Persahabatan yang solid dari masa sekolah akhirnya harus berkumpul pada satu Batalyon di sebuah daerah perbatasan karena suatu hal. Situasi semakin kompleks karena mereka harus membawa calon istri masing-masing karena permasalahan yang mereka buat sebelumnya.
Parah semakin parah karena mereka membawa gadis mereka yang sebenarnya jauh dari harapan dan tak pernah ada dalam kriteria pasangan impian. Nona manja, bidadari terdepak dari surga + putri sok tau semakin mengisi warna hidup para Letnan muda.
KONFLIK TINGKAT TINGGI. Harap SKIP bila tidak mampu masuk ke dalam cerita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bojone_Batman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
1. Membawa tiga masalah.
Nama tokoh yang di ambil, berdasarkan memory tokoh NaraY. Nostalgia dalam satu warna cerita yuk guys..!!!
Menuju cerita beberapa waktu silam dalam alur yang berbeda. 🥰😘
🌹🌹🌹
Suara telepon Letnan Sanca berdentang di kamar messnya yang berantakan, seberantakan hatinya saat ini. Mau tidak mau ia mengangkat panggilan telepon tersebut
"Sanca.. Kau sudah monitor SPRINT mu turun, kan?? Kau, Rama dan Arben harus segera ke Batalyon 212 di perbatasan." Kata senior.
"Siap.. monitor, Bang." Jawab Bang Sanca.
//
"Siap. Ini pun sudah saya packing, Bang." Kata Bang Rama.
"Kau ini memang terlalu, berani betul kau sambar pacarnya keponakan panglima." Tegur senior di seberang sana.
"Siap salah. Daripada anak perempuan orang nangis lho, Bang. Dia hanya jadi bahan mainan." Jawab Bang Rama.
"Lantas apa untungnya buatmu??? Setelah lepas dari senior mu, gadis itu akan dua kali lipat jauh lebih susah karena keluguannya. Itu kan yang kau bilang saat di interogasi kemarin??"
"Siap."
"Tanggung jawab lah Lu, Ram. Katanya kasihan anak gadis orang." Imbuh seniornya lagi.
Bang Rade membuang nafas sembari mengurut pangkal hidungnya. "Siap..!!!".
//
Suara printer cetak-cetak mengganggu tidur Letnan Arben yang ketiduran usai sholat subuh tadi. Jam menunjukan pukul tujuh tiga puluh pagi. Dia meraih amplop putih yang baru saja keluar dari mesin cetak tersebut, amplop surat perintah militer.
Surat perintah pemindahan.
Letnan Arbenero H. Puma.. Menerima pemindahan tugas di satuan baru : Batalyon 212, Daerah Perbatasan Serumpun panjang, terhitung mulai tanggal............."
Terdengar ponselnya berdering membuatnya kaget setengah mati, panggilan sahabatnya dari sahabatnya.. Letnan Rama.
"Broo.. Ku dengar kamu juga dapet surat panggilan ke SerPan ya?" tanya Rama dengan suara panik. "Buat dosa apa kamu, sampai di pindah???"
"Sesama pendosa tuh saling memberi semangat, bukannya menjatuhkan." Kata Bang Arben. "Apes bener nasibku, paraaah, aku baru dapet telepon dari atasan, suruh bawa tuh perempuan dan di tunggu acara pengajuan nikahnya. Tapi aku nggak siap, sama si Dira. Dira pun sama b******knya, gagu.. Masa dia bilang 'iyaa'. Kalau nggak, dia akan ke rumah orang tuaku dan ngomong apa-apa, seperti kata senior. Semua agar nama Batalyon tidak tercemar.
"Ada aja lah masalah. Ngomong-ngomong, si Sanca di lempar di sana karena masalah apa??" Tanya Bang Rama.
"Kagak mudeng, gue. Kalau nggak salah dengar, dia korban salah tuduh. Nidurin perempuan."
"Alamaaakk.. Mantap kaleee..!!" Respon Bang Rama sampai kemudian berkas print kembali keluar dari mesin.
\=\=\=
Tiga hari kemudian.
Bang Rama membanting kasar tas milik Dinda. Tak paham apa isinya yang pasti beratnya luar biasa.
Di sisi satu lagi, Bang Arben menghisap rokoknya dalam-dalam tak habis pikir juga dengan barang bawaan Dira.
Hanya Bang Sanca saja yang santai karena Fia sudah mengepax barangnya dengan benar.
"Ini apa sih, Dinda???? Sampai ngos-ngosan Abang bawanya." Tanya Bang Rama.
"Bumbu pecel."
"Macam nggak ada bumbu pecel aja disini. Berapa kilo nih??" Tanya Bang Rama lagi.
"Dua puluh lima kilo." Jawab Dinda.
"Astaga Tuhan." Bang Rama langsung meraup wajahnya. Ia pun melihat kardus lain disana. "Niat benar bikin asam lambung Abang naik."
Dinda menatap malas tapi ia langsung meninggalkan nya.
Bang Rama yang melihatnya hanya bisa menghela nafas.
"Kejar sonooo..!!" Kata Bang Sanca mengingatkan.
Disisi lain Bang Arben menatap tajam wajah Dira. "Kamu sendiri bawa apa??"
"Apa?? Mau tau aja." Dira pun pergi menjauh.
"Kamu jangan aneh-aneh ya, Dira."
"Abang yang aneh. Masa bawa abon saja nggak boleh." Ujar Dira.
Tak lama ada barang lagi turun dari pesawat.
"Punya siapa itu???" Tanya para Letnan.
"Bu Fia."
"Kamu ikut-ikutan??? Apa isinya??" Bang Sanca pun mendadak naik darah.
"Telur asin." Jawab Fia.
"Haaaahh.. Astagaaa..!!" Bang Sanca sampai syok mendengarnya.
"Iki ngopo to yooo???? Kita ini nggak sedang ikut relawan bencana alam lho. Mau kawin kita, dek. Memangnya kita para laki nggak sanggup kasih kalian makan?? Kalian nggak bakalan kelaparan." Omel Bang Arben.
"Saya malah curiga mereka mau kolaborasi buka warung." Imbuh Bang Rama.
Ketiga gadis mengambil posisi masing-masing, mereka belum saling kenal namun sikap mereka tiada beda.
"Alamat.. Sudah kebaca kan nasib kita selanjutnya." Bisik Bang Sanca.
"Urus bini lu..!!" Ujar Bang Arben geregetan.
"Nikahi, hamili.. Beres..!!" Celetuk Bang Rama.
"Kenceng bener ya kau menyuarakan kalau soal martabak lipat." Bang Arben mengangkat tas milik Dira dengan jengkelnya.
.
.
.
.
tetap💪💪🙏
Aduuh...piye to bang Ric....🥹
lanjut mba Nara