Langit Sterling, remaja Jakarta yang bermasalah akibat balap liar, dikirim ke Pondok Pesantren Mambaul Ulum Yogyakarta untuk dibina. Usaha kaburnya justru berujung petaka ketika ia tertangkap di asrama putri bersama Senja Ardhani, putri Kyai Danardi, hingga dipaksa menikah demi menjaga kehormatan pesantren.
Pernikahan itu harus dirahasiakan karena mereka masih bersekolah di SMA yang sama. Di sekolah, Langit dan Senja berpura-pura menjadi musuh, sementara di pesantren Langit berjuang hidup sebagai santri di bawah pengawasan mertuanya, sambil menjaga rapat identitasnya sebagai suami rahasia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuningsih titin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tujuh Bulan, Satu Janji
Pagi itu, Langit tampak jauh lebih tegang daripada saat ia menghadapi ujian akhir di Australia. Mengenakan kemeja santai namun tetap terlihat rapi, ia menggandeng tangan Senja dengan sangat protektif saat memasuki ruang praktik dokter spesialis kandungan.
Usia kandungan Senja sudah memasuki bulan ketujuh, masa yang disebut-sebut sebagai awal dari persiapan kelahiran.
"Silakan baring, Bu Senja. Kita lihat perkembangan jagoannya ya," sambut dokter ramah.
Senja berbaring perlahan, sementara Langit berdiri tepat di samping kepala Senja, menggenggam jemari istrinya seolah tak ingin lepas barang sedetik pun. Saat gel dingin dioleskan dan alat pemindai mulai bergerak di atas perut buncit Senja, ruangan yang remang-remang itu seketika dipenuhi oleh suara detak jantung yang cepat dan kuat.
"Dug... dug... dug... dug..."
"Suaranya bagus sekali, Pak Langit. Jantungnya kuat," ujar Dokter sambil mengarahkan layar monitor.
Layar yang tadinya hitam putih berubah menjadi mode USG 4 Dimensi. Perlahan, citra berwarna jingga keemasan muncul, menampilkan sosok mungil yang sangat jelas.
Terlihat hidung yang mancung mirip Langit, dan bibir mungil yang sangat mirip dengan Senja. Sang bayi tampak sedang menghisap jempolnya, sesekali bergerak lincah menendang dinding rahim.
Melihat pemandangan itu, pertahanan Langit runtuh.
Air mata yang sejak tadi ditahannya mengalir begitu saja membasahi pipinya. Ia yang dikenal tegar, kini tersedu melihat bukti nyata dari cintanya yang tumbuh di dalam rahim sang istri.
"Mas... kamu nangis?" bisik Senja haru, ikut meneteskan air mata.
Langit hanya bisa mengangguk pelan, ia berkali-kali menyeka air matanya dengan punggung tangan, namun air mata itu terus turun setiap kali melihat gerakan tangan kecil anaknya di monitor.
Dokter kemudian tersenyum lebar sambil menunjuk ke arah bagian bawah tubuh bayi. "Nah, ini dia konfirmasinya. Wah, anaknya laki-laki, Pak Langit! Sempurna, sehat, dan sepertinya bakal seganteng Ayahnya."
Mendengar konfirmasi itu, Langit langsung menunduk. Ia mengecup kening Senja dengan sangat dalam dan lama, menyalurkan rasa syukur, cinta, dan haru yang tak terlukiskan.
"Terima kasih, Sayang... Terima kasih sudah menjaga anak laki-laki kita dengan hebat selama saya nggak ada," bisik Langit di telinga Senja, suaranya serak karena tangis bahagia.
Langit kembali menatap layar, seolah ingin merekam setiap inci wajah anaknya. "Halo, Jagoan Ayah... Jadi benar kamu laki-laki? Nanti kalau sudah besar, kamu yang jagain Bunda kalau Ayah harus balik ke Australia lagi ya?"
Senja tersenyum sangat manis, menggenggam tangan Langit yang gemetar.
Di ruang dokter itu, kebahagiaan mereka memuncak. Ketakutan akan jarak selama setahun kemarin seolah terbayar lunas dengan satu kata: Laki-laki. Seorang penerus bagi Langit dan pelindung baru bagi Senja.
Tiga bulan liburan semester kali ini menjadi waktu paling berharga dalam hidup Langit dan Senja.
Langit benar-benar membuktikan ucapannya; ia tidak membiarkan sedetik pun berlalu tanpa memberikan perhatian penuh kepada istri dan calon jagoannya.
Setiap pagi, sebelum matahari benar-benar naik, Langit sudah bangun untuk menyiapkan air hangat dan membantu Senja berjalan-jalan kecil di sekitar halaman Ndalem. Ia begitu protektif—bahkan jika Senja hanya ingin mengambil segelas air ke dapur, Langit akan langsung sigap berdiri.
"Mas, aku cuma mau ambil minum, bukan mau angkat beras," protes Senja sambil tertawa melihat Langit yang terburu-buru menghampirinya.
"Tetap saja, Sayang. Lantainya licin, dan kamu nggak boleh capek sedikit pun. Biar saya saja, kamu duduk manis di sini," jawab Langit sambil mengecup pipi Senja singkat sebelum bergegas ke dapur.
Selama tiga bulan itu, Senja praktis tidak menyentuh pekerjaan berat sama sekali.
Langit bahkan dengan telaten memijat kaki Senja yang mulai membengkak setiap sore, sambil menceritakan rencana-rencana mereka setelah ia lulus kuliah nanti.
Namun, momen yang paling ditunggu adalah saat malam tiba. Di dalam kamar yang tenang, setelah lilin aromaterapi dinyalakan, Langit akan memosisikan dirinya di belakang Senja, memeluk tubuh istrinya dari belakang sehingga perut besar Senja bersandar nyaman di lengannya.
Langit kemudian akan mendekatkan wajahnya ke perut Senja. Dengan suara baritonnya yang tenang dan merdu, ia mulai membacakan ayat-ayat suci Al-Qur'an—Surah Yusuf dan Surah Luqman—sebagai doa agar anak laki-laki mereka tumbuh menjadi pribadi yang saleh dan rupawan.
"Dengar ya, Jagoan Ayah... ini firman Allah. Jadilah anak yang kuat seperti kakekmu, dan lembut hati seperti Bundamu," bisik Langit di sela-sela bacaannya.
Senja seringkali memejamkan mata, menikmati getaran suara Langit yang terasa hingga ke dalam rahimnya.
Setiap kali Langit mengaji, sang bayi di dalam perut biasanya akan merespons dengan gerakan lembut, seolah ikut mendengarkan lantunan ayat suci dari sang ayah.
Setelah selesai mengaji, Langit akan mengeratkan pelukannya, menyelimuti Senja dengan tubuhnya yang hangat. Ia menciumi pundak dan leher Senja dengan penuh takzim.
"Tiga bulan ini saya bahagia sekali, Ja. Bisa lihat perut kamu makin besar tiap harinya, bisa rasain dia nendang tiap malam. Saya janji, sisa kuliah saya akan saya selesaikan secepat kilat supaya bisa terus kayak gini sama kalian."
Senja berbalik perlahan dalam dekapan Langit, menatap mata suaminya dengan penuh rasa syukur.
"Terima kasih sudah ada di sini, Mas. Liburan ini bikin aku punya tenaga buat nunggu kamu lagi nanti."
Malam-malam di pesantren dilewati dengan penuh kedamaian. Di bawah naungan doa-doa Abah dan penjagaan ketat Langit, kehamilan Senja berjalan dengan sangat indah, menciptakan memori keintiman yang akan mereka simpan sebagai penguat saat jarak kembali memisahkan mereka.
Ruang keluarga utama rumah Surya Agung malam itu terasa sangat hidup. Liam yang biasanya dingin dan kaku sebagai CEO, tampak duduk sedikit kaku di samping Vicky yang dengan lembut sedang mengupas buah untuk Senja.
Sementara itu, Zizi yang savage tampak asyik memamerkan koleksi baju bayi dari brand ternama dunia kepada Senja, didampingi suaminya, Ian, yang tak henti-hentinya melontarkan banyolan.
"Pokoknya, Senja, anak kamu nanti harus pakai baju rancangan kantor aku. Nggak boleh ada yang ngalahin gaya keponakan aku nanti!" ujar Zizi dengan gaya bicaranya yang ceplas-ceplos khas keluarga Surya Agung.
Ian menyahut sambil tertawa, "Zizi, bayinya baru tujuh bulan di perut, masa sudah mau disuruh catwalk? Kasihan Senja, dengerin ocehan kamu."
Mami Retno tertawa keras melihat tingkah anak-anaknya.
"Sudah-sudah! Yang penting Senja senang di sini. Lihat tuh Liam, kaku banget mukanya. Senyum sedikit kenapa, Liam? Ini adik iparmu lagi hamil, bukan lagi presentasi tender!"
Liam hanya berdehem kecil, berusaha tersenyum tipis ke arah Senja. "Sehat-sehat ya, Senja. Kalau si bungsu ini (menunjuk Langit) bikin kamu repot, bilang saya. Biar saya potong uang sakunya di Australia."
Langit tertawa sambil merangkul pundak Senja erat. "Mana berani aku bikin Senja repot, Bang. Yang ada aku yang direpotin sama kangennya tiap malam."
Setelah keriuhan bersama kakak-kakaknya mereda, Langit membawa Senja masuk ke kamar pribadinya yang mewah di lantai atas. Langit menutup pintu rapat, mengunci dunia luar, dan langsung membawa Senja ke dalam dekapannya.
Langit membimbing Senja duduk di sofa panjang dekat jendela yang menghadap ke lampu-lampu kota Jakarta. Ia berlutut di lantai, meletakkan kepalanya di pangkuan Senja, sementara tangannya mengelus perut buncit istrinya yang semakin aktif.
"Mas... tadi aku senang banget ketemu Mbak Vicky sama Mbak Zizi. Meskipun mereka kelihatan hebat banget, tapi mereka baik sekali sama aku," bisik Senja sambil mengusap rambut Langit.
Langit mendongak, menatap Senja dengan mata yang penuh rasa terima kasih. "Mereka semua sayang sama kamu, Ja. Apalagi setelah tahu kamu lulus kelas sebelas dengan nilai bagus sambil jagain anak kita. Kamu itu kebanggaan saya."
Langit kemudian menarik tangan Senja, mengecup punggung tangan istrinya dengan sangat intim.
"Tiga bulan liburan ini sebentar lagi habis. Saya bakal balik ke Melbourne buat tahun kedua saya. Tapi melihat kamu diterima dengan baik di keluarga besar saya, dan melihat dukungan dari Abah Danardi dan dr. Siti di pesantren... saya jadi lebih tenang ninggalin kalian."
"Mas, janji ya? Waktu kelahiran nanti, kamu harus ada di sini dan aku mau kamu yang megang tangan aku," pinta Senja dengan nada manja yang jarang ia tunjukkan.
"Janji, Sayang. Apapun bakal saya lakukan buat ada di samping kamu saat jagoan kita ini lahir," balas Langit. Ia bangkit, lalu memberikan ciuman lembut di kening, pipi, dan berakhir di bibir Senja, sebuah ciuman yang menyiratkan rasa syukur dan janji setia seorang Langit Sterling Surya Agung.