NovelToon NovelToon
Jejak Malam Di Kamar Nomor 101

Jejak Malam Di Kamar Nomor 101

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / Beda Usia / Nikahmuda / Teen School/College / Menjadi bayi / Hamil di luar nikah
Popularitas:6.4k
Nilai: 5
Nama Author: Mr. Awph

Satu malam di kamar nomor 101 menghancurkan seluruh masa depan Anindira. Dijebak oleh saudara tiri dan terbangun di pelukan pria asing yang wajahnya tak sempat ia lihat, Anindira harus menelan pahitnya pengusiran dari keluarga.
​Lima tahun kemudian, ia kembali sebagai asisten pribadi di Adiguna Grup. Namun, bosnya adalah Baskara Adiguna, pria berhati es yang memiliki sepasang mata persis seperti putra kecilnya.
​Ketika rahasia malam itu mulai terkuak, Anindira menyadari bahwa ia bukan sekadar korban satu malam. Ia adalah bagian dari rencana besar yang melibatkan nyawa dan harta. Baskara tidak akan melepaskannya, bukan karena cinta, melainkan karena benih yang tumbuh di rahim Anindira adalah pewaris tunggal yang selama ini dicari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr. Awph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23: Berpapasan di lobi perusahaan

Berpapasan di lobi perusahaan tadi hanyalah awal, karena kini ia terjebak di dalam ruangan yang sama dengan pria yang memiliki rahasia malam berdarah itu. Anindira merasakan jemarinya yang dingin mulai gemetar hebat di bawah meja kayu yang kokoh. Pria di hadapannya memiliki aura yang begitu dominan hingga oksigen di dalam ruangan itu seolah terserap habis oleh kehadirannya.

Tatapan pria itu tetap tajam, menyisir setiap inci wajah Anindira seakan sedang mencari letak retakan pada topeng yang ia pakai. Ia adalah Devan Adiguna, keponakan dari ayahnya yang selama ini memimpin divisi paling rahasia dan paling mematikan di perusahaan keluarga ini. Anindira tidak pernah menyangka bahwa wawancara ini akan dilakukan langsung oleh pria yang jarang menampakkan diri di depan publik.

"Saya memiliki wajah yang sangat pasaran, Tuan, mungkin Anda salah mengenali saya dengan orang lain," sahut Anindira dengan suara yang diusahakan tetap tenang.

"Benarkah? Karena ingatan saya tidak pernah mengkhianati saya, terutama untuk wajah yang penuh dengan keputusasaan," balas Devan sambil menyandarkan punggungnya pada kursi kerja yang mewah.

Anindira memaksakan sebuah senyum profesional meski hatinya sedang menjerit ketakutan akan kemungkinan penyamarannya terbongkar. Ia tahu bahwa Devan adalah pria yang sangat teliti dan tidak akan melepaskan mangsanya sebelum mendapatkan jawaban yang memuaskan. Di tengah keheningan yang mencekam itu, suara detak jam dinding terdengar seperti dentuman genderang perang bagi pendengarannya.

Ia menyerahkan map berisi riwayat hidup palsunya dengan tangan yang sedikit lebih mantap dari sebelumnya. Devan membukanya perlahan, membolak-balik lembaran kertas itu dengan gerakan yang sangat sengaja untuk memberikan tekanan mental. Anindira terus berdoa agar identitas barunya sebagai wanita dari kota kecil bisa melewati pemeriksaan ketat pria ini.

"Kemampuan bahasa dan administrasi Anda sangat mengagumkan untuk seseorang yang hanya bekerja di kedai pinggiran," puji Devan dengan nada yang terdengar seperti sebuah sindiran tajam.

"Kebutuhan hidup memaksa saya untuk belajar lebih banyak hal secara mandiri, Tuan," jawab Anindira sambil menatap lurus ke dalam mata gelap Devan.

Devan menutup map tersebut dengan bunyi berdebam yang cukup keras hingga membuat Anindira tersentak sedikit. Pria itu kemudian bangkit dari kursinya dan berjalan perlahan menuju jendela besar yang memperlihatkan pemandangan kota. Ia berdiri membelakangi Anindira, namun aura ancamannya justru terasa semakin nyata memenuhi seluruh sudut ruangan tersebut.

Keheningan kembali menyelimuti mereka berdua selama beberapa saat yang terasa sangat menyiksa batin Anindira. Ia teringat pada Arkan yang kini sedang menunggunya dengan penuh harapan di rumah petak Bibi Mirna. Demi masa depan putranya, ia bersumpah tidak akan goyah sedikit pun di hadapan pria yang mungkin terlibat dalam kehancurannya lima tahun silam.

"Mengapa Anda begitu ingin bekerja di tempat yang penuh dengan intrik dan bahaya seperti grup ini?" tanya Devan tanpa membalikkan badannya.

"Karena hanya di tempat yang memiliki kekuatan besar seperti inilah saya bisa menemukan perlindungan yang saya cari," ungkap Anindira dengan kejujuran yang terselubung.

Devan berbalik secara mendadak dan menatap Anindira dengan ekspresi yang sulit untuk dibaca oleh orang awam. Ada kilat ketertarikan yang sangat tipis di matanya, sebuah ketertarikan yang lahir dari rasa penasaran akan misteri yang dibawa oleh wanita di depannya. Ia melangkah mendekat hingga jarak di antara mereka hanya tersisa beberapa langkah saja.

Anindira menahan napasnya saat aroma parfum kayu yang sangat maskulin dan familiar mulai menyerang indra penciumannya. Aroma ini pernah ia hirup di lorong gelap hotel lima tahun yang lalu, sesaat sebelum kesadarannya hilang ditelan kegelapan. Ia mengepalkan tangannya di balik rok untuk mencegah dirinya berteriak histeris karena ingatan buruk yang mendadak menyerbu.

"Anda diterima, Dira, namun ingatlah bahwa pengkhianatan adalah satu-satunya hal yang tidak akan pernah saya maafkan," ucap Devan dengan suara yang rendah dan sangat dingin.

"Terima kasih atas kepercayaannya, Tuan, saya akan membuktikan bahwa saya adalah asisten yang sangat setia," balas Anindira sambil membungkuk sopan.

Anindira segera beranjak keluar dari ruangan itu setelah mendapatkan tanda tangan pada surat kontrak kerjanya yang baru. Ia berjalan menyusuri lorong dengan kaki yang terasa lemas namun ada rasa kemenangan kecil yang mulai bersemi di dalam dadanya. Saat ia sampai di lobi, ia kembali melihat kerumunan orang yang sedang berbisik-bisik mengenai kedatangan tamu penting perusahaan.

Ia tidak memedulikan hal itu dan terus melangkah menuju pintu keluar untuk segera menjemput Arkan. Namun, langkahnya terhenti secara mendadak saat ia melihat sosok pria yang sangat ia benci sedang berjalan masuk ke dalam gedung. Rendy, mantan kekasihnya, kini sedang merangkul mesra pinggang Sarah yang nampak begitu angkuh dengan perhiasan yang sangat mahal.

Sarah menoleh ke arah Anindira dan menyipitkan matanya seolah sedang mengenali sosok yang berdiri tidak jauh dari mereka. Anindira segera membuang muka dan mempercepat langkahnya agar tidak tertangkap oleh pandangan mata adik tirinya yang sangat licik tersebut. Tatapan mata yang menghujam dari arah belakang membuatnya menyadari bahwa perjuangannya di dalam istana kaca ini baru saja dimulai dengan musuh yang nyata.

 

1
Healer
aduiiii Dira....jgn lagi kamu kerangkap ya...💪💪💪
Healer
antara karya yg menarik...susun kata yg teratur kesalahan ejaan yg sgt minimalis...✌️✌️👍👍!!terbaik thor👍👍👏
Healer
salah satu karya yg menarik dari segi tatabahasa....dari bab awal hingga bab yg ini kesalahan ejaan blm ada lagi.... teruskan thor
Healer
Dira kamu harus kuat dan jgn jadi wanita lemah....lawan si Sarah itu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!