NovelToon NovelToon
TRAPPED

TRAPPED

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / One Night Stand / Single Mom / Pengantin Pengganti / Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:125
Nilai: 5
Nama Author: Ann Rhea

Luz terperangkap dalam pernikahan kontrak yang penuh rahasia dan tekanan keluarga. Kehamilannya yang tak pasti membuatnya harus menghadapi kenyataan pahit seorang diri, sementara Zaren, ayah bayinya, pergi meninggalkannya tanpa penjelasan. Dalam kekacauan itu, Luz berjuang dengan amarah dan keberanian yang tak pernah padam.

Karel, yang awalnya hidup normal dan mencintai wanita, kini harus menghadapi orientasi dan hati yang terluka setelah kehilangan. Hubungannya dengan James penuh rahasia dan pengkhianatan, sementara Mireya, sahabat Luz, menjadi korban kebohongan yang menghancurkan. Di tengah semua itu, hubungan mereka semakin rumit dan penuh konflik.

Di balik rahasia dan pengkhianatan, Luz berdiri teguh. Ia tidak hanya bertahan, tapi melawan dengan caranya sendiri, mencari kebebasan dalam kegelapan yang membelenggunya. Trapped adalah kisah tentang perjuangan, keberanian, dan harapan di tengah gelapnya kehidupan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ann Rhea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

WHITE PAPER

“Ini benefit yang bakalan lo terima kalau perjanjian kita berjalan dengan baik,” ucap Karel memberikan sebuah map berisi kertas putih yang bertuliskan suatu hal penting.

Luz mengambil dan membuka map itu. Ia baca dengan seksama dan di pahami dengan baik. “Lo beneran mau ngakuin anak gue secara hukum yang sah? Bahkan bakalan dapet hak pendidikan dan fasilitas hidup yang layak? Seperti tempat tinggal dan biaya hidup lainnya?”

“Iya, asalkan lo jangan pernah bilang kalau gue bukan ayah kandungnya. Gue udah putusin, gak peduli darah siapa yang jelas dia bakalan jadi penerus gue.” Karel pun duduk. “Kalau ngelanggar, semua itu bakalan hilang. Termasuk fasilitas yang lo dapetin.”

“Kejam juga ya. Tapi tenang aja, gue malah seneng kalo lo dengan senang hati mau jadi ayah dari anak gue. Itu tandanya dia punya masa depan yang terjamin. Termasuk hidup gue, gue bakalan tanda tangan.” Luz mengambil pulpen dan menandatangani surat itu.

Itu tandanya Luz akan tutup mulut soal penyimpangan Karel. Karel juga akan tutup mulut soal kebenaran anaknya Luz.

“Kita gak terikat kontrak pake jangka waktu tertentu kan?” tanya Luz. “Itu tandanya kita bisa jalanin pernikahan ini kapanpun, bahkan sampe gue ataupun lo mati?”

“Bisa. Tapi kalo lo hamil sama orang lain lagi, kita cerai aja.”

“Iya, iya.”

“Lagian lo yang ngen*ot masa gue yang repot lagi. Itu cuman berlaku buat anak lo yang ini doang.”

“Terus lo masih boleh berhubungan sama pacar lo itu?”

Karel meliriknya datar. “Menurut lu?”

“Gak adil.”

“Adil. Kalo lo lesbi, gue juga bakal izinin, kalo sama cowok kagak lah bunting lagi lu ntar repot,” kata Karel.

Karel pun menyuruh Luz pergi. “Sekarang lo bisa pergi dan berenti kerja sementara, setelah melahirkan kalo lo mau bisa kerja lagi. Untuk sekarang hidup lo gue yang tanggung.”

Senyum Luz mengembang. “Ini adalah kabar baik gue seneng banget. Masalah lo selesai, giliran masalah gue. Secepatnya lo harus ketemu keluarga gue, biar gue boleh pulang. Dadah Karel thank you!”

“Girang banget, dasar bocil.” Karel tertawa, cukup terhibur dengannya.

...--✿✿✿--...

“Luz....”

Minawari terus memanggil nama Luz. Tidurnya tidak lagi nyenyak, pikirannya selalu ramai. Ia merasa sangat lemah dan terus kian melemah.

Mereka beralasan Luz sangat sibuk dan tidak sempat. Atau mungkin tidak peduli. Devan harap Minawari bisa melupakan Luz dan membencinya. Nyatanya tidak bisa, ia yakin Luz menyayanginya. Merindukan dirinya sama sepertinya merindukan Luz.

Semarah-marahnya Minawari, ia tetap khawatir. “Mama takut Luz belum makan,” ucapnya lirih.

Devan terpaksa harus merawat mamanya, karna Erwin sudah pergi lagi entah kemana. “Paling dia sibuk kerja. Kalo kesini bentaran doang pas Mama udah tidur. Gausah di pikirin, dia seneng ngejablay.”

“Engga, Mama kangen tolong suruh dia kesini. Cepat,” pinta Minawari. Bahkan sering memaksa sampai menangis.

Kalah. Devan menghubungi Luz. Dia benar-benar menyebalkan sama sekali tidak mau ke sini. “Gak di angkat.”

“Susul, bawa pulang.” Suara Minawari kian berat.

“Nanti kalo tetangga tau dia hamil gimana?”

“Gapapa, Mama lebih takut dia kenapa-kenapa... dia emang salah, tapi kita lebih salah menghakimi dia. Dia pasti sendirian sekarang, sedih pasti.” Minawari tersenyum getir.

Demi Minawari, baiklah, Devan akan mencarinya. Yang terjadi tidak ada di kost, di tempat tertentu tidak ada. Kantornya juga. Entah kemana dia pergi.

“Dasar anak setan, di butuhin malah gak ada. Lagi ngelonte kali?!” gerutu Devan yang marah-marah, di dekat kost Luz, setelah berulang kali berkunjung ke sana.

“Apaan lu bilang gue anak setan segala. Gak introspeksi diri lu anak iblis?!” sentak Luz yang berdiri di belakang Devan.

Devan menoleh. “Heh kurang ajar lu ya, udah punya apa lu seakan gak butuh gue lagi?”

“Bacot banget ya lu!” Luz menunjuk Devan, lalu melengos pergi, sambil memasukkan molen ke dalam mulut. Melangkah tergesa-gesa.

Devan mengikutinya. “Mama mau ketemu.”

Luz tak mendengar malah langsung mengurung diri di kamar kost. “Gue gamau balik, kalo cuman buat di omelin.”

“Bentar aja anj*ng.”

Luz melempar helm ke pintu. “Pergi lu bajingan. Muak gue liat lu, liat aja gue bakalan bikin kalian berlutut minta gue balik!”

“Satu lagi, banyak cewek yang nanyain lu. Makanya jadi cowok jangan maruk!”

“Gak maksud ke sini, mama gamau makan kalo lu gak dateng!” gerutu Devan langsung di jejelin molen ke mulutnya.

Luz benar-benar kesal. “Pergi kagak lu, sebelum gue panggil satpam. Malu-maluin tau gak.”

...--✿✿✿--...

“Aku capek banget ya, kamu banyak alesan. Katanya hari ini bakalan pulang. Tapi mana?!” Mireya berjalan mondar-mandir di butik miliknya.

“Ketinggalan pesawat sayang, mau gimana lagi?”

“Emang kamu gak niat ya ketemu sama aku. Banyak banget alesannya. Cacicu terus, mending pake rok aja sana. Gak lakik banget.”

Mireya mendengkus kesal lalu duduk.

“Maaf lagian kamu marah terus.”

Mireya mengepalkan tangan. “Gimana gak marah, kelakuan kamu aja kayak maling.”

“Maaf dong.”

“Gini aja deh, aku udah capek. Kalo kamu beneran serius, lamar aku. Kalau enggak, kita udahan aja. Percuma juga, buang waktu. Yang ngantri mau sama aku banyak. Kamu mah lewat, bye,” tegas Mireya mengakhiri panggilan.

Mireya ingin hangout, cuman Luz yang kayaknya free di ajak nongkrong.

“Hallo, temenin gue nongki dong. Gue mau curhat.”

“On the way.”

Mood Mireya langsung membaik. Ia bergegas pergi, saat membuka pintu. Melihat ada seseorang yang ia kenali. “Itu kan om Erwin kayaknya, bokapnya Luz. Foto! Fiks itu selingkuh mana ada gandengan semesra itu kalo cuman temen.”

Usai mengambil gambar, bergegas ia pergi menjemput Luz. Di perjalanan langsung cerita ia pikir Luz bakalan kaget ternyata cuman ketawa hampa.

“Gue udah tau dari lama. Ayah selingkuh dan udah nikah lagi, dia punya anak cewek yang umurnya sekitar 17 tahun sekarang. Itu yang ngebikin gue perlahan berubah Mir, sakit sih. Tapi gue gak bisa egois juga,” ucapnya sedih.

Mireya mengelus bahu Luz. Lampu hijau menyala dan mobil lanjut berjalan. “Kenapa lo gak bilang sama nyokap?”

“Ayah ke mama baik kok, kalo gue ngomong pun rasanya serba salah. Jadi yaudahlah, ayah juga gatau kalo gue tau dia punya dua istri. Bisa aja gue hamil karna karma bokap, gatau karma gue. Tau ah pusing.”

“Udah yuk turun, giliran dengerin gue curhat. Gue traktir.” Mireya pun turun dan mereka berjalan ke mall.

Langsung memesan kentang goreng dan jus buah naga.

“Cerita apa?”

Mireya menghela nafas. “Gue pengen putus sama cowok gue. Abisnya dia nyebelin, bilang mau beliin gue mobil. Taunya boong, cuman kalimat penenang pas gue marah.”

“Sakit jiwa tuh cowo.”

Mireya mengangguk. “Banget. Udah gue maafin berulang kali. Lagian mobil doang gue bisa beli sendiri. Bukan ke pengen di kasih tapi pengen dia tepati ucapannya.”

“Putusin aja toxic tuh, mokondo pasti. Awas aja kalo dia minta duit sama lo.” Luz memberikan peringatan. “Lo cantik, berpendidikan, cerdas, udah mapan. Masa masih mau ke jebak sama orang aring begitu?”

“Gue minta dia lamar gue, kita pacaran udah 5 tahun, kalo emang serius. Kalo engga mending udahan.”

Luz tersedak dan mengibaskan tangan. “Itu bukan solusi kalau lamaran. Lo mau jalan di atas jembatan yang udah putus berulang kali tapi tetep lo benerin. Lama-lama bukan makin kuat malah makin rapih ujungnya gak bisa di benerin sama sekali.”

“Cari cowok lain? Gampang sih, tapi sama dia terlanjur lama.”

“Mending udahan dari pada terlanjur sakit lebih jauh. Cari yang baik, asal jangan sama abang gue. Sinting dia.” Luz membuang muka, takut kalau Mireya sama Devan yang ada di KDRT.

“Oiya gimana lo masih berantem dan belum di izinin pulang?”

Luz mengangguk. “Iya mereka masih belum nerima. Tapi gue tetap nekat BTW dia udah 13 minggu, can’t wait ketemu dia!”

“Sama! Bakal gue ajak hangout.” Mireya berseru heboh dan memeluk Luz.

...--✿✿✿--...

Zaren duduk termenung di halaman rumahnya. Dia terus memikirkan Luz, yang lebih indah dari apapun. Senyuman sehangat mentari ia malah sia-siakan.

Kemarin ia baru melangsungkan pernikahan dengan Gladys pilihan orang tuanya. Namun, semalam harusnya indah malah membuatnya mengingat sosok perempuan lain untuk menikmatinya.

Luz lebih indah dari apapun. Sangat beda jauh dengan Gladys yang membosankan.

Biasanya mood Zaren akan membaik usai making love. Kali berbeda, malah tekanan batin. Bagaimana cara melepaskan perasaan tidak nyaman ini? Dan melupakan bayangan Luz dari benaknya.

“Mas, ini teh nya. Mas kenapa melamun terus?”

Zaren menggeleng. Lalu pergi meninggalkan Gladys. Entah sampai kapan ia belum menerima kehadirannya, tapi saat ia ingin, malah di jatuhkan ekspetasi.

Gladys terluka. Ada apa dengan Zaren yang mendadak dingin. Apa masih mempermasalahkan hal semalam? “Mas, kenapa?”

Zaren menyalakan televisi. Mencari hiburan. Ia menoleh melihat Gladys. Dia cantik, badannya berisi. Tapi dalamnya tidak secantik itu. Membuatnya menghela nafas panjang, kehilangan banyak energi. Dari ukuran, jelas Gladys lebih besar. Tapi Luz masih pemenangnya. Masakannya juga tidak seenak masakan Luz yang pasti ada cita rasa berbeda. Apalagi nasi goreng, ada rasa nagih. Kalau Gladys monoton.

“Apa gue cere aja sama si Adis? Bosen juga, dia boring. Beda sama Luz asik banget,” batinnya. “Tapi baru sehari, biaya nikah gak sepadan sama yang gue dapetin.”

...--To Be Continued--

...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!