Aku Nadia istri dari Mas Afif dan ibu dari Bintang. aku istri yang setia, yang selalu berusaha melayani suamiku dengan baik, menemaninya dari nol. aku juga ibu yang baik untuk anakku Bintang. singkatnya aku berusaha menjadi yang terbaik untuk suami dan anakku.
Namun di saat pernikahanku yang ke tujuh, Mas Afif memberikanku kejutan besar, dia membawa seorang wanita lain ke dalam rumah tangga kami, namanya Laras dan anak tirinya bernama Salsa, yang Bintang selalu bilang kalau anak itu adalah anak tercantik di kelasnya.
cerita perhianatan dan kebangkitan Nadia dari penghianatan suaminya.
happy reading All❤️ bantu support cerita pertama saya ya, trims🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Acaciadri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Aku dan Bintang langsung pergi tanpa mau berlama-lama lagi di sekolah, apalagi sampai menghampiri Mas Afif dan anak tirinya. Untungnya Bintang tak protes dan malah senang saat aku mengajaknya untuk ke mall.
“Mau beli apa sih, Bin?.“Tanyaku yang di balas dengan senyum lebar dan kedua mata berbinar dari anakku.
“Banyak ma, Bintang mau mainan, bintang mau makanan, bintang juga mau bermain di time zone, ma. Boleh kan?.“Ujarnya terlihat begitu bahagia sekali yang seketika membuatku ikut bahagia juga, walau tadi di sekolah sempat kesal karena Mas Afif, namun semua rasa kesal itu seolah meluap dan menghilang karena senyum di bibir anakku Bintang.
“Boleh dong.“Jawabku sambil mengangguk dan membuat anak itu terpekik karena senang sampai meloncat-loncat di depanku dan tersenyum lebar. Padahal hanya ke mall lho, tapi ekspresinya itu lho. Terlalu too much, tapi aku senang sekali.
“Yaudah, tapi makan dulu, ya?.“Ucapku yang di jawab dengan anggukan antusias oleh anakku. Lalu aku pun membawanya ke lantai dua di mall ini, di mana beberapa stand makanan yang menurutku enak-enak.
“Gak papa kalau makan ayam geprek, kan?.“Tanyaku padanya, Bintang lagi-lagi menganggukan kepalanya pasrah. Bersyukur punya anak yang gak banyak neko-neko dan selalu nurut padaku. Setidaknya bersama dengan Bintang sku merasa bahagia, ya. Ku rasa hidup tanpa mas Afif pun aku sanggup kok.
Kami telah sampai di stand ayam geprek lalu mengambil duduk di pojokan. Pelayan sudah membawa pesanan kami__aku memilih bagian dada dengan satu porsi nasi dan minumannya es lemon, sedang bintang memilih potongan paha tanpa memakai sambal, Bintang tak kuat pedas dengan minumannya es teh manis__aku berdo'a semoga saja kali ini aku tidak mual-mual dan semoga saja ayam geprek gang ku pesan bisa ku makan semua, tanpa ku muntahkan lagi.
Sejujurnya tubuhku masih cukup lemas. Tapi aku tak mungkin terus-terusan mengabaikan anak sulungku, kasihan dia. Apalagi di selalu merengek minta jalan-jalan saat aku terbaring sakit beberapa waktu yang lalu. Huhhhh!!! Aku jadi kesal pada mas Afif, dia sama sekali tidak punya inisiatif menghubungi anaknya, menanyakan kabar atau berniat bawa Bintang jalan-jalan kek, Bintang itu anak kandungnya lho, kalau aku sih gak papa.
Ahhh ingatanku melanglang buana pada masa lalu kami, di mana Mas Afif dulu itu begitu so sweet dan selalu mengutamakanku di atas segalanya, tapi semuanya mendadak berubah tatkala dia punya istri lain.
“Mama, ayamnya udah dateng.“Ucap Bintang yang berhasil memecah lamunanku, refleks, aku pun memberikan senyuman lebar dan tak lupa berterimakasih kepada pelayan yang sudah mengantarkan pesanan kami.
“Mau mama suapin atau sendiri?.“Tanyaku pada anakku. Bintang menggelengkan kepalanya, tatapan yang mirip sebening telaga itu terlihat begitu antusias sekali.
“Mau sendiri mama, Bintang udah bisa kok.“Jawabnya yang seketika membuat bibibirku terangkat dan membentuk sebuah senyuman tipis di sana__Bintangku memang paling top. Dia sangat pengertian dan mandiri, padahal usianya masih kecil. Aku beruntung sekali memiliki anak seperti Bintang.
“Tapi kita harus cuci tangan dulu lho, Bin!.“Peringatku yang membuat bibirnya mengerucut dan binar di matanya pun menghilang, dengan gontai, anak itu mengikuti langkahku yang menuju westafel untuk mencuci tangan terlebih dulu.
*************
Makan sudah, time zone sudah, beli mainan juga sudah. Bintang terlihat bahagia dengan jalan-jalan kami hari ini, pun denganku yang ikut bahagia karena anakku bahagia.
Ternyata benar ya. Setelah jadi ibu mah definisi bahagia itu sangat simpel. Hanya melihat anak kita bahagia, udah, itu aja
“Senang sayang?.“Tanyaku sambil mengelus kepalanya, kami sudah berada di mobil. Namun aku belum berniat untuk menyalakan mobilku dan membawanya pergi dari parkiran, aku masih ingin menghabiskan waktuku bersama dengan anakku.
“Banget, makasih ya, mama.“Ucapnya sambil tersenyum lebar dan menatap ke arahku, ku balas senyuman itu tak kalah lebarnya. Tak lupa aku pun mengetuk-ngetuk pipiku menggunakan telunjuk sambil mengkode lewat mataku__Bintang yang seolah mengerti pun langsung berdiri dan mengecup pipiku.
“So sweet banget sama mamanya.“Ledekku yang membuat kedua pipinya bersemu kemerahan karena malu__Jika di tanya, apakah aku menyesal menikah dengan Afif. Karena faktanya pria itu malah menyakitiku dan tidak seperti janjinya dulu yang skan selalu membuatku bahagia. Maka jawabannya tidak sama sekali, karena menikah dengannya aku memiliki Bintang. Bintang permata hatiku, kebahagiaanku dan alasanku untuk tetap hidup.
Lelah, letih, kemarahan hingga kesal. Semuanya meluap begitu aku melihat senyum lebar dan tatapan berbinar dari matanya__hidupku sangat berarti dan menjadi lebih berwarna karena kehadirannya. Bintang adalah salah satu anugerah yang bahkan tak ternilai harganya.
“Mama, itu papa ya sama tante Laras?.“Tunjuk Bintang yang seketika membuat mataku mengikuti arah telunjuknya. Aku tersenyum sinis tatkala mataku melihat Mas Afif yang bergandengan erat bersama Laras. Katanya Laras sedang sakit, tapi bisa ke mall ya? Bahkan dia terlihat baik-baik saja kok. Setidaknya tubuhnya masihlah segitu, tidak sepertiku yang harus kehilangan bobot tubuhku karena mual dan muntah-muntah__haha, tidak apa-apa sih, lagian dengan adanya Bintang sudah cukup kok. Batinku meyakinkan walau rasanya tetaplah sakit, mengingat mas Afif yang terlalu membedakanku dan Laras.
***********
“Mi, tolong masakin ayam goreng sama sambel, ya?.“Ucapku pagi-pagi dan menghampiri Mia di dapur yang sedang memasak menu untuk sarapan.
Mia menoleh ke arahku dengan kening yang terlihat mengeryit.
“Gak mau bubur, nya? Emang nyonya udah bisa makan selain bubur?.“Tanyanya terdengar khawatir dan membuatku terkekeuh pelan, dengan tegas aku pun menganggukan kepalaku.
“Kemarin udah nyoba makan ayam geprek kok, dan alhamdulillah gak muntah.“
Terdengar Mia menghela nafasnya lega”Oh syukur deh kalau gitu mah. Siap Nya, saya masakin ayam goreng dan sambal yang enak pokoknya, serahin sama Mia soal urusan dapur mah.“Tukasnya terdengar percaya diri sekali, aku hanya mengangguk saja sambil tersenyum tipis__masakan Mia lumayan enak kok dan cocok-cocok saja di lidahku.
“Aku tinggal ya? Mau bangunin dulu Bintang.“
“Siap Nya.“
Aku dan Bintang sudah duduk di kursi makan dengan menu sarapan kali ini ayam goreng, sambal dan nasi goreng saja. Untuk ayam goreng dan sambal jelas request ku kalau nasi goreng permintaan Bintang..hehehe karena hanya ada kami berdua yang akan makan, aku memang memerintahkan supaya Mia tak banyak memasak.
“Mama, habis ini Bintang mau main ke tetangga ya?.“Ucap anakku sambil menatapku penuh harap, ku hela nafasku panjang sebelum aku menjawabnya, tetangga depan adalah orang kaya dan mereka sebetulnya sangat welcome dan baik, tapi aku yang kadang insecure, aku yang khawatir kalau anakku dan anak mereka beda kelas. Mungkin aku keterlaluan ya? Sebab sangat membatasi pergaulan anakku, tapi ya. Mau bagaimana lagi, namanya juga ibu. Aku hanya takut kalau Bintang akan di buli di sana, walau besar kemungkinannya tidak akan, mengingat mereka baik-baik kok.
“Hmm..“
“Boleh ya, ma? Kak Fajar mau ajarin aku main ular tangga, mama ih..“Bintang ngambek dan seketika suara sendok yang di lepas jelas terdengar, aku mengambil air minum dan langsung meminumnya hingga setengah lalu menatap Bintang lekat.
“Iya, tapi sebelum dzuhur harus pulang, ya?.“
“Iya mama, Aku janji..“
“Yaudah makan lagi, gak usah ngambekan gitu. Kamu laki-laki Bin..“Ujarku dan membuat Bintang menganggukan kepalanya, lalu Bintang pun kembali meraih sendoknya dan makan nasi goreng miliknya.