NovelToon NovelToon
Menyingkirkan Gundik Suamiku

Menyingkirkan Gundik Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Terlarang / Obsesi / Pelakor jahat
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: kikoaiko

Di balik senyumnya yang lembut dan rumah tangga yang terlihat harmonis, Kiandra menyimpan luka yang tak kasat mata. Lima tahun menikah, pengorbanan dan cintanya pada Adam Mahendra, suaminya, seakan tak berarti.

Nadira, wanita manipulatif yang datang dengan sejuta topeng manis dan ambisi untuk merebut apa yang bukan miliknya.

Awalnya Kiandra memilih diam, berharap badai akan berlalu. Namun ketika suaminya mulai berubah, ketika rumah yang dibangunnya dengan cinta hampir runtuh oleh kebohongan, Kiandra sadar diam bukan lagi pilihan.

Dengan hati yang patah namun tekad yang utuh, Kiandra memulai perjuangannya. Bukan hanya melawan Gundik yang licik, tapi juga melawan rasa sakit yang suaminya berikan.

Di tengah air mata dan pengkhianatan, ia menemukan kekuatan baru dalam dirinya. Harga diri, dan cinta yang layak di perjuangkan.

Kiandra kembali membangun karirnya, membuat gundik suaminya semakin tidak setara dalam segala hal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12

Langkah Adam dan Nayla menyatu di antara hiruk pikuk kota Berlin yang dipenuhi wisatawan. Bangunan-bangunan tua dengan arsitektur klasik berdiri anggun di kanan kiri jalan, sementara udara dingin menusuk kulit, namun tak sedikit pun mengurangi senyum di wajah Nayla. Wanita itu tampak menikmati setiap detik kebersamaannya dengan Adam, seolah dunia hanya milik mereka berdua.

Adam berjalan di sampingnya, sesekali melirik jam tangannya, tetapi tak pernah benar-benar menolak saat Nayla berhenti di depan etalase toko. Dari butik ke butik, dari merek ternama ke merek paling eksklusif, Adam dengan mudah mengeluarkan kartu hitamnya. Tas branded dengan logo mencolok berpindah ke tangan Nayla, disusul baju-baju musim dingin, sepatu kulit mahal, hingga perhiasan sederhana namun bernilai fantastis. Semua dibayar tanpa ragu, tanpa berpikir lebih.

Nayla tertawa kecil setiap kali kantong belanja mereka bertambah. Ada kepuasan tersendiri di matanya, kepuasan yang lahir bukan hanya dari barang-barang mahal, melainkan dari perhatian penuh seorang pria yang seharusnya bukan miliknya sepenuhnya.

Di salah satu toko, saat Adam sibuk berbincang dengan pramuniaga, Nayla memandangi mereka di kaca etalase. Pria itu tampak begitu pas berdiri di sampingnya. Untuk sesaat, Nayla membiarkan hatinya berkhayal, tentang kehidupan lain, tentang peran yang seharusnya ia jalani jika keadaan berpihak padanya.

Saat mereka melangkah keluar, Nayla menoleh dan bertanya dengan nada ringan, seolah hanya percakapan biasa.

“Kamu tidak membelikan untuk istri dan putramu juga?” tanyanya, bibirnya melengkung samar, mata tajam mengamati reaksi Adam.

Adam terdiam sepersekian detik, lalu mengangkat bahu santai. “Tidak usah. Dia sudah sering membeli baju dan tas sendiri,” jawabnya datar. Tidak ada rasa bersalah di wajahnya, seolah yang ia ucapkan adalah hal paling wajar di dunia.

Padahal kenyataannya, Adam memang jarang membelikan Kiandra apa pun. Kecuali di hari ulang tahun atau anniversary pernikahannya, itupun sekadar formalitas. Selebihnya, Kiandra terbiasa memenuhi kebutuhannya sendiri, tanpa menuntut, dan tanpa mengeluh sedikit pun karena Adam memang sudah memberikan uang bulanan yang nilainya tidak sedikit.

Bahkan untuk putra mereka, Adam lebih sering absen dalam hal-hal kecil yang seharusnya berarti.

Nayla mengangguk paham. Senyum di bibirnya menipis, namun ada kilat kemenangan di balik tatapan matanya. Ia menggenggam tangan Adam, jemarinya menyelinap erat, lalu menarik pria itu masuk ke salah satu restoran mewah di sudut jalan. Restoran itu bernuansa hangat, dengan lampu kekuningan dan alunan musik klasik yang lembut.

Mereka duduk berhadapan. Adam memesan makanan tanpa bertanya, seolah sudah hafal apa yang Nayla sukai. Tawa mereka sesekali pecah, bercampur dengan percakapan ringan dan candaan yang terasa terlalu intim untuk sekadar teman.

Namun di luar restoran itu, beberapa meter dari tempat mereka duduk, sepasang mata mengamati dengan saksama. Sejak tadi, seseorang mengikuti langkah mereka, menjaga jarak dengan hati-hati. Kamera ponsel terangkat perlahan, mengabadikan setiap momen mereka berdua. Tangan yang saling menggenggam, tatapan penuh makna, hingga senyum yang tak seharusnya dimiliki seorang pria beristri.

Tanpa Adam dan Nayla sadari, setiap kebahagiaan semu yang mereka nikmati hari itu sedang direkam rapi. Bukti-bukti itu tersimpan, menunggu waktu yang tepat untuk muncul ke permukaan. Ketika kebenaran tak lagi bisa disembunyikan, dan pengkhianatan tak lagi bisa ditutupi dengan alasan apa pun.

*****

Kiandra menghela napas panjang, napas yang terasa berat seolah menekan dadanya. Ponsel di tangannya masih menyala, menampilkan deretan foto yang baru saja dikirim Jaret. Setiap gambar seperti pisau tajam yang perlahan mengiris hatinya, Adam tersenyum, Adam menggandeng wanita itu, Adam terlihat begitu menikmati hidupnya. Pria yang sama yang seharusnya sedang menepati janji pada istri dan anaknya.

Kata janji yang Adam ucapkan waktu itu terasa begitu pahit sekarang.

Adam sudah berjanji akan mengabari dirinya dan Zayyan. Tetapi sekedar pesan singkat, panggilan video sebentar, atau bahkan sapaan singkat untuk sang putra. Namun hingga detik ini, layar ponselnya tetap sunyi, tak ada nama Adam muncul, tak ada getaran, tak ada tanda bahwa pria itu masih mengingat keluarganya.

Kiandra memejamkan mata, menahan rasa sesak yang semakin menguat. Ia bukan hanya terluka sebagai istri, tetapi juga sebagai seorang ibu yang harus melihat anaknya menunggu dengan penuh harap.

Sejak pagi, Zayyan berkali-kali bertanya, dan melihat ke ponsel Kiandra, tetapi jawabannya teyap sama. Bocah kecil itu duduk di karpet ruang keluarga sambil memeluk boneka kesayangannya, namun matanya tak pernah benar-benar fokus pada mainannya. Setiap beberapa menit, ia bertanya hal yang sama, dengan suara polos yang semakin melemah.

“Mommy… daddy kapan telepon?”

Awalnya Kiandra masih mampu tersenyum dan menjawab dengan nada lembut. “Nanti ya, sayang. Daddy pasti sibuk.” Tapi seiring waktu berjalan dan tak ada kabar, senyum itu mulai terasa dipaksakan.

Kini, rengekan Zayyan yang tak kunjung berhenti membuat hatinya semakin pilu. Bocah itu bangkit, berjalan mendekati Kiandra, lalu memeluk kakinya erat-erat. Wajah kecilnya terangkat, matanya berkaca-kaca menahan tangis.

“Daddy bohong, mom, Daddy tidak menghubungi Zay…” ucap Zayyan lirih, suaranya bergetar.

Hati Kiandra seperti diremas kuat. Ia berjongkok, menatap wajah putranya yang mulai basah oleh air mata. Namun sebelum ia sempat berkata apa pun, Zayyan kembali bicara, kali ini dengan nada marah bercampur kecewa, emosi yang terlalu berat untuk anak seusianya.

“Kita cali daddy balu aja, mommy. Daddy yang itu buang aja, Nda ada benalnya coalnya…” katanya terbata-bata, kata-katanya masih cadel namun maknanya begitu menusuk.

Kalimat polos itu menghantam Kiandra tanpa ampun. Ia menarik Zayyan ke dalam pelukannya, memeluk tubuh kecil itu seerat mungkin, seolah ingin melindunginya dari kenyataan pahit yang bahkan orang dewasa pun sulit menerimanya. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh, membasahi rambut putranya.

“Jangan bilang begitu, sayang. Daddy Adam tetap daddy Zay” bisik Kiandra, suaranya nyaris tak terdengar. Ia tak tahu harus membela siapa?

Adam atau perasaan anaknya sendiri?

Di dalam hatinya, Kiandra marah. Marah karena Adam tega membuat anaknya merasa dibohongi. Marah karena Zayyan harus belajar tentang kekecewaan dari orang yang seharusnya paling ia percayai.

Dan yang paling menyakitkan, Kiandra tak bisa sepenuhnya menyalahkan Zayyan. Karena kenyataannya, Adam memang tidak ada.

Ponsel itu masih berada di tangannya. Foto-foto dari Jaret kembali terlintas di benaknya, tawa Adam bersama wanita itu seolah olah lupa dengan dirinya dan juga sang buah hatinya.

Kiandra memeluk anaknya lebih erat, menatap kosong ke depan. Di titik itu, ia mulai menyadari satu hal yang menyakitkan, pengkhianatan Adam bukan hanya melukai hatinya sebagai istri, tetapi juga meninggalkan luka yang jauh lebih dalam, luka di hati seorang anak yang hanya ingin diingat dan dicintai oleh ayahnya.

1
pink blossoms
ini kowh ga lanjut2 pdhal seru lho thor
Sunarmi Narmi
lnjutt thor
Sunarmi Narmi
Fi blokir Adam...ngapain cuma dimatikan...🥴🥴
Sunarmi Narmi
Demi moment ini kita memang hrs berjuang bertahan Kiandra....Semangat hempaskan pelakor 💪💪💪💪
Sunarmi Narmi
Kiadra..klo kmu pngen menang permainan Ranjangmu hrs lebih binal dri pelakor..toh suami SAH..aman ngak usah malu " Gass kan....sampai menttok dn milik suamimu kebas dn kenyang ...ngak ada wktu melirik yg lain🤣🤣🤣
Sunarmi Narmi
Perjuangan yg amat berat bagi seorang berstatus istri dan seorang ibu..klo demi ego jelas males buat kembali sama suami..tpi klo demi anak dn keluarga hrs jdi prioritas..disitulah kdang kita merasa berat buat memilih..rata" EGO yg dominan..baca kisah ini jujur jiwa dn hatiku tersentuh Thor....pokoke karyamu is the best 👍👍👍👍♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️
Sunarmi Narmi
Kata" tulisanya keren Thor...mengena di hati dn bermakna dlm...👍👍👍👍
louis
dasar gundik tak tahu malu dan tidak ada akhlak
louis
dasar laki2 bejat. lihatlah karma akan menimpamu karena telah mengkhianati istrimu.
Sunarmi Narmi
Blm mau Coment karena cerita ino terlalu bagus..cuma satu kata untukmu Thor LANJUTKAN💪💪💪💪
Isabela Devi
laki laki gitu buat dia menyesal seumur hidup aja thor, apa lagi ga menghargai wanita gitu
Isabela Devi
lanjut thor, buat laki laki itu jadi gembel aja thor
Bunda Kevin
Lanjut
Sunarmi Narmi
Wah keren karyamu Thor..kita di sini bila berhadapan dgn pelakor balasnya hrs elegan,cantik dn kontrol emosi....berat jg ya...lanjut thor 💪💪💪💪😘😘😘😘😘😘😘😘😘🤔♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!