembali Pratama Corp. Jika kamu butuh suntikan dana atau jaringan—"
Ternyata selama ini rani dan riko tdk sepenuhnya bersembunyi,perusahan mereka tetap berjalan karena mereka masih memiliki karyawan yang sangat setia kepada mereka ber²
"Terima kasih, Pa," potong Riko dengan sopan namun tegas, menunjukkan harga dirinya yang tinggi. "Tapi saya akan membangkitkan Pratama Corp dengan kaki saya sendiri. Bukti audit yang saya miliki sudah cukup untuk menyeret sisa pengkhianat dan merebut kembali apa yang menjadi hak saya."
Pertemuan sore itu ditutup dengan kemenangan mental bagi Riko dan Rani. Namun, ingatan tentang perjodohan dan pengkhianatan tiba-tiba menarik benak Rani jauh ke belakang, ke sebuah memori kelam yang selama ini dia kubur rapat-rapat.
Flashback – Empat Tahun Lalu
Hujan deras mengguyur Jakarta malam itu. Rani, yang saat itu baru saja mulai merintis kariernya di bawah bayang-bayang nama besar sang ayah, berdiri dengan gaun malam yang indah di sebuah restoran mewah. Malam itu seharusnya menjadi malam pertunangannya dengan Aris, pria yang sudah menemaninya sejak masa kuliah.
Aris adalah sosok pria metroseksual yang ambisius, bermulut manis, dan selalu tahu cara mengambil hati kedua orang tua Rani—terutama ibunya. Rani benar-benar mencintainya saat itu, menyerahkan seluruh kepercayaannya pada pria yang dia pikir akan menjadi pelabuhan terakhirnya.
Namun, malam pertunangan itu berubah menjadi mimpi buruk. Aris datang terlambat, bukan dengan kotak cincin, melainkan dengan dokumen pembatalan sepihak dan koper di tangannya.
"Maaf, Rani. Aku tidak bisa melanjutkan ini," ucap Aris dingin, tanpa ada rasa bersalah sedikit pun di matanya. "Aku mendapatkan tawaran suntikan modal besar dan ekspansi bisnis dari investor di Eropa. Tapi syaratnya... aku harus menikahi putri tunggal dari pemilik modal tersebut."
Rani terpaku, dadanya terasa sesak seolah dihantam godam besar. "Aris... kamu mencampakkanku demi saham dan investasi?"
Aris tersenyum sinis, merapikan kerah jasnya. "Ini bisnis, Rani. Di dunia kita, cinta tidak bisa menaikkan valuasi perusahaan. Kamu terlalu tangguh, terlalu dominan sebagai wanita. Menikahimu hanya akan membuatku berada di bawah bayang-bayang nama besar keluargamu. Aku butuh batu loncatan yang lebih tinggi."
Hari itu, Aris pergi meninggalkan Rani yang hancur di tengah badai hujan. Sejak detik itulah, hati Rani membeku. Dia bersumpah tidak akan pernah membiarkan pria mana pun menginjak-injak harga dirinya lagi. Dia membangun dinding ego yang sangat tebal, mengubah dirinya menjadi Alpha Woman yang kejam di dunia bisnis, dan memandang semua hubungan pria-wanita hanya sebatas transaksi dan kontrak.
Garis Waktu Sekarang (Present Day)
Malam harinya, di sebuah apartemen griya tawang (penthouse) mewah di sudut kota Jakarta.
Seorang pria dengan setelan jas rapi memutar-mutar gelas wiski di tangannya, menatap pemandangan lampu kota dari balik dinding kaca. Wajahnya yang tampan kini terlihat lebih matang, namun sorot matanya tetap sama seperti empat tahun lalu: penuh ambisi dan kelicikan. Dialah Aris. Dia telah kembali dari Eropa setelah bisnisnya di sana stabil, dan kini mengincar pasar Jakarta—termasuk merebut kembali apa yang dia anggap "haknya", yaitu Rani Group.
Di atas meja kaca di hadapannya, berserakan beberapa lembar kertas foto kopi dokumen rahasia. Lembar pertama bertuliskan judul yang sangat mencolok: DOKUMEN PERJANJIAN PERNIKAHAN KONTRAK. Di bawahnya, tertera tanda tangan basah milik Rani Group dan Riko Pratama.
Rupanya, sebelum Paman Broto ditangkap oleh polisi, dia sempat menyalin dokumen rahasia tersebut dari brankas kerja Rani dan menjualnya kepada Aris dengan harga fantastis demi mendapatkan dana pelarian.
Aris menyesap wiskinya, senyuman iblis terukir di bibirnya.
"Jadi... pernikahan hebat yang diagung-agungkan media itu hanya sebuah sandiwara murah untuk menghindari perjodohan Hendra?" Aris tertawa sinis, jemarinya mengetuk-ngetuk lembar dokumen kontrak tersebut. "Rani, Rani... kamu tidak pernah berubah. Masih saja menggunakan kontrak untuk melindungi egomu yang rapuh."
Aris meletakkan gelasnya dengan denting yang tajam, matanya berkilat penuh dendam saat melihat nama Riko Pratama di dokumen itu. "Dan si pria parasit... dia pikir dia bisa menggantikan posisiku? Dia hanya tameng sewaan."
Aris mengambil ponselnya, menghubungi nomor seseorang dengan nada memerintah. "Siapkan konferensi pers besok pagi. Dan kirimkan salinan dokumen ini ke media gosip terbesar serta ke meja kerja dewan komisaris Rani Group secara anonim. Kita lihat, seberapa kuat mantan kekasihku itu bertahan saat seluruh dunia tahu bahwa pernikahannya adalah palsu. Dan aku ingin lihat, bagaimana reaksi si elang bangkrut itu saat tahu sandiwara yang dia buat bersama rani akan terbongkar...
Terimakasih untuk kalian yang mau mampir di karya kecil ini🙏
jangan lupa like,hadiah juga jgn lupa🤣🤣😄😄