"Jangan menggodaku, Rania.” Radit mundur satu langkah, tapi Rania justru mendekat. Tangannya menyentuh dada pria itu, perlahan turun sambil tersenyum nakal. “Kamu yang datang sendiri malam-malam begini,” bisiknya.
Lalu bibirnya menempel di leher Radit, menggigit pelan, meninggalkan jejak merah. “Anggap aja… ucapan selamat datang, dari Mbak janda muda.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raey Luma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mama Reyhan
Setelah itu, Rania pun memutuskan untuk mengikuti arahan Radit. Ia akan menampakkan diri dengan identitas aslinya.
"Kamu gak usah takut. Kamu adalah Rania Calista, wajah promosi perusahaan ini. Ingat. Mama gak akan tahu kamu Soraya. Kamu harus tetap tenang."
Rania mengangguk, tapi jauh dari lubuk hatinya ia takut setengah mati.
Takut jika semuanya terbongkar hari ini.
"Oke. Aku akan berusaha. Tapi, sebelum itu... Aku harus ngapain sekarang?" tanya Rania, sedikit gugup.
"Kamu cukup jadi dirimu sendiri. Lagipula, Mama enggak akan terlalu perhatikan kamu. Dia bakal sibuk di ruanganku" kata Radit seolah memberi udara segar.
“Di ruang kamu? Maksudnya… aku gak bakal ikut masuk?” tanyanya pelan.
“Enggak. Kamu tetap di ruang tim produksi. Mama cuma akan keliling sebentar, terus ke ruanganku. Kamu aman.”
Tapi nada Radit berubah, lebih serius.
“Tapi kalau nanti kamu harus muncul…”
Ia menatap Rania lama.
“Aku yang bakal panggil kamu. Dan waktu itu terjadi kamu harus siap.”
Rania menelan ludah. “Siap… gimana?”
Radit meraih bahu Rania, menahannya agar fokus pada tatapannya.
“Rania. Dengar aku."
“Kamu bukan bawahan biasa. Kamu brand face perusahaan ini. Kamu punya posisi. Kamu punya nilai. Kamu bukan orang sembarangan.”
Rania membuka mulut, tapi tidak ada suara yang keluar.
Radit melanjutkan, lebih lembut—
“Aku ada di sini. Mamaku nggak akan curiga sedikit pun. Dia cuma datang untuk lihat kantor dan… ya, mungkin melihat program kerjaku sedikit.”
Ia mengangkat alis. “Itu sudah biasa.”
Rania mengembuskan napas, sedikit gugup tapi mulai lebih tenang. “Oke… jadi aku cukup… kerja seperti biasa?”
“Exactly.” Radit menunjuknya pelan.
“Kerja seperti biasa. Senyum sedikit. Jangan terlalu tegang. Dan yang paling penting…”
Ia mendekat, suaranya menurun, hampir berbisik.
“Kalau Mama mulai tanya-tanya soal kamu…”
“…jangan jawab apa pun sebelum aku bicara.”
Rania langsung kaku. “Kenapa jadi kayak interogasi polisi?”
Radit menepis rambut Rania yang jatuh ke bahunya, ringan tapi membuat jantungnya makin berantakan.
“Karena Mama tipe yang… observant.”
Ia mendengus pelan. “Dan dia ahli membaca orang.”
“Kayak kamu,” balas Rania, berusaha bercanda.
Radit tersenyum… tapi senyum itu cuma bertahan dua detik sebelum kembali hilang.
“Percaya sama aku, Ran. Kamu gak akan kenapa-kenapa.”
Rania mengangguk.
Mereka buru-buru balik ke kantor. Begitu masuk ke lantai produksi, semua orang masih sibuk menunduk pura-pura kerja, padahal mata mereka jelas melirik-lirik Rania dan Radit.
“Segitunya ya,” gumam Rania kecil.
Radit menyahut datar, “Biarkan. Setelah ini, aku yang beresin.”
---
BARU MEREKA MELANGKAH BEBERAPA METER—
TING.
Lift di ujung lorong berbunyi.
Pintu perlahan terbuka.
Dan seorang perempuan elegan berusia sekitar akhir 40-an turun, ditemani seorang sopir pribadi dan satu asisten wanita.
Langkahnya mantap. Tatapannya tajam. Aura kayanya terpancar jelas dari caranya membawa tas dan menatap ruangan seperti ia pemilik gedung itu.
Rania langsung berhenti. Napasnya tercekat.
Radit yang biasanya selalu tenang kini tubuhnya menegang.
Rania berbisik lirih, “Radit… itu…?”
Radit mengangguk pelan.
“…Mama.”
Wanita itu menatap lurus ke arah mereka.
Matanya turun ke Rania.
Lalu ke tangan Radit…
Yang tanpa sadar masih menggenggam sudut kemeja Rania.
Radit buru-buru melepas.
Terlambat.
Mama Radit sudah menaikkan satu alis.
Radit menegakkan bahu, menelan ludah perlahan, lalu berkata—
“Selamat datang, Ma.”
Dan Rania?
Rania hanya bisa menunduk sopan…
…sambil berdoa keras-keras dalam hati.
"Kamu... Kenapa ada di ruangan produksi?" selidik Mamanya tegas.
Radit seharusnya menjawab, tapi Mamanya mengangkat tangan kecil—gestur halus yang berarti diam dulu.
Tatapannya beralih pada Rania.
Rania merasa seluruh udara di paru-parunya hilang.
“Dan kamu…” suara Mamanya turun, lembut tapi tajam seperti pisau yang dibungkus satin.
“Kamu siapa?”
Radit langsung maju setengah langkah, refleks.
“Ma, ini—”
Namun Mamanya menoleh pelan, tatapannya cukup membuat Radit berhenti bicara.
“Aku tanya ke dia, Radit. Bukan ke kamu.”
Rania merasakan lututnya hampir melemas.
Tapi Radit sudah bilang jangan jawab sebelum dia bicara.
Ia menutup mulut rapat-rapat.
Mama menunggu.
Lima detik.
Radit akhirnya mengambil alih.
“Ma, kenalin. Ini Rania. Rania Calista. Dia brand face salah satu proyek terbaru kita.”
Radit sedikit menekankan kata brand face, dengan harapan sang Mama mengerti bahwa Rania bukan karyawan biasa.
Mamanya menunduk tipis, seolah memproses informasi itu… lalu matanya kembali naik ke wajah Rania.
“Brand face?” ulangnya seolah menguji.
“Iya, Ma.” Radit mengangguk sopan. “Rania bertanggung jawab di bidang promosi dan beberapa project kerja sama.”
Tatapan Mama sedikit melunak—tapi tidak sepenuhnya.
“Oh begitu…” ucapnya.
Lalu ia mendekat dua langkah, jaraknya kini sangat dekat dengan Rania.
Rania bahkan bisa mencium aroma parfum mahal yang memabukkan itu.
Mama tersenyum tipis.
“Kamu cantik dan familiar.”
Rania menelan ludah. “T-terima kasih, Bu.”
“Hm.” Mama mengangguk, lalu matanya turun sejenak—melihat detail kecil di kemeja Rania yang sedikit kusut karena tadi dipegang Radit.
Tatapannya kembali naik. Lebih tajam.
Radit buru-buru memotong suasana.
“Ma, kita ke ruanganku aja. Aku mau jelasin progress Singapura. Rania juga harus kembali kerja.”
Mama tersenyum kecil, kali ini ke arah Radit.
“Tentu. Mama juga ingin lihat seberapa jauh kamu memimpin kantor ini.”
Ia berbalik, tapi sebelum melangkah, ia menoleh lagi pada Rania—
“Oh ya, Rania.”
Jantung Rania mencelos.
“Iya, Bu?”
Mama tersenyum… namun tatapannya menusuk.
“Nanti… kalau ada waktu, aku ingin bicara dengan kamu.”
Rania hampir kehilangan suara.
“B-baik… Bu.”
Radit langsung memandang Mamanya cepat. Kaget, kaku, dan sedikit panik.
Tapi Mama sudah berjalan menuju lift, elegan seperti ratu memasuki istananya.
Radit buru-buru mengikuti, namun sebelum benar-benar pergi, ia berbisik ke Rania tanpa menoleh:
“Tenang. Jangan takut. Aku gak akan biarin apa pun terjadi.”
Dan pintu lift tertutup.
Rania berdiri di sana, menggigit bibir… wajah dingin.
Tangannya berkeringat.
Deg-degan tak karuan.
Ia baru ingin kembali ke meja ketika seseorang muncul dari samping, bersandar ke dinding.
Reyhan.
Dengan tangan terlipat dan tersenyum nakal.
“Selamat ya,” katanya santai.
“Kamu udah bikin Mama tertarik.”
Rania terperanjat.
Reyhan hanya tertawa pelan.
Detik berikutnya Rania mencoba menegakkan bahu, kembali mengatur napas yang sejak tadi kacau.
Ia harus profesional. Ia tidak boleh terlihat panik.
Reyhan mendorong tubuhnya sedikit dari dinding, mendekat dengan pelan.
“Kok tegang gitu?” tanyanya santai.
“Santai aja, aku cuma nonton… perkembangan menarik.”
Rania menatap Reyhan datar, mencoba menyembunyikan gemetar halus di ujung jarinya.
“Ada yang bisa saya bantu, Pak Reyhan?” tanyanya sopan.
Reyhan menaikkan alis, tampak terkejut sekaligus terhibur.
“Oh. Profesional banget jawabnya.” Ia mendekat setengah langkah. “Hebat juga kamu bisa tenang, padahal tadi Mama ngeliatin kamu kayak mau ngebaca seluruh isi kepala kamu.”
“Beliau cuma tanya siapa saya. Itu hal biasa, Pak.”
Reyhan tersenyum miring.
“Biasa? Untuk orang lain, iya.”
“Untuk kamu? Kayaknya enggak.”
Rania menegang.
Reyhan melihat itu dan semakin tersenyum.
“Gimana rasanya?” suaranya rendah, seperti sedang menggoda.
“Disorot sama orang yang… bisa bikin karier kamu naik atau runtuh dalam sekali kedip?”
Rania menggenggam kedua tangannya di belakang punggungnya supaya Reyhan tidak melihatnya gemetar.
“Saya baik-baik saja, Pak. Terima kasih sudah mengingatkan.”
Ia menegakkan tubuh, mencoba terlihat tidak terpengaruh.
“Kalau tidak ada lagi yang perlu dibicarakan, saya kembali bekerja.”
Reyhan mengangkat tangan perlahan, menghalangi jalannya dengan gestur santai.
“Hmm… buru-buru banget. Atau kamu takut sendirian di sini tanpa Radit?”
Rania merasakan jantungnya naik ke tenggorokan.
Tapi ia mengingat sosok Radit.
“Tidak.” jawabnya. “Saya tidak takut.”
Reyhan mengerjap… tidak menyangka jawaban itu keluar begitu mantap.
Rania melanjutkan, lebih tenang:
“Pak Reyhan, saya sudah diberi arahan oleh Pak Radit. Tugas saya sekarang bekerja. Permisi.”
Ia maju melewati Reyhan.
Reyhan menahan napas sejenak, terdiam dua detik… lalu tertawa kecil.
“Wow…” gumamnya.
“Kuat juga kamu, ya. Pantes Radit… ‘merhatiin’ kamu.”
Rania berhenti, tapi tidak menoleh.
“Jangan salah paham, Pak,” katanya pelan namun jelas.
“Saya dihargai karena kerja saya.”
Reyhan tersenyum makin lebar, menatap punggung Rania yang kini menjauh.
“Yakin?” bisiknya pelan.