NovelToon NovelToon
Sebel Tapi Demen

Sebel Tapi Demen

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Kisah cinta masa kecil / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Bad Boy / Idola sekolah
Popularitas:988
Nilai: 5
Nama Author: Azumi Senja

Naura, gadis enam belas tahun yang hidup bersama ayahnya setelah kehilangan sang ibu, menjalani hari-hari yang tak pernah benar-benar sepi berkat Hamka. Jarak rumah mereka hanya lima langkah, namun pertengkaran mereka seolah tak pernah berjarak.
"Tiap ketemu sebelllll..tapi nggak ketemu.. kangen " ~ Naura~

" Aku suka ribut sama kamu ..aku suka dengan berisiknya kamu..karena kalo kamu diam...aku rindu." ~ Hamka ~


Akankah kebisingan di antara mereka berubah menjadi pengakuan rasa?
Sebuah kisah cinta sederhana yang lahir dari keusilan dan kedekatan yang tak terelakkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azumi Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ada jeda diantara kita

Rumah Hamka yang biasanya hangat malam itu terasa tegang.

Begitu Hamka mengutarakan maksudnya,ia meminta izin pada orang tuanya membawa adik dari sahabatnya untuk tinggal sementara di rumah.

Babe Ramli langsung berdiri dari duduknya. Wajah lelaki paruh baya itu memerah, amarahnya tak lagi terbendung. Hampir seminggu Hamka tak pulang, dan kini ia kembali dengan penampilan kusut, mata lelah, serta membawa kabar yang tak mengenakkan.

“Babe udah cukup sabar, Hamka!” suara Babe Ramli meninggi. “Kamu ngilang, bolos sekolah, sekarang pulang-pulang minta izin bawa perempuan ke rumah?!”

Bu Tika hanya bisa terduduk lemas. Tangisnya pecah pelan saat Hamka menceritakan apa yang sebenarnya terjadi,

tentang perkelahian, tentang Fariz yang koma, tentang rasa bersalah yang terus menghantui putranya.

“Ini cuma sementara, Beh,” suara Hamka terdengar lebih rendah, hampir putus asa. “Kakaknya masih dirawat di rumah sakit. Dan itu gara-gara aku.”

Namun penjelasan itu sama sekali tak meluluhkan hati Babe Ramli.

“Hamka!” hardiknya. “Gadis itu bukan anak TK. Dia bisa jaga diri tanpa harus tinggal di rumah ini!”

Kata-kata itu seperti palu yang menghantam kepala Hamka. Ia terdiam, rahangnya mengeras, dadanya naik turun menahan emosi yang sudah terlalu lama ia pendam.

Tak ada lagi yang bisa ia katakan.

Di saat yang sama, tanpa mereka sadari, Naura berdiri kaku di dekat pintu dapur. Di tangannya ada mangkuk bekas sup yang hendak ia kembalikan pada Bu Tika. Langkahnya terhenti. Jantungnya berdegup keras saat ia menyadari topik pertengkaran itu.

Perempuan.

Tinggal di rumah Hamka.

Naura benar-benar syok.

Tak lama kemudian, Hamka keluar rumah dengan wajah muram . Langkahnya cepat, seolah ingin menjauh dari semua yang menyesakkan dadanya. Ia sendiri tak lagi yakin apakah keputusan yang diambilnya benar atau justru semakin memperkeruh segalanya.

Naura memberanikan diri mendekat.

“Helena itu…” suaranya terdengar pelan tapi jelas, “perempuan yang sama yang bareng lo waktu itu?”

Hamka berhenti. Ia menoleh sekilas, lalu mengangguk tanpa menatap langsung. Ada rasa canggung, juga malu karena pertengkarannya dengan sang ayah disaksikan oleh Naura.

Keheningan menggantung di antara mereka.

Dan di tengah diam itu, ada banyak perasaan yang tak terucap,salah paham yang kian menebal, luka yang pelan-pelan tumbuh, dan jarak yang entah sejak kapan mulai terbentuk di antara dua hati yang sebenarnya sedang saling mendekat.

"Kalo dengan membawa Helena ke sini bikin lo merasa lebih tenang…”

Naura menjeda ucapannya. Nafasnya tertahan sejenak, seolah ia sedang melawan sesuatu di dadanya sendiri.

“…bawa aja dia ke rumah gue.”

Hamka membulatkan mata, tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.

“Naw…?” suaranya pelan, ragu. “Lo serius?”

Naura mengangguk kecil, meski sorot matanya goyah. “Ayah masih lama diluar kota ,jadi untuk sementara ia bisa tinggal di rumah gue ."

Hamka menatap gadis di depannya lama. Ada banyak hal yang ingin ia tanyakan..kenapa Naura mau, kenapa ia begitu pengertian, kenapa justru di saat hubungan mereka sedang tak jelas, Naura memilih membantu.

“Tapi...” Hamka menghela napas berat. “Ini bakal ngerepotin lo.”

Naura tersenyum tipis, senyum yang tak sepenuhnya sampai ke matanya. “Lo kira gue peduli?”

Hening kembali menyelimuti mereka.

Hamka mengusap wajahnya kasar. Dadanya terasa penuh antara lega, bersalah, dan sesuatu yang tak berani ia namai. “Gue nggak tahu harus bilang apa,” ujarnya jujur.

“Gak usah bilang apa-apa,” jawab Naura cepat. “Anggap aja… gue cuma nolong orang yang lagi butuh.”

Namun Hamka tahu, itu bukan sekadar tolong-menolong biasa.

Ada keberanian dalam keputusan Naura. Ada perasaan yang disembunyikan rapi di balik nada datarnya. Dan untuk pertama kalinya malam itu, Hamka benar-benar merasa di tengah semua kekacauan hidupnya, ada satu orang yang memilih berdiri di sisinya tanpa diminta.

Keesokannya, Hamka benar-benar datang.

Bersamanya ada seorang gadis berambut panjang yang berdiri sedikit di belakangnya, Helena. Usianya sebaya dengan Naura, siswi kelas satu SMA dari sekolah yang berbeda. Wajahnya tampak lelah, tapi matanya menyimpan kesopanan yang tulus.

Awalnya suasana terasa canggung. Naura membuka pintu dengan senyum tipis, Helena menunduk sopan, dan Hamka berdiri di tengah-tengah mereka dengan raut yang sulit dibaca. Namun kecanggungan itu perlahan mencair. Naura memperlihatkan kamar tamu, Helena membantu merapikan barang, dan obrolan kecil mulai terjalin pelan, tapi cukup untuk membuat udara terasa lebih ringan.

“Terima kasih ya, Naura,” ucap Helena sungguh-sungguh. “Aku nggak enak banget harus ngerepotin.”

Naura menggeleng. “Nggak apa-apa. Anggap aja rumah sendiri.”

Helena tersenyum, lalu tanpa sadar menambahkan, “Padahal aku udah nolak, tapi Kak Hamka tetap bersikeras ngajak aku tinggal di sini. Katanya… biar dia lebih tenang.”

Kalimat itu meluncur begitu saja..ringan, tapi cukup tajam.

Naura hanya tersenyum. Ia membalas seperlunya, menjaga jarak yang aman. Tak ingin terlalu jauh masuk ke ruang yang bukan miliknya, tak ingin menafsirkan sesuatu yang mungkin memang tak pernah ditujukan padanya.

Hari-hari pun berjalan.

Setiap pagi, Hamka mengantar Helena ke sekolahnya. Naura memilih naik ojek,alasan sederhana yang tak perlu dijelaskan. Setang motor Hamka tak lagi sejajar dengannya. Percakapan mereka memendek, sapaan menjadi formal, dan jeda-jeda sunyi terasa semakin sering.

Canggung.

Dan keduanya sama-sama merasakannya.

Naura bicara seperlunya. Hamka pun demikian. Mungkin ini yang terbaik, pikir mereka..menjaga jarak agar tak ada lagi salah paham, setidaknya sampai kondisi Fariz membaik.

Di sela rutinitas yang kaku itu, Hamka sering terdiam sendiri. Menatap halaman rumah Naura, mendengar langkahnya di balik pintu, dan menahan keinginan untuk berkata lebih banyak.

Maafin gue, Naw, bisiknya dalam hati.

Kalau sekarang gue egois. Kalau nanti semuanya udah membaik… gue harap lo masih di sini.

Namun untuk saat ini, ia memilih diam..menyimpan harapannya sendiri, sambil menanggung beban yang belum juga usai.

1
Lani Triani
Lanjuut thoorrr😍
Azumi Senja
Ceritanya ringan ..manis ..bikin salting guling -guling... seruuu..rekomend deh pokoknya ❤️
Sybilla Naura
nah loo...😄
Sybilla Naura
jadi ikutan sediihh
Sybilla Naura
ngakakk 🤣🤣
Sybilla Naura
Baru baca baca aja udah seruuuu...
Sybilla Naura
Seruuuu 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!