Aisya harus menelan pil pahit, dua tahun pernikahan, ia belum dikaruniai keturunan. Hal ini membuat mertuanya murka dan memaksa suaminya menjatuhkan talak.
Dianggap mandul dan tak berguna, Aisya dicampakkan tanpa belas kasihan, meninggalkan luka yang menganga di hatinya.
Saat sedang mencoba menyembuhkan diri dari pengkhianatan, Aisya dipertemukan dengan Kaisar.
Penampilan Kaisar jauh dari kata rapi, rambut gondrong, jaket kulit lusuh, dan tatapan liar. Mirip preman jalanan yang tampak awur-awuran.
Sejak pandangan pertama, Kaisar jatuh cinta pada Aisya. Ia terpesona dan bertekad ingin menjadikan Aisya miliknya, memberikan semua yang gagal diberikan mantan suaminya.
Tapi, mampukah Kaisar meluluhkan hati Aisya yang sudah terlanjur hancur dan tertutup rapat? Atau apakah status dan cintanya yang tulus akan ditolak mentah-mentah oleh trauma masa lalu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Pagi itu, sosok pria jangkung dengan setelan kemeja yang rapi dan aura yang sangat berwibawa keluar dari mobil tersebut.
Wajahnya yang bersih tanpa kumis liar dan rambut yang tertata rapi membuatnya terlihat seperti pangeran yang salah alamat di pemukiman sederhana itu.
Mirna, yang sedang menyapu teras, seketika berhenti. Ia menyipitkan mata, menatap pria asing yang tampak begitu asing di lingkungannya. Ketampanan Kaisar membuat Mirna tertegun sejenak.
"Cari siapa, ya, Mas?" tanya Mirna dengan nada yang tidak sekasar biasanya, terpesona oleh penampilan Kaisar.
"Selamat pagi, Bu. Saya atasan Hendra di kantor. Nama saya Kaisar. Saya ke sini ingin mengembalikan ponsel milik Aisya yang tertinggal semalam."
Wajah Mirna yang awalnya ramah seketika berubah drastis. Matanya melotot curiga. "Ponsel Aisya? Kenapa bisa ada di tangan kamu? Apa urusannya menantu saya dengan atasannya Hendra sampai ponselnya bisa tertinggal?"
"Semalam ada acara kantor di hotel dan Aisya membantu di sana. Ponselnya terjatuh saat ia terburu-buru pulang," jawab Kaisar tenang, meski ia tahu Mirna sedang mencari celah untuk menghakimi.
Belum sempat Mirna membalas, pintu rumah terbuka. Aisya muncul dengan wajah yang masih sembap dan mata yang kemerahan. Ia tertegun melihat sosok yang berdiri di depannya.
"Mas Kaisar?" ucap Aisya lirih. Ia segera menundukkan pandangannya, merasa tidak pantas ditatap oleh pria sesempurna itu dalam kondisinya yang kacau.
"Ini ponselmu, Aisya. Tertinggal di mobil... em maksud saya, tertinggal semalam," ujar Kaisar sambil menyodorkan ponsel itu. Ia hampir saja keceplosan menyebutkan mobilnya.
Aisya melangkah mendekat, tangannya gemetar saat mengambil ponsel tersebut.
"Terima kasih banyak, Mas. Maaf sudah merepotkan."
Tepat saat ponsel itu berpindah tangan, sebuah notifikasi berbunyi nyaring. Layar ponsel itu menyala otomatis. Aisya refleks melihatnya, dan dalam sekian detik, dunianya benar-benar runtuh berkeping-keping.
Sebuah pesan dari nomor tidak dikenal masuk. Isinya adalah sebuah foto. Foto yang sangat jelas, memperlihatkan Hendra sedang tertidur pulas tanpa busana di atas ranjang hotel, dan di sampingnya, Rima sedang berpose memeluk Hendra dengan senyum kemenangan, juga tanpa sehelai benang pun yang menutupi tubuh bagian atasnya.
Rima juga mengirim pesan.
[Lihat betapa nikmatnya suamimu semalam. Dia melakukannya berkali-kali karena dia menginginkan keturunan yang tidak bisa kamu berikan. Aku punya video yang lebih panas jika kamu mau melihatnya]
Ponsel itu jatuh menghantam lantai teras. Tubuh Aisya lemas seketika. Wajahnya yang pucat kini berubah menjadi pucat pasi seperti mayat. Napasnya memburu, sesak yang tadi malam ia rasakan kini kembali menghantam sepuluh kali lebih kuat.
"Aisya? Ada apa?" tanya Kaisar cemas. Ia melihat perubahan mimik wajah Aisya yang sangat drastis.
Aisya tidak menjawab. Tanpa mempedulikan ponselnya yang tergeletak di lantai, ia berbalik dan lari masuk ke dalam rumah. Suara pintu kamar yang terbanting keras terdengar hingga ke teras.
Marni yang bingung segera memungut ponsel itu. Namun, sebelum ia sempat melihat layarnya, Kaisar lebih dulu menyambarnya dengan cepat. Kaisar sempat melihat sekilas gambar di layar tersebut sebelum ia mematikannya.
"Ada apa dengan anak itu?! Dasar tidak sopan!" teriak Marni kesal. Ia lalu menatap Kaisar. "Lebih baik kamu pergi sekarang. Anak saya Hendra belum pulang, mungkin dia sedang sibuk urusan penting di kantor. Jangan pedulikan menantu saya yang aneh itu."
Kaisar ingin sekali mendobrak pintu itu dan menenangkan Aisya, namun ia sadar posisinya. Ia tidak ingin memperkeruh suasana bagi Aisya.
Dengan tangan mengepal, Kaisar pamit. "Saya permisi, Bu." lalu memberikan ponsel Aisya pada Marni.
Sesampainya di mobil, Kaisar memukul kemudi dengan keras. "Sialan! Hendra, kau benar-benar binatang!" umpatnya, tahu apa yang dilihat Aisya.
*
*
Di dalam kamar, Aisya bersimpuh di balik pintu. Ia menangis sejadi-jadinya, menutup mulutnya dengan tangan agar teriakannya tidak terdengar oleh Mira. Rasa sakit itu begitu nyata, seolah jantungnya sedang diremas dan dicabik-cabik.
"Kenapa, Mas? Kenapa harus begini cara kamu menyakitiku?" isak Aisya di sela napasnya yang tersengal.
Kata-kata di pesan itu terus terngiang-ngiang.
Aisya memukul dadanya sendiri yang terasa sangat sesak. Ia sadar, ia memang belum bisa memberikan anak, tapi apakah itu membenarkan pengkhianatan semurah ini?
Apakah semua pengabdiannya selama dua tahun ini tidak ada harganya dibandingkan satu malam di ranjang hotel?
"Ya Allah... hamba tidak kuat. Hamba sudah tidak punya tempat bersandar lagi sekarang..." Aisya meringkuk di lantai yang dingin, meratapi nasibnya yang malang.
Di saat ia baru saja ingin mencoba tegak berdiri, badai yang lebih besar datang meluluhlantakkan nya. Pengkhianatan Hendra bukan hanya membunuh cintanya, tapi juga membunuh sisa-sisa semangat hidupnya.
Tok! Tok!
Mirna mengetuk pintu. Aisya buru-buru bangkit dan menghapus air matanya. Kemudian membuka pintu.
"Dasar tidak sopan! Ada tamu datang mengembalikan ponsel malah ditinggal begitu saja!" ketus Marni menyodorkan ponsel Aisya dengan kasar.
Lantas, Marni bergegas keluar. Malas melihat wajah menantunya itu.
Aisya membuka ponselnya dan hendak menghapus foto menjijikan yang Rima kirim. Notifikasi pesan masuk kembali terdengar.
[Bercerai lah dari mas Hendra. Setelah ini kami memutuskan untuk menikah. Kalau kamu menolak bercerai, aku akan menyebarkan semua bukti ke media sosial dan karir mas Hendra akan hancur]
apa Sarah nama tengah belakang atau samping 🤣