Bau kemenyan menyengat hidung Raka jam 12 malam pas. Bukan dari kamar bapak nya yang udah kosong 40 hari. Dari punggung nya sendiri. Pekat, anyir, kayak kemenyan di campur darah basi.
"Arghh!" Raka jatuh dari kasur, sprei putih nya ketarik. Punggung nya serasa di sayat silet panas dari tulang ekor sampe tengkuk. Keringet dingin langsung mengucur segede jagung.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvian Adi Pratamaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 Tumbal Pertama
Pisau karatan itu berhenti satu jengkal dari leher bocah.
Bukan Raka yang nahan. Tangannya ditahan Khodam Macan Putih yang tiba-tiba nongol di sampingnya. Cakarnya segede tampah nyekel pergelangan Raka.
"Goblok lu ya!" Khodam Macan ngamuk, suaranya ngebas sampe daun kamboja rontok. "Tumbal kok anak ingusan! Nggak berdosa emang, tapi nggak ada ilmunya! Rajah gue muntah kalo makan bocah!"
Bocah itu malah ketawa ngik, "Kakek Macan marah-marah mulu ah. Kayak di tipi."
Raka lemes. Pisonya jatuh. _Klang_. Dia jatuh dengkul, napas ngos-ngosan. Barusan dia hampir bunuh anak kecil. Gara-gara rajah sialan ini.
Mbah Wiryo yang tangannya masih nancep di tanah ngamuk, "WOY MACAN SIALAN! NGAPAIN LU HALANGIN?! GUE LAPER! UDAH 40 HARI NGGAK MAKAN! BAPAKNYA INGET JANJI KASIH DARAH PERAWAN TIAP MALAM JUMAT!"
Jadi bener. Bapaknya dukun. Bapaknya ngasih tumbal.
"Bapak gue nggak pernah bunuh orang!" Raka teriak, air mata campur darah. "Dia tukang AC! Sholatnya rajin!"
"SHOLAT?!" Mbah Wiryo ketawa sampe tanah kuburan muncrat dari mulutnya. "Dia sholat sambil ngitung berapa perawan udah dia tumbalin! 50 TAHUN RAJAH GHAIB DIKASIH MAKAN DARAH! SEKARANG GILIRAN LU!"
Mbah Wiryo narik kakinya lebih kenceng. Raka keseret sampe muka nyium tanah.
"Tumbal harus punya ilmu," Khodam Macan jelasin sambil nyakar Mbah Wiryo. Cakarnya nembus tanah, darah item nyembur. "Dukun, santet, indigo, paranormal. Yang nyawanya berat. Baru Rajah kenyang. Bocah ini nyawanya enteng, kayak kapas. Dimakan juga percuma."
Raka ngerti. Pantes bapaknya nyari dia. Dia bisa liat setan dari kecil. Nyawanya "berat".
"Terus gue harus bunuh siapa?!" Raka teriak frustasi. "Gue nggak kenal dukun!"
"Salah. Lu kenal," 7 suara bareng di kepalanya. "Penjaga ke-2 di depan lu. Mbah Wiryo. Dia dukun. Ilmunya item. Tumbalin dia."
Mata Raka ngelirik Mbah Wiryo yang setengah badan masih di dalem tanah. Kepala botak, mata merah, ngunyah belatung.
"Gue? Bunuh Mbah Wiryo?"
"Dia udah mati 7 hari lalu," Khodam Genderuwo nyeletuk. Suaranya kayak batu. "Yang di depan lu itu arwahnya. Gentayangan karena perjanjian sama Rajah belum kelar. Kalo lu nggak tumbalin dia, dia yang tumbalin lu."
Pilihan: Bunuh arwah dukun, atau mati dimakan rajah sendiri.
Raka ngambil pisau karatan lagi. Tangannya masih gemeter. Tapi kali ini bukan takut. Marah. Ke bapaknya yang bohong. Ke Mbah Wiryo yang mau bunuh dia. Ke Rajah yang nempel di punggungnya.
Dia jalan ke arah Mbah Wiryo. Bocah 5 tahun itu udah ilang. Tipuan. Dari awal nggak ada bocah. Cuma ilusi Mbah Wiryo biar Raka ngerasa bersalah terus nurut.
"Cerdas juga lu," Mbah Wiryo nyengir. Tanah kuburan belepotan di giginya. "Tapi telat. Mbah udah manggil bala bantuan."
Dari 7 penjuru kuburan, tanah mbleduk. _BLUK! BLUK! BLUK!_ 7 pocong loncat keluar. Kafannya sobek, matanya item, giginya nonjol. Baunya busuk banget.
"Ini tumbal-tumbal gue dulu," Mbah Wiryo ketawa. "Perawan semua. Mayatnya gue pendem di sini. Sekarang bangkit buat jagain Mbah."
Raka dikepung 7 pocong + Mbah Wiryo + Khodam Genderuwo. 9 lawan 1.
Rajah Ghaib di punggungnya nyala MERAH DARAH. Panasnya udah kayak api. Tapi anehnya, Raka nggak kesakitan. Justru tenaganya balik. Matanya bisa liat benang-benang item yang nyambung dari Mbah Wiryo ke 7 pocong itu. Benang santet. Kontrol.
"Putusin benangnya," bisik Khodam Macan. "Pake darah lu."
Raka nggak mikir panjang. Dia sayat lagi telapak tangan yang udah luka. Lebih dalem. Darah ngocor deras.
Terus dia ngebasuh darah itu ke mata. Perih. Kayak dicabein. Tapi pas dia melek lagi, dia bisa liat. Jelas banget. 7 benang item itu sumbernya dari JANTUNG Mbah Wiryo yang masih ketimbun tanah.
Tanpa aba-aba, Raka lari. Nrobos 7 pocong yang nyakar-nyakar. Dia jatuh, bangun lagi. Bajunya sobek, punggungnya kecakar. Tapi dia sampe.
Dia jongkok di depan dada Mbah Wiryo yang ketimbun. Piso karatan dia angkat tinggi-tinggi.
"Mati lu, Tua Bangkai!"
JLEB!
Pisonya nancep tembus tanah, tembus kulit busuk, tembus tulang rusuk, langsung ke jantung Mbah Wiryo yang udah item gosong.
"ARGHHHHHHH!!!" Mbah Wiryo jerit. Jeritannya bikin 7 pocong langsung kebakar jadi abu. Benang item putus semua.
Dari lubang bekas pisaunya, keluar asap item pekat. Bau busuknya 100x lipat. Asap itu muter-muter terus kesedot... ke punggung Raka. Masuk ke Rajah Ghaib.
Rasa panas di punggung Raka ilang seketika. Diganti rasa kenyang. Adem. Kayak abis makan sate 50 tusuk.
Di punggungnya, 1 dari 7 mata Macan di Rajah itu... MELEK. Nyala kuning. Sisanya 6 masih merem.
"1 tumbal masuk," 7 suara kompak di kepala Raka. "Sisa 6. Waktu lu tinggal 13 hari."
Mbah Wiryo udah nggak gerak. Badannya jadi abu, ketiup angin malem. Tinggal nisan marmer item doang.
Raka jatuh terduduk. Napasnya ngos-ngosan. Tangannya penuh darah, darah sendiri sama darah item Mbah Wiryo. Dia baru aja... ngebunuh. Ngebunuh arwah dukun.
"Tahu nggak bedanya lu sama bapak lu?" Khodam Macan jongkok di sebelahnya. "Bapak lu ngebunuh perawan nggak bersalah buat tumbal. Lu ngebunuh dukun yang mau ngebunuh lu. Rajah gue lebih suka cara lu. Darahnya lebih gurih."
Raka nggak jawab. Dia liat ke langit. Bulan sabit. 13 hari lagi purnama.
Dia harus bunuh 6 dukun lagi. Atau mati.
Dari saku jubah Mbah Wiryo yang jadi abu, ada benda jatuh. _Ting_. Raka pungut. JIMAT. Kayu jati, ukirannya kepala Genderuwo. Di belakangnya ada tulisan: "Penjaga ke-3 - Ki Broto - Pasar Malam Ngalam."
Alamat Penjaga selanjutnya. Dukun Pasar Malam.
Raka ngepal jimat itu. "Gue nggak mau jadi kayak bapak gue. Tapi kalo harus milih gue mati apa mereka mati... mending mereka aja."
Di punggungnya, 1 mata Macan yang udah melek itu kedip. Kayak setuju.
Dari saku jubah Mbah Wiryo yang jadi abu, ada benda jatuh. _Ting_. Bening, kecil. Raka pungut pake tangan gemeter yang masih belepotan darah item.
JIMAT. Kayu jati, ukirannya kepala Genderuwo melotot, taringnya nonjol. Bau kemenyan apek kecium dari kayunya. Di belakang jimat, ada tulisan dicukil pake kuku: "Penjaga ke-3 - Ki Broto - Pasar Malam Ngalam. Belakang Stand Komidi Putar."
Alamat dukun selanjutnya. Target tumbal kedua.
Raka ngepal jimat itu kenceng sampe kayunya nancep ke telapak tangan. Sakit. Tapi sakitnya nggak seberapa dibanding panas di punggungnya. Rajah Ghaib masih nyala. Mata Macan yang pertama udah melek, kuningnya nyala kayak lampu motor di kuburan. 6 mata lain masih merem, tapi udah kedip-kedip. Laper.
"Gue nggak mau jadi kayak bapak gue," Raka bisik ke jimat itu, suaranya serak. "Bapak gue numbalin perawan. Gue nggak akan bunuh orang nggak bersalah. Tapi..."
Dia noleh ke nisan marmer Mbah Wiryo yang udah kosong. Angin malem niup abu terakhir, bau busuknya masih nempel di idung.
"Tapi kalo harus milih gue mati apa mereka mati... mending mereka aja."
Kayak denger sumpahnya, 1 mata Macan di punggung Raka kedip sekali. Cepet. Setuju.
Tiba-tiba HP di saku celana Raka geter. _Drrt... drrt..._
Dia ngambil HP. Layarnya retak gara-gara jatuh pas gelut tadi. Ada 1 chat masuk dari nomor nggak dikenal lagi. Nomor yang sama kayak yang neror dia pas Rajah bangkit: +62 8xx-xxxx-xxx1.
Isinya: "Selamat ya, Rak. Tumbal pertama udah masuk. Enak kan rasanya? Darah dukun lebih seger dari darah perawan. Sisa 6 lagi. Cepetan. Ki Broto udah nungguin lu di Pasar Malam. Jangan sampe dia nyamperin lu duluan. Dia doyan makan jantung anak muda."
Darah Raka desir. Siapa yang ngirim? Kok dia tau semua? Kok dia tau Raka udah bunuh Mbah Wiryo?
Raka mau bales, tapi chat itu ilang. Bukan dihapus. Tapi LUMER. Kayak tinta kecipratan air. Layar HP-nya balik normal, nggak ada jejak chat.
"Setan," Raka ngumpat. Dia masukin HP ke saku. Badannya pegel semua. Tulangnya kayak mau rontok. Luka sayatan di tangan kirinya masih ngucur darah, netes ke tanah kuburan. _Tes... tes..._
Dia jalan sempoyongan keluar TPU Kembang Kuning. Motornya masih parkir di luar gerbang. Sepi. Cuma ada suara jangkrik sama klakson mobil jauh.
Pas mau naikin motor, kaki Raka nendang sesuatu. _Klang_.
Kaleng bekas. Tapi di dalem kaleng, ada foto. Foto 3x4, lusuh, pinggirannya gosong. Foto 8 orang berjubah item. Sama kayak foto di dompet bapaknya. 8 Penjaga Rajah.
Bedanya, di foto ini, muka 1 orang dicoret pake tinta merah. Dicoret silang gede. Muka kakek-kakek yang matanya belo, pake tongkat ular kobra. Orang yang sama kayak di foto bapaknya.
Di belakang foto, ada tulisan pake darah yang udah coklat: "AWAS PENGKHIANAT. DIA UDAH BUNUH 2 PENJAGA. SEKARANG INCER RAJAH."
Tangan Raka tambah dingin. Jadi dari 8 Penjaga, udah 3 yang mati. Bapaknya, Mbah Wiryo barusan, sama 1 lagi yang nggak tau siapa. Sisa 5. Dan 1 dari 5 itu pengkhianat.
Yang mana? Ki Broto? Nyi Roro? Atau 3 lagi yang belum ketemu?
Pertanyaan itu muter di kepala Raka sepanjang jalan pulang. Motornya dia bawa pelan, takut nabrak. Punggungnya panas-dingin. Sekali panas kayak kebakar, sekali dingin kayak es. Rajah Ghaib lagi nyerna tumbal Mbah Wiryo.
Sampe rumah, jam 3 pagi. Raka langsung ke kamar mandi. Dia buka baju, ngaca. Rajah di punggungnya udah beda. Garis-garisnya makin tegas. Warna merahnya makin pekat. Dan 1 mata Macan yang melek itu... sekarang kayak ngikutin gerak Raka. Raka noleh kiri, matanya ikut kiri. Raka kedip, matanya ikut kedip.
Kayak Rajah itu idup. Punya nyawa sendiri.
Raka mandi air anget. Luka di tangannya perih kena sabun. Tapi anehnya, luka sayatannya nutup cepet. Kayak ada yang ngejahit dari dalem. Darahnya berhenti. Tinggal bekas garis putih.
"Efek tumbal pertama," bisik Khodam Macan di kepalanya. Suaranya sekarang lebih jelas, kayak ngomong di sebelah kuping. "Makin banyak lu kasih makan, makin kuat lu. Lukanya cepet sembuh. Tenaganya nambah. Tapi... makin susah juga ngelepasnya."
Maksudnya? Ngelepas apa?
Raka nggak nanya. Dia capek. Capek fisik, capek mental. Dia rebahan di kasur, masih basah, nggak pake baju. Matanya merem.
Sebelum tidur, dia sempet liat jam di HP. Pukul 03.33.
Sisa waktu: 12 hari, 20 jam, 27 menit.
Di mimpinya malem itu, Raka ketemu bapaknya. Di tengah pasar malam yang sepi. Bapaknya pake kaos oblong sama sarung, kayak pas masih idup. Senyum.
"Maafin bapak, Nak," kata bapaknya. "Bapak terpaksa. Kalo bapak nggak nerusin, Rajah bakal nyari lu juga. Cepet atau lambat."
"Terus bapak harus ngebunuh orang?" Raka teriak di mimpi. "Harus numbalin perawan?"
Bapaknya diem. Mukanya sedih. "Ada yang lebih jahat dari bapak, Rak. Dia yang maksa bapak. Dia yang bunuh 2 Penjaga lain. Dia mau Rajah buat bangkitin..."
Bapaknya belum selesai ngomong, tiba-tiba dari belakang ada pisau nancep di punggung bapaknya. JLEB! Tembus ke jantung.
Bapaknya jatuh. Di belakangnya berdiri cewek. Cantik, rambut panjang, pake kebaya merah. Senyumnya manis. Tapi matanya... item semua. Nggak ada putihnya. Di tangannya ada keris berlumuran darah.
Raka kebangun. Keringet dingin. Jam 6 pagi. Subuh.
Di punggungnya, Rajah Ghaib panas lagi. 2 mata Macan — yang sat
u udah melek dari tadi, yang satu lagi setengah melek — melotot ke arah jendela.
Kayak ngasih tau: cewek di mimpi itu nyata. Dan dia Penjaga ke-7. Otak dari semua ini.