Sudah tiga tahun Dianawati tinggal bersama mertuanya di Tanjungpinang. Kepindahan itu terjadi setelah suaminya, Andi Pratama, memutuskan meninggalkan Kalimantan—tempat mereka dulu bekerja dan membangun kehidupan—demi kembali ke kota kelahirannya. Alasannya sederhana namun tak bisa ditolak: ibunya tinggal seorang diri, sementara adik bungsunya bekerja di Batam dan hanya bisa pulang sesekali.
Di rumah mertua, Dianawati menjalani hari-harinya sebagai istri dan menantu yang bertanggung jawab: merawat ibu mertua yang mulai menua, mengurus anak, serta mempertahankan usaha kecil-kecilan yang sudah ia rintis sejak masih di Kalimantan. Dalam rutinitas yang tampak sederhana itulah, ia perlahan menyadari bahwa kehidupan baru ini tidak semudah yang dibayangkan.
Antara tanggung jawab, kesabaran yang terus diuji, dan kerinduan pada masa lalu yang lebih bebas, Dianawati berusaha tetap kuat—bahkan ketika ia mulai merasa dirinya adalah satu-satunya yang berjuang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Thida_Rak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Setelah makan siang, Arif dan Nuri mengantar Dian ke pelabuhan. Andi tidak ikut—alasannya ada pekerjaan mendesak yang tak bisa ditinggalkan.
Sepanjang perjalanan, Nuri memangku Naya dengan wajah sendu. Tangannya mengelus punggung kecil itu, seolah enggan melepaskan.
“Naya nanti ke Batam lagi ya…” ucap Nuri pelan.
“Iya, anti,” jawab Naya polos, sambil melirik Nuri.
Melihat pemandangan itu, hati Dian terasa hangat. Ada rasa syukur karena putrinya dikelilingi orang-orang yang menyayanginya.
“Nanti turun di depan aja ya, Rif. Nggak usah masuk,” ujar Dian lembut.
Arif menoleh heran. “Kenapa, Mbak?”
“Mbakan lagi nunggu teman. Kemarin kan bareng ke sini,” jawab Dian singkat, tanpa menjelaskan lebih jauh.
Arif mengangguk, meski masih menyimpan tanda tanya, lalu kembali fokus pada jalan.
Sebelumnya, Dian juga sudah mengirim pesan pada Sinta agar menjemputnya. Ia memutuskan akan tinggal di Batam dua atau tiga hari lagi. Waktu itu ingin ia gunakan untuk mencari tahu lebih jauh tentang suaminya—dan perempuan yang telah merebut kepercayaannya.
Andi memang pergi ke kantor. Ada rasa lega sekaligus senang yang sulit ia sembunyikan, karena hari itu pikirannya hanya satu—ia akan bebas menghabiskan waktu bersama Tasya, tanpa bayang-bayang pertanyaan atau tatapan curiga.
Setelah Arif dan Nuri mengantar Dian, keduanya pun berpamitan dan pergi. Tak lama kemudian, Pak Muin—sopir Sinta—menjemput Dian di pelabuhan.
“Bu Dian,” sapa Pak Muin.
“Iya, Pak,” jawab Dian singkat.
Mobil pun melaju meninggalkan pelabuhan.
Di perjalanan menuju kantor, Arif tiba-tiba memecah keheningan.
“Sayang, kamu ngerasa nggak? Mbak Dian itu kok kelihatan aneh,” tanya Arif pelan.
“Iya, aku juga ngerasain,” sahut Nuri ragu. “Jangan-jangan mbak Dian sudah tahu soal abangmu yang selingkuh?”
Arif terdiam. Perkataan Nuri terasa masuk akal. Sikap Dian belakangan ini memang berbeda—lebih tenang, lebih dingin, seolah menyimpan sesuatu yang belum terucap.
Akhirnya Dian tiba di rumah Sinta. Begitu turun dari mobil, Sinta langsung menyambutnya dengan pelukan hangat, seolah ingin memastikan sahabatnya benar-benar baik-baik saja.
Tak lama kemudian, Sinta memanggil sus agar menemani anak-anak.
“Sus, tolong ajak Naya main bareng Jelita ya,” pinta Sinta lembut.
Sus pun mengangguk, lalu menggandeng tangan Naya menuju ruang bermain. Tawa kecil Naya dan Jelita mulai terdengar, membuat suasana rumah itu terasa lebih hidup.
Sementara itu, Dian menarik napas panjang. Untuk sesaat, ia merasa sedikit lebih tenang—setidaknya di rumah ini, ia dan Naya benar-benar aman.
Dian sudah tak sabar mendengar penjelasan Sinta. Tangannya gemetar ketika Sinta perlahan membuka ponsel, lalu memperlihatkan beberapa foto—parkiran hotel, potongan lorong, hingga nomor kamar yang tertangkap jelas.
Seolah ada sesuatu yang menghantam dadanya keras-keras.
Jadi semua kecurigaannya selama ini bukan sekadar prasangka.
Dian menelan ludah, matanya memanas saat menyadari satu hal yang selama ini ia abaikan. Dugaan itu benar—suaminya bukan hanya berselingkuh, tapi telah melangkah sejauh ini. Ia teringat bagaimana Andi tak pernah lagi menyentuhnya, selalu beralasan lelah, sibuk, atau tak mood.
Kini semuanya terasa masuk akal.
“Pantas saja…” lirih Dian hampir tak bersuara.
Sinta tak berkata apa-apa. Ia hanya menggenggam tangan Dian erat, membiarkan sahabatnya merasakan sakit itu tanpa perlu banyak kata. Dian menunduk, air mata jatuh satu per satu, bukan karena terkejut—melainkan karena akhirnya kebenaran benar-benar berdiri telanjang di hadapannya.
Sore itu ponsel Dian bergetar. Sebuah pesan masuk dari Nuri.
Mbak udah sampai? Kok nggak ngabarin aku, begitu bunyinya.
Dian menghela napas sejenak, lalu membalas dengan kalimat yang ia susun hati-hati.
Iya Nur, maaf ya mbak lupa hehe. Tadi ngurus Naya dulu. Mbak sudah sampai yaa, tulisnya, kemudian menekan tanda kirim.
Itu hanyalah alasan sementara. Bukan karena ia ingin berbohong, melainkan karena belum waktunya semua orang tahu. Saat ini, Dian harus fokus menguatkan diri dan mengumpulkan bukti sebanyak mungkin. Ia tak boleh gegabah.
Lagipula, Sinta sudah bergerak lebih dulu. Beberapa orang telah dimintanya untuk membantu, mengamati, dan memastikan semuanya jelas tanpa celah. Kini Dian hanya bisa menunggu—bersama Sinta—menanti kabar yang akan menentukan langkah selanjutnya.
Setelah Andi keluar dari kantor, ia langsung menuju sebuah kafe tempat Tasya menunggunya.
“Aku senang banget kamu nggak sama istri dan anakmu, sayang,” ujar Tasya manja, sambil meraih tangan Andi.
Andi tersenyum tipis. “Iya, aku juga sudah bosan. Untungnya Dian cepat pulang,” jawabnya enteng, seolah tak ada rasa bersalah sedikit pun.
“Hari ini aku ikut ke rumah Arif ya, sayang. Aku mau kasih oleh-oleh buat tante, dari Mama,” ujar Sinta sambil melirik paper bag di tangannya.
Andi mengangguk ringan. “Iya, boleh, sayang.”
Mereka tertawa pelan, larut dalam percakapan yang tak seharusnya terjadi. Namun tanpa mereka sadari, dari sudut lain kafe, sepasang mata memperhatikan dengan saksama. Ponsel di tangan seseorang merekam setiap kata, setiap gestur—bukti demi bukti terekam jelas.
Orang itu adalah suruhan Sinta.
Perlahan, satu per satu kepingan kebenaran mulai terkumpul. Dan kali ini, tak ada lagi ruang untuk menyangkal.
Sesampainya di rumah Arif, Tasya langsung melangkah masuk. Dari ruang tamu, Andi bersuara santai,
“Bu, ini ada calon menantu Ibu.”
Bu Minah yang sedang duduk di ruang tengah segera bangkit. Wajahnya berbinar begitu melihat Tasya.
“Eh, calon menantu?” ujarnya antusias, lalu langsung cipika-cipiki dengan Tasya tanpa ragu.
Setelah itu, Bu Minah menggandeng Tasya masuk ke ruang tamu, memperlakukannya seolah sudah menjadi bagian dari keluarga.
Nuri yang baru saja turun ke lantai bawah langsung tersulut emosi begitu melihat perempuan yang selama ini menjadi selingkuhan abang iparnya.
“Bang, kalau mau bawa Tasya, terserah ke mana saja. Tapi jangan ke rumahku,” ucap Nuri tajam sambil melangkah ke dapur tanpa menoleh lagi.
Bu Minah tampak heran, namun memilih diam.
“Sudah, sudah… jangan didengar si Nuri itu, Tasya,” ujarnya ringan, seolah tak terjadi apa-apa.
Wajah Tasya sempat membeku, jelas tak nyaman. Namun setelah Bu Minah menenangkannya, ia kembali memasang raut biasa, bahkan tersenyum tipis.
Andi justru diliputi kegelisahan. Ia menyusul Nuri ke dapur dengan langkah tergesa.
“Nuri, jujur sama abang,” katanya serius. “Kamu sudah cerita apa ke Dian?”
“Cerita apa?” jawab Nuri singkat, malas meladeni.
“Tentang… Tasya,” lanjut Andi ragu.
Nuri menoleh tajam. Amarahnya tak lagi ia sembunyikan.
“Bang, kalau Mbak Dian tahu, itu bukan karena aku atau Arif yang cerita,” katanya tegas.
“Itu insting seorang istri. Jangan pernah abang remehkan. Mungkin Mbak Dian diam, tapi bukan berarti dia bodoh. Bisa jadi dia sudah tahu semuanya.”
Ucapan itu membuat Andi terdiam. Dadanya mendadak sesak—untuk pertama kalinya, ia benar-benar merasa takut.
Setelah Tasya pulang—dijemput oleh temannya—Andi langsung menuju kamar ibunya. Wajahnya tegang, langkahnya tergesa. Ia menceritakan semua ucapan Nuri di dapur, tanpa melewatkan satu pun, hingga kegelisahannya sendiri yang kian menjadi-jadi.
Bu Minah mendengarkan dengan raut datar, nyaris tanpa empati.
“Kalau pun perempuan miskin itu sudah tahu, Ndi, ya sudah. Ceraikan saja,” ucapnya ringan, seolah membicarakan hal sepele.
“Ibu juga tidak pernah menganggap Naya sebagai cucu. Ibu hanya mau cucu laki-laki pertama. Kalau nanti Naya punya adik—itu pun kalau anak kedua laki-laki—baru ibu pertimbangkan nasibnya.”
Kata-kata itu meluncur dingin, tanpa peduli pada Dian sebagai menantu, apalagi pada Naya yang darah daging Andi sendiri.