NovelToon NovelToon
MISI DARI TANAH TERLUKA

MISI DARI TANAH TERLUKA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mafia / Balas Dendam / Dokter Genius / Mengubah Takdir / Preman
Popularitas:628
Nilai: 5
Nama Author: Juventini indonesia

cerita yg sangat menarik untuk di baca sampai habis tentang cinta, perjuangan dan action terbaik dari anak bangsa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Juventini indonesia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PENANGKARAN ULAR ULAR DI TENGAH HUTAN

BAB 26

Di Jantung Hutan — Penangkaran yang Tersenyum

Jauh dari rumah tua keluarga Eden, jauh dari lampu pijar dan teh hangat, hutan di sisi barat Grenjeng justru hidup dengan denyut yang berbeda.

Di tengah rimbun pepohonan, tersembunyi di balik jalur tanah yang hanya dikenal segelintir orang, berdiri sebuah kompleks penangkaran ular. Pagar kawat tinggi membentuk lingkaran-lingkaran rapi. Lampu neon putih menyala terang, memotong gelap hutan seperti garis-garis pisau.

Di dalam salah satu bangunan utama, Tuan Nakata berdiri di depan meja besi panjang. Jas tipisnya tergantung rapi, tak setitik pun kotor, kontras dengan bau tanah lembap dan amis yang memenuhi udara.

Di hadapannya, beberapa kotak pendingin medis terbuka. Botol-botol kecil berlabel kode asing tersusun rapi—bening, kekuningan, kehijauan. Cairan di dalamnya berkilau pelan di bawah lampu.

Nakata tersenyum.

“Produksi bulan ini… melampaui target,” katanya dengan suara rendah namun puas, beraksen asing yang masih kental.

Seorang supervisor lokal—wajahnya keras, mata cekung—mengangguk cepat. “Permintaan naik, Tuan. Terutama dari luar negeri. Mereka bilang… vaksin ini lebih stabil dari yang sebelumnya.”

Nakata mengambil satu botol, mengamatinya sejenak, lalu mengembalikannya ke tempat semula. “Bukan vaksin,” koreksinya ringan. “Ini solusi. Orang-orang menyukai solusi cepat, apalagi kalau takut mati.”

Ia berjalan menyusuri ruangan. Di balik dinding kaca tebal, ratusan kandang ular berjajar. Kobra, weling, viper—diam, waspada, sebagian bergerak pelan mengikuti getaran langkahnya.

“Ular-ular ini,” lanjut Nakata, “bekerja lebih disiplin daripada manusia.”

Beberapa pekerja tertawa kecil—tawa yang lebih mirip refleks daripada hiburan.

Nakata berhenti. Berbalik. Menepuk tangan sekali.

“Karena itu,” katanya, “saya senang.”

Seorang staf membawa sebuah tas hitam besar. Dibuka di atas meja. Ikatan uang tunai tersusun rapi di dalamnya.

“Bonus,” ucap Nakata singkat.

Ruangan langsung berubah.

Wajah-wajah lelah mendadak menyala. Ada yang menelan ludah, ada yang mengepalkan tangan menahan senyum terlalu lebar.

“Saya menghargai kerja keras,” lanjutnya. “Lembur, risiko, dan… ketertutupan.”

Ia mengedarkan pandangan tajam. “Tidak ada cerita ke desa. Tidak ada cerita ke orang luar. Tidak ada pahlawan di sini.”

Supervisor mulai membagikan amplop-amplop cokelat tebal.

“Kalau proyek ini terus berjalan,” kata Nakata santai, “kita bukan hanya untung. Kita jadi tak tergantikan.”

Seorang pekerja memberanikan diri bertanya, “Tuan… soal desa Grenjeng—”

Nakata mengangkat satu jari.

“Desa,” katanya pelan, “adalah ladang uji coba yang sangat kooperatif.”

Ia tersenyum tipis. “Mereka belum sadar saja.”

Di luar bangunan, suara desis ular bersahutan, seperti bisikan panjang yang tak pernah benar-benar berhenti.

Nakata melangkah ke jendela, menatap gelap hutan. “Selama mereka sibuk menyembuhkan korban,” katanya dingin, “kita sudah selangkah lebih maju.”

Ia meraih ponselnya, membaca satu pesan singkat, lalu tertawa kecil.

“Distribusi aman. Jalur masih bersih,” gumamnya puas.

Tak ada yang tahu—bahwa di desa, lampu pijar tua juga sedang menyala.

Tak ada yang menyangka—bahwa sistem yang ia banggakan mulai diperhatikan.

Dan di tengah hutan itu, sementara amplop-amplop bonus berpindah tangan dan senyum-senyum rakus bermunculan, Tuan Nakata sama sekali tidak menyadari satu hal sederhana:

Setiap eksperimen yang terlalu lama merasa aman…

pada akhirnya akan menarik perhatian orang-orang yang tidak bisa dibeli.

Siang di Pabrik Bola — Senyum yang Dibeli

Siang itu, matahari menggantung tepat di atas kompleks industri di pinggir kota. Dari luar, pabrik bola milik Tuan Nakata tampak seperti simbol keberhasilan: bangunan luas bercat putih, bendera perusahaan berkibar, deru mesin terdengar stabil—ritme kemajuan yang nyaris menenangkan.

Di halaman depan, para karyawan mulai dikumpulkan.

Mesin-mesin dihentikan sementara. Sabuk produksi melambat, lalu berhenti total. Bau karet sintetis dan lem masih menggantung di udara, bercampur keringat ratusan pekerja yang berdiri berjejer rapi.

Pintu kantor utama terbuka.

Istri Tuan Nakata melangkah keluar.

Wajahnya tampak segar—terlalu segar untuk seseorang yang beberapa waktu lalu terbaring lemah. Kulitnya cerah, langkahnya mantap. Senyum kecil tersungging di bibirnya, senyum orang yang baru saja menang melawan maut… dan tahu siapa yang menyelamatkannya.

Ia mengenakan blouse krem sederhana, tapi jam di pergelangan tangannya mahal. Di belakangnya, dua staf membawa koper-koper hitam.

“Terima kasih,” ucapnya melalui pengeras suara, suaranya lembut tapi terlatih. “Karena kalian, pabrik ini tetap berjalan. Dan karena pabrik ini berjalan… keluarga kami masih bisa bernapas.”

Beberapa karyawan saling pandang. Ada yang menunduk, ada yang tersenyum ragu.

Koper pertama dibuka.

Isinya uang tunai.

Bukan simbolis. Nyata. Tebal.

“Ini bonus,” lanjutnya. “Bukan janji. Bukan potongan. Tunai.”

Riuh kecil langsung menyebar. Ada yang refleks beristighfar, ada yang memegang dada sendiri, tak percaya.

Amplop-amplop dibagikan satu per satu. Tangannya bergerak rapi, teratur—seperti ritual.

“Terima kasih, Bu,” ucap seorang buruh tua dengan suara bergetar.

Istri Nakata menatapnya sejenak, lalu tersenyum hangat. “Kita keluarga,” katanya.

Di kejauhan, Tuan Nakata mengamati dari balik kaca kantor lantai dua. Wajahnya datar, tapi matanya berbinar puas.

Ia menyesap teh, lalu berbalik ke meja rapat kecil di belakangnya.

Di sana, dua pria asing sudah menunggu.

Satu bersetelan rapi, logat Eropa kental. Yang satu lagi lokal, wajahnya licin, senyum tak pernah benar-benar sampai ke mata.

Di atas meja, tergeletak proposal tebal bertuliskan:

Tender Produksi Bola — 10.000 Unit (Standar Internasional)

“FIFA sangat ketat,” kata pria asing itu hati-hati. “Audit bahan, sertifikasi, transparansi—”

Nakata mengangkat tangan. “Semua bisa dipenuhi,” katanya ringan. “Pertanyaannya… waktu.”

Ia mendorong sebuah map cokelat ke tengah meja. Tidak dibuka. Tidak perlu.

Pria lokal menelan ludah, lalu menyentuh map itu dengan ujung jarinya. Berat. Terlalu berat untuk kertas biasa.

“Dengan jalur yang tepat,” lanjut Nakata, “proses seleksi bisa… dipercepat.”

Pria asing saling pandang. Diam sejenak. Lalu mengangguk tipis.

“Ini hanya… biaya komunikasi,” kata Nakata sambil tersenyum sopan.

Tak lama kemudian, map itu berpindah tangan.

Di lantai bawah, para karyawan bersorak kecil, menghitung bonus mereka. Senyum-senyum tulus bercampur lelah. Tidak ada yang bertanya dari mana uang itu berasal.

Yang penting: dapur bisa mengepul.

Di lantai atas, kontrak belum ditandatangani—tapi arah angin sudah jelas.

Tuan Nakata berdiri di depan jendela, menatap lapangan pabrik. “Ular memberi racun,” gumamnya pelan. “Bola memberi legitimasi.”

Ia tersenyum puas.

Tak ada yang mencurigai bahwa bisnis yang tampak bersih itu—yang memberi bonus, pekerjaan, dan harapan—sedang dibangun di atas sistem yang sama beracunnya dengan penangkaran di tengah hutan.

Dan sementara uang berpindah tangan siang itu, jauh di desa Grenjeng, orang-orang yang tak menerima amplop… sedang bersiap membuka kedok semuanya.

Malam di Balik Kawat — Rahasia Kesembuhan

Malam menelan hutan dengan cepat. Lampu-lampu penangkaran ular menyala satu per satu, membentuk pulau cahaya di tengah lautan gelap. Kabut tipis menggantung rendah, membuat setiap langkah terasa seperti masuk ke wilayah yang tidak sepenuhnya milik manusia.

Mobil hitam berhenti di depan gerbang kawat.

Tuan Nakata turun lebih dulu. Lalu menyusul istrinya—Miss Geisha—dibungkus mantel tipis. Wajahnya tetap tenang, tapi matanya bekerja, menyerap setiap detail.

“Udara di sini… berbeda,” katanya pelan.

“Karena ini tempat kerja sebenarnya,” jawab Nakata singkat.

Gerbang dibuka. Suara desis langsung menyambut, samar tapi konstan—seperti napas panjang yang tak pernah berhenti.

Di bangunan utama, seorang pria sudah menunggu.

Jas lab putih. Rambut disisir rapi. Kacamata tipis bertengger di hidungnya. Di saku dadanya, tersemat kartu identitas:

Dr. Venom — Bioadaptive Research Division

“Selamat malam, Nyonya,” katanya sopan, sedikit membungkuk. “Senang melihat Anda berdiri dengan sehat.”

Miss Geisha menatapnya lekat. “Saya ingin tahu kenapa.”

Mereka masuk ke ruang observasi. Dinding kaca memperlihatkan kandang-kandang ular. Beberapa teknisi bekerja senyap. Jarum suntik, tabung reaksi, layar monitor—semua bergerak dalam irama yang terlatih.

Dr. Venom menyalakan layar besar. Grafik muncul. Kurva naik-turun, kode-kode biologis, citra sel.

“Penyakit Anda,” katanya, “tidak sembuh oleh obat konvensional karena sistem imun Anda… menolak disetel ulang.”

Miss Geisha menyilangkan tangan. “Lalu bisa ular?”

“Bukan racunnya,” koreksi Dr. Venom. “Tapi respons tubuh terhadap racun.”

Ia memperbesar satu grafik. “Kami mengambil fraksi tertentu dari bisa—mikro-dosis. Bukan untuk membunuh sel, tapi memaksa sel beradaptasi.”

Nakata tersenyum kecil. “Seperti latihan ekstrem.”

“Persis,” jawab Dr. Venom. “Tubuh dipaksa memilih: mati… atau menjadi lebih cerdas.”

Miss Geisha menelan ludah. “Dan saya… percobaan?”

Dr. Venom tidak mengelak. “Uji klinis terbatas. Dengan pengawasan penuh.”

Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan, “Dan hasilnya… sempurna.”

Miss Geisha menatap tangannya sendiri. Jari-jarinya tak lagi gemetar. Napasnya stabil. Ingatan tentang ranjang rumah sakit terasa seperti mimpi jauh.

“Berapa banyak yang gagal?” tanyanya pelan.

Dr. Venom terdiam sepersekian detik terlalu lama. “Ilmu pengetahuan selalu menuntut harga.”

Dari balik kaca, seekor kobra mengangkat kepala, lidahnya menjulur, seolah mendengar namanya disebut.

Miss Geisha mendekat ke dinding kaca. “Jadi… kesembuhan saya,” katanya lirih, “dibayar oleh racun yang kalian lepaskan ke dunia.”

Nakata melangkah ke sampingnya. “Dunia selalu membayar sesuatu,” ujarnya tenang. “Kita hanya memilih… siapa yang membayar lebih dulu.”

Dr. Venom mengangguk. “Sekarang kami menyempurnakan formulasi. Stabil. Bisa diproduksi ulang. Lebih halus. Lebih cepat.”

“Dan lebih mahal,” tambah Nakata.

Miss Geisha berbalik. Matanya kini tajam. “Kalau suatu hari orang-orang tahu obat ini berasal dari sini—”

“Mereka tidak akan peduli,” potong Nakata. “Yang mereka pedulikan hanya satu kata: sembuh.”

Di luar, hutan berdesir. Angin membawa bau tanah dan sesuatu yang pahit.

Miss Geisha memejamkan mata sejenak. Ketika membukanya kembali, suaranya tenang—terlalu tenang.

“Pastikan tidak ada jejak,” katanya. “Tidak ke rumah sakit. Tidak ke desa. Tidak ke media.”

Dr. Venom membungkuk. “Sudah kami antisipasi.”

Nakata tersenyum puas.

Namun jauh di balik pepohonan, di gelap yang tak tersentuh lampu, sesuatu bergerak.

Bukan ular.

Bukan manusia.

Malam itu, penangkaran merasa aman.

Dan seperti semua eksperimen yang terlalu yakin pada kerahasiaannya…

ia tidak tahu bahwa rahasianya sudah mulai bocor.

Rantai Emas Racun

Malam belum sepenuhnya pergi ketika penangkaran ular itu berubah wajah.

Lampu-lampu sorot dimatikan sebagian. Aktivitas dipindahkan ke jalur yang lebih sunyi—jalur yang tidak tercatat di buku mana pun. Di belakang bangunan laboratorium, deretan Toyota Alphard hitam berjejer rapi, catnya memantulkan cahaya bulan seperti kulit ular yang baru ganti sisik.

Pintu bagasi terbuka.

Bukan koper biasa yang dimasukkan, melainkan kotak pendingin medis bersegel, masing-masing diberi kode digital, tanpa nama obat, tanpa logo. Hanya angka dan huruf acak—cukup untuk mereka yang tahu cara membacanya.

Dr. Venom berdiri dengan tablet di tangan.

“Suhu stabil?” tanyanya singkat.

“Minus dua derajat. Deviasi nol koma nol satu,” jawab seorang teknisi.

Dr. Venom mengangguk. “Kalau cairan ini rusak, nilainya bukan lagi jutaan. Tapi nyawa.”

Para sopir berpakaian rapi—jas hitam, sarung tangan tipis—bukan tipe pengantar barang biasa. Mereka dilatih untuk satu hal: diam.

“Rute?” tanya salah satu sopir.

Dr. Venom menoleh. “Langsung ke bandara. Jalur VIP. Tidak ada berhenti. Tidak ada komunikasi kecuali darurat.”

Mesin Alphard menyala hampir bersamaan. Suaranya halus, nyaris sopan—kendaraan yang terlalu mahal untuk dicurigai.

Gerbang penangkaran terbuka perlahan.

Satu per satu, mobil-mobil itu meluncur ke gelap, membawa cairan bening yang nilainya jauh lebih tinggi dari emas.

Bandara — Tanpa Nama

Di terminal kargo internasional, segalanya sudah siap.

Tak ada antrean. Tak ada pemeriksaan panjang. Sebuah stempel kecil berpindah tangan, sebuah senyum singkat ditukar, dan pintu logam tertutup kembali.

Kotak-kotak itu naik ke pesawat kargo malam.

Tujuan: Jepang.

Di ruang tunggu VIP, seorang pria Jepang paruh baya menerima notifikasi di ponselnya. Ia menyesap teh hijau, lalu mengangguk puas.

“Barangnya bersih,” katanya pelan. “Dan… sangat efektif.”

Pesawat lepas landas.

Tak ada yang bertepuk tangan. Keberhasilan sejati tak butuh saksi.

Tokyo — Pagi yang Tenang

Di sebuah fasilitas medis privat, jauh dari rumah sakit umum, kotak-kotak itu dibuka.

Seorang dokter Jepang membaca laporan singkat, lalu menghela napas kagum.

“Adaptif. Cepat. Efek samping minimal.”

Ia menandatangani dokumen penerimaan.

Dana berpindah rekening. Angkanya panjang. Nolnya banyak.

Rantai itu lengkap.

Keesokan Harinya — Bonus Lagi

Pagi berikutnya, matahari belum tinggi ketika kabar baik menyebar di dua tempat sekaligus:

penangkaran di hutan dan pabrik bola di kota.

“Transaksi sukses,” lapor Dr. Venom kepada Nakata.

Nakata hanya tersenyum. “Bagus.”

Siang itu, ritual kembali diulang.

Di penangkaran, para teknisi dipanggil satu per satu. Amplop-amplop baru dibagikan. Lebih tebal dari sebelumnya.

“Ini dari keuntungan ekspor,” kata supervisor. “Kerja kalian dihargai.”

Beberapa orang tersenyum lebar. Beberapa hanya menunduk, menyimpan uang itu cepat-cepat—tak ingin berpikir terlalu jauh.

Di pabrik bola, hal serupa terjadi.

Miss Geisha berdiri di depan karyawan, kali ini tanpa pengeras suara. Ia menyerahkan amplop dengan tangan sendiri.

“Terima kasih,” katanya lembut. “Kita sedang berada di jalur yang benar.”

Tak ada yang bertanya: jalur ke mana.

Sorak kecil terdengar. Tepuk tangan. Rasa aman palsu menyebar cepat.

Di malam hari, Tuan Nakata berdiri sendirian di balkon rumahnya. Kota berkilau di bawah. Ponselnya bergetar—pesan singkat dari Jepang.

“Repeat order confirmed.”

Ia menutup mata sejenak, menikmati angin.

“Lihat?” gumamnya. “Racun, vaksin, bola… semua hanya soal distribusi.”

Ia tidak tahu—atau memilih tidak tahu—bahwa setiap kali uang bonus dibagikan, setiap kali sistem merasa semakin rapi…

jejaknya justru semakin jelas.

Dan di desa Grenjeng, orang-orang yang tak pernah menerima amplop…

sedang menghitung langkah, bukan uang.

1
muhamad candra cirebon
mantap 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!