NovelToon NovelToon
Rahasia Kakak Ipar

Rahasia Kakak Ipar

Status: tamat
Genre:One Night Stand / CEO / Hamil di luar nikah / Cinta Terlarang / Cinta Seiring Waktu / Konflik etika / Tamat
Popularitas:1.5M
Nilai: 5
Nama Author: Mommy Ghina

Satu malam yang kelam … mengubah segalanya.

Lidya Calista, 23 tahun, gadis polos, yang selama ini hanya bisa mengagumi pria yang mustahil dimilikinya—Arjuna Adiwongso, 32 tahun, suami dari kakaknya sendiri, sekaligus bos di kantornya—tak pernah membayangkan hidupnya akan hancur dalam sekejap. Sebuah jebakan licik dalam permainan bisnis menyeretnya ke ranjang yang salah, merenggut kehormatannya, dan meninggalkan luka yang tak bisa ia sembuhkan.

Arjuna Adiwongso, lelaki berkuasa yang terbiasa mengendalikan segalanya. Ia meminta adik iparnya untuk menyimpan rahasia satu malam, demi rumah tangganya dengan Eliza—kakaknya Lidya. Bahkan, ia memberikan sejumlah uang tutup mulut. Tanpa Arjuna sadari, hati Lidya semakin sakit, walau ia tidak akan pernah minta pertanggung jawaban pada kakak iparnya.

Akhirnya, gadis itu memilih untuk berhenti kerja, dan menjauh pergi dari keluarga, demi menjaga dirinya sendiri. Namun, siapa sangka kepergiannya membawa rahasia besar milik kakak iparnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24. Sudah Punya Pacar?

Slide pertama menampilkan grafik biru muda, menanjak tajam.

“Selama periode Januari hingga Desember tahun ini,” ujarnya, suaranya tenang namun berwibawa, “kita berhasil meningkatkan laba bersih sebesar tiga puluh persen dibanding tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini didorong oleh efisiensi biaya operasional, serta perluasan jaringan distribusi di wilayah Jawa Tengah dan Bali.”

Tepuk tangan kecil terdengar dari beberapa direksi.

Papa Chandra tersenyum puas. “Bagus sekali, Arjun. Kinerja yang sangat mengesankan. Kamu membuktikan kalau darah bisnis keluarga ini memang mengalir kuat.”

Arjuna membungkuk sedikit. “Terima kasih, Pa. Tapi ini hasil kerja tim, bukan saya sendiri.”

Lidya mengetik kalimat itu di notulen, berusaha fokus, meski sesekali matanya terpancing untuk menatap ke depan.

Dan di satu momen yang tak terhindarkan — mata mereka bertemu.

Hanya satu detik. Tapi waktu terasa berhenti.

Tatapan Arjuna menembus seakan mencari sesuatu dalam dirinya yang dulu sempat hilang. Namun secepat itu pula, pria itu mengalihkan pandangan, kembali menatap layar dan berbicara datar seolah tak terjadi apa-apa.

Lidya menunduk cepat, menyembunyikan degup yang mulai tak teratur.

“Profesional, Lid,” bisiknya dalam hati. “Jangan campur urusan pribadi.”

Slide demi slide berganti. Suara Arjuna stabil, kalimatnya jelas, dan para direksi tampak terpesona oleh strategi dan hasil yang ia paparkan. Lidya tetap mengetik, mencatat, sesekali menghela napas panjang ketika bayangan masa lalu tiba-tiba menyelinap di sela-sela presentasi itu.

Hingga akhirnya, di akhir laporan, Arjuna menekan pointer terakhir.

“Dan saya ingin mengajukan satu hal tambahan,” ujarnya. “Bonus akhir tahun untuk seluruh karyawan, termasuk staf kontrak dan magang. Saya ingin apresiasi kita terasa nyata.”

Papa Chandra tersenyum lebar. “Saya setuju. Perusahaan sedang sehat. Tidak ada alasan untuk menunda apresiasi seperti itu.”

Beberapa direksi bertepuk tangan, beberapa lainnya mengangguk antusias. Raffi menunduk memberi hormat kecil.

“Baik, Bapak. Keputusan dicatat,” katanya.

Lidya menulis cepat, mencatat setiap kata yang keluar dari mulut sang komisaris utama. Tapi tak ada sedikit pun rasa lega di dadanya. Ia hanya bisa menatap layar laptop, menyembunyikan getir di balik senyum tipis yang tak pernah sampai ke mata.

Sementara semua orang tampak bahagia—ia justru merasa kosong.

Ketika Arjuna mengumumkan juga soal family gathering dalam waktu dekat, semua orang bersorak pelan. Tawa dan obrolan ringan mulai terdengar. Tapi Lidya tetap tenang di kursinya. Senyum profesional di wajahnya tak berubah, meski di dalam, hatinya terasa seperti disayat perlahan.

***

Pukul 12.30 wib. Rapat resmi ditutup.

Arjuna bersalaman dengan direksi satu per satu, sementara Lidya mengumpulkan dokumen dan mematikan laptopnya. Ia sempat berbisik pada Raffi, “Mas, reservasi makan siang untuk Bapak dan Ibu Adiwongso sudah aku konfirmasi. Restoran La Veranda di Hotel Grand Aruna, jam satu siang.”

Raffi mengangguk. “Oke, makasih, Mbak Lidya. Nanti aku temenin mereka ke sana.”

Lidya tersenyum sopan, bersiap menuju kantin. Tapi baru beberapa langkah, suara lembut memanggil dari belakang.

“Lidya.”

Ia menoleh. Mama Hanum mendekat, dengan senyum ramah. “Kamu ikut makan bareng kami, ya?”

Lidya tertegun. “Ah, nggak usah, Tante. Saya udah pesan makan siang di kantin.”

“Nggak boleh nolak,” Mama Hanum menepuk lengannya. “Udah lama kita nggak ngobrol. Lagian, kamu kan bagian dari keluarga besar Tante juga.”

Lidya menelan ludah. Ia menatap sekilas ke arah Arjuna yang berdiri di dekat pintu. Pria itu sama sekali tak menatap ke arahnya, hanya sibuk menutup laptop dan berbicara pada ayahnya. Dingin. Jauh.

Namun ketika Mama Hanum menggenggam tangannya lembut, Lidya tak tega menolak. “Baik, Tante. Saya ikut.”

***

Restoran La Veranda – Hotel Grand Aruna

Langit siang mulai cerah setelah sempat mendung ketika mobil hitam berhenti di depan hotel bintang lima itu. Aroma bunga segar menyambut di lobi, dan suara musik piano lembut terdengar samar dari restoran yang berada di lantai dua.

Meja mereka sudah disiapkan di sudut ruangan dengan pemandangan kota Jakarta dari kaca besar. Cahaya matahari siang menembus lembut, menciptakan suasana hangat namun formal.

Arjuna duduk di samping Papa Chandra, sementara Mama Hanum di seberang mereka. Lidya duduk di sisi Mama Hanum, menunduk sopan, berusaha menyesuaikan diri.

 

Pelayan datang membawa buku menu, dan Mama Hanum tersenyum hangat. “Lidya, kamu pesan aja yang kamu suka, ya. Jangan sungkan.”

“Terima kasih, Tante.” Lidya mengambil menu, meski pandangannya kabur oleh gugup yang ia sembunyikan di balik senyum tenang.

Arjuna membuka menu tanpa bicara, sementara Papa Chandra sudah memilih steak medium rare kesukaannya.

“Arjun, kamu juga pesan yang sama, kan?” tanya sang ayah.

Arjuna mengangguk pelan. “Iya, Pa.”

Tak lama, makanan datang—steak daging sapi premium, salad segar, dan jus buah tropis berwarna cerah.

Percakapan di meja berjalan ringan, dengan Mama Hanum yang sesekali melontarkan pertanyaan hangat.

“Lidya, kamu jangan capek-capek, ya. Takut kamu ngedrop.”

Lidya tersenyum kecil. “Iya, Tante. Makasih, Tante udah perhatian.”

Mama Hanum tersenyum manis. “Kamu tuh anak baik. Tante sampai mikir, kenapa sih belum punya pacar? Cantik, pinter, kerja di perusahaan besar. Masa belum ada yang deketin?”

Lidya sempat terdiam. Pertanyaan itu seperti petir kecil di tengah ruang makan elegan itu. Dan, kata cantik yang dilontarkan oleh Mama Hanum jauh dari yang sesungguhnya. Badan ia agak gemuk, wajah biasa saja, bahkan pakai kacamata bulat karena minusnya lumayan tinggi. Tapi, kembali lagi setiap orang memiliki penilaian yang berbeda-beda.

Arjuna yang tengah memotong daging langsung berhenti. Gerakannya kaku.

Entah karena gugup atau refleks, Lidya menjawab cepat, “Udah, Tante. Saya … saya udah punya.” Spontan ia berkata dusta.

Pisau di tangan Arjuna berhenti di udara. Napasnya tertahan. Ia menatap Lidya dengan tatapan tajam, nyaris menusuk.

“Wah, masa sih?” Mama Hanum tersenyum lebar, tidak sadar ketegangan di antara keduanya. “Siapa, Lid? Orang kantor juga?”

Lidya tersenyum kikuk. “E … bukan, Tante. Orang luar kantor.”

Papa Chandra ikut tertawa kecil. “Bagus dong. Nanti kalau sudah serius, kabari kami. Biar sekalian kami kenalan.”

Arjuna meneguk minumannya dengan cepat. Suara gelasnya beradu dengan meja, pelan tapi cukup membuat Lidya menunduk.

Ia bisa merasakan sorot mata Arjuna tak lepas darinya selama beberapa detik — tajam, dingin, tapi ada bara tersembunyi di sana. Entah kenapa, jantungnya berdetak makin cepat.

Suasana yang tadinya hangat perlahan berubah canggung. Mama Hanum tampak tidak menyadarinya, terus berbicara ceria tentang rencana liburan keluarga di Bali. Tapi Lidya hanya menjawab sekadarnya, berusaha menenangkan diri.

Bersambung .... 💔

1
Rusmini Mini
hukum Si Juned dulu mom
Rusmini Mini
mengapa semua jd serba salah Lidya Yg salah
Rusmini Mini
nervous gak sih dr td Lidya
Rusmini Mini
mending pindah kerja aja Lydia gak nyaman kerja yg agak jauh
Rusmini Mini
ingat 2M lydia sdh di trima jd seolah gak kenal sesuai kesepakatan kemarin
Rusmini Mini
kalo dpt 2M bwt apa ya 🤔🤔🤔
si Juned kamu di omongin tuh panas gak tu kuping ... 🤭🤭
Yuyu
/CoolGuy/
Rusmini Mini
ternyata sifat Eliza begitu selain childfree dia egois bin selfish ngeri ngeri ...nasibe Juned 🤭🤭
Rusmini Mini
gitu mom... emang kdg ada beberapa yg " agak menjenuhkan " tp yg muji banyak anehkan tp utk mom Ghina gak ya ampe ada negor baru ngeh 🙏🙏🤭🤭
Rusmini Mini
tuh saking sayang diam diam Juned rela ngabisin waktu di rmh sakit demi apa coba ....
Rusmini Mini
jgn tf juned entar tuman Eliza nya
Rusmini Mini
adiknyA sakit bukannya prihatin mlh bingung soal tas sebenarnya kamu kakK y gK sih
Rusmini Mini
infeksi... ??apa infeksi benda tumpul nya si Juned ya 🤭🤭🤭
Rusmini Mini
gak papa mom itu dah cukup mewakili pd lumayan cakep /Grin//Grin//Grin/
Rusmini Mini
hatimu kosong
Rusmini Mini
di tanya begitu pasti diem dan bingung dasar Juned.....🤭🤭
Rusmini Mini
Juned sebenarnya apa yg kamu rasakan penyesalan apa kenikmatan 😟
Rusmini Mini
hei Juned kemarin kamu melarang Lydia utk tdk mengingat kejadian itu tp kamu yg sering melanggar sendiri...
Rusmini Mini
tp yg di rasakan Juned rasa ketagihan pd Lydia... lah ikutan panggil Juned 😂😂😂😂
Rusmini Mini
doi lg bingung dgn rasa bersalah ...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!