Malam itu, di balik rimbun ilalang takdir seorang gadis muda yang baru saja lulus sekolah menengah atas itu berubah selamanya. Seorang wanita sekarat menitipkan seorang bayi padanya, membawanya ke dalam pusaran dunia yang penuh bahaya.
Di sisi lain, Arkana Xavier Dimitri, pewaris dingin keluarga mafia, kembali ke Indonesia untuk membalas dendam atas kematian Kakaknya dan mencari sang keponakan yang hilang saat tragedi penyerangan itu.
Dan kedua orang tua Alexei yang di nyatakan sudah tiada dalam serangan brutal itu, ternyata reinkarnasi ke dalam tubuh kucing.
Dua dunia bertabrakan, mengungkap rahasia kelam yang mengancam nyawa Baby Alexei
Bisakah Cintya dan Arkana bersatu untuk melindungi Alexei, ataukah takdir akan memisahkan mereka selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Mentari pagi menyelinap masuk melalui celah-celah jendela rumah persembunyian. Cahayanya yang hangat menyentuh wajah Baby Al yang masih terlelap di kasur. Cintya mengamati wajah polos itu dengan senyum lembut. Sejak enam bulan lalu, hidupnya berubah drastis. Ia yang dulunya hanya seorang karyawan cafe biasa, kini harus menjadi ibu pengganti dan pelindung bagi seorang bayi yang tidak bersalah.
"Hari ini harus jadi ibu super lagi! Siap-siap ganti popok, bikin bubur, dan ngadepin segala macam drama ala ibu-ibu rempong!" batin Cintya menyemangati diri sendiri.
Ia beranjak dari kasur dan menuju ke dapur minimalis yang berada di sudut ruangan. Ia membuka lemari es yang sudah mulai kosong dan menghela napas. "Duh, persediaan makanan udah mulai menipis. Besok harus keluar buat belanja."
Tiba-tiba, ia merasakan sesuatu menggesek kakinya. Ia menunduk dan melihat Pus, menatapnya dengan tatapan lapar.
"Oh, iya, Pus! Aku lupa! Kamu juga butuh sarapan!" ucap Cintya sambil mengelus kepala kucing itu. Ia membuka lemari es, tapi bukan mencari makanan kucing. Ia malah mengambil sepotong ayam goreng sisa semalam.
"Aneh banget ini kucing. Dikasih whiskas malah ogah, giliran ayam goreng langsung semangat 45!" batin Cintya heran.
Ia meletakkan potongan ayam itu di atas piring dan memberikannya kepada si Kucing. Si Kucing langsung melahap ayam goreng itu dengan lahap, seolah sudah lama tidak makan.
Sambil menunggu Baby Al bangun, Cintya mulai menyiapkan sarapan sederhana. Ia membuat sarapan untuk Baby Al yang kini sudah menginjak 10 bulan, baby Al kini sudah tumbuh jadi anak yang cerdas dan mengenaskan tak lupa ia juga membuat roti panggang untuk dirinya sendiri. Ia juga menyeduh secangkir kopi untuk menghilangkan rasa kantuk.
Saat sedang asyik memotong roti, ia mendengar suara tangisan Baby Al dari dalam kamar. "Nah, itu dia alarm pagiku udah bunyi!" ucap Cintya sambil terkekeh ia sangat menikmati perannya sebagai seorang ibu buat baby Al.
Ia bergegas menuju ke kamar dan mendapati Baby Al sudah bangun dan merengek sambil duduk mengucek matanya. "Cup cup cup ... putra tampan Bunda kenapa nangis? Sini sama Bunda," ucap Cintya sambil mengangkat Baby Al ke gendongannya.
Ia gegas membawa Al ke kamar mandi, tak berapa lama mereka keluar, dengan wajah lebih segar, Al dengan lilitan handuk di tubuhnya menyisakan kepalanya saja terlihat sangat menggemaskan.
"Nah sekarang kita pakai popok dulu, terus pakai baju," gumam Cintya sambil terus memakai baju buat Al.
"Buda ... Buda!" oceh Al sambil menggerakkan tangan mungilnya ke arah wajah Cintya, Baby Al kini sudah mulai bisa menyebutkan beberapa kata sambil terkikik geli saat Cintya menggosokkan rambutnya ke perut Al.
"Duh, anak Bunda ganteng bangat ya! Tambah gemas Bunda!" ujar Cintya sambil mengelus pipi Al, ia tersenyum hangat pertumbuhan Al.
Setelah bercanda sebentar akhirnya Cintya membawa Al ke meja makan, Cintya dengan sabar dan cekatan menyuapi baby Al sarapan.
Setelah sarapan ia membawa Al ke taman belakang rumahnya, Ia duduk di ayunan sambil menggendong Baby Al dan memandang taman bunga yang indah di hadapannya. Pepohonan rindang, suara burung berkicau, dan udara segar menemani pagi mereka.
Namun, pikiran Cintya masih dipenuhi dengan kecemasan. Siapa sebenarnya Baby Al ini? Mengapa ia harus melarikan diri dan bersembunyi? Dan siapa kedua pemuda tampan yang mencarinya di mini market beberapa bulan lalu?
"Aku harus cari tahu semua ini, Pus," ucap Cintya pada kucing putih yang sedang menjilati remah-remah ayam goreng di dekatnya. "Aku nggak mau terus-terusan hidup dalam ketakutan."
Si Kucing Putih mengeong pelan, seolah mengerti apa yang diucapkan Cintya.
_______&&______
Arkana duduk di ruang kerjanya, menatap layar komputer dengan pandangan kosong. Berbagai informasi tentang Alexie terpampang di layar, namun tidak ada satu pun yang memberikan petunjuk tentang keberadaan keponakannya.
"Sial! Kenapa sulit sekali mencari anak sekecil itu?" gerutunya frustrasi. Sudah 10 bulan berlalu, tapi baby Al belum juga ketemu.
Devano masuk ke dalam ruangan dengan membawa dua cangkir kopi. Ia meletakkan salah satunya di depan Arkana dan duduk di kursi di hadapannya.
"Gimana, Ar? Ada perkembangan?" tanya Devano.
Arkana menggelengkan kepala. "Nggak ada. Semua jejak terputus di mini market itu."
Devano menghela napas. "Kita sudah periksa semua CCTV di sekitar sana, tapi nggak ada hasil. Wanita itu benar-benar menghilang."
Arkana memijat pelipisnya, merasa pusing. Ia sudah tidak tidur nyenyak selama ini. Pikirannya terus dipenuhi dengan kekhawatiran tentang Alexie.
"Kita coba cari tahu tentang wanita itu," ucap Arkana tiba-tiba. "Siapa dia? Apa hubungannya dengan Alexie?"
Devano mengangguk setuju. "Gue sudah suruh anggota kita untuk mencari informasi tentang wanita itu. Mudah-mudahan ada hasilnya mengingat wanita itu selalu tampil tertutup sulit mengenali wajahnya."
Mereka berdua terdiam sejenak, tenggelam dalam pikiran masing-masing.
"Ar," ucap Devano tiba-tiba, "gue punya ide."
Arkana mengangkat alisnya. "Ide apa?"
"Kita sebarkan berita tentang hilangnya Alexie di media sosial. Mungkin ada yang melihatnya dan memberikan informasi kepada kita."
Arkana berpikir sejenak. "Gue nggak yakin itu ide bagus. Kalau musuh kita mengetahui Alexie hilang mereka pasti akan ikut memburunya dan itu semakin membuatnya dalam bahaya."
"Ya kau benar, musuh kita pasti akan memanfaatkan ini untuk menjatuhkan kita."
Arkana menghela nafasnya kasar lalu kembali menatap layar komputernya, berharap ada keajaiban yang yang datang.
Tiba-tiba, ponsel Arkana berdering. Ia mengangkatnya dan mendengar suara Dom di seberang sana.
"Tuan Muda, kami menemukan sesuatu," ucap Dom dengan nada serius.
Jantung Arkana berdegup kencang. "Apa itu?"
"Kami menemukan ciri-ciri wanita yang sama dengan yang kita cari, terlihat menaiki ojek dengan seorang bayi."
Mata Arkana memancarkan harapan. "Di mana itu?"
Dom menyebutkan alamatnya dengan cepat.
"Bagus! Kirimkan alamat itu sekarang juga! Kita pergi ke sana!" perintah Arkana dengan nada bersemangat.
Ia mematikan ponselnya dan menatap Devano. "Kita punya petunjuk baru!"
Devano tersenyum lebar. "Akhirnya! Ayo kita pergi!"
Mereka berdua bergegas keluar dari ruang kerja menuju ke mobil. Arkana menyalakan mesin mobil dengan cepat dan melaju dengan kecepatan tinggi menuju alamat yang disebutkan oleh Dom.
Harapan kembali membara dalam diri Arkana. Ia berharap, kali ini ia tidak akan kehilangan jejak Alexie lagi. Ia bertekad untuk menemukan keponakannya itu, dan membawa kembali ke dalam pangkuannya.
Bersambung ....
Jaga ksehatan y, Adeq & kami tunggu Up slnjtx ❤️🤗😘
ngga sabar nunggu paman & bunda sah.
kopi untuk mu
aku mencoba mampir di novel mu 🤗
di awal Bab ceritanya dh seru bgt ,, smg selanjutnya ceritanya bagus