Sejak kecil, hidup Nadira tak pernah benar-benar aman. Jaka—mantan yang terlalu obsesif—menjadi bayangan gelap pertama yang menjeratnya. Keenan datang sesudahnya, lembut dan perhatian, tapi jauh di dalam hati Nadira tahu: perhatian tidak selalu cukup untuk menyembuhkan luka.
Lalu hadir Nalen. Seseorang yang membuat Nadira untuk pertama kalinya merasa dicintai tanpa syarat. Namun ketika ia mulai percaya bahwa hidupnya bisa berubah… justru pada malam hujan itu, dunia Nadira hancur di tangan orang yang seharusnya melindunginya.
Erwin. Sepupunya sendiri.
Pria yang memaksanya, merobek pakaiannya, membungkam teriakannya, menggagahi tubuh yang bahkan belum mengerti bagaimana cara melawan. Malam itu mencuri segalanya—harga diri, keamanan, suara, dan masa depan Nadira.
Tak ada pelukan yang cukup kuat untuk menghapus ingatan itu. Tidak Jaka, tidak Keenan… bahkan tidak Nalen yang datang paling akhir, saat semuanya sudah terlambat.
Yang tersisa hanyalah Nadira—dengan tubuh memar, jiwa koyak, dan hidup yang terus memaksanya berdiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kim Varesta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Senyuman Indah
🦋
Setelah sekian lama, akhirnya bibir Nadira kembali membentuk sesuatu yang nyaris ia lupa rasanya: senyum.
Bukan senyum hambar yang ia pakai untuk bertahan hidup.
Bukan senyum palsu yang hanya untuk menenangkan orang lain. Tapi senyum seorang gadis remaja murni, cerah, dan penuh hidup.
"Eh… kamu senyum?"
Suara Laura terdengar hampir tidak percaya.
Nadira menoleh, masih dengan lengkungan kecil di bibirnya.
"Iya," jawabnya singkat, seolah takut kalau senyum itu akan luntur kalau ia bicara terlalu banyak.
Laura mendekat setengah langkah, menatap wajah Nadira lebih saksama. "Serius deh… aku hampir lupa gimana ekspresi kamu kalau lagi bahagia."
Nadira terdiam sebentar. "Aku juga," gumamnya pelan, hampir seperti bicara pada diri sendiri.
Dua minggu kebersamaan dengan orangtuanya benar-benar menjadi napas baru bagi Nadira. Seperti seseorang yang tenggelam lama dan akhirnya mencium udara segar kembali.
Laura bahkan sempat terkejut melihat perubahan itu. "Dira, kamu… keliatan cantik kalau senyum gitu."
Nadira hanya terkekeh malu, menutupi pipinya. "Aku cuma lagi senang."
"Bukan cuma senang," balas Laura cepat. "Kamu keliatan hidup."
Nadira menelan ludah. Kata itu 'hidup' terdengar asing tapi hangat.
"Jangan sering-sering ditutup," goda Laura "Nanti senyumnya kabur lagi."
Nadira tertawa kecil. Untuk pertama kalinya, tawa itu tidak terasa dipaksakan.
Namun di balik kebahagiaan itu, dunia tidak pernah benar-benar membiarkan Nadira beristirahat lama.
***
Di ruang tamu, Riana duduk sambil menyeruput teh panas, matanya melirik ke arah Fahira yang tengah melipat mukena. Senyumnya tipis, ada nada sinis tersembunyi.
"Kamu juga harus ngasih tau Nadira kalau dia salah," kata Riana sambil memainkan kukunya. "Jangan dibela terus. Nanti besar kepala."
Fahira berhenti melipat. Tangannya diam sesaat. "Anak itu nggak aneh-aneh, mbak," ucapnya pelan.
"Bukan aneh," Riana menyela cepat. "Tapi terlalu dibiarkan. Anak perempuan itu harus tahu diri, harus tau menempatkan diri."
Riana mendengus kecil. "Sekarang mungkin belum. Tapi namanya anak perempuan, kalau kebanyakan dimanja, biasanya lupa diri."
Fahira menatap saudara iparnya itu dengan ekspresi datar. "Iya, mbak. Nanti aku nasehatin lagi Nadira-nya."
"Sekalian bilangin… jangan pacaran terus. Kalau mbak yang bilang pasti dibantah."
Riana tertawa kecil, padahal tidak lucu. "Anak sekarang tuh pinter-pinter nyari alasan."
Fahira menunduk. Ia ingin berkata: 'Nadira tidak seperti itu.'
Tapi kata-kata itu berhenti di dadanya.
Fahira tidak menjawab. Namun ia tetap mengangguk, seperti sebuah kebiasaan yang terbentuk karena terlalu sering tertekan.
Di dalam hatinya, Fahira lelah. Lelah harus memilih diam agar rumah tetap tenang. Padahal ketenangan itu sering kali dibangun dari pengorbanan anaknya sendiri.
Riana selalu tahu bagaimana menusuk tempat yang tepat dan ia selalu melakukannya dengan sengaja.
Beberapa menit kemudian, Nadira keluar dari kamar setelah mengganti baju. Rambutnya diikat rapi, wajahnya terlihat lebih segar. Ia tidak tahu bahwa ibunya sedang membawa beban pikiran dari ucapan Riana barusan.
"Nadira…" Fahira memanggil dengan nada hati-hati.
Nadira menghampiri, menatap ibunya.
"Iya, Bu?"
Fahira menatap wajah anaknya lama. Terlalu lama. Seolah sedang mencari kesalahan yang sebenarnya tidak ada.
"Kamu… jangan banyak pacaran. Fokus sekolah. Ibu nggak mau kamu salah jalan."
Nadira menatap ibunya dengan ekspresi bingung. "Pacaran? Dira pacaran sama siapa…?"
Fahira terdiam sebentar sebelum menjawab. "Ya ibu cuma ngingetin,"
Suara Fahira terdengar sedikit ragu. "Ibu nggak mau kamu dengerin omongan orang luar, terus ngeyel sama keluarga."
Nadira terdiam sesaat. Dadanya terasa menghangat bukan marah, tapi kecewa yang pelan.
"Bu…" Nadira menarik napas, "aku selama ini nurut. Aku sekolah, aku jaga sikap. Dan aku nggak pernah macem-macem."
Ia mengangkat wajahnya.
"Sekarang gini aja, Bu…" Ia menatap mata ibunya dengan ekspresi datar tapi jujur.
"Ibu lebih percaya sama bude Riana… atau sama anak ibu sendiri? Anak yang ibu lahirin?"
Fahira terdiam. Ada rasa sakit yang tiba-tiba muncul di wajahnya.
"Nadira..."
"Ibu pasti bisa bedain mana yang bohong dan mana yang jujur," lanjut Nadira dengan suara pelan namun tegas. "Aku nggak minta dibela. Aku cuma… pengen dipercaya."
Suasana jadi hening. Bahkan suara jam dinding terdengar terlalu keras.
Fahira menghela napas panjang, menurunkan pandangan. "Ibu cuma… nggak mau kamu disalahin sama keluarga ayahmu. Kamu kan tahu sendiri, Dira."
Nadira mengangguk, meski hatinya sedikit perih. "Iya, Bu. Aku ngerti."
Ia tidak melanjutkan. Karena ia tahu, kadang orang dewasa mencintai dengan cara yang salah, tapi tetap merasa benar.
***
Siang itu, rumah terasa lebih lengang dari biasanya. Angin yang masuk dari jendela membawa aroma laut dari kejauhan, angin khas pedesaan dekat pantai.
Di halaman depan, seorang remaja laki-laki berdiri sambil menunggu. Namanya Jaka. Anak dari desa tetangga yang notabenenya adalah pacar Nadira.
Jaka menggeser posisi berdirinya, sedikit gugup. Helm motor ada di tangan kiri, sesekali diputar-putar.
"Om Fayzel…" panggil Jaka saat melihat ayah Nadira keluar membawa sandal.
Fayzel menoleh. "Ya?"
"Saya mau minta izin… mau ajak Nadira jalan-jalan ke pantai siang ini."
Nadanya sopan, ragu, tapi tulus.
Fayzel terlihat kaget sebentar. Ia menatap Jaka, lalu melirik ke arah rumah.
Namun bukannya menjawab… Fayzel malah berbalik badan dan masuk kembali ke dalam rumah tanpa sepatah kata.
Langkahnya pelan, tidak marah, tidak juga mengizinkan.
Jaka terdiam. Wajahnya kehilangan sedikit warna.
"Oh…" Ia tersenyum kaku. "Mungkin waktunya kurang pas."
Sementara dari dalam rumah, Nadira melihat kejadian itu melalui pintu yang setengah terbuka.
"Ya Tuhan…" gumam Nadira lirih sambil memegang dadanya.
Ia buru-buru keluar. "Jaka… maaf, Ayah aku tadi…" Kata-katanya menggantung.
Jaka menggeleng cepat. 'Gak apa-apa. Mungkin Ayah kamu lagi capek."
"Biasanya Ayah nggak gitu," ucap Nadira pelan. "Maaf ya… aku jadi ngerasa nggak enak."
"Jangan," jawab Jaka lembut. "Aku cuma… khawatir sama kamu."
Ia menatap tangan Nadira yang masih memiliki bekas luka samar. "Nadira… kamu nggak apa-apa, kan?"
Nadira terdiam. Ada jeda kecil lalu ia tersenyum.
Iya. Aku baik.” Untuk sekali ini, ia tidak berbohong pada dirinya sendiri. "Beneran."
Jaka mengangguk, meski matanya masih menyimpan cemas. "Kalau gitu… kapan-kapan aja. Aku tunggu."
"Terima kasih," kata Nadira. "Beneran gak apa-apa?."
"Iya gak apa-apa kok," jawab Jaka sambil tersenyum kecil.
Setelah Jaka pergi, Nadira masuk ke kamar. Ia duduk di lantai dekat jendela—tempat yang biasa ia duduki ketika mentalnya runtuh. Bedanya hari ini, ia duduk bukan karena sedih… tapi karena mencoba memahami perasaannya sendiri.
Ia meraih kaca kecil di meja.
Menatap pantulan dirinya lama.
"Masih kamu," gumamnya. "Dan… kamu nggak seburuk itu."
Jerawatnya masih ada. Bekasnya juga ada. Tapi untuk pertama kalinya… ia tidak membenci bayangan dirinya.
"Dira… kamu boleh bahagia, kok," bisiknya kepada diri sendiri.
Senyum kecil itu muncul lagi. Ia tahu banyak hal masih berantakan. Ia tahu keluarganya masih sulit dihadapi. Ia tahu luka batinnya masih panjang untuk disembuhkan.
Tapi hari ini… ia memilih percaya satu hal kecil:
Bahwa senyum itu nyata. Bahwa perasaannya valid. Bahwa dirinya masih layak disayang.
Dan senyuman indah itu kembali tumbuh setelah sekian lama mati.
Senyuman yang jadi pertanda…
bahwa Nadira masih punya harapan.