NovelToon NovelToon
CINTA TAK KENAL USIA

CINTA TAK KENAL USIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ramanda

Karena orang tua serta para keluarga selalu mendesak untuk menikah. Akhirnya Adelia Aurellia nekat menikahi seorang anak magang yang jarak usianya sepuluh tahun dibawahnya. Hal itu malah membuat orang tua Aurel menjadi murka. Pasalnya orang tua sang supir yang bernama Adam Ashraf adalah seorang pengkhianat bagi keluarganya Aurel.

Padahal itu hanya fitnah, yang ingin merenggangkan persahabatan antara Ayahnya Aurel dan juga Ayahnya Adam. Makanya Adam sengaja bekerja pada mereka, karena ingin memulihkan nama baik sang Ayah. Dan karena tujuan itu, ia pun langsung menerima tawaran dari Aurel, untuk menikahinya.

Akankah, Adam berhasil membersihkan nama baik sang Ayah? Dan Akankah mereka mendapatkan restu dari keluarga Aurel? Yuk ikuti karya Ramanda, jangan lupa berikan dukungannya juga ya?.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

HARI KEDUA DIKOTA PAHLAWAN.

Sinar matahari pagi hari kedua kota Pahlawan yang hangat menembus celah gorden kamar utama di rumah megah keluarga Adam. Aurel terbangun dengan perasaan yang jauh lebih ringan, meski sedikit canggung saat menyadari ia berada di lingkungan yang sangat asing baginya. Di ruang makan, Adam sudah duduk dengan laptop terbuka dan tumpukan berkas digital yang memenuhi layar monitornya.

"Sepertinya ada yang sangat sibuk pagi ini," tegur Aurel sambil menarik kursi di hadapan Adam.

Adam mendongak, matanya tampak sedikit lelah, karena tak tidur semalaman. Namun mata itu penuh semangat. "Maaf, Aurel. Selama aku 'menyamar' jadi anak magang di kantormu, pekerjaan di A-Games benar-benar menumpuk. Rian baru saja mengirimkan laporan bahwa ada bug besar di peluncuran ekspansi gim terbaru kita. Aku tidak bisa meninggalkan ini begitu saja."

Aurel menyesap teh hangat yang disediakan pelayan. "Lalu, apa rencanamu? Kita harus segera kembali ke Jakarta, kan? Papa pasti sudah mencari-cari kita."

"Itulah masalahnya," Adam menghela napas, jemarinya masih menari di atas papan ketik. "Aku butuh waktu setidaknya satu minggu di Surabaya untuk membereskan ini secara langsung. Jika lewat daring saja, koordinasi dengan tim pengembang akan sangat lambat. Apa kamu keberatan jika kita menunda kepulangan?"

Aurel terdiam sejenak, menimbang-nimbang jadwalnya yang juga padat. Namun, melihat dedikasi Adam, ia tersenyum. "Baiklah. Aku setuju. Aku juga bisa bekerja dari sini. Aku akan menghubungi Siska, asistenku, untuk mengirimkan semua berkas lewat email. Untuk rapat direksi, aku bisa menggunakan video conference."

"Benarkah? Terima kasih, Aurel. Aku tahu ini mendadak," ucap Adam lega.

Keputusan untuk tinggal satu minggu lagi di Surabaya membawa konsekuensi yang tak terduga bagi Aurel. Karena mereka berada di rumah Arumi, kakak Adam, mereka tidak mungkin tidur di kamar terpisah. Hal itu akan menimbulkan kecurigaan dan pertanyaan besar, mengingat status mereka adalah pengantin baru.

Sore harinya, saat Aurel sedang merapikan baju di lemari kamar, Arumi masuk membawa handuk bersih. "Adel, ini handuk tambahannya. Oh ya, maaf ya kalau kamarnya tidak senyaman hotel. Tapi ini kamar terbaik yang kami punya untuk kalian berdua."

Aurel tersenyum kaku, jantungnya berdegup kencang melihat satu tempat tidur besar di tengah ruangan. "Eh, tidak apa-apa, Mbak. Ini sudah sangat lebih dari cukup."

"Ya sudah, selamat istirahat ya. Jangan lupa, makan malam nanti Mbak masak ayam penyet kesukaan Adam," ujar Arumi sambil mengedipkan mata sebelum keluar.

Pintu tertutup. Suasana mendadak sunyi. Tak lama kemudian, Adam masuk dengan wajah yang terlihat lebih segar setelah mandi di kamar mandi luar. Ia melihat Aurel yang berdiri mematung di samping tempat tidur.

"Aurel? Kamu kenapa? Wajahmu tegang sekali," tanya Adam sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.

Aurel menelan ludah, jarinya menunjuk ke arah kasur. "Adam... kita... kita tidur di sini berdua?"

Adam menghentikan gerakannya. Ia menatap tempat tidur, lalu menatap Aurel yang tampak gelisah. "Tentu saja. Kalau aku tidur di sofa ruang tamu, Mbak Arumi pasti akan menginterogasiku besok pagi. Kamu tahu kan betapa telitinya dia?"

"Tapi... aku..." Aurel menggantung kalimatnya, wajahnya tampak bingung.

Adam meletakkan handuknya, lalu melangkah mendekat. Ia berdiri di depan Aurel, namun tetap menjaga jarak yang sopan agar istrinya tidak merasa terintimidasi.

"Aurel, dengarkan aku," suara Adam merendah, terdengar begitu lembut di telinga Aurel. "Aku tahu apa yang ada di pikiranmu. Aku tahu kamu masih memiliki keraguan tentang jarak usia kita, tentang masa depan kita, dan tentang perasaanku yang mungkin kamu anggap hanya sementara."

Aurel mendongak, matanya terlihat haru. "Aku hanya tidak ingin melakukan kesalahan, Adam. Aku tidak ingin memberikan segalanya saat hatiku masih penuh dengan ketakutan."

Adam tersenyum tipis, sebuah senyuman yang sangat menenangkan. "Aku tidak akan menuntut hakku sebagai suami malam ini, atau malam-malam berikutnya selama kita di sini. Aku tidak ingin memiliki tubuhmu hanya karena sebuah status di atas kertas. Aku ingin memilikimu seutuhnya,jiwa dan ragamu saat kamu benar-benar yakin padaku."

"Kamu tidak marah?" bisik Aurel tak percaya.

"Untuk apa marah? Menikah itu ibadah, dan ibadah tidak boleh dipaksakan," jawab Adam mantap. "Malam ini, aku akan tidur di lantai menggunakan kasur lipat kecil itu. Kita berbagi kamar, tapi aku tetap akan menjagamu dengan caraku sendiri. Aku ingin kamu merasa aman bersamaku, bukan merasa terancam."

Aurel merasa sebuah beban berat terangkat dari pundaknya. "Terima kasih, Adam. Kamu... kamu pria yang sangat luar biasa."

Malam harinya, pemandangan unik tercipta di kamar itu. Keduanya duduk berjauhan dengan laptop masing-masing. Aurel sibuk memimpin rapat lewat video dengan para manajer AA Cosmetic di Jakarta, sementara Adam sibuk mengoding dan memberikan instruksi pada tim gimnya.

"Siska, pastikan distribusi produk ke Kalimantan lancar. Jangan sampai stok kosong!" ucap Aurel tegas ke arah layar laptopnya.

Di sisi lain, Adam bergumam, "Rian, logic untuk level sepuluh itu salah. Hapus script baris empat ratus dan ganti dengan array yang baru."

Sesekali mereka saling melirik dan tersenyum. Ada rasa kagum yang tumbuh di hati Aurel melihat sisi profesional Adam. Pria yang sepuluh tahun lebih muda darinya ini ternyata memiliki otoritas yang luar biasa saat memimpin perusahaannya sendiri.

Saat jam menunjukkan pukul dua belas malam, Adam menutup laptopnya. "Sudah larut, Kak Adel. Tidurlah. Besok jadwalmu masih padat, kan?"

Aurel mengangguk, ia naik ke atas tempat tidur. Ia melihat Adam dengan telaten menyiapkan kasur lipat di lantai, tepat di samping tempat tidurnya. Sebelum mematikan lampu, Adam menoleh.

"Selamat malam, Kak Adel. Semoga mimpi indah," ucap Adam.

"Selamat malam, Adam," jawab Aurel pelan.

Dalam kegelapan, Aurel menatap langit-langit kamar. Ia merasa sangat beruntung. Di bawah sana, seorang pria yang memiliki segalanya kekayaan, ketampanan, dan kekuasaan rela tidur di lantai hanya untuk menjaga kenyamanan hatinya. Perlahan, keraguan yang menyelimuti hati Aurel mulai terkikis oleh kelembutan sikap Adam. Ia mulai menyadari bahwa mungkin, Adam adalah pelangi yang dijanjikan Raffa untuk hatinya.

1
sry rahayu
🥹
sry rahayu
kasian Arumi
sry rahayu
😄
sry rahayu
syukurlah
sry rahayu
good luck adam
Wandi Fajar Ekoprasetyo
wah nih mulut belom pernah makan sambel setan level neraka ya..... enak sekali ngomong nya
sry rahayu
selalu nunggu up nya thor
Trie Vanny
Selalu hadir untuk mendukung karya kakakku ini👍👍👍🤭
Ramanda.: Terimakasih Adikku 😍😍. Aku selalu padamu muachh.😘😘
total 1 replies
sry rahayu
semangat 💪
Irni Yusnita
semua cerita yg kau buat selalu bagus dan menarik 👍 lanjut Thor 👍
Wandi Fajar Ekoprasetyo
Weh singkat sekali langsung terkuak kasus yg udh lama.......Hem..... kira² ada balas dendam apa lagi nih dr keluarga Denis
Wandi Fajar Ekoprasetyo
semangat kak othor.....d tunggu up nya
Wandi Fajar Ekoprasetyo
mulai goyah pertahan Aurel
Wandi Fajar Ekoprasetyo
wajah tenang penuh dendam
Ai Sri Kurniatu Kurnia
hadir
Lia siti marlia
hadir thoor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!