NovelToon NovelToon
My Dangerous Assistant

My Dangerous Assistant

Status: sedang berlangsung
Genre:Wanita perkasa / Menyembunyikan Identitas / Gangster
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: muliyana setia reza

"Tugasmu sederhana: seduh kopi hitamku tepat pukul tujuh pagi, dan pastikan aku tidak mati hari ini."

Bagi Adinda Elizabeth (23), William Bagaskara adalah tiket keluar dari kemiskinan. Pria itu arogan, dingin, dan menyebalkan. Namun, Adinda tahu bagaimana cara mematahkan leher lawan secepat ia menyeduh kopi.

Bagi William (28), Adinda adalah anomali. Seorang gadis kecil yang berani menatap matanya tanpa rasa takut, sekaligus satu-satunya orang yang rela berdarah demi melindunginya.

Di tengah intrik bisnis yang kejam dan teror yang mengintai, sebuah kontrak kerja berubah menjadi pertaruhan hati. Bisakah sang CEO angkuh luluh pada gadis yang dibayarnya untuk terluka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tidur Panjang Sang Perisai

Bunyi bip... bip... bip... yang ritmis dan monoton dari mesin elektrokardiogram (EKG) adalah satu-satunya suara yang mengisi ruang ICU VVIP Rumah Sakit Medistra malam itu. Suara yang seharusnya menenangkan karena menandakan kehidupan, namun bagi William Bagaskara, itu terdengar seperti bom waktu yang menghitung mundur kewarasannya.

William duduk di kursi tunggu di samping ranjang pasien. Penampilannya jauh dari citra CEO tampan yang biasa menghiasi sampul majalah bisnis. Kemeja putihnya yang bernoda darah kering di bagian dada darah Adinda masih melekat di tubuhnya. Lengan kemejanya digulung berantakan, rambutnya kusut masai, dan rahangnya dipenuhi bayangan janggut yang belum dicukur.

Sudah 48 jam. Dua hari penuh sejak malam jahanam di jalan tol itu. Dan Adinda Elizabeth belum juga membuka matanya.

William menatap sosok yang terbaring di depannya. Tubuh mungil Adinda tampak tenggelam di antara selimut putih tebal dan berbagai kabel medis yang menempel di tubuhnya. Wajahnya yang biasa dingin dan waspada kini pucat pasi, nyaris sewarna dengan bantal. Ada perban melilit kepalanya, menutupi luka gores akibat benturan aspal. Sebuah selang oksigen bening terpasang di hidungnya, membantu dadanya naik turun dengan irama yang lemah.

"Bodoh," bisik William, suaranya parau dan pecah. "Kau benar-benar bodoh, Adinda."

William mengulurkan tangan, ragu-ragu sejenak, sebelum akhirnya memberanikan diri menggenggam tangan kanan Adinda yang terbebas dari infus. Tangan itu terasa dingin. Dan kasar. Kapalan di telapak tangan dan bekas luka di buku jari gadis itu menceritakan kisah perjuangan hidup yang keras, yang berakhir di ranjang rumah sakit ini demi menyelamatkan nyawa William.

Pintu ruangan terbuka pelan. Dokter Johan masuk dengan wajah lelah namun simpatik, diikuti oleh Pak Harto.

William tidak melepaskan tangan Adinda, ia hanya menoleh sedikit dengan tatapan kosong.

"Bagaimana, Dok?" tanya William. Pertanyaan yang sama yang ia ulangi setiap empat jam sekali.

Dokter Johan memeriksa monitor dan catatan medis di kaki ranjang. Ia menghela napas pelan.

"Kondisinya stabil, Pak William. Pendarahan internal di rongga perut sudah kami atasi lewat operasi kemarin. Tulang rusuknya yang retak akan sembuh dengan sendirinya seiring waktu. Yang membuat dia belum sadar adalah trauma kepala berat dan... kelelahan ekstrem."

"Kelelahan?" William mengernyit.

"Tubuh manusia punya batas, Pak," jelas Dokter Johan lembut. "Nona Adinda memiliki riwayat gizi buruk di masa remajanya. Ditambah lagi, dia memaksakan diri bekerja dan bertarung saat luka lamanya belum sembuh total. Tubuhnya melakukan shutdown—mematikan kesadaran untuk memusatkan seluruh energi pada penyembuhan organ vital. Ini mekanisme pertahanan diri. Dia sedang 'tidur panjang' untuk memperbaiki dirinya sendiri."

Hati William mencelos mendengar penjelasan itu. Rasa bersalah yang ia rasakan sejak kemarin kini berubah menjadi batu besar yang menghimpit dadanya.

Ia teringat bagaimana ia mendesak Adinda untuk menemaninya makan sate, bagaimana ia membiarkan Adinda menyetir malam itu, bagaimana ia bercanda soal "robot" padahal gadis ini hanyalah manusia biasa yang rapuh.

"Berapa lama?" tanya William.

"Bisa besok, bisa lusa, atau minggu depan. Kita hanya bisa menunggu dan berdoa. Semangat hidup pasien sangat menentukan."

Dokter Johan menepuk bahu William pelan, lalu keluar ruangan.

Kini tinggal William dan Harto. Kepala keamanan setia itu berdiri kaku di dekat pintu, wajah tuanya tampak menahan amarah dan kesedihan. Adinda sudah seperti anak didiknya sendiri.

"Harto," panggil William tanpa menoleh.

"Ya, Pak?"

"Para penyerang itu..."

"Tiga tewas di tempat akibat luka fatal dari... teknik bela diri Nona Adinda. Satu masih kritis di rumah sakit Polri, tapi sudah kami interogasi," lapor Harto. Suaranya dingin. "Mereka pembunuh bayaran dari sindikat 'Black Mamba'. Disewa oleh Wijaya Corp. Bukti transfer dan rekaman percakapan sudah di tangan tim legal kita."

Mata William menyipit. Ada kilatan berbahaya di sana. Kilatan yang jauh lebih menakutkan daripada saat ia menghadapi preman di Gang Kelinci.

"Hancurkan mereka," desis William.

"Maksud Bapak? Kita lapor polisi?"

William menoleh ke Harto. Wajahnya dingin membeku.

"Polisi terlalu lambat. Aku ingin Wijaya Corp hancur sampai ke akar-akarnya. Jatuhkan saham mereka besok pagi. Beli semua aset utang mereka dan sita. Sebarkan skandal penggelapan pajak CEO-nya yang kita simpan tahun lalu. Aku ingin saat Adinda bangun nanti, nama Wijaya sudah tidak ada lagi di peta bisnis Jakarta. Aku ingin mereka miskin. semiskin-miskinnya."

Harto mengangguk tegas. Ia tahu, William Bagaskara yang sedang marah adalah bencana alam. "Siap laksanakan, Pak. Perang dimulai sekarang."

Harto keluar, meninggalkan William kembali dalam keheningan bersama Adinda.

William kembali menatap wajah damai Adinda. Kemarahannya pada Wijaya Corp tidak bisa menghapus rasa sakit di hatinya saat melihat gadis ini tak berdaya.

Ia ingat saat pertama kali Adinda masuk ke kantornya dengan sepatu butut. Ia ingat saat Adinda membanting Rio si anak magang. Ia ingat saat Adinda memberinya makan kucing jalanan. Dan ia ingat tatapan terakhir Adinda sebelum pingsan: Bapak tidak luka, kan?

Gadis ini bahkan tidak memikirkan punggungnya yang dihantam besi. Dia memikirkan William.

William menunduk, menempelkan keningnya ke punggung tangan Adinda yang ia genggam. Bahunya berguncang pelan. Setetes air mata jatuh, membasahi selimut rumah sakit.

"Bangunlah, Adinda," bisik William. Suaranya pecah, penuh dengan permohonan yang menyakitkan. "Kumohon, bangunlah. Siapa yang akan melarangku minum kopi berlebihan kalau kau tidur terus? Siapa yang akan menatapku dengan wajah datar dan membuatku merasa bodoh?"

William menarik napas panjang, mencoba mengendalikan emosinya.

"Kau bilang kau berutang padaku karena aku memberimu tempat tinggal. Kau salah. Sekarang, aku yang berutang padamu. Nyawaku, keamananku, kewarasanku... semuanya ada di tangan kecil ini."

William mengangkat kepala, mengusap pipi Adinda dengan ibu jarinya, sangat hati-hati seolah takut gadis itu akan retak jika disentuh terlalu keras.

"Aku janji, Dinda. Saat kau bangun nanti, kau tidak perlu lagi menjadi perisai. Kau tidak perlu lagi bertarung. Biarkan aku yang menjadi perisaimu. Biarkan aku yang menghadapi dunia jahat ini untukmu. Kau cukup berdiri di sampingku, tersenyum, dan hidup bahagia. Seperti wanita normal seusiamu."

William tahu Adinda tidak bisa mendengarnya. Tapi ia terus berbicara, menceritakan hal-hal remeh. Tentang harga saham yang anjlok, tentang Rio yang menanyakan kabar Adinda sambil menangis, tentang kucing di warung sate yang mungkin merindukan Adinda.

William berharap suaranya bisa menjadi penuntun bagi jiwa Adinda yang sedang tersesat dalam tidur panjangnya. Penuntun untuk pulang.

Jam dinding menunjukkan pukul 03.00 pagi. Mata William terasa berat, namun ia menolak untuk tidur. Ia takut jika ia memejamkan mata, monitor EKG itu akan berhenti berbunyi.

Ia menarik kursi lebih dekat, menyandarkan kepalanya di tepi kasur, tepat di samping lengan Adinda. Tangan William masih menggenggam erat tangan Adinda, seolah menjadi jangkar yang menahan gadis itu agar tidak hanyut dibawa arus kematian.

"Jangan pergi," gumam William sebelum kelelahan akhirnya mengalahkannya. "Aku... aku rasa aku butuh kamu. Lebih dari sekadar asisten."

Di luar jendela, fajar mulai menyingsing, membawa cahaya matahari yang malu-malu. Namun di dalam ruangan itu, waktu seolah berhenti, menunggu sang putri tidur membuka matanya dan menghidupkan kembali dunia William Bagaskara yang kini terasa abu-abu.

Dan untuk pertama kalinya, sang CEO yang angkuh itu menyadari satu hal: dia tidak sedang jatuh cinta pada bodyguard-nya. Dia sudah jatuh, terlalu dalam, dan dia tidak ingin bangkit lagi.

Bersambung..

1
gina altira
Suka sama ceritanya, ga lebay. Bikin nagih bacanya, tiap hari nunggu update.
Qyzz🇲🇾
maaf kak author..aku ingin bertanya,bukan bermaksud untuk menjatuhkan kak author.novel ini menggunakan AI ke?sebab penggunaan kata macam AI.maaf kalau soalan ni mengganggu kak author.🙏
Dede Dedeh
lanjutttt......
Nurhartiningsih
lanjuuut...dikit amat up nya
gina altira
jd sedihhh,, cinta yang tulus dan berbesar hati
gina altira
galak tapi ngangenin ya,🤭
Nurhartiningsih
lanjuuut....mkin penasaran
Nurhartiningsih
kereeeennn aku suka.. aku suka
Nurhartiningsih
ah knp banyak bawang disini??
Nurhartiningsih
ya ampun... sesulit apa hidupmu dindaa
Nurhartiningsih
ah suka deh sama cerita yg ceweknya badas
Nurhartiningsih
kereeeen....ah knp baru Nemu nih novel
Raditya Gibran
aku menanti episode selanjutnya bestii
terimakasih
Fenti Fe
Ceritanya mulai menarik, gaya bahasa dan tulisannya rapi. Semangat Author...
PENULIS ISTIMEWA: Terima kasih qha qha.. 😍
total 1 replies
Kavina
Kalo novel ini di bwt movie nya pasti seru abiss, thank ya Thor dh UP byk 😘😘💪💪
PENULIS ISTIMEWA: 😍😍 Kak Kavina bisa aja deh.. 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!