"Astangfirullah Pak, ini bukan hukuman tapi menindas namanya!" Pekik Nabila kala menatap bukuu setebal tembok di depannya.
"kalau tidak mau silahkan keluar dari daftar Siswi saya!" jawab pria yang amat di kenal kekillerannya.
huff!
Nabila tak dapat membantah selain pasrah ia tidak mau mengulangi mata kuliah satu tahun lagi hanya demi satu kesalahan.
Tetapi Nabila pikir ini bukan kesalahan yang fatal hanya dosennya memang rasa sensitiv terhadap dirinya, Nabila tidak tahu punya dendam apa Pak Farel sehingga kesalahan kecil yang Nabila perbuat selalu berujung na'as.
Yuk lanjut baca kisah Nabila yang penuh haru dan di cintai oleh dosennya sendiri secara ugal-ugalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana fatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Satu hari setelah Nabila datang bulan drama terus berlanjut di mana Nabila dan Alka masih seperti kucing dan tikus ke duanya sama-sama tidak ada yang mau mengalah.
Hari ini Nabila ada jadwal untuk datang ke kampus karena merasa ada angin segar Nabila sampai lupa diri karena asyik ngobrol bersama teman Sisil dan Nanda sebab mereka sudah lama tidak keluar bareng, Nabila pikir tidak ada salahnya sekali-kali ia jauh dari suami galaknya itu, dan bukan hanya itu saja Nabila di cafe tidak sengaja bertemu dengan Fathan.
"Nab, lo magang di mana sih kok dengar-dengar lo keterima jadi skretaris si CEO, memang bisa ya anak magang langsung jadi skertaris?" ujar Nanda saat mereka baru keluar dari kampus.
"Itu karena kebetulan aja karena skertaris Pak CEO lagi ambil cuti, lagian tempat kantor gue serem orangnya galak-galak." sahut Nabila berbohong, sebab mana mungkin ia mengatakan kalau tempat magangnya itu adalah suaminya sendiri.
"Eh tapi gue dapat info Pak Alka itu juga bekerja di tempat kamu magang La, gimana lo ketemu sama Pak Alka nggak di sana, duh Gue jadi kangen sama Pak Alka walau dia galak tapi tampannya itu loh, bikin salting seminggu," kekeh Nanda, seolah Alka berada di depannya saat ini.
"Bukannya hanya bertemu tapi gue di kurung di sana," batin Nabila.
Selesai berbincang-bincang Sisil mengusulkan untuk nonton karena mereka lama juga tidak Heng out.
Tepat pukul jam sepuluh malam Nabila baru pulang dan ini adalah yang pertama Nabila keluar bersama temannya setelah menikah.
Nabila masuk ke dalam rumahnya dengan takut-takut ia berharap suaminya belum datang atau laki-laki itu sudah terlelap ke alam gaibnya.
Tetapi harapan itu pupus seketika kala Alka sedang duduk di shofa sambil menatap Nabila tajam.
"Dari mana saja kamu, hah?" tanya Alka dengan nada menusuk.
"Maaf Pak, tadi aku keluar sama temen-temen," sahut Nabila, lalu melangkah pergi ke kamar karena sudah tidak nyaman dan mau berganti pembalut juga.
Nabila hendak membersihkan badannya masuk ke kamar mandi tapi sebelum itu Aka sudah lebih dulu menarik tangannya dan hal itu membuat Nabila menoleh kenarah Alka seketika pandangan mereka saling bertemu.
"Saya tanya, kamu dari mana saja bukannya kamu hanya sampai siang pergi ke kampus?" tanya Alka penuh dengan penekanan.
"Tadi Aku sudah jawab, habis pergi sama temen-temen, begitu tidak boleh?" skak Nabila ikut tersulut emosi.
"Apa kamu tidak bisa menghubungi saya dulu?" tanya Alka.
"Maaf, lupa," jawab Nabila. Sebenarnya ia tidak lupa-lupa amat tapi karena Alka juga tidak menghubunginya jadi ia fine saja tapi ia terbawa suasana sama temen-temennya sehingga lupa waktu.
"Sebagai istri yang baik seharusnya kamu ingat kalau izin suami itu adalah yang paling utama. Apa lagi sampai kamu keluyuran tidak jelas di luar sana," ucap Alka murka.
"Bapak pikir selama ini sudah menjadi suami yang baik, tidak?" teriak Nabila dan baru kali ini perempuan itu berteriak di depan suaminya, entah ini ada hubungannya tidak soal PMS atau memang Nabila sendiri sudah capek dengan sikap Alka yang seenaknya sendiri." balas Nabila frustasi dengan menahan tangis.
"Selama ini Aku selalu mengikuti omongan Bapak. Tapi apa yang aku dapatkan, Bapak yang sama sekali tidak pernah memikirkan perasaan ku, aku bukan bonika yang bisa Bapak permainkan, Aku manusia yang ju--"
Kalimat Nabila terpotong karena Alka tiba-tiba menangkup pipi Nabila, lalu memungut bibir Nabila dengan bibirnya dengan lembut tapi Nabila yang lagi marah ia sama sekali tidak membalasnya sampai Alka melepasnya.
"Jangan ulangi lagi meninggikan suara sama suami, karena saya tidak sukak." ucap Alka lalu pergi meninggalkan Nabila keluar dari kamar.
Nabila masih terpaku di dalam kamar sendiri, ia juga tidak tahu kenapa tadi bisa berteriak kencang seolah lagi mengeluarkan bom yang selama ini ia tahan.
Setelah bersih-bersih Nabila juga belum mendapatkan suaminya kembali ke kamar, Nabila coba melirik ke arah pintu yang terbuka dan ternyata Alka lagi makan.
"Hah! dia makan jam segini? itu artinya dia dari tadi belum makan." gumam Nabila.
***
Pukul dua belas malam pasangan suami istri sudah terlelap tidur, anehnya Alka yang biasa tidak bisa jauh dari sang istri kini malah tidur di shofa.
Bentar, bukan karena Alka tidak ingin tidur bareng dengan Nabila tapi ia sadar kalau istrinya itu masih haid jadi Alka lebih memilih menjauh sementara karena kalau berdekatan itu lebih serem.
Perempuan cantik yang tadinya ia sudah merasa nyaman karena tidurnya tidak di ganggu lebih dulu oleh suami mesumnya tiba-tiba bergeliat.
Ada rasa yang bergejolak di dalam sana, Nabila berusaha membuka matanya yang masih lengket karena ia baru saja tertidur.
"Sssttt!" ringis Nabila, perutnya terasa tersayat-sayat. Sungguh sakitnya lebih padah pada kemaren pertam datang bulan.
Ini rasanya lebih ke perih, dan melilit.
Nabila berusaha mencari minyak kayu putih di dalam laci tapi tidak menemukannya, ia melirik suaminya yang lagi tidur pulas, Nabila takut yang mau meminta tolong pada Alka sebab ia sadar malam ini ia sudah durhaka pada suaminya.
Sekitar lima belas menit Nabila meremas perutnya sendiri, selama ini Nabila sudah jarang maagnya kambuh tapi malam ini tiba-tiba kambuh lagi.
Dan Nabila baru ingat kalau tadi siang pas bersama teman-temannya ia hanya makan mie Ramen yang levelnya lumayan tinggi dan setelah itu Nabila belum makan apa-apa lagi tadinya juga mau makan dulu tapi sudah keburu malam.
Dengan sekuat tenaga Nabila bangun untuk mencari obat, siapa tahu Alka menyimpan obat di tempat kotak P3K tapi karena tenaganya yang sudah lemas dan tidak hati-hati, Nabila kesandung hingga terjatuh di atas lantai.
"Astanghfirullah, Nabila! Kamu kenapa?" Alka mendekati isterinya yang sedang meringkih di atas lantai bersandar ke tembok.
"Pak, maag mu kambuh," gumam Nabila lirih.
"Ada obatnya?"
"Aku sudah lama tidak beli obat maag."
"Ya Allah kenapa kamu bisa begini sih, tunggu sebentar sepertinya saya ada obat maag."
Tak lama Alka datang membawa obat dan air hangat.
"Ayo minum dulu," Alka menyerahkan obat dan air hangat sambil membantu Nabila.
"Sejak kapan kamu yang sakit, kenapa sampai ada di sini?" tanya Alka.
"Dari tadi Pak."
"Kenapa tidak bangunin saya?"
"Maaf Pak, Aku takut mengganggu tidur Bapak."
Alka menghela napas kasar,"Lain kali langsung bilang sama saya, gimana kalau maag kamu parah saya juga yang. repot dan pastinya saya adalah orang yang pertama kali di silahkan karena sudah tidak becus menjaga istri."
Nabila hanya meringis menahan sakit.
Tanpa aba-aba Alka membopong Nabila menuju kasur, menidurkan di ranjang, Nabila sudah tidak kuat karena memang ia tidak bisa tahan kalau lagi sakit.
"Mana yang sakit?" tanya Alka.
"Perut ku terasa perih Pak, dan dadaku juga sesak sekali susah buat napas," ujar Nabila.
"Bentar, kamu terakhir makan apa dan jam berapa?" selidik Alka karena sepertinya sang istri ini salah makan atau telat makan.
"Tadi aku makan mie Ramen setelah keluar dari kampus."
Alka mencerna ucapkan istrinya, itu artinya Nabila makan terkahir siang hari dan sampai sekarang belum makan.
Marah, kesal bercampur jadi satu tapi kalau memarahi istrinya saat ini ia tidak tega melihat wajah Nabila yang pucat tapi hatinya juga jengkel karena Nabila sudah mengabaikan kesehatannya.
"Saya telfon dokter Eva ya?"
"Tidak perlu Pak, ini sudah malem kasian Dokter Eva."
"Terus gimana, kamu masih kesakitan gitu."
"Tapi tidak perlu panggil Dokter Pak, tadi kan. Sudah minum obat sebentar lagi sembuh," lirih Nabila.
"Ya sudah, Saya pijet saja, sepetinya kamu juga masuk angin karena pulang malam." ucap Alka setengah menyindir istrinya.
"Tidak usah Pak." Nabila juga menolak.
Alka menarik nafas dengan berat.
"Pilihan mu hanya dua, mau di pijet apa saya bawa ke rumah sakit sekarang?" ucap Alka bukan lagi menawar tapi melainkan memerintah.
"Pak, saya tidak separah itu, jadi saya tidak mau dua-duannya." padahal Nabila hanya takut sama jarum suntik sedang dengan pijet ia juga takut selama ini belum pernah di pijet juga.
Nabila hanya minum obat.
"Tidak usah bantah Nabila, kamu senang banget ngebantah sama suami, jadi begini resikonya. Udah, ayo di pijet saja biar angin kamu keluar."
"Tapi Bapak kan capek habis kerja."
"Ya sudah ke rumah sakit saja biar dokter yang nangani kamu."
"Tidak Pak!"
"Kenapa, jarak rumah sakit dari sini tidak terlalu jauh?"
"Aku takut di suntik."
"Ya ampun Nabila! sudah sekarang nurut kamu saya pijetin atua mau saya lakukan seperti biasanya sama kamu."
Suara Alka mengintervrsi.
"Saya masih haid Pak."
"Saya tidak perduli salah kamu sendiri bandel."
Nabila ketakutakan takut Alka benar nekat karena ia tahu otak suaminya.
"I-ya Pak, Aku mau di pijet."
Alka langsung mengambil minyak kayu putih dan juga di campur dengan minyak Zaitun yang dapat memberikan kenyamanan pada kulit.
"Jangan keras-keras, ya, Pak."
"Iya, bawel!"
"Tengkurap sekarang." pinta Alka, karena melihat wajah Nabila semakin pucat dan ia sangat khawatir hanya saja kekhawatirannya tak bisa Alka tunjuhkan terhalang oleh tembok gengsi yang masih bertahta.
Pertama Alka memijet bagian telapak kakinya sang istri, dan juga betisnya yang begitu kaku.
"Pak, sakit." keluh Nabila merintih.
"Iya, tahan sebentar." Alka terus memijet pergelangan kaki Nabila dengan melumuti minyak sampai licin tapi gadis itu masih saja merintih menahan sakitnya, sampai-sampai Nabila menangis karena sesaknya terasa semakin nyeri.
"Gimana, masih sakit?" tanya Alka cemas.
"Udah mendingan Pak, tapi kok rasanya dada ku tidak kuat kayak banyak anginnya, pengen muntah tapi tidak bisa keluar."
"Sepertinya angin kamu sudah menumpuk, ayo saya kerokin saja biar cepat keluar anginnya."
"Hah? Nggak, malu." tolak Nabila memekik.
"Saya suami kamu kenapa harus malu?"
"Ya tetap aja Pak, malu," cicit Nabila.
"Apanya yang buat kamu malu Nabila, takut itu saya tahu. Jelas-jelas saya sudah tahu semua, kamu lupa kalau saya sudah berkali-kali melejahi tubuh mu." ucap Alka kesal karena Nabila benar keras kepala.
"Atau kamu memang mau pakek cara yang lain?"
"Hah! Nggak."
"Ya sudah nurut."