TRAPPED

TRAPPED

IMPULSE

“Gue gak bisa keluar sekarang. Lagi di rumah mama,” kata Luz bicara di telepon.

Luz duduk di atas kasur memangku guling, hanya menggunakan celana pendek dan tank top. Sedangkan rambut tebalnya diikat asal.

“Temenin gua dugem, kalo gak bisa yaudah.”

Luz melihat jam, tidak terlalu malam. Mungkin bisa saja dia kabur sekarang, walaupun bukan ide yang bagus. “Yaudah gue ke sana, tunggu.”

Usai mengakhiri panggilan, Luz langsung bersiap. Menyisir rambut, mengganti pakaian dan mengendap-endap keluar lewat jendela. Sayangnya dia di kejar anjing peliharaan milik ayahnya. Untungnya bisa kabur.

Dia langsung pergi naik ojek online, ke tempat yang seseorang di telepon tadi minta.

Setelah sampai, Luz melepas jaketnya dan masuk, menghampiri seorang laki-laki yang duduk sendiri dengan segelas wine di tangannya.

“Sumpah gue deg-deg-an banget, Zaren Takut ketauan tadi.” Luz langsung duduk dan mengatur nafas.

Zaren menyunggingkan senyuman dan membuka mata. Ia memesan minuman untuk Luz. Lalu mengajaknya ngobrol. “Gua gamau basa-basi, malam ini bisa?”

Tangan Luz terhenti bergerak. Ia melirik Zaren dan bersandar sambil meneguk minuman.

“Gue masih mens.”

“Hari ke berapa?”

Luz menghela nafas dan meletakkan gelas. “Ke delapan. Gak deres, udah tinggal nunggu bersih dikit lagi.”

“Udah gapapa ayo. Terakhiran, gua janji.” Mata Zaren menatap serius perempuan di sampingnya.

Luz memiliki kulit tan skin, yang bersih mengkilap. Aroma tubuhnya candu. Rambut panjang yang indah, bola mata yang teduh dan bibir yang ranum.

Zaren menyukai setiap inci tubuh yang Luz miliki, tanpa sisa. Ingat itu! Satu yang tidak bisa ia dapatkan, hatinya.

Begitu pula Luz, dia tidak bisa mendapatkan hati Zaren apalagi mengisi hatinya.

“Stop liatin gue kayak lapar gitu.”

Senyuman Zaren manis, lesung pipinya bagus. Giginya rapih dan putih bersih. Selain itu keringat dia juga memiliki wangi yang khas.

“Tapi gak disini juga kan kita mainnya? Mau di tonton banyak orang, terus senggol meja sampe wine tumpah? Hahaha.”

Kadang Zaren ikut tersipu malu melihat tawa kencang Luz. Dia... dia itu definisi cantik sekali.

Otak Zaren mulai berpikir gencar dan ingin sekali menyentuh kulit Luz sekarang juga.

Tapi Zaren perlu menahan diri untuk menjaga reputasi.

“Jadi gimana, mau kagak?”

Senyum Luz adalah jawaban, senyum itu jarang di tunjukan tapi Zaren akan selalu tahu artinya. Dia setuju, mau tanpa paksaan.

Keduanya pun langsung pergi chek-in ke hotel yang berbeda dari sebelumnya. Berharap tidak ada yang mengenali.

“Nah gitu dong, terakhir ini gua janji gak lagi,” kata Zaren sambil menutup pintu dan memastikan sudah terkunci.

Luz melepas sepatunya. “Halah pret boong banget, paling minggu depan minta lagi. Ah kelamaan, besok juga pasti ngajak lagi.”

“Gua serius.” Matanya menatap Luz lurus, nada bicaranya juga datar.

“Boong, gue gak percaya.”

“Lo liat aja nanti, gua janji.” Zaren berkata seolah iya, dia menatap wajah Luz cukup lama.

Tanpa berlama-lama Luz memulai pemanasan, lalu ia tersadar dan bertanya akan suatu hal.

“Lo gak beli k*ndom?”

“Lupa, udahlah gausah pake itu, gua keluarin di luar, promise.”

Luz memutar bola matanya, Zaren dapat melihatnya dari pantulan cermin. Barulah melanjutkan permainan lagi.

...--✿✿✿--...

Nada dering berbunyi sangat nyaring. Membangunkan seorang pria yang tengah terlelap nyenyak.

Tangannya meraba nakas, mengambil handphone-nya dan melotot kaget saat nama sang mama tertera.

“Mama?!” Dia langsung bangun dari tidurnya dan duduk sambil mengucek mata.

Panik? Oh jelas, saat ini dia tengah tidur di hotel bersama seorang pria sebaya.

Matanya mengerjap pelan sambil menerima panggilan itu, hingga suara nyaring mamanya terdengar menggelegar seperti petir menyambar.

“Kamu dimana Karel? Mama di depan apartemen kamu, kok kamu gak nyaut-nyaut sih, jangan bilang kamu gak pulang! Kamu nginep dimana? Sama siapa? Ngapain aja?”

Sekarang Karel merasa sangat segar dari sebelumnya. Kantuknya hilang seketika. Cuman bingung mau jawab apa, mamanya terlalu bawel dan posesif.

“Jawab! Kamu dimana sekarang, shareloc gak? Mama udah masak banyak ini, mau sarapan sama kamu. Udah jam tujuh pagi, mana mungkin kamu masih tidur.”

Karel menggigit bibir bawahnya sambil berpikir, alasan apa yang masuk akal dan tidak membuat mamanya tantrum. “Iya Ma---“

“Oh udah di kantor? Tapi masa suaranya kayak orang baru bangun tidur. Serak-serak berserakan gitu, minum dulu.”

Karel pun minum dulu. “Sabar, Ma, satu-satu dong. Aku bingung jawab yang mana dulu.”

“Oke cepet, Mama pegel berdiri disini udah setengah jam. Mama kan gatau akses apartemen kamu gimana, password nya di ganti ya? Tega kamu sama Mama!”

“Siapa sih berisik?” tanya pria di samping Karel yang merasa terganggu dengan suara berisik.

Mata Karel melotot, mamanya pasti mendengar ucapan dia barusan. Lantas langsung ia bekap mulutnya.

“James diem dulu, mama aku telepon!” bisik Karel hingga dirinya jatuh di atas muka James.

James mengangguk dan kembali memejamkan mata. “Oke deh.”

“Arel itu suara siapa? Kok kayak cowok, kamu lagi dimana sih?”

Karel susah payah menelan ludahnya, ia tidak akan membiarkan mamanya mengetahui hal ini. Segeralah ia berpikir, mencari alasan agar Elena diam.

“Oh ini, Ma, aku lagi nginep di rumah temen, semalem abis ada party, pulang pagi, capek jadi nginep aja deh tanggung juga kan? Takut kenapa-kenapa di jalan, bahaya.”

Karel harap Elena percaya.

“Tidur sekamar?”

Duar! Pertanyaan itu membuat Karel membeku dan saling lihat dengan James yang sama kagetnya.

“Oh eng-enggak, kan kamar di rumahnya banyak. Ma-mas-masa sekamar sih, itu dia barusan lewat ngecek aku udah bangun apa belum, Ma, hehe iya bener.” Karel cengengesan berharap Elena tidak curiga.

“Oh oke cepet pulang ya sayang, Mama kangen banget mau ketemu. Mama tunggu di apart ya, jangan lama-lama takut keburu dingin masakan Mama. Be healthy, boy!” Elena mengakhiri panggilan.

Membuat Karel bisa bernafas dengan lega.

“Gimana aman?” tanya James.

“Pake banget!” Karel berseru histeris dan turun dari kasur, merapihkan penampilan dan segera pergi sebelum kena amukan.

James hanya tertawa, Karel sangat lucu dan menggemaskan. “Dasar anak mami, sini kiss dulu.”

Langkah Karel terhenti. Dia tidak jadi membuka pintu dan balik lagi, melompat ke atas kasur dan mencium bibir James lalu berpelukan dan pergi. “I’ll miss you again.”

James tersenyum dan melambaikan tangan. “Me too.”

Punggung Karel pun tidak terlihat lagi, dia berjalan sangat cepat hingga menabrak seorang perempuan yang baru keluar dari kamar hingga handphone yang Karel gunakan jatuh.

“Oh im sorry, lagi buru-buru soalnya,” kata Karel lalu pergi usai menyenggol dia.

Luz pun hanya kesal dan memendam amarah. “Udah tau gue juga buru-buru malah di tabrak lagi dasar.” Tapi penasaran sama orangnya, ia pun kejar dan melihatnya dari jauh.

“Oh orang itu lagi! Kok bisa sih kebetulan mulu selalu nginep di hotel yang sama? Kita jodoh kali ya."

...--To Be Continued--...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!