NovelToon NovelToon
Visionaries Of The Sacred Arc Ujian High Magnus

Visionaries Of The Sacred Arc Ujian High Magnus

Status: sedang berlangsung
Genre:Akademi Sihir / Slice of Life / Action / Fantasi / Anime
Popularitas:88
Nilai: 5
Nama Author: Nakuho

melanjutkan perjalanan Lucyfer setelah kekalahan nya dengan Toma.

kini Lucyfer bergabung dengan kelompok Toma dan akan masuk ke ujian high magnus tapi memerlukan 2 orang tambahan.

setelah 2 slot itu di isi mereka kini menghadapi satu masalah akademi odler adalah musuh yang sulit dan tidak mudah di lawan.

arc ini juga memperkuat beberapa character

dan pertarungan masa lalu sang penyihir kegelapan yang bebas

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nakuho, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

cuma bermain monopoli tapi takut menjadi nyata

Di rumah Toma, sinar matahari cerah menyusup lewat jendela-jendela kecil, menerangi ruang tamu sederhana itu. Aroma teh hangat memenuhi udara.

Toma menuangkan teh satu per satu.

“Maaf ya, cuma ini yang bisa kusajikan. Ibu lagi bikin kue,” katanya agak sungkan.

“EH LIAT INI!” seru Klee tiba-tiba.

Ia mengangkat sebuah kotak permainan.

“Aku bawa monopoli! Kita main yuk!”

Varen mengernyit.

“Hmmm… rasanya aku pernah main ini. Kalau nggak salah.”

“Sudah, main saja,” potong Sylvara dingin.

Mereka pun duduk melingkar dan mulai bermain.

Giliran Lucyfer.

Ia mengambil sebuah kartu, membaca isinya pelan.

“Kakakmu kembali dalam keadaan hamil… dengan banyak anak… dan suaminya yang tampan.”

“—PUH!”

Lucyfer mimisan seketika. Ia menatap kosong ke depan.

“Kak Elice… jangan begitu… jadi ini rasanya diselingkuhi kakak sendiri…” gumamnya lirih penuh penderitaan.

“Dasar aneh,” komentar Sylvara datar.

Giliran Sylvara.

Ia membaca kartunya… lalu membeku.

“Kau sedang berjalan-jalan… topengmu jatuh… dan kau menatap seseorang yang pengecut dan suka berteriak.”

Tubuh Sylvara kaku.

Lalu—bruk.

Ia pingsan di tempat.

Elviera menghela napas pelan.

“Ya ampun… kau terlalu dramatis, Sylvara.”

Varen menelan ludah.

“A-aku punya firasat buruk tentang kartu Elviera nanti…”

Giliran Elviera.

Ia membaca kartunya dengan suara pelan.

“Tuan yang kau jaga sejak umur delapan tahun… menikah dengan putri kerajaan lain dan bahkan memiliki banyak anak."

“—PUH!”

Elviera mimisan, menatap langit-langit.

“Jangan begitu, Tuan Muda Lucyfer… aku bisa mimpi buruk seumur hidup…”

Lucyfer memalingkan wajah dengan rasa bersalah.

“NAH! GILIRAN GUE!” teriak Alven.

Ia membaca kartunya keras-keras.

“Kau tinggal di keluarga yang suka suara keras… dan gelombang suara sangat kuat.”

Alven menatap kosong ke atas.

Lalu tertawa getir.

“HAHAHAHA… sakit tak berdarah. Kalau aku dapat keluarga begitu, tamat hidupku.”

“Sudahi saja,” kata Selesia.

“Main monopoli ujung-ujungnya bikin sakit hati dan trauma.”

Namun… sudah terlambat.

Giliran Selesia.

Ia membaca kartunya.

“Tuju—uh orang berlari dan mengelilingi rumah… lima kali.”

Semua terdiam.

Tak lama kemudian—

Ibu Toma keluar membawa sepiring kue kering.

Namun halaman rumah… kosong.

Di sisi lain rumah—

Lucyfer, Elviera, Sylvara (yang sudah sadar), Klee, Toma, Selesia, dan Alven berlari mengelilingi rumah sambil terengah-engah.

"Waaaa."

"Weeee."

"Wuuuu."

Satu… dua… tiga… empat… lima kali.

Rhan Ansel mengedipkan mata, bingung.

“Wah… teman-temanmu sangat periang dan ceria ya, Nak muda, kau pasti merasa berat."

Varen berdiri di teras, menyilangkan tangan.

“Tentu saja. Mereka semua tidak normal. Cuma aku yang normal di antara mereka bertujuh,"

"Memang sangat berat sekali."

Rhan tersenyum kecil dan sedikit heran.

"waah semangat ya nak muda memiliki teman teman seperti ini haha."

Hari perlahan gelap. Matahari tenggelam di ufuk.

Satu per satu mereka pamit.

"dadahh,nyonya rhan"kata klee yang melambaikan tangan.

Selesia menunduk dan berjalan pergi.

Lucyfer tersenyum kecil dan melambaikan tangan sedikit.

Elviera tanpa senyum menunduk sopan.

Sylvara melambaikan tangan.

Varen maju

"A... Anu maaf nyonya rhan Ansel kalau kami merepotkan Anda,ayo Alven!"kata varen yang menunduk

Rhan tersenyum kecil.

"ahh tak apa apa kok, lagi pula kalian teman teman Toma."

Alven di dorong varen dengan kedua tangan nya sementara itu alven yang memegang banyak kue dan memakan nya dengan tatapan datar.

Rhan hanya melambaikan tangan sambil tersenyum kecil—

senang karena putranya memiliki teman-teman yang hangat dan penuh tawa.

Saat ia menyapu rumah, pandangannya berhenti pada sebuah lukisan tua di dinding.

Seorang pria berjubah High Magnus, dengan lambang matahari di dadanya.

Gharn Ansel.

Leluhur Toma.

Bayangan masa lalu pun diam-diam menunggu waktunya kembali.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!