"Tiga syarat, Maya. Jangan jatuh cinta padaku, jangan mencampuri urusan dinasku, dan jangan biarkan satu orang pun di sekolahmu tahu siapa suamimu."
Lettu Arga adalah perwira muda paling berbakat dengan kekayaan yang melampaui gaji bulanannya. Baginya, pernikahan adalah strategi untuk menyelamatkan karier dari fitnah. Sementara bagi Maya, siswi SMA yang baru berusia tujuh belas tahun, pernikahan ini adalah kontrak untuk menyelamatkan nyawa ibunya.
Di depan saksi dan di bawah sumpah prajurit, mereka terikat. Maya harus belajar hidup di antara kaku dan dinginnya aturan Markas Komando, sementara Arga harus menahan diri agar tidak melewati batas terhadap "istri kecilnya" yang lebih sering memikirkan PR Matematika daripada melayani suami.
Namun, ketika musuh mulai mengincar Maya sebagai titik lemah sang Letnan, Arga sadar bahwa ia telah melanggar syarat pertamanya sendiri: Ia telah jatuh cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mrs. Fmz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Seragam Sekolah dan Seragam Militer
Rapat dan sangat mencekam adalah gambaran pagi pertama Maya Anindya saat harus mempersiapkan diri menuju sekolah dari dalam Markas Komando yang sangat ketat. Dia menatap pantulan dirinya di depan cermin besar yang kini mengenakan kemeja putih bersih serta rok abu-abu yang sudah disetrika dengan sangat rapi oleh ajudan. Namun di samping tas sekolahnya, sebuah rompi antipeluru berwarna hitam pekat tergeletak dengan sangat kontras serta mengerikan di atas tempat tidur.
"Saya tidak mau memakai benda berat itu ke sekolah karena teman-teman pasti akan curiga!" protes Maya Anindya dengan suara yang meninggi serta penuh penolakan.
Arga Dirgantara berdiri tegak di ambang pintu dengan seragam militer hijaunya yang sangat gagah serta lencana perwira yang berkilau tertimpa cahaya lampu. Dia melangkah maju dengan langkah kaki yang sangat berwibawa hingga lantai kamar terasa sedikit bergetar karena kekuatan pijakannya. Pria itu meraih rompi antipeluru tersebut lalu memaksanya agar melekat erat pada tubuh mungil istrinya yang masih sangat belia.
"Keamananmu bukan sebuah bahan perdebatan dan kamu harus memakainya di balik seragam sekolahmu sekarang juga," perintah Arga Dirgantara dengan nada bicara yang sangat dingin.
Maya Anindya merasa napasnya sedikit sesak saat beban berat dari lapisan baja ringan itu mulai menekan dadanya yang sedang berdegup kencang karena amarah. Dia merasa seperti seorang prajurit yang sedang dipaksa maju ke medan perang padahal tugasnya hanyalah pergi belajar di kelas menengah atas. Air mata kekesalan mulai menggenang di sudut matanya saat dia melihat Arga Dirgantara justru sibuk memeriksa senjata api miliknya di depan matanya sendiri.
"Apakah hidup saya memang sudah benar-benar berada dalam bahaya besar sampai Anda bertindak berlebihan seperti ini?" tanya Maya Anindya dengan bibir yang gemetar hebat.
Arga Dirgantara menghentikan gerakannya lalu menatap lurus ke dalam bola mata istrinya dengan sorot mata yang penuh dengan rahasia gelap serta mematikan. Dia merapikan kerah seragam sekolah Maya Anindya agar rompi rahasia itu tidak terlihat menonjol dari arah luar jendela kamar yang masih tertutup rapat. Keheningan yang menyiksa menyelimuti mereka berdua hingga hanya suara deru mesin mobil dinas yang terdengar dari arah garasi rumah dinas.
"Musuh ayahmu tidak akan peduli meskipun kamu hanya mengenakan seragam sekolah yang polos dan tanpa dosa," jawab Arga Dirgantara sambil menarik tangan sang istri untuk segera keluar.
Langkah kaki mereka bergema di sepanjang lorong rumah dinas yang sangat sunyi menuju pintu depan yang sudah dijaga oleh beberapa prajurit bersenjata lengkap. Maya Anindya merasa sangat cemas saat menyadari bahwa dia akan diantar menuju sekolah dengan kendaraan yang sangat mencolok serta penuh dengan kawalan ketat. Dia menoleh ke arah suaminya yang tetap menunjukkan wajah tanpa ekspresi seolah-olah semua ketegangan ini adalah hal yang sangat biasa baginya.
"Ingat, jangan pernah melepas rompi itu sedikit-pun atau saya akan menyeretmu pulang ke markas detik itu juga," tegas Arga Dirgantara dengan nada suara yang mengandung ancaman nyata.
Gadis itu hanya bisa terdiam sambil mengepalkan tangannya di dalam saku rok sekolah saat mobil mulai bergerak meninggalkan wilayah aman Markas Komando. Dia menatap ke arah luar jendela sambil membayangkan tatapan aneh dari guru serta teman-temannya saat melihatnya turun dari mobil perwira militer yang sangat eksklusif. Ketakutan baru mulai merayapi benaknya saat dia menyadari ada sebuah mobil hitam yang terus mengikuti mereka sejak keluar dari gerbang utama yang sangat rahasia.